Pagi di Surabaya tidak pernah benar-benar tenang. Suara klakson yang bersahutan di kejauhan dan deru mesin kendaraan dari arah Jalan Ahmad Yani menjadi latar musik rutin yang menemani aroma kopi dari dapur kecil apartemen lantai tujuh itu.
Dimas mengencangkan ikatan sarungnya, baru saja menyelesaikan dzikir setelah shalat Subuh berjamaah dengan istrinya. Ia menoleh ke samping, menatap Dinara yang masih bersimpuh di atas sajadah bunga-bunganya. Gadis itu tampak khusyuk, kepalanya tertunduk dengan mukena putih yang membingkai wajah polosnya.
Ada sesuatu yang selalu membuat dada Dimas berdesir setiap kali melihat pemandangan ini. Setahun lalu, ia hanyalah seorang pria yang dipaksa menyerah pada ego orang tuanya di Blitar. Kini, ia adalah seorang suami yang merasa menemukan rumahnya dalam diri gadis yang usianya dua tahun di bawahnya ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PROLOG: Pagi Menyapa
Pagi di Surabaya tidak pernah benar-benar tenang. Suara klakson yang bersahutan di kejauhan dan deru mesin kendaraan dari arah Jalan Ahmad Yani menjadi latar musik rutin yang menemani aroma kopi dari dapur kecil apartemen lantai tujuh itu.
Dimas mengencangkan ikatan sarungnya, baru saja menyelesaikan dzikir setelah shalat Subuh berjamaah dengan istrinya. Ia menoleh ke samping, menatap Dinara yang masih bersimpuh di atas sajadah bunga-bunganya. Gadis itu tampak khusyuk, kepalanya tertunduk dengan mukena putih yang membingkai wajah polosnya.
Ada sesuatu yang selalu membuat dada Dimas berdesir setiap kali melihat pemandangan ini. Setahun lalu, ia hanyalah seorang pria yang dipaksa menyerah pada ego orang tuanya di Blitar. Kini, ia adalah seorang suami yang merasa menemukan rumahnya dalam diri gadis yang usianya dua tahun di bawahnya ini.
"Dek," panggil Dimas lembut.
Dinara menoleh, menyalami tangan suaminya dengan takzim. "Nggih, Mas?"
"Kuliah jam berapa hari ini? Mas antar ya? Sekalian Mas mau mampir ke kafe yang di daerah Gubeng," ujar Dimas sambil mengacak pelan puncak kepala istrinya.
Dinara tersenyum tipis, meski ada gurat kelelahan di matanya. "Jam delapan, Mas. Tapi nanti Dinara mau mampir ke toko buku sebentar, mau cari referensi tugas akhir."
"Siap, Tuan Putri. Apapun buat mahasiswi kesayangan Mas ini. Gak usah kesusu, nanti Mas temani cari bukunya sampai ketemu," sahut Dimas dengan logat Surabaya yang mulai melekat, meski ia asli orang Blitar.
Sambil melipat sajadah, Dimas memperhatikan gerak-gerik istrinya. Dinara terlihat lebih diam dari biasanya. Sejak kepulangan mereka dari rumah orang tua Dimas di Blitar akhir pekan lalu, mendung seolah enggan beranjak dari wajah cantik itu.
"Mas..." Dinara menggantung kalimatnya. Ia merapikan mukena ke dalam lemari. "Kemarin Ibu telepon lagi."
Gerakan tangan Dimas yang sedang melipat sarung terhenti. Ia tahu arah pembicaraan ini. "Bilang apa lagi beliau?"
"Ibu tanya... apa aku sudah telat bulan ini? Terus Ibu cerita kalau Mbak Arum, tetangga depan rumah di Blitar yang nikahnya barengan kita, sekarang sudah hamil lima bulan." Dinara menunduk, jemarinya saling bertautan gelisah. "Ibu bilang, kalau perempuan itu jangan terlalu sibuk kuliah, nanti rahimnya capek. Katanya, kalau nggak segera isi, nanti malah dibilang mandul sama tetangga."
Dimas membuang napas perlahan. Ia mendekat, memegang kedua bahu istrinya agar mereka saling berhadapan. Ia tahu betul bagaimana watak ibunya di Blitar. Wanita yang sangat menjaga image di depan orang, yang menganggap bahwa kesuksesan seorang menantu hanya diukur dari seberapa cepat ia memberikan cucu.
"Dek, dengarkan Mas," suara Dimas merendah, penuh penekanan namun hangat. "Urusan anak itu hak prerogatif Allah. Kita sudah usaha, kita sudah doa. Mas nggak peduli apa kata tetangga atau standar orang-orang di kampung. Kalau Ibu telepon lagi soal itu, biarkan Mas yang bicara. Ojo dilebokno ati, ya?"
Dinara mengangguk kecil, meski matanya mulai berkaca-kaca. "Tapi aku ngerasa bersalah, Mas. Apalagi Mbak Arum itu... Mas tahu kan ceritanya?"
Dimas tersenyum kecut. Ia tahu. Mbak Arum yang diagung-agungkan ibunya karena cepat hamil itu sebenarnya menikah mendadak karena "kecelakaan". Namun, di mata ibunya dan lingkungan sosial di sana, fakta itu seolah tertutup oleh status "sudah punya anak", sementara mereka yang menempuh jalan halal dan legal secara agama serta negara justru sering dipandang sebelah mata jika belum memiliki momongan.
Kritik sosial yang aneh. Menghamba pada hasil, tanpa peduli pada proses.
"Mas nggak butuh validasi dari rahimmu untuk mencintaimu, Dek. Mas nikahin kamu karena Mas mau ibadah bareng kamu, bukan mau jadiin kamu pabrik anak buat pamer ke tetangga," Dimas mencoba mencairkan suasana. Ia menarik hidung Dinara gemas. "Lagian, kalau kamu hamil sekarang, nanti siapa yang mau Mas jahilin tiap malam? Nanti perhatianmu terbagi, Mas jadi cemburu sama bayi kita sendiri."
"Mas! Iku jenenge egois," cetus Dinara sambil tertawa kecil di sela isakannya.
"Lho, beneran. Mas ini kan anak pertama, tapi sifatnya masih kayak anak bungsu yang butuh dimanja istrinya," gurau Dimas lagi.
Dimas melangkah menuju dapur, mengambil dua buah gelas. Dengan cekatan, ia menyeduh teh melati favorit Dinara. Sebagai pemilik beberapa cabang kafe, tangan Dimas sangat terampil. Ia mencampurkan sedikit madu, lalu membawanya ke meja makan kecil di sudut apartemen.
"Minum dulu. Biar pikirannya adem. Surabaya hari ini kelihatannya bakal panas banget," ucap Dimas.
Dinara menyesap tehnya. Kehangatan cairan itu seolah menjalar ke hatinya yang sempat beku karena ucapan mertuanya. Ia menatap suaminya yang kini mulai sibuk menyiapkan roti bakar. Dimas memang bukan tipe pria romantis yang ada di drama televisi, tapi dia adalah pria yang nyata. Pria yang berdiri di depannya saat badai dari keluarga sendiri menerjang.
"Mas, kalau seandainya nanti aku lulus kuliah dan tetap belum hamil, Mas tetap sayang kan?" tanya Dinara pelan.
Dimas menghentikan kegiatannya mengoles selai. Ia menatap Dinara dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara sayang dan sedikit rasa gemas yang memuncak.
"Pertanyaanmu itu kayak tanya ke ikan apa mereka bosan berenang di air," sahut Dimas santai. "Dek, cinta Mas ke kamu itu bukan kontrak kerja yang ada masa berlakunya atau target pencapaiannya. Mau kamu jadi sarjana, jadi ibu rumah tangga, atau jadi menteri sekalipun, Mas tetap orang yang bakal nungguin kamu pulang sambil bawa martabak kesukaanmu."
Dimas mendekat, lalu berbisik tepat di telinga Dinara. "Tapi kalau kamu mau usaha lebih keras malam ini biar Ibu nggak bawel lagi... Mas sih monggo saja, nggak bakal nolak."
Wajah Dinara langsung memerah padam. Ia memukul lengan Dimas dengan bantal kursi yang ada di dekatnya. "Mas Dimas! Gateli ih!"
"Lho, kok gateli? Ini namanya ikhtiar yang menyenangkan, Sayang," tawa Dimas pecah.
Momen-momen seperti inilah yang membuat dinamika rumah tangga mereka terasa hidup. Di antara tekanan sosial tentang pernikahan dini yang dianggap normal di lingkungan asal mereka, dan tuntutan untuk segera memiliki keturunan, mereka menciptakan gelembung perlindungan mereka sendiri di tengah hiruk-pikuk Surabaya.
Dimas tahu, kedepannya tidak akan mudah. Surat-surat cinta yang sering ia tulis untuk Dinara bukan sekadar rangkaian kata indah, melainkan janji yang ia ikat pada tiap baitnya. Janji untuk selalu menjadi tameng bagi istrinya, terutama dari belati kata-kata yang keluar dari rumah mereka sendiri di Blitar.
Prolog kehidupan mereka baru saja dimulai. Di atas kertas, semuanya tampak manis. Namun, di balik senyum jahil Dimas dan kelembutan Dinara, ada badai yang mulai mengintai—sebuah rahasia lama dari masa lalu keluarga yang mungkin akan menguji apakah "Sakinah" yang mereka bangun selama ini benar-benar sekokoh beton apartemen tempat mereka bernaung, atau hanya rapuh seperti kertas yang tersiram air mata.
"Sudah, nggak usah dipikirkan lagi omongan Ibu. Habis ini kita berangkat. Mas mau kasih lihat draf buku terbaru Mas ke kamu," ujar Dimas sambil memberikan piring berisi roti bakar yang sudah dipotong rapi.
"Tentang apa, Mas?"
Dimas mengedipkan sebelah matanya. "Tentang seorang gadis cengeng yang beruntung mendapatkan suami paling tampan dan rendah hati se-Jawa Timur."
Dinara memutar bola matanya, namun tak bisa menyembunyikan senyum lebarnya. "Narsisnya nggak hilang-hilang."
"Itu namanya percaya diri, Adek sayang. Ayo makan, keburu telat nanti kamu disemprot dosenmu."
Di luar, matahari Surabaya mulai naik. Panasnya mulai terasa, menyengat siapa saja yang tak siap. Namun di dalam ruang kecil itu, hanya ada rasa hangat yang pas. Rasa hangat yang lahir dari dua hati yang sepakat untuk saling menjaga, meski dunia di luar sana menuntut mereka untuk menjadi sesuatu yang bukan diri mereka sendiri.