NovelToon NovelToon
Rumah Yang Terbagi

Rumah Yang Terbagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:442
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Garis ini adalah batas antara hakmu dan dosamu. Melangkah satu senti saja, kau kehilangan segalanya."

Sepuluh tahun lalu, Sasmita Janardana diusir dalam keadaan hancur. Fitnah keji dari Rena, sang ibu tiri, membuatnya kehilangan kasih sayang ayah dan haknya sebagai putri tunggal. Ia dibuang ke luar negeri, sementara Rena dan putranya, Vano, berpesta di atas penderitaan mendiang ibu Sasmita.

Kini, Sasmita kembali setelah kematian misterius ayahnya. Ia tidak datang untuk menangis. Ia datang dengan sebuah wasiat kuno yang sah secara hukum: Rumah mewah Janardana harus dibagi dua secara mutlak.

Sasmita tidak mengusir mereka. Ia justru melakukan penyiksaan yang lebih lambat: Memaksa musuh-musuhnya hidup di bawah atap yang sama, namun terpisah oleh garis merah yang tidak boleh dilintasi.

Di sisi kiri, Rena mulai kehilangan kewarasannya. Di sisi kanan, Sasmita mulai membongkar brankas rahasia yang menyimpan bukti pembunuhan ibunya. Di tengah persaingan panas itu, muncul Bramasta, pengacar

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: PERJAMUAN DI ATAS DARAH

Malam ini, Jakarta terlihat seperti hamparan berlian yang dingin dari lantai 60 Grand Ballroom Hotel Mulia. Cahaya lampu gantung kristal yang masif memantulkan kemilau kemewahan yang memuakkan bagi siapa pun yang tahu dari mana asal uang untuk membiayainya. Sasmita, atau sekarang lebih dikenal sebagai Anita, berdiri di sudut ruangan dengan gaun cocktail berwarna hitam simpel namun elegan. Di tangannya, ia memegang sebuah nampan kecil berisi tablet digital dan ponsel cadangan milik Clara Waskita.

Tugasnya sederhana: Menjadi bayangan. Menjadi asisten yang tidak terlihat namun selalu ada. Namun, di balik lensa kontak abu-abu yang dipakainya, mata Sasmita terus memindai setiap wajah yang hadir.

Di tengah ruangan, Hendra Waskita berdiri dengan angkuh. Pria tua itu tertawa terbahak-bahak sambil memegang cerutu, dikelilingi oleh para politisi dan pengusaha yang menjilatnya seolah-olah ia adalah raja baru di kota ini. Di sampingnya, Clara Waskita tampak bersinar dengan gaun merah menyala yang harganya mungkin cukup untuk membangun kembali sayap barat mansion Janardana yang terbakar.

"Anita, ambilkan aku sampanye lagi. Dan pastikan fotografer dari majalah Tatler mendapatkan sudut terbaikku saat aku berfoto dengan Papa," perintah Clara tanpa menoleh, suaranya penuh nada merendahkan yang sudah menjadi makan harian Sasmita sejak tiga hari lalu.

"Baik, Nona Clara," jawab Sasmita dengan suara yang lembut dan penurut.

Ia melangkah menuju bar, melewati kerumunan orang yang dulunya adalah kolega ayahnya. Tak satu pun dari mereka mengenalinya. Penyamarannya sempurna, namun luka di hatinya semakin menganga setiap kali ia mendengar nama "Janardana" disebut sebagai lelucon di antara tawa mereka.

"Sasmita... kamu mendengarku?" sebuah suara bisikan pecah terdengar dari earpiece kecil yang disembunyikan di balik anting mutiaranya.

Itu suara Bramasta. Suaranya terdengar sangat lemah, diselingi suara batuk yang tertahan. Sasmita menegang. Ia segera melipir ke arah koridor menuju toilet yang lebih sepi.

"Bram? Kamu di mana? Apa yang terjadi semalam?" bisik Sasmita pelan, pura-pura memperbaiki riasannya di depan cermin besar.

"Aku... aku di apartemen aman yang kedua. Di dekat pelabuhan. Orang-orang Waskita hampir menangkapku semalam. Aku terpaksa melompat dari lantai dua reruntuhan rumahmu. Kakiku mungkin patah, tapi aku berhasil membawa fotonya," Bramasta menarik napas panjang yang terdengar sakit. "Foto dinding di balik wallpaper kamar ibumu... Sasmita, itu bukan sekadar kode. Itu adalah koordinat dan sebuah pesan pendek."

"Apa pesannya, Bram?" jantung Sasmita berdegup kencang.

"Pesan itu berbunyi: 'Rumah tidak pernah terbagi oleh dinding, tapi oleh pengkhianatan dari dalam rahim. Cari Brankas Langit di bawah kaki Malaikat yang Menangis.' Sasmita, koordinat itu menunjuk ke sebuah makam tua di pemakaman keluarga Pratiwi di Bogor. Makam kakekmu."

Sasmita mematung. Pengkhianatan dari dalam rahim. Kalimat itu terasa seperti petir yang menyambar jiwanya. Apa maksud ibunya? Apakah ada pengkhianatan lain yang lebih dalam dari sekadar perselingkuhan ayahnya dengan Rena?

"Anita! Kenapa lama sekali?!" suara Clara berteriak dari luar koridor, membuat Sasmita terpaksa memutus sambungan.

"Maaf, Nona. Saya sedang memastikan jadwal wawancara Anda untuk besok pagi," ujar Sasmita sambil keluar dengan wajah tenang yang terlatih.

Ia kembali ke sisi Clara tepat saat Hendra Waskita naik ke panggung kecil untuk memberikan pidato kemenangan. Ruangan menjadi sunyi. Hendra mengangkat gelas kristalnya tinggi-tinggi.

"Malam ini, kita merayakan bukan hanya pertumbuhan Waskita Group, tapi juga kembalinya aset-aset yang seharusnya milik kita sejak tiga puluh tahun lalu," ujar Hendra dengan senyum kemenangan. "Keluarga Janardana telah runtuh karena kelemahan mereka sendiri. Dan sekarang, kita akan membangun masa depan yang lebih kokoh di atas puing-puing itu!"

Tepuk tangan riuh pecah. Sasmita mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangannya sendiri. Tiba-tiba, matanya menangkap sosok Aris yang berdiri di dekat pintu keluar darurat. Pria muda itu mengenakan setelan jas hitam yang rapi, tampak sangat berbeda dari penampilannya yang santai di gedung kantor kemarin. Aris tidak bertepuk tangan. Ia justru menatap Sasmita dengan tatapan yang sangat tajam.

Sasmita merasa darahnya membeku. Apakah Aris mengenalinya?

Aris memberi isyarat dengan kepalanya agar Sasmita mengikutinya. Pria itu keluar menuju area balkon luar yang terbuka. Sasmita ragu sejenak, namun rasa penasarannya jauh lebih besar. Ia berbisik pada Clara bahwa ia harus ke ruang media sebentar, lalu ia menyelinap keluar.

Di balkon yang berangin kencang, Aris berdiri membelakangi pintu, menatap lampu-lampu kota.

"Penyamaran yang bagus, Sasmita. Atau haruskah aku memanggilmu Anita?" suara Aris terdengar datar, tanpa emosi.

Sasmita tidak bergerak. Tangan kanannya meraba tas kecilnya, tempat ia menyimpan semprotan merica dan pisau lipat kecil. "Bagaimana kamu tahu?"

Aris berbalik. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat mirip dengan Bramasta, kakaknya. "Kamu lupa siapa yang memasang sistem keamanan di mansionmu? Aku tahu cara jalanmu, frekuensi suaramu, dan aroma parfum yang selalu kamu pakai. Lensa kontak dan rambut pendek tidak akan bisa menipuku."

"Lalu kenapa kamu tidak melaporkanku pada Hendra?" tantang Sasmita.

Aris melangkah maju, mendekati Sasmita hingga jarak mereka hanya satu jengkal. "Karena Hendra Waskita bukan tuanku yang sebenarnya. Aku bekerja untuk orang yang membayar lebih tinggi. Dan orang itu... ingin melihatmu tetap hidup untuk sementara waktu."

"Siapa?"

"Kamu akan tahu sendiri saat sampai di Bogor nanti," Aris menyodorkan sebuah kartu memori kecil (microSD) ke tangan Sasmita. "Di dalamnya ada enkripsi kunci untuk membuka sistem keamanan di pemakaman kakekmu. Hendra sudah mengirim orang ke sana malam ini. Jika kamu ingin mendapatkan apa yang ibumu tinggalkan, kamu harus sampai di sana sebelum fajar."

Sasmita menatap kartu memori itu dengan curiga. "Kenapa kamu membantuku, Aris? Kamu yang mencuri semua uangku semalam!"

"Aku mencuri uangmu agar Hendra percaya aku ada di pihaknya. Uang itu aman di rekening tersembunyi yang bahkan Bramasta tidak bisa melacaknya. Aku melakukannya bukan untukmu, Sasmita. Aku melakukannya karena aku benci melihat orang tua bangka seperti Hendra menang dengan cara yang begitu kotor."

Aris berbalik dan hendak pergi, namun ia berhenti sejenak. "Satu hal lagi. 'Pengkhianatan dari dalam rahim' yang ditulis ibumu... itu bukan tentang ayahmu. Itu tentang rahasia yang dibawa ibumu sejak hari pernikahan mereka. Berhati-hatilah dengan Bramasta. Dia tidak seputih yang kamu kira."

Setelah Aris menghilang kembali ke dalam keramaian pesta, Sasmita berdiri mematung di tengah terpaan angin malam. Pikirannya kacau. Aris membantu namun mencuri? Bramasta mengabdi namun dicurigai? Siapa yang sebenarnya berdiri di pihaknya?

Ia tidak punya waktu untuk berpikir lama. Jika Hendra sudah mengirim orang ke Bogor, ia harus bergerak sekarang. Sasmita segera kembali ke dalam, mengambil tasnya, dan tanpa pamit pada Clara, ia berlari menuju lift.

Di lobi hotel, ia segera memesan taksi daring ke arah apartemen amannya untuk menjemput Bramasta. Namun, sesampainya di apartemen, ia menemukan pintu sudah terbuka lebar. Ruangan itu berantakan. Laptop Bramasta hancur di lantai, dan ada noda darah segar di meja kayu tua itu.

"Bram?!" teriak Sasmita.

Tidak ada jawaban. Hanya suara televisi yang masih menyala, menampilkan berita tentang penangkapan Rena Janardana yang baru saja mencoba bunuh diri di sel tahanannya.

Sasmita menemukan secarik kertas kecil di bawah pecahan laptop. Tulisan tangannya sangat berantakan, jelas ditulis dalam keadaan darurat: "Lari ke Bogor. Jangan tunggu aku. Mereka tahu."

Air mata Sasmita jatuh tanpa bisa ditahan. Ia merasa dunianya kembali hancur untuk kesekian kalinya. Setiap kali ia mencoba membangun pertahanan, musuhnya selalu selangkah lebih maju. Namun, ia teringat kartu memori dari Aris. Ia teringat pesan ibunya.

"Aku tidak akan lari lagi," gumam Sasmita sambil menghapus air matanya dengan kasar.

Ia keluar dari apartemen itu, menghentikan sebuah mobil sewaan yang sudah ia pesan sebelumnya. Ia mengemudikan mobil itu sendiri menuju arah Bogor dengan kecepatan tinggi. Di dalam kegelapan jalan tol yang sepi, Sasmita menyadari satu hal: Rumah yang terbagi itu memang sudah runtuh, tapi fondasi kebenaran yang ditanam ibunya masih ada di bawah tanah, menunggu untuk digali.

Sesampainya di kompleks pemakaman keluarga Pratiwi pada pukul 04.00 pagi, suasana sangat mencekam. Kabut tebal menyelimuti nisan-nisan tua yang berjejer rapi. Sasmita berjalan dengan senter kecil, menuju bagian paling belakang, tempat patung malaikat yang menangis berdiri di atas makam kakeknya.

Namun, ia tidak sendirian.

Dua buah mobil SUV hitam sudah terparkir di dekat gerbang makam. Beberapa pria bertubuh besar dengan pakaian taktis tampak sedang menggali di sekitar pondasi patung malaikat itu. Salah satu dari mereka memegang perangkat pendeteksi logam yang terus berbunyi nyaring.

Sasmita bersembunyi di balik sebuah pohon kamboja besar. Ia melihat Hendra Waskita keluar dari salah satu mobil, mengenakan mantel wol panjang, tampak sangat tidak sabar.

"Cepat gali! Saya tahu Wirya menyembunyikan 'Buku Merah' itu di sini!" teriak Hendra.

"Tuan, kuncinya macet! Sepertinya ini butuh enkripsi digital!" jawab salah satu anak buahnya.

Sasmita meremas kartu memori di sakunya. Ia tahu apa yang harus ia lakukan. Ia tidak bisa melawan mereka dengan fisik, tapi ia bisa menggunakan sistem yang dibuat Aris. Ia mengeluarkan ponselnya, memasukkan kartu memori itu, dan mulai menjalankan aplikasi peretas yang sudah terpasang secara otomatis.

"Sistem Keamanan Pratiwi Terdeteksi. Masukkan Otoritas Pewaris." muncul di layar ponselnya.

Sasmita menempelkan jempolnya ke layar. Pemindaian sidik jari dimulai.

Otoritas Diterima. Memulai Prosedur Pengalihan.

Tiba-tiba, lampu-lampu taman makam yang tadinya mati, menyala dengan sangat terang secara serentak, membutakan mata Hendra dan anak buahnya. Suara sirine keamanan kuno yang memekakkan telinga meledak di seluruh penjuru pemakaman.

Sasmita memanfaatkan kekacauan itu untuk berlari menuju bagian belakang patung. Ia melihat sebuah laci mekanik kecil terbuka secara otomatis di bawah kaki patung malaikat yang menangis. Di dalamnya terdapat sebuah buku bersampul merah tua dan sebuah amplop tersegel.

"Itu dia! Tangkap dia!" teriak Hendra saat melihat bayangan Sasmita.

Sasmita menyambar buku itu dan berlari sekuat tenaga menuju arah hutan kecil di belakang pemakaman. Ia bisa mendengar suara tembakan peringatan yang dilepaskan ke udara, namun ia tidak berhenti. Ia terus berlari hingga ia sampai di pinggir sebuah sungai kecil.

Ia jatuh terduduk, napasnya terasa seperti api yang membakar dadanya. Di bawah sinar bulan yang mulai memudar, Sasmita membuka buku merah itu. Halaman pertamanya bukan berisi catatan keuangan, melainkan sebuah foto pernikahan ibunya yang asli.

Di balik foto itu tertulis kenyataan yang menghancurkan seluruh hidup Sasmita:

"Sasmita, maafkan Ibu. Ayahmu yang sebenarnya bukan Wirya Janardana. Ayahmu adalah Hendra Waskita. Kamu adalah garis merah yang sesungguhnya di antara dua keluarga ini. Dan karena itulah, mereka semua ingin kamu mati."

Dunia Sasmita seketika gelap. Garis merah itu bukan lagi sebuah tanda di lantai marmer. Garis merah itu adalah darah yang mengalir di nadinya—darah musuhnya sendiri.

1
Dania
semangat tor
@RearthaZ
awal cerita yang bagus thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!