Setelah itu, Sarena naik taksi dan pulang menuju kontrakannya. Dafa dengan sigap mengikuti arah taksi yang ditumpangi Sarena.
"Akhirnya, aku bisa menemukannya juga," ujar Dafa puas.
Dia terus mengikuti taksi tersebut hingga berhenti di halaman kontrakan yang berada di pinggir jalan, jauh dari keramaian kota.
"Jadi dia tinggal di sini. Pantas saja sulit mencarinya karena tempatnya cukup terpencil," gumam Dafa.
Sarena masuk ke dalam kontrakan dan menutup pintunya.
Pagi Hari di Tempat Sarena
"Hah, ini sudah pagi. Sebaiknya aku segera mengeceknya," ujar Sarena.
Ia masuk ke kamar mandi, mengambil tes pack yang dibelinya kemarin, dan mulai melakukan tes. Ketika hasilnya keluar, betapa terkejutnya ia melihat dua garis di alat tersebut.
"Apa ini? Kenapa garisnya dua?" ujar Sarena terisak. Dia tak mampu menerima kenyataan tersebut.
"Jika kejadian itu saja sudah sulit kuterima, mengapa aku harus hamil? Aku tidak bisa..." tangisnya semakin menjadi, sembari terus memegang erat tes pack di tangannya.
"Tidak! Aku tidak bisa hidup seperti ini. Aku tak sanggup!" ujarnya, sambil mengusap air matanya.
Sarena keluar dari kontrakan dan berjalan menuju jembatan dengan langkah yang berat.
'Aku gak sanggup hidup dengan kehancuran ini. Aku ga mau anakku menderita. Lebih baik kita berdua mati bersama, Nak,' pikirnya dalam hati.
Ia mulai memanjat pagar jembatan dan menutup matanya, siap untuk mengakhiri segalanya, namun tiba-tiba...
"Heh, kau gila?" teriak seseorang, menariknya kembali dari ujung maut.
Sarena terkejut melihat pria tampan yang berdiri di depannya. Pria itu adalah Aldevaro.
"K-kau..." ujar Sarena terbata-bata, ketakutan.
"Kalau kau mau mati, mati saja sendiri. Tapi jangan bawa-bawa anak saya. Biarkan dia lahir dulu, baru setelah itu kau boleh melompat sepuasmu," ucap Aldevaro dengan nada tegas.
"Tidak! Kau jahat!" seru Sarena histeris, sebelum akhirnya pingsan.
"Heh, hei!" ujar Aldevaro panik, menggoyang-goyangkan tubuh Sarena.
"Bangun!" seru Aldevaro lagi, namun Sarena tak merespon.
Aldevaro segera membawa Sarena ke dalam mobilnya dan melarikannya ke rumah sakit.
'Sialan, wanita ini merepotkan. Tapi bagaimanapun, anak yang dikandungnya adalah anakku. Meskipun ini tidak disengaja, aku harus bertanggung jawab,' gumam Aldevaro dalam hati.
Sesampainya di rumah sakit, Sarena segera ditangani oleh dokter. Beberapa saat kemudian, Sarena sadar dari pingsannya, namun ketika membuka mata, ia melihat Aldevaro berada di samping tempat tidurnya.
'Pria ini... dia membawaku ke rumah sakit dan menungguiku?' pikir Sarena dalam hati.
"Kau sudah sadar," ujar Aldevaro tiba-tiba, mengejutkan Sarena.
"Aku tahu kamu takut padaku karena trauma, tapi ke depannya, aku harap kamu tidak perlu takut lagi padaku," lanjutnya.
"Saya akan bertanggung jawab atas anak yang kamu kandung, dan saya juga akan menikahimu secara tertutup," tambah Aldevaro tanpa ragu.
"Apa yang kamu katakan? Kenapa kamu bisa dengan mudah mengatakan hal itu?" Sarena marah dan bingung.
"Aku rasa kamu tak perlu marah. Aku sudah bersedia bertanggung jawab dengan menikahimu," ujar Aldevaro dengan tenang.
"Apa kau pikir aku akan menerima itu? Aku tidak mau menikah denganmu!" tegas Sarena.
"Mau atau tidak, kamu tetap akan menikah denganku," jawab Aldevaro dengan dingin.
"Atas dasar apa kamu memaksa aku untuk menikah denganmu?" tanya Sarena, tidak percaya.
"Karena kamu sedang hamil anak saya, dan saya akan bertanggung jawab atas kesalahan saya, meskipun itu tidak disengaja," jawab Aldevaro tegas.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Jamayah Tambi
Ah lelaki budiman.Mau tanggungjawab wp tidak sengaja merogol Sarena
2024-11-08
0
Ning Suswati
masih enak juga ada laki2 yg masih punya hati
2024-10-22
1