Hari-hari berlalu di SMA Pelita Bangsa membawa angin perubahan yang terasa begitu menenangkan bagi Juwita. Di bawah naungan beasiswa penuh dari Pratama Corp dan perlindungan tak kasat mata dari dewan juri nasional, hari-hari sekolah Juwita yang tadinya dipenuhi teror kini berubah menjadi hamparan ketenangan. Namun, yang paling mengejutkan bukan lagi perlakuan sekolah padanya, melainkan sosok Kevin Aditama.
Sudah hampir sebulan sejak insiden air mata penyesalan itu di taman belakang sekolah. Selama kurun waktu tersebut, Kevin menjelma menjadi sosok yang sama sekali berbeda dari pemuda arogan yang dulu dikenal seisi sekolah. Tidak ada lagi tatapan merendahkan, tidak ada lagi bisikan beracun, dan yang paling penting, tidak ada lagi sabotase. Sebaliknya, Kevin konsisten menunjukkan sikap yang sangat kooperatif. Ia sering kali menunggu Juwita di depan perpustakaan, membawakan setumpuk referensi jurnal ilmiah internasional yang sulit diakses, bahkan dengan sabar mendiskusikan kerangka algoritma kecerdasan buatan yang sedang dikembangkan Juwita untuk pameran sains nasional mendatang.
Sore itu, di bawah temaram lampu perpustakaan kota yang tenang, Juwita menutup buku catatannya lalu menghela napas lega. Di seberang mejanya, Kevin tersenyum ramah sambil menyerahkan segelas cokelat hangat.
"Minumlah dulu, Juwita. Kamu sudah menatap layar komputer itu selama tiga jam tanpa berkedip," ucap Kevin lembut, sorot matanya memancarkan perhatian yang begitu tulus.
Juwita menerima gelas itu, tersenyum kecil. "Terima kasih, Kevin. Aku hanya ingin memastikan kode program ini benar-benar matang sebelum diserahkan ke tim Profesor Hendra minggu depan. Proyek ini sangat berarti buat aku... dan buat ibuku."
Kevin mengangguk paham, senyuman tipis tersungging di bibirnya—senyuman yang tampak begitu bersahabat, namun menyembunyikan rencana iblis di baliknya. "Aku mengerti, Juwita. Dan aku sangat bangga padamu. Sungguh... melihat perjuanganmu dari awal sampai detik ini, aku merasa sangat bodoh pe…
DARA DAN JUWITA (Anak Yang Tak Dianggap)
Bisikan di Balik Jendela dan Peringatan yang Terabaikan
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 39 Episodes
Comments