Kantor Wisnu punya satu kebiasaan yang tidak pernah ia ubah: berkas masuk dari sisi kanan meja dan keluar lewat sisi kiri. Pagi itu ia menemukan dirinya membolak-balik lembar yang sama berkali-kali, tanpa membaca satu baris pun.
Ia baru sadar matanya bukan lagi membaca ketika bayangan melintas di ambang pintu; yang berdiri di sana bukan siapa pun yang biasa menyapa tanpa mengetuk.
Panca Nugraha berdiri dengan syal abu-abu tergantung di lengan, jas tebal hitamnya rapi seperti biasa, senyumnya juga. Hanya matanya yang tidak lagi tertawa.
Panca tidak menunggu undangan. Ia meletakkan syal itu di kursi tamu seperti orang menaruh berkas, lalu berkata:
"Ada petunjuk. Kita ke rumahmu."
Nada ramahnya tidak berubah; ajakan itu terdengar seringannya ajakan makan siang, dan justru itulah yang membuat Wisnu menaruh pensilnya.
"Sekarang?"
"Sebelum matahari berpindah ke sebelah barat." Panca menunjuk jendela tanpa menoleh. "Kau boleh membawa berkasmu, tapi percayalah, berkas itu tidak akan menyelesaikan apa pun."
"Aku harus minta izin istriku dulu."
"Kau sudah punya izinnya; ia yang membukakan pintu tadi."
Sejak sampul berbau darah mendarat di mejanya, Wisnu sudah belajar bahwa setiap pertanyaan hanya memperpanjang daftar hal yang tidak ingin ia ketahui.
---
Istrinya menyampaikan bahwa arkeolog itu sudah naik sejak subuh dan turun lagi tanpa menyapa siapa pun.
"Baunya masih tertinggal di tangga," tambahnya.
Ruangan di lantai dua terbuka lebar. Jendela terbuka, tirai tergulung setengah, dan rak buku di dinding barat berantakan—urutan yang biasa ia susun dari kanan ke kiri kini terbalik seluruhnya, seolah ada orang yang membaca dengan arah berbeda.
"Kenapa urutannya kanan ke kiri?" tanya Panca tiba-tiba.
"Kebiasaan ayahku." Wisnu menutup pintu rak. "Dan kebiasaan tidak pernah memberi alasan."
Satu buku sejarah jilid dua bersandar menonjol dari barisan. Di sudut halaman yang terbuka, coretan pensil menunggu: "Pengungsi Zaman Keempat menyembah dewa jahat."
Panca membaca coretan itu du…
SANG PENAFSIR LANGIT
Bab 187: Malam, Kabut, dan Jari yang Terbakar
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 188 Episodes
Comments