Kabar pertama pagi itu datang bukan dari utusan istana, melainkan dari anak penjual koran yang berlari menaiki tangga rumah sewa Tuan Gwan sambil meneriakkan judul edisi perang Kabar Harian Bongnae.
Nuri membaca lembar itu di ambang kamar, kaca jendela masih berembun oleh hawa semalam. Di seberang gang, asap tungku roti mulai naik, dan langkah tentara yang bergantian lewat terdengar seperti detak jam.
Semalam ia menutup buku catatannya dengan tiga hal yang sudah tidak bisa diubah: para pemanah telah berangkat sebelum bulan terbenam, utang Lencana Mentari lunas sejak sore kemarin, dan pagi ini raja akan bicara di depan seluruh kota.
Nuri membongkar revolver di atas meja, membersihkan bilahnya, lalu menyusun peluru satu per satu. Satu peluru ia sisihkan ke pinggir; peluru itu akan diubah Lencana Mentari menjadi peluru suci begitu diperlukan.
"Satu figur kertas masih tinggal," gumamnya sambil menyelipkannya ke balik jaket. "Dan kalau hari ini ia keluar, berarti aku salah menghitung."
Dari Ruang Senja datang satu kalimat dari Bayi Bintang, tanpa salam dan tanpa penjelasan: "Pidato itu jalan buntu. Yang bicara tidak punya jalan pulang."
"Pidato itu disiapkan untuk siapa?" tanya Nuri.
"Yang menyiapkan tidak peduli siapa yang naik panggung." Bayi Bintang menutup Ruang Senja sebelum Nuri sempat membalas.
Nuri menutup buku catatan itu. "Raja bicara supaya semua menatap ke atas," katanya pelan. "Di bawah tanah, pintu-pintu terbuka tanpa suara."
Suara Empat menjawab dengan empat nada berurutan, pendek-pendek seperti orang mengetuk meja: "Berangkat—sebelum—kerumunan—tuntas."
"Kau tidak ikut bersama kami?" tanya Nuri.
"Aku tetap di ruang ini." Suara Empat tidak menaikkan nada. "Kau yang harus berdiri di sana sebelum kerumunan selesai bertambah."
Nuri menarik mantel, memastikan Cermin Suara terbungkus kain, lalu memasukkan buku catatan ke saku dalam; kunci tembaga polos tetap di saku sebelah, tanpa ukiran.
Ia menuruni tangga rumah sewa; pelayan tua di dapur sudah terbiasa tidak b…
SANG PENAFSIR LANGIT
Bab 159: Tiga Panah, Satu Titah
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 188 Episodes
Comments