Tatapan Pertama Tuan Muda Secilia

Setelah membersihkan diri dan mengganti gaun tidurnya yang basah dengan gaun harian berwarna biru dongker yang elegan, Elena melangkah keluar dari kamar mandi. Di dalam kamar, Martha sudah tidak ada. Lantai marmer telah bersih berkilat, dan pecahan botol kaca parfum tadi sudah lenyap tanpa sisa. Aroma mawar yang menyengat masih tertinggal tipis di udara, menjadi bukti bisu dari tamparan keras yang Elena berikan.

Elena berjalan menuju cermin, merapikan rambut peraknya yang bergelombang indah. Dia tersenyum tipis. Tubuh ini benar-benar sebuah mahakarya. Di kehidupan lalunya sebagai Clarissa, penyakit kanker telah merenggut kecantikannya dan membuatnya tampak seperti mayat hidup sebelum waktunya. Namun sekarang, dia memiliki modal visual yang bisa menaklukkan dunia.

Tok! Tok! Tok!

Ketukan pintu yang tergesa-gesa membuyarkan lamunan Elena. Seorang pelayan muda berwajah cemas memunculkan kepalanya dari balik pintu.

"N-Nyonya Muda... Tuan Muda Adrian sudah pulang. Beliau sudah berada di ruang makan bawah dan... beliau tampak sangat marah karena kopi dan sarapannya belum siap," bisik pelayan muda itu dengan tubuh gemetar, takut terkena imbas amukan.

"Begitu? Katakan padanya aku akan segera turun," jawab Elena dengan tenang, tanpa ada nada kepanikan sedikit pun di suaranya.

Pelayan muda itu tertegun sesaat melihat ketenangan Elena, lalu segera mengangguk dan mundur.

Elena menarik napas dalam-dalam. Adrian von Secilia. Suami dari tubuh Elena ini, sekaligus salah satu tokoh kunci dalam novel 'Cinta Sang CEO'. Di dalam cerita aslinya, Adrian adalah pria yang dingin, kaku, dan membenci Elena karena pernikahan mereka dipaksakan oleh bisnis keluarga. Karena sikap abai Adrian pula, para pelayan seperti Martha berani menginjak-injak Elena yang asli hingga gadis itu mati depresi.

Elena melangkah menuruni tangga melingkar kastel mewah tersebut dengan dagu terangkat. Setiap langkahnya memancarkan keanggunan seorang bangsawan murni.

Begitu menginjakkan kaki di ruang makan yang megah, atmosfer langsung terasa mencekam. Di ujung meja makan panjang yang terbuat dari kayu mahoni mahal, duduk seorang pria jangkung dengan setelan jas hitam formal yang rapi. Pria itu memiliki rahang yang tegas, rambut hitam legam yang disisir rapi ke belakang, dan aura dominan yang mengintimidasi. Dia adalah Adrian.

Di sudut ruangan, Martha tampak berdiri sambil menunduk dalam-dalam, pura-pura menangis terisak di dekat kepala pelayan, mencoba mencari simpati atas pipinya yang masih kemerahan akibat tamparan Elena.

Begitu menyadari kehadiran Elena, Adrian meletakkan tablet kerjanya di atas meja dengan hentikan keras yang menggema. Sepasang mata elangnya yang tajam langsung menusuk tepat ke arah Elena.

"Elena! Apa yang sebenarnya kamu lakukan?!" geram Adrian, suaranya berat dan penuh dengan nada menuntut. "Martha bilang kamu mendadak mengamuk dan menamparnya tanpa alasan, lalu menyiramnya dengan alkohol? Sejak kapan kamu menjadi wanita kasar dan tidak tahu tata krama seperti ini?"

Elena tidak langsung menjawab. Dia berjalan dengan santai, lalu menarik kursi di ujung meja yang berseberangan dengan Adrian. Dia duduk dengan anggun, melipat kedua tangannya di atas meja, lalu menatap balik suaminya dengan tatapan yang sama sekali tidak gentar.

"Kasar?" Elena terkekeh hambar, sebuah suara yang terdengar begitu merdu namun sarkas. "Tuan Muda Secilia yang terhormat, jika seorang pelayan berani masuk ke kamar tidur utama tanpa izin, meneriaki istri sah rumah ini, lalu menyiramnya dengan seember air es saat sedang tidur... menurutmu siapa yang sebenarnya tidak tahu tata krama di sini?"

Mendengar jawaban telak itu, Adrian tersentak. Alisnya bertaut rapat. Ini pertama kalinya Elena berani menjawab pertanyaannya dengan nada setenang dan setegas ini. Biasanya, wanita di depannya ini hanya akan menunduk takut, menangis, dan meminta maaf atas kesalahan yang bahkan tidak dilakukannya.

Adrian mengalihkan pandangan tajamnya ke arah Martha yang seketika memucat. "Martha, apa itu benar?"

"T-Tuan Muda... saya... saya hanya ingin membangunkan Nyonya Muda karena jam sudah siang... air itu tidak sengaja terciprat..." Martha terbata-bata, keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya.

"Terciprat hingga membasahi seluruh gaun tidurku dan membuatku batuk-batuk?" potong Elena tajam, matanya berkilat mematikan ke arah Martha. "Kamu pikir aku bodoh, Martha? Atau kamu pikir karena suamiku tidak pernah peduli padaku, kamu bisa bertingkah seolah kamu adalah nyonya besar di rumah ini?"

Kata-kata Elena tidak hanya menyindir Martha, tetapi juga menampar langsung ego Adrian sebagai kepala keluarga. Adrian mengepalkan tangannya di bawah meja. Perubahan drastis pada sikap Elena benar-benar membuatnya tidak nyaman, namun di saat yang sama, dia tidak bisa membantah logika wanita itu.

"Cukup," bentak Adrian dingin ke arah para pelayan. "Kepala Pelayan, bawa Martha keluar dan urus masalah disiplinnya. Jangan biarkan dia muncul di lantai atas lagi."

"Baik, Tuan Muda," jawab kepala pelayan dengan patuh, lalu segera menyeret Martha yang lemas keluar dari ruang makan.

Setelah para pelayan pergi, keheningan yang canggung kembali menyelimuti ruangan. Adrian menatap Elena dengan intens, mencoba membaca apa yang sebenarnya sedang direncanakan oleh wanita di depannya ini. Tatapan mata safir Elena yang dulu penuh dengan damba dan cinta, kini telah berubah menjadi kekosongan yang sedingin es.

"Kamu berubah, Elena," desis Adrian, matanya menyipit penuh selidik. "Ada apa denganmu?"

Elena menyandarkan punggungnya ke kursi, lalu tersenyum tipis yang tidak mencapai matanya. "Aku tidak berubah, Adrian. Aku hanya akhirnya tersadar dari tidur panjangku. Mulai hari ini, pastikan orang-orangmu tahu di mana posisi mereka. Karena jika tidak... aku sendiri yang akan menyingkirkan mereka dari jalanku."

Episodes
1 Akhir dari Sebuah Kepasrahan
2 Tamparan untuk Pelayan Kurang Ajar
3 Tatapan Pertama Tuan Muda Secilia
4 Langkah Awal di Atas Meja
5 Pertemuan di Balik Tirai Malam
6 Negosiasi Rahasia di Atas Meja Kafe
7 Guncangan di Pesta Bisnis
8 Bayangan Masa Lalu yang Mengguncang
9 Jerat Halus di Balik Layar
10 Kepanikan Sang Mantan
11 Retakan Pertama pada Topeng Kepolosan
12 Jebakan di Pesta Teh Sosialita
13 Runtuhnya Benteng Pasir Aris Group
14 Hitung Mundur Menuju Kehancuran
15 Penyesalan yang Terlambat
16 Jerat Baru untuk Sang Tuan Muda
17 Hancurnya Takhta Semu
18 Gugatan di Balik Dinding Pengadilan
19 Ketukan Palu Kebebasan
20 Penguasa Baru yang Sebenarnya
21 Tamparan Undangan Emas
22 Mahkota Sang Permaisuri
23 Sumpah di Atas Takhta Obsidian
24 Tantangan dari Seberang Wilayah
25 Badai Rel dan Sumbu di Perbatasan
26 Sambutan Dingin di Stasiun Pusat
27 Rencana di Balik Tirai Imperial
28 Runtuhnya Hak Veto Sang Penguasa Tua
29 Perangkap di Balik Tirai Adat
30 Runtuhnya Mahkamah Kuno
31 Takhta Baru di Pusat Moneter
32 Aturan Posesif di Atas Menara Utama
33 Taring Emas Di Samudra Finansial
34 Istana di Balik Kabut Puncak Bukit
35 Batas Suci
36 Jaringan Hitam di Distrik Barat
37 Ranjau Likuiditas di Samudra Saham
38 Kelahiran Sang Pewaris
39 Mahkota Emas Sang Penerus Takhta
40 Riak Baru di Balik Gemerlap Kemenangan
41 Tangisan Pertama di Atas Menara Finansial
42 Dominasi Tanpa Batas
43 Kepulangan Sang Penguasa Domestik
44 Riak di Sektor Maritim
45 Persekutuan Hitam di Dermaga Barat
46 Jebakan Bawah Tanah
47 Konsolidasi Sang Ratu Global
48 Badai Baru dari Benua Timur
49 Jerat Besi di Selat Perbatasan
50 Badai Baru dari Belahan Barat
51 Eksekusi di Pagi Hari
52 Guncangan di Pasar Trasatlantik
53 Konsolidasi di Pasar London
54 Sumbu Ketegangan dari Jauh
55 Eksekusi di Fajar Asia
56 Gempa Finansial di Sektor Pasifik
57 Badai Komoditas dari Selatan
58 Jerat Likuiditas di Benua Selatan
59 Kendali Atas Energi Dunia
60 Runtuhnya Dominasi Trans-Alpen
61 Bayang Bayang di Balik Dinding Kastel
62 Jerat Hukum di Ruang Sidang Agung
63 Jejak Terakhir Di Tempat Pengasingan
64 Benih Masa Depan
65 Penguasa Altar Pendidikan
66 Kata Pertama Sang Penerus
67 Tamparan di Ruang Komite
68 Retakan di Puncak Takhta
69 Eksekusi Tikus Korporasi
70 Sayap Kecil di Puncak Imperium
Episodes

Updated 70 Episodes

1
Akhir dari Sebuah Kepasrahan
2
Tamparan untuk Pelayan Kurang Ajar
3
Tatapan Pertama Tuan Muda Secilia
4
Langkah Awal di Atas Meja
5
Pertemuan di Balik Tirai Malam
6
Negosiasi Rahasia di Atas Meja Kafe
7
Guncangan di Pesta Bisnis
8
Bayangan Masa Lalu yang Mengguncang
9
Jerat Halus di Balik Layar
10
Kepanikan Sang Mantan
11
Retakan Pertama pada Topeng Kepolosan
12
Jebakan di Pesta Teh Sosialita
13
Runtuhnya Benteng Pasir Aris Group
14
Hitung Mundur Menuju Kehancuran
15
Penyesalan yang Terlambat
16
Jerat Baru untuk Sang Tuan Muda
17
Hancurnya Takhta Semu
18
Gugatan di Balik Dinding Pengadilan
19
Ketukan Palu Kebebasan
20
Penguasa Baru yang Sebenarnya
21
Tamparan Undangan Emas
22
Mahkota Sang Permaisuri
23
Sumpah di Atas Takhta Obsidian
24
Tantangan dari Seberang Wilayah
25
Badai Rel dan Sumbu di Perbatasan
26
Sambutan Dingin di Stasiun Pusat
27
Rencana di Balik Tirai Imperial
28
Runtuhnya Hak Veto Sang Penguasa Tua
29
Perangkap di Balik Tirai Adat
30
Runtuhnya Mahkamah Kuno
31
Takhta Baru di Pusat Moneter
32
Aturan Posesif di Atas Menara Utama
33
Taring Emas Di Samudra Finansial
34
Istana di Balik Kabut Puncak Bukit
35
Batas Suci
36
Jaringan Hitam di Distrik Barat
37
Ranjau Likuiditas di Samudra Saham
38
Kelahiran Sang Pewaris
39
Mahkota Emas Sang Penerus Takhta
40
Riak Baru di Balik Gemerlap Kemenangan
41
Tangisan Pertama di Atas Menara Finansial
42
Dominasi Tanpa Batas
43
Kepulangan Sang Penguasa Domestik
44
Riak di Sektor Maritim
45
Persekutuan Hitam di Dermaga Barat
46
Jebakan Bawah Tanah
47
Konsolidasi Sang Ratu Global
48
Badai Baru dari Benua Timur
49
Jerat Besi di Selat Perbatasan
50
Badai Baru dari Belahan Barat
51
Eksekusi di Pagi Hari
52
Guncangan di Pasar Trasatlantik
53
Konsolidasi di Pasar London
54
Sumbu Ketegangan dari Jauh
55
Eksekusi di Fajar Asia
56
Gempa Finansial di Sektor Pasifik
57
Badai Komoditas dari Selatan
58
Jerat Likuiditas di Benua Selatan
59
Kendali Atas Energi Dunia
60
Runtuhnya Dominasi Trans-Alpen
61
Bayang Bayang di Balik Dinding Kastel
62
Jerat Hukum di Ruang Sidang Agung
63
Jejak Terakhir Di Tempat Pengasingan
64
Benih Masa Depan
65
Penguasa Altar Pendidikan
66
Kata Pertama Sang Penerus
67
Tamparan di Ruang Komite
68
Retakan di Puncak Takhta
69
Eksekusi Tikus Korporasi
70
Sayap Kecil di Puncak Imperium

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!