Dorongan Menikah

Kediaman Mahendra

Juan melangkahkan kaki menuju kamar ibunya setelah mendapat kabar bahwa Sinta jatuh sakit sejak dua hari yang lalu. Pria berparas tampan dengan pembawaan tegas itu menaiki anak tangga satu per satu hingga akhirnya berhenti di depan pintu kamar.

"Ma..."

Juan membuka pintu perlahan. Di atas ranjang, Sinta tampak terbaring lemah dengan wajah yang sedikit pucat.

"Juan... sayang. Mama kangen."

Juan segera menghampiri dan memeluk ibunya. Meski dikenal sebagai pria dingin dan gengsi mengungkapkan perasaan, kasih sayangnya selalu terlihat dari sikap dan tindakannya.

"Ju, sebenarnya sudah lama ada yang mengganjal di hati Mama," ucap Sinta lirih. "Pulanglah. Tinggal lagi di rumah bersama Mama dan Papa."

"Ma, Juan sudah tiga puluh tahun. Masa masih tinggal bersama orang tua?"

Sinta mengembuskan napas pelan.

"Bukan itu maksud Mama. Belakangan ini Mama sering mendengar gosip tentang kamu dan asistenmu, Rangga. Katanya putra Pak Bram dan Bu Sinta yang tampan itu... suka sesama laki-laki. Mama sedih mendengarnya."

Juan mengusap wajahnya pelan.

"Gosip itu tidak benar, Ma. Rangga hanya asisten pribadi Juan. Wajar kalau kami sering bersama."

Sinta membelalakkan mata.

"Mama takut kalau gosip itu benar. Makanya Mama ingin kamu tinggal di rumah lagi. Sekarang Mama tanya, memangnya kamu tidak tertarik dengan perempuan?"

Juan terdiam.

Kesibukannya membangun perusahaan membuat urusan asmara nyaris tidak pernah terlintas dalam pikirannya.

"Kok diam?" Sinta semakin panik. "Jangan bilang benar, ya? Aduh, Papa... bagaimana ini? Anak semata wayang kita masa..."

"Mama..." Juan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Bukan begitu."

"Lalu bagaimana?"

"Juan hanya belum ingin menjalin hubungan. Menurut Juan, kebanyakan perempuan mendekati karena harta. Jadi, Juan memilih fokus membangun karier dulu."

Sinta menggeleng pelan.

"Memang tidak bisa dimungkiri, banyak perempuan ingin hidup berkecukupan. Itu hal yang wajar. Mereka ingin masa depan yang terjamin. Tapi bukan berarti tidak ada perempuan yang tulus."

Sinta menggenggam tangan putranya.

"Lihat Mama. Dari dulu Mama menemani Papa merintis usaha dari nol. Jatuh bangun bersama. Menjadi pasangan bukan hanya menikmati hasil, tetapi juga saling menguatkan saat keadaan sulit." Bu Sinta menatap sendu sang putra, sorot matanya yang teduh dan menenangkan.

Juan hanya menunduk memandangi lantai marmer.

"Pokoknya, buktikan kalau gosip itu tidak benar. Kenalkan seorang perempuan kepada Mama." Bu Sinta mengeratkan pegangan ganggaman tangan pada putranya.

"Ma... sekarang Juan benar-benar sedang sibuk."

"Sibuk apa? Mama sering lihat kamu pergi ke luar negeri bersama Rangga."

"Itu urusan pekerjaan, Ma."

Juan mengembuskan napas panjang.

"Juan pamit dulu. Semoga Mama cepat sembuh."

"Tunggu."

Langkah Juan terhenti.

"Tahun ini Mama ingin melihat kamu menikah. Umurmu sudah cukup."

Juan hanya tersenyum tipis sebelum melangkah keluar dari kamar.

****

Brak!

Pintu kamar Raya diketuk keras hingga membuat gadis itu terkejut.

Tubuhnya yang sejak semalam demam tinggi akhirnya menyerah. Seluruh persendiannya terasa nyeri, kepalanya berdenyut, sementara punggungnya seakan dipukul berkali-kali.

"Bangun, Raya!" bentak Maimun dari luar kamar. "Jangan banyak alasan. Baru demam sedikit saja sudah bermalas-malasan. Lihat orang-orang di luar sana. Mereka berjuang mencari uang demi sesuap nasi."

Bentakan seperti itu sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Raya.

Sejak kecil ia terbiasa menerima omelan, bahkan pukulan.

Sepuluh tahun yang lalu, saat duduk di bangku sekolah, Raya pernah pulang membawa rapor dengan peringkat tiga.

Bukannya dipuji, ia justru dipukul menggunakan pecut karena dianggap menurunkan prestasi.

Sejak hari itu, setiap pembagian rapor atau kenaikan kelas, Raya selalu dihantui rasa takut hingga jatuh sakit.

Dengan tubuh yang masih lemas, Raya memaksakan diri bangun.

"Belikan Ibu sayur. Kulkas kosong. Sebentar lagi abangmu pulang."

"Baik, Bu."

Tanpa membantah, Raya mengenakan sweter tebal untuk mengurangi rasa dingin yang menusuk tubuhnya. Wajahnya masih memerah karena demam ketika ia tiba di warung sayur langganan.

Beberapa ibu tengah berkumpul sambil mengobrol.

"Eh, Neng Raya!" sapa Bu Siti dengan senyum yang sulit diartikan. "Lagi libur, ya?"

"Iya, Bu. Hari ini hari Sabtu."

"Masih betah tinggal di kampung? Teman-temanmu sudah banyak yang sukses di kota."

Bu Siti tersenyum tipis.

"Anak Ibu, si Sari, sekarang kerja di hotel. Gajinya puluhan juta. Pacarnya juga tampan dan mapan. Tiap bulan sering memberi Ibu uang."

"Iya, Ray," sambung Bu Mustika. "Kamu cantik, masih muda, badannya juga bagus. Kalau kerja di kota, mungkin hidupmu sudah jauh lebih enak."

"Lihat anak Bu Lisa. Dia memilih menikah dengan duda kaya. Hidupnya sekarang serba berkecukupan."

Raya hanya tersenyum tipis sambil memilih bayam yang masih segar.

"Apa jangan-jangan kamu belum menikah karena status sosialmu?" tanya Bu Mustika.

Bu Siti terkekeh.

"Siapa juga yang mau sama perempuan bergaji pas-pasan? Ditambah ibunya terkenal suka minta uang. Belum lagi harus mengurus ibunya yang sering sakit. Lelaki zaman sekarang pasti berpikir dua kali."

Ucapan itu terasa menusuk.

Namun, Raya memilih diam.

Ia sudah terlalu sering mendengar kata-kata semacam itu.

"Kalau mau, saya kenalkan dengan Pak Darmo," kata Bu Mustika lagi sambil tertawa kecil. "Duda umur lima puluh tahun. Sawahnya luas. Memang lebih tua, tapi hartanya banyak."

Raya tetap tersenyum sopan.

"Bu, tempe satu papan, tomat, cabai sepuluh ribu, dan bayam tiga ikat. Berapa semuanya?"

Setelah menyerahkan uang lima puluh ribu, Raya menunggu kembaliannya.

Tatapannya sempat beralih kepada Bu Siti dan Bu Mustika yang masih memandangnya dengan tatapan meremehkan.

Raya mengembuskan napas pelan.

Kali ini, ia merasa sudah saatnya mengatakan sesuatu.

Bersambung...

Jangan lupa tinggalkan like, komentar, dan dukung terus cerita ini, ya! 💗

Terpopuler

Comments

Datu Zahra

Datu Zahra

orangtua begitu kok dibelain, tinggal merantau, putus hubungan. Bukan salah anak jadi durhaka kalo modelan ortu macam ini mah

2026-08-01

0

Lisa

Lisa

Tinggalin aj Ibu kamu Raya..toh di g menghargai kamu..udh pindah aj dr desa itu dan kerja di kota.

2026-06-28

1

lihat semua
Episodes
1 Sepotong Sayap Ayam yang Menyakitkan
2 Dorongan Menikah
3 Gadis Desa yang Elegan
4 Sebuah Pertelongan Datang
5 Salah Masuk Kamar
6 Imbalan Pernikahan yang ditawarkan
7 Taktik Cerdik
8 Akad yang Syahdu
9 Babak Baru kehidupan Raya
10 Membuat Salahtingkah
11 Bayangan di Balik Tirai Jendelal
12 Pindah ke Rumah Mama
13 Misi menaklukan Juan
14 Juan Sakit
15 Bayi Besar yang Manja
16 Kata yang Ambigu
17 Semburat Merah di Wajah
18 Wajah Nakal Berubah Teduh
19 Fitnah Tentang Juan
20 Tidak Mau Terburu-buru
21 Butuh Bukti?
22 Kecupan Hangat di Pagi Hari
23 Ledekan yang Bikin Meleleh
24 Keanehan Raya
25 Perhatian yang Berkedok Balas Budi
26 Bunga untuk Raya?
27 Binar Mata yang Memberi Semangat
28 Pertanyaan yang Belum Sempat Terjawab
29 Pelukan yang Menenangkan
30 Kecupan Sayang atau Kasihan?
31 Rasa yang Mulai Tumbuh
32 Pucuk Merah yang Tersembunyi
33 Junior Terusik Lagi
34 Maaf Tidak Bermaksud Menolak
35 Kejahilan yang Dapat diterima
36 Gosip Panas yang Datang
37 Hadiah yang bikin Salah Tingkah
38 Pipi yang Terasa panas
39 Tangisan Raya
40 Hati Wanita Mana yang Sedang kau Jaga
41 Kepulangan yang Menimbulkan Banyak Tanya
42 Pertanyaan yang Membuat Sesak
43 Istri Tapi Masih Perawan
44 Kedatangan Juan
45 Kecupan yang Terasa Berbeda
46 Seperti Kamar Pengantin
47 Merubah Status
48 Suara di bilik Kamar
49 Fakta tak Terbantahkan Lagi
50 Bagai Katak yang Ingin Kawin
51 Pembelaan Juan & Maimun
52 Jalan Tuhan Memang Selalu Indah
53 Pagi dengan Penuh Godaan
54 Suamimu Ray!
55 Kesepakatan
56 Jantung dibuat Tidak Aman
57 Butuh Kehangatn
58 Ukurannya Apa Bisa dikecilin
59 Perhatian yang Tak Terucap
60 Gerobak Bakso Vs CEO
61 Raya Mulai Berbeda
62 Tak Sengaja Jadi Papa
63 Papa atau Ayah
64 Doa di Tanah Sukarumpi
65 Tangis Haru, Raya Akan Menjadi Ibu
66 Di Dekapannya, Raya Tenang
67 Lesung Pipi untuk Abang
68 Recharge Energy
69 Morning Sick
70 Bunga Hidup dan Makna Tersirat
71 Tidurlah Abang Hanya Bercanda
72 Foto Masa Kecil Menjadi Kesayangan
73 Pirasat Buruk
74 Inginkan Raya
75 Obat yang Paling Ampuh
76 Manfaat Istri
77 Mawar Semakin Merekah
78 Tujuh Bulanan
79 Peresmian Pabrik
80 Itulah Mengapa Rasa Sayang Raya Begitu Besar
81 Permintaan Aneh Raya.
82 Pertengkaran Kecil
83 Persiapan Kelahiran
84 Kontraksi
85 Kazan Abrisam Mahendra
Episodes

Updated 85 Episodes

1
Sepotong Sayap Ayam yang Menyakitkan
2
Dorongan Menikah
3
Gadis Desa yang Elegan
4
Sebuah Pertelongan Datang
5
Salah Masuk Kamar
6
Imbalan Pernikahan yang ditawarkan
7
Taktik Cerdik
8
Akad yang Syahdu
9
Babak Baru kehidupan Raya
10
Membuat Salahtingkah
11
Bayangan di Balik Tirai Jendelal
12
Pindah ke Rumah Mama
13
Misi menaklukan Juan
14
Juan Sakit
15
Bayi Besar yang Manja
16
Kata yang Ambigu
17
Semburat Merah di Wajah
18
Wajah Nakal Berubah Teduh
19
Fitnah Tentang Juan
20
Tidak Mau Terburu-buru
21
Butuh Bukti?
22
Kecupan Hangat di Pagi Hari
23
Ledekan yang Bikin Meleleh
24
Keanehan Raya
25
Perhatian yang Berkedok Balas Budi
26
Bunga untuk Raya?
27
Binar Mata yang Memberi Semangat
28
Pertanyaan yang Belum Sempat Terjawab
29
Pelukan yang Menenangkan
30
Kecupan Sayang atau Kasihan?
31
Rasa yang Mulai Tumbuh
32
Pucuk Merah yang Tersembunyi
33
Junior Terusik Lagi
34
Maaf Tidak Bermaksud Menolak
35
Kejahilan yang Dapat diterima
36
Gosip Panas yang Datang
37
Hadiah yang bikin Salah Tingkah
38
Pipi yang Terasa panas
39
Tangisan Raya
40
Hati Wanita Mana yang Sedang kau Jaga
41
Kepulangan yang Menimbulkan Banyak Tanya
42
Pertanyaan yang Membuat Sesak
43
Istri Tapi Masih Perawan
44
Kedatangan Juan
45
Kecupan yang Terasa Berbeda
46
Seperti Kamar Pengantin
47
Merubah Status
48
Suara di bilik Kamar
49
Fakta tak Terbantahkan Lagi
50
Bagai Katak yang Ingin Kawin
51
Pembelaan Juan & Maimun
52
Jalan Tuhan Memang Selalu Indah
53
Pagi dengan Penuh Godaan
54
Suamimu Ray!
55
Kesepakatan
56
Jantung dibuat Tidak Aman
57
Butuh Kehangatn
58
Ukurannya Apa Bisa dikecilin
59
Perhatian yang Tak Terucap
60
Gerobak Bakso Vs CEO
61
Raya Mulai Berbeda
62
Tak Sengaja Jadi Papa
63
Papa atau Ayah
64
Doa di Tanah Sukarumpi
65
Tangis Haru, Raya Akan Menjadi Ibu
66
Di Dekapannya, Raya Tenang
67
Lesung Pipi untuk Abang
68
Recharge Energy
69
Morning Sick
70
Bunga Hidup dan Makna Tersirat
71
Tidurlah Abang Hanya Bercanda
72
Foto Masa Kecil Menjadi Kesayangan
73
Pirasat Buruk
74
Inginkan Raya
75
Obat yang Paling Ampuh
76
Manfaat Istri
77
Mawar Semakin Merekah
78
Tujuh Bulanan
79
Peresmian Pabrik
80
Itulah Mengapa Rasa Sayang Raya Begitu Besar
81
Permintaan Aneh Raya.
82
Pertengkaran Kecil
83
Persiapan Kelahiran
84
Kontraksi
85
Kazan Abrisam Mahendra

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!