Pukul empat pagi, Melani melangkah masuk ke dalam apartemennya dengan sangat perlahan. Keheningan malam menyambutnya. Di atas sofa ruang tamu, terlihat Rehan masih terkapar lelap dengan pakaian kantor yang belum sempat diganti. Wajahnya yang babak belur akibat pukulan anak buah Gavin membengkak kebiruan, memancarkan rasa lelah yang luar biasa setelah diforsir pekerjaan seharian.
Melani menghentikan langkahnya. Ia berdiri mematung di dekat sofa, menatap wajah suaminya yang tertidur lelap.
Di balik tas kecilnya yang kini penuh sesak oleh tumpukan uang tips puluhan juta hasil pekerjaan malamnya, tatapan Melani mendadak berubah memelas. Binar mata tajam nan dingin yang ia tampilkan di klub malam seketika luntur, berganti menjadi lelehan rasa sedih dan kepiluan yang amat dalam.
‘Rehan...’ batin Melani menjerit pilu.
Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Melani sangat mencintai Rehan. Ia mengingat kembali kenangan manis mereka saat masih berada di Manado. Dulu, meski Rehan sering berteriak dan membentaknya saat emosi, Rehan tidak pernah sekalipun melayangkan tangan atau menyiksa fisiknya. Rehan yang dulu adalah pria yang ia harapkan bisa menjadi pelindungnya.
Namun, baru beberapa hari melangkahkan kaki di kerasnya kota Jakarta, pria yang dicintainya itu berubah total menjadi monster yang sangat asing. Ambisi, gengsi tinggi, dan tekanan Jakarta telah meracuni pikiran Rehan hingga tega menjadikannya samsak pelampiasan KDRT setiap hari.
Dengan jemari gemetar, Melani berlutut di samping sofa. Ia menyentuh lembut helai rambut Rehan, mengusap bekas lebam di pipi suaminya dengan penuh kasih sayang yang tersisa. Air mata Melani menetes pelan, jatuh mengenai lengan jas Rehan.
"Kenapa kamu berubah jadi seperti ini, Rehan...?" bisik Melani lirih dengan suara serak menahan isak. "Aku cuma mau hidup tenang sama kamu... Kenapa harus ada pukulan dan kemarahan setiap hari...?"
Melani menyeka air matanya, lalu perlahan bangkit. Ia merapikan selimut tipis untuk menutupi tubuh Rehan, seb…
THE SILENT SECTOR
Bab 148
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 152 Episodes
Comments