Setelah beberapa saat kemudian, Baby Ziva akhirnya melepaskan sarapan nya tanda ia sudah kenyang meminum ASI eksklusif dari Shanum. Dengan gerakan yang sangat telaten, Shanum segera menegakkan tubuh mungil Ziva di pundaknya. Tangan kanannya dengan lembut menepuk-nepuk punggung bayi itu secara perlahan agar ia bisa bersendawa, sebuah metode yang sangat efektif untuk mencegah bayi mengalami gumoh atau muntah.
Daniel yang sejak tadi sudah membalikkan tubuhnya kembali, terpaku menyaksikan pemandangan itu. Melihat cara Shanum yang begitu cekatan, tenang, dan sangat mengerti bagaimana cara mengurus bayi dengan benar, sebuah keyakinan kuat mendadak muncul di hati Daniel. Pengalaman pahit Shanum yang baru kehilangan bayinya ternyata membekali wanita itu dengan naluri keibuan yang luar biasa. Akhirnya, Daniel mantap mengambil keputusan.
"Shanum, boleh kita bicara sebentar?" tanya Daniel pelan.
Shanum mengangguk patuh. Ia melangkah mendekati boks bayi, menempatkan kembali tubuh Baby Ziva yang kini sudah tertidur pulas dengan napas yang teratur. Setelah memastikan selimut sang bayi terpasang rapi, Shanum dan Daniel berjalan keluar dari ruangan tersebut menuju koridor yang lebih sepi.
Raut wajah Daniel menunjukkan keseriusan yang mendalam saat ia menatap mantap wanita di hadapannya.
"Apa yang ingin Pak Dokter bicarakan kepada saya?" tanya Shanum sopan.
"Begini, Shanum. Melihat bagaimana Ziva begitu tenang bersamamu, aku ingin meminta kesediaan mu untuk menjadi pengasuh sekaligus ibu susu untuk Ziva. Mengenai gaji, aku akan membayar berapapun yang kamu mau, asalkan kau mau mengabulkan permintaanku ini," ucap Daniel langsung pada intinya.
Shanum terdiam sejenak. Otaknya mencoba berpikir keras. Tawaran ini tentu saja sangat besar dan bisa menjadi jalan keluar bagi seluruh biaya rumah sakit neneknya. Di sisi lain, Daniel menunggu jawaban itu dengan debar jantung yang tak menentu. Jauh di dalam lubuk hatinya, selain demi kebutuhan Ziva, Daniel juga ingin sekali membantu wanita ini. Kisah hidup Shanum yang memilukan telah mengetuk pintu hatinya yang selama ini beku, ditambah lagi Shanum telah menjadi penyelamat bagi putrinya malam ini.
"Tapi Pak... saya merasa tidak enak dengan majikan saya yang sekarang, jika saya harus keluar begitu saja setelah baru beberapa hari bekerja," jawab Shanum bimbang. Ia menunduk, namun pikirannya kembali berputar pada kebaikan Daniel yang telah mengoperasi neneknya tanpa menuntut bayaran di awal.
Mendengar keraguan itu, raut wajah Daniel seketika menyiratkan kekecewaan yang samar. Namun, sebelum kekecewaan itu menetap, Shanum kembali mendongak dan memberikan jawaban lanjutannya.
"Tapi... demi Baby Ziva, dan demi semua kebaikan Pak Dokter yang sudah menyelamatkan nyawa Nenek saya... baik Pak, saya mau menjadi pengasuh sekaligus ibu susu untuk Baby Ziva."
Mendengar keputusan akhir dari bibir Shanum, Dokter Daniel seketika tersenyum lebar. Sebuah senyuman manis yang begitu langka, hingga memperlihatkan lesung pipi yang selama ini tersembunyi di balik wajah dinginnya. Keramahan itu membuat ketampanannya berlipat ganda dan terlihat sangat mempesona.
Shanum yang tidak sengaja melihat senyuman itu mendadak salah tingkah. Pipinya menghangat, dan ia buru-buru menundukkan kepalanya dalam-dalam untuk menyembunyikan rona merah yang terbit di wajahnya.
Saking bahagianya, tanpa sadar Daniel melangkah maju dan meraih kedua bahu Shanum dengan lembut. "Terima kasih banyak, Shanum. Aku benar-benar berhutang budi padamu!"
Shanum sedikit tersentak merasakan kehangatan tangan Daniel di bahunya, namun ia tetap menjaga pandangannya ke bawah, tidak berani menatap mata sang dokter. "Tidak, Pak Dokter. Justru ini adalah cara saya untuk membalas budi atas semua kebaikan Dokter selama ini terhadap Nenek."
Di saat momen penuh kehangatan itu tercipta, dari arah ujung lorong dekat pintu masuk ruangan pasien, Dokter Maura berdiri membeku. Menyaksikan bagaimana tangan Daniel mendarat di bahu Shanum dan bagaimana pria dingin itu tersenyum begitu lepas, Dokter Maura mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat hingga kukunya memutih.
'Apa-apaan ini?! Kenapa Dokter Daniel bisa begitu dekat dan bahkan menyentuh wanita kampungan itu? Ini tidak bisa dibiarkan!' batin Dokter Maura penuh dengan emosi dan rasa cemburu yang membakar dadanya.
Setelah pembicaraan penting dengan Dokter Daniel selesai, Shanum segera kembali ke kamar rawat inap kelas tiga untuk menemui sang Nenek. Dengan napas yang masih sedikit memburu akibat rasa haru yang membuncah, ia menceritakan seluruh kejadian yang baru saja dialaminya, tentang Baby Ziva yang demam, kecocokan ASI nya, hingga tawaran Daniel untuk menjadikannya pengasuh sekaligus ibu susu.
Mendengar penuturan jujur dari cucunya itu, air mata kebahagiaan meleleh di pipi keriput Bu Siti. Beliau berkali-kali melafalkan kalimat hamdalah, melangitkan rasa syukur yang tak terhingga kepada Sang Pencipta.
"Alhamdulillah, Ya Allah... Gusti Allah tidak pernah tidur, Num," ucap Bu Siti sambil menggenggam jemari Shanum. Beliau tersenyum penuh arti, merasa bahwa jalan menuju jodoh antara cucunya dengan Dokter Daniel kini semakin terbuka lebar.
Di dalam lubuk hatinya, Bu Siti hanya memiliki satu keinginan terakhir di sisa umurnya, yakni ia ingin melihat Shanum kembali bahagia. Setelah segala kepedihan, pengkhianatan mantan suaminya, dan kehilangan bayi yang menyayat hati, Shanum berhak mendapatkan pria baik yang akan memperlakukannya layaknya wanita terhormat, dihargai, dan dilindungi dengan sepenuh hati. Dan Bu Siti melihat sosok pelindung itu ada pada diri Dokter Daniel.
Keesokan Harinya
Keesokan harinya berjalan begitu cepat. Shanum mendatangi rumah majikan lamanya untuk mengundurkan diri secara baik-baik. Beruntung, sang majikan dapat memahami situasinya setelah Shanum menjelaskan bahwa ia harus mengurus bayi seorang dokter yang telah berjasa menyelamatkan Neneknya.
Selepas urusan itu selesai, Shanum bergegas kembali ke Rumah Sakit Citra Medika. Langkah kakinya membawa Shanum menuju lantai atas, tempat di mana Baby Ziva kini sudah dipindahkan ke ruang rawat inap kelas VVIP yang sangat mewah, luas, dan tenang.
Saat jemarinya mendorong pintu kayu yang kokoh itu, Shanum sempat dihinggapi rasa canggung yang luar biasa. Ruangan itu begitu megah, sangat kontras dengan kehidupan sederhananya selama ini. Namun, seluruh rasa canggung dan minder itu seketika sirna begitu pandangannya menangkap sosok Dokter Daniel yang sedang berdiri di dekat jendela, menggendong Baby Ziva dalam dekapannya.
Sadar akan kehadiran seseorang, Daniel menoleh dan tersenyum hangat. Di dalam gendongannya, Baby Ziva yang semula tenang mendadak bergerak aktif begitu melihat wajah Shanum. Sepasang mata bulatnya berbinar, dan kedua tangan mungilnya langsung terangkat ke udara, bergerak-gerak heboh memberi isyarat kuat bahwa ia ingin segera berpindah ke pelukan Shanum.
Melihat respons menggemaskan itu, Shanum tidak dapat menahan senyumnya. Ia melangkah mendekat dengan senang hati, menjulurkan kedua tangannya untuk meraih tubuh mungil Ziva dari dekapan hangat sang dokter.
"Aduh, Ziva cantik sudah bangun ya? Kangen sama Bunda ya, Nak?" tanya Shanum spontan dengan nada yang sangat gemas, secara alami menyebut dirinya 'Bunda' karena naluri keibuannya yang terketuk.
Ziva yang kini sudah berada di pelukan nyaman Shanum langsung mendongak. Seolah mengerti ucapan wanita itu, sang bayi mulai berceloteh riang dengan bahasa bayinya yang khas, memamerkan gusi mungilnya yang belum tumbuh gigi.
Celotehan tak bergelombang dan ekspresi lucu Ziva sontak membuat Shanum dan Dokter Daniel tertawa terbahak-bahak secara bersamaan. Suara tawa mereka bersahutan, mengisi setiap sudut ruangan VVIP yang semula sunyi itu dengan kehangatan yang baru.
Dokter Daniel perlahan melangkah mundur satu jengkel, memandangi pemandangan indah di depannya dengan perasaan lega yang teramat sangat. Hatinya dipenuhi rasa beruntung yang luar biasa. Baru kali ini, semenjak kepergian mantan istrinya, ia melihat Baby Ziva bisa sebahagia dan seaktif ini bersama orang lain. Di mata Daniel, di antara Ziva dan Shanum seperti sudah memiliki sebuah ikatan batin yang sangat kuat, seperti seorang anak yang akhirnya menemukan kembali belahan jiwa ibunya yang sempat hilang.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments
~Ni Inda~
Saling cocok lah ya
Tp hrs tabah & kuat ya Num...pesona Dokter Daniel kan begitu kuat menghipnotis perempuan² diluar sana
Bakal bnyk gangguan terutama dari Dokter Maura yg sdh menampakkan taringnya
2026-05-20
1
~Ni Inda~
Hadeeuuuhh...siapa dirimu bagi Dokter Daniel, Dokter Maura?
Hanya sebatas rekan kerja...nothing special
Cara Dokter Daniel memandangmupun biasa saja
Gosah terlalu berharap...sakitnya sampai ke ginjal entar 🤣🤣
2026-05-20
1
Ilfa Yarni
ya pastilah karena ziva udah minum asi dr shanum mk tejadilah ikatan bathin yg sangat kuat
2026-05-20
1