Chapter 4

Deru mesin mobil mewah Dokter Daniel berhenti tepat di depan pelataran kediamannya. Belum sempat ia mematikan mesin secara sempurna, suara tangisan melengking seorang bayi sudah menembus dinding rumah, menguji ketenangan hatinya sebagai seorang ayah. Daniel bergegas turun dan melangkah lebar masuk ke dalam rumah.

Di dalam kamar, Bik Sumi, pengasuh bayi yang berusia empat puluh tahun itu tampak sangat kewalahan. Wajahnya peluh, dan ia terus mengayun-ayunkan bayi mungil yang baru berusia empat bulan itu dengan perasaan cemas yang membuncah.

"Alhamdulillah, akhirnya Tuan Daniel pulang juga!" seru Bik Sumi, napasnya lega namun suaranya bergetar menahan panik.

"Bagaimana keadaan Ziva, Bik? Kenapa menangisnya sampai melengking seperti ini?" tanya Daniel cepat, gurat kelelahan di wajahnya seketika luntur, tergantikan oleh rasa khawatir yang mendalam.

"Aduh Tuan, Bibi juga bingung. Sudah dikasih ASI donor yang ada di kulkas juga tetap tidak mau. Tadi malah gumoh terus, Tuan!" lapor Bik Sumi dengan suara hampir menangis.

Tanpa membuang waktu, Daniel segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dengan baju rumahan yang bersih agar lebih steril sebelum menyentuh putrinya. Begitu keluar, ia mendekati boks bayi dan perlahan mengambil Baby Ziva ke dalam dekapannya. Namun, saat kulit mereka bersentuhan, telapak tangan Daniel merasakan panas yang tidak wajar.

"Ya ampun, Ziva! Kamu demam, Nak!" Daniel tersentak.

Sebagai seorang dokter, kepalanya langsung memikirkan berbagai risiko buruk. Jika demam ini tidak segera ditangani, ia takut putrinya yang masih sangat rentan itu bisa mengalami kejang. Tanpa berpikir panjang lagi, Daniel kembali membungkus Ziva dengan selimut bayi dan bergegas membawanya kembali ke Rumah Sakit Citra Medika.

Setibanya di rumah sakit, suasana berubah tegang. Ziva langsung dilarikan ke ruang tindakan anak dan ditangani oleh dokter spesialis anak yang sedang berjaga malam itu, yakni Dokter Maura.

"Dok, tolong selamatkan putriku!" ucap Daniel, suaranya yang biasa terdengar dingin dan tegas kini bergetar hebat. Di hadapan putrinya, ia hanyalah seorang ayah biasa yang rapuh.

Dokter Maura menatap Daniel dengan senyuman tulus yang menenangkan. Di balik profesionalismenya, ada binar perhatian lebih yang tersorot dari matanya, Dokter Maura diam-diam memang menaruh hati pada dokter spesialis jantung yang matang dan tampan ini. "Tenang, Dok. Saya akan lakukan yang terbaik untuk Ziva. Anda tunggu di luar dulu ya."

Sementara itu, Shanum yang baru saja selesai makan malam di warung tenda samping rumah sakit berjalan pelan kembali menuju ruang rawat neneknya. Langkahnya terhenti saat melihat sosok jangkung yang sangat ia kenal sedang duduk bersandar di dinding lorong ruang tindakan anak dengan kepala tertunduk dan kedua tangan yang saling meremas cemas. Itu adalah Dokter Daniel.

Shanum memberanikan diri untuk menghampirinya. Dokter Daniel yang menyadari ada langkah kaki mendekat, mendongak dan cukup terkejut melihat sosok Shanum berdiri di hadapannya.

"Pak Dokter? Anda masih di sini? Bukankah tadi sudah pulang?" tanya Shanum heran, menatap wajah sang dokter yang tampak begitu kusut.

Belum sempat Daniel menjawab, pintu ruang tindakan terbuka. Dokter Maura keluar dengan papan catatan medis di tangannya.

"Dokter Daniel," panggil Dokter Maura, membuat Daniel langsung berdiri tegak. "Maaf sekali, setelah diperiksa, yang menyebabkan Baby Ziva demam tinggi adalah karena donor ASI yang dikonsumsinya kemarin sedikit bermasalah bagi pencernaannya. Ziva mengalami reaksi alergi yang cukup hebat. Dia harus secepatnya mendapatkan ASI eksklusif segar dari seseorang yang memiliki produksi ASI bagus. Dan yang paling penting, orang itu tidak boleh mengonsumsi makanan seafood karena bisa berdampak buruk pada alergi Ziva."

Mendengar penjelasan itu, dada Shanum mendadak terasa sesak. Ia menatap Dokter Daniel yang kini mematung dengan tatapan kosong penuh kebingungan. Seseorang sekaya dan sehebat Dokter Daniel, yang telah menyelamatkan nyawa neneknya, ternyata harus menghadapi kesulitan sebesar ini demi mengasuh bayinya seorang diri.

Shanum menundukkan kepalanya sejenak. Secara tidak sadar, ia menyentuh dadanya. Sudah tiga hari ini, ASI nya keluar sangat melimpah pasca keguguran dua minggu yang lalu, bahkan sering kali merembes hingga membasahi pakaian dalamnya. Tuhan seolah membiarkan ASI itu tetap mengalir subur, dan sekarang Shanum tahu apa alasannya.

Shanum mengangkat wajahnya, menatap lurus ke arah sepasang mata Dokter Daniel yang sedang kalut.

"Pak Dokter... apakah saya boleh membantu Anda?" tanya Shanum lembut namun mantap. "Kebetulan, saya memiliki produksi ASI yang sangat melimpah setelah saya mengalami keguguran dua minggu lalu. Dan saya... saya sama sekali tidak suka makan seafood."

Dokter Daniel tertegun. Ia menatap Shanum seolah tidak percaya dengan keajaiban yang baru saja didengarnya. Kebekuan di wajahnya perlahan mencair, dan untuk pertama kalinya malam itu, sebuah senyuman tipis yang penuh rasa lega terukir di bibirnya.

"Terima kasih, Shanum... Terima kasih banyak karena kau mau menolong Ziva," ucap Daniel dengan nada suara yang bergetar penuh rasa syukur.

"Sama-sama, Dokter Daniel," jawab Shanum tulus diiringi anggukan pelan.

Dalam hatinya, Shanum berbisik dengan penuh keharuan.

'Ini merupakan salah satu bentuk balas budiku terhadap Anda yang telah menyelamatkan Nenek, Dokter Daniel Lee. Lewat putri kecilmu, Tuhan mengizinkan aku menjadi seorang ibu lagi, meski bukan untuk bayiku sendiri.'

Setelah melalui pemeriksaan cepat untuk memastikan kondisi kesehatan Shanum, Dokter Maura akhirnya memberikan izin tertulis agar Shanum bisa menyusui Baby Ziva secara langsung. Namun, di sudut ruangan, Dokter Maura berdiri dengan melipat kedua tangannya di dada. Raut wajahnya tampak masam, memancarkan ketidaksukaan yang amat jelas atas kehadiran Shanum.

'Sial. Andai saja aku yang memiliki ASI melimpah ruah seperti dia, aku yakin Dokter Daniel akan dengan mudah aku taklukkan. Tapi kenapa takdir harus mempertemukannya dengan wanita kampungan ini sih!'batin Dokter Maura kesal, matanya menatap sinis ke arah Shanum yang sedang bersiap-siap.

Akan tetapi, Shanum tidak memperdulikan sekelilingnya. Fokusnya hanya pada bayi yang sedang membutuhkan pertolongan. Setelah memakai pakaian steril khusus, Shanum melangkah masuk ke dalam ruang perawatan intensif anak. Dokter Daniel pun menyusul di belakangnya, mengenakan pakaian steril yang sama.

Saat Shanum untuk pertama kalinya melangkah mendekati boks bayi dan melihat sosok mungil yang tak berdosa itu berbaring dalam kondisi lemah tak berdaya, dadanya mendadak berdenyut nyeri. Bayangan tentang mendiang putri kecilnya yang telah tiada seketika berputar kembali di kepalanya. Air mata Shanum sempat menetes membasahi pipinya, namun dengan buru-buru ia mengusapnya menggunakan ibu jarinya agar tidak terlihat oleh sang dokter.

Shanum menarik napas dalam-dalam, mengulas senyum terbaiknya, lalu membungkuk sedikit di atas boks bayi. "Halo Baby Ziva... Wah, kamu cantik sekali, Nak," bisiknya dengan nada suara yang teramat lembut.

Daniel yang berdiri tidak jauh di sampingnya terus saja memperhatikan interaksi antara Shanum dan putrinya dengan seksama. Ada rasa hangat yang aneh menjalar di hatinya melihat ketulusan wanita itu.

Seolah mendengar suara yang menyejukkan, Baby Ziva perlahan membuka matanya. Bayi mungil itu menoleh ke arah Shanum, dan sedetik kemudian, ia mengulas senyum tipis ke arah wanita berhijab tersebut. Daniel cukup terkejut melihat reaksi putrinya, Ziva yang biasanya sangat rewel dan takut pada orang asing, kini justru terlihat begitu tenang.

Tak lama kemudian, kedua tangan kecil Ziva terangkat ke atas, bergerak-gerak di udara seolah ingin meminta Shanum untuk segera menggendongnya.

Dengan rasa gemas yang membuncah namun tetap penuh kehati-hatian, Shanum meraih dan mendekap tubuh mungil yang masih terasa hangat karena demam itu ke dalam pelukannya. Baby Ziva menatap lekat-lekat wajah Shanum, seakan mengenali aroma kasih sayang seorang ibu yang selama ini ia rindukan.

Shanum kemudian berjalan menuju kursi menyusui yang terletak di samping boks bayi. Sadar akan batasan dan norma, Shanum duduk membelakangi Dokter Daniel untuk menjaga privasinya.

Dokter Daniel pun seketika merasa canggung. Pria itu berdehem pelan dan langsung membalikkan tubuhnya membelakangi Shanum, memberikan ruang yang nyaman bagi wanita itu untuk memberikan ASI eksklusif bagi putrinya.

Begitu dekapan itu mengerat, Baby Ziva dengan lahap dan tenangnya mulai meminum ASI dari Shanum. Suasana di dalam ruangan yang tadinya tegang seketika berubah menjadi begitu damai, hanya menyisakan suara sesapan kecil dari sang bayi yang kelaparan.

Merasakan aliran kehidupan yang tersalurkan dari tubuhnya untuk menolong makhluk sekecil Ziva, Shanum tersenyum sangat bahagia. Air mata haru kembali menggenang di sudut matanya, kali ini bukan karena kesedihan, melainkan karena rasa syukur yang luar biasa karena ia bisa menjadi penyelamat bagi bayi mungil dan cantik seperti Baby Ziva.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

~Ni Inda~

~Ni Inda~

Hehh...profesionalitas jgn dicampuraduk dg egoisme
Itu namanya tak jodoh
Gosah maksain diri
Semesta gak merestui krn yg dibutuhkan baby Ziva adalah ibu susu sekaligus ibu sambung yg tulus & baik hati meski bkn dari keluarga kaya....bkn ibu sambung yg penuh iri dengki bermukadua
Lagian Dokter Daniel pun tak melirikmu pdhal sdh jd rekan kerja & jumpa hampir setiap hari
Paham sampai disini Dokter Maura 🥱🤭

2026-05-20

1

neny

neny

awal mula mau jd bunda nya ziva ya num,,tp hati2 ada ulat bulu di sekitar mua🤭

2026-05-20

1

Teh Euis Tea

Teh Euis Tea

klu anak kecil mah tau yg tulus sm yg modus ky dr Maura yg ngincer bpknya klu Shanum kan tulus ingin di donor asi buat bayi zifa

2026-05-20

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!