Keesokan paginya, pukul enam pagi. Narendra sudah berada di rumah sakit, ia melangkah menyusuri lorong dengan jubah putihnya yang berkibar, auranya yang berwibawa membuat para perawat dan dokter muda secara refleks menunduk hormat.
"Dokter Narendra, pasien di ruang 402 mengalami penurunan kesadaran pasca-trauma," lapor seorang asisten Dokter dengan gugup.
"Siapkan ruang operasi sekarang, saya tidak mau menunggu hasil lab kedua, tekanannya sudah terlalu tinggi," instruksi Narendra dengan nada bicara yang cepat dan tanpa kompromi.
Bagi rekan sejawatnya, Narendra adalah mesin yang sempurna dingin, efisien dan hampir tidak pernah menunjukkan emosi. Namun, tanpa mereka tahu di sela-sela mencuci tangan sebelum masuk ke ruang operasi yang steril, Narendra sempat melirik jam tangannya dan bergumam pelan.
'Dia pasti sudah mulai mengajar sekarang,' batin Narendra sambil tersenyum tipis yang sangat singkat, satu-satunya momen manusiawi sebelum ia kembali menjadi Dokter tanpa perasaan.
Operasi besar itu berlangsung selama enam jam, saat Narendra keluar dari ruang operasi dengan peluh yang membasahi dahi, ia segera melepas maskernya dan menarik napas panjang lalu duduk di ruangannya yang sunyi dan memijat pangkal hidungnya yang terasa penat.
Baru saja Narendra hendak memejamkan mata sejenak untuk mengusir pening, pintu ruangannya diketuk dengan pelan. Seorang residen masuk membawa beberapa berkas evaluasi pasien, namun langkahnya terhenti saat melihat Narendra yang biasanya selalu tegap kini tampak sedikit bersandar ke kursi kebesarannya.
"Dokter, ini laporan pasca-operasi tadi. Kondisi pasien sudah stabil di ICU," lapor residen tersebut dengan suara gemetar.
Narendra membuka matanya dan seketika tatapan tajamnya kembali, "Letakkan di meja, pastikan observasi per jam, jangan sampai ada pendarahan sekunder," perintah Narendra.
"Baik, Dok," ucapnya lalu pergi.
Baru saja Narendra ingin memejamkan matanya, lagi-lagi suara ketukan pintu membuat Narendra harus kembali terjaga.
"A…
Pengagum Rahasia
Siapa?
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 103 Episodes
Comments
Kusii Yaati
dengerin tuh kata papamu van, kalau Narendra sudah menutup pintu jangan coba memaksa mendobrak pintu itu kalau nggak mau sakit hati.nggak semua keinginanmu harus tercapai apabila soal hati,mau Kanaya gadis desa kalau Naren cinta terus masalahnya apa, nggak terima kamu kalah saing dengan gadis desa.
2026-02-10
0
Ariany Sudjana
Vania kamu itu jalang murahan yah, sudah tahu dokter Narendra ga berminat sama kamu, kamu saja kepedean mau jadi istrinya dokter Narendra, owh iya kamu kan hanya ingin harta dokter Narendra saja yah 🤭🤭
2026-02-09
0
Naufal Affiq
naren jangan kasih celah untuk vania,dia itu wanita jalang,padahal dia tau kanu itu sudah tunangan,ada aja alasan untuk dekatmu naren
2026-02-09
0