Setelah sarapan , Ara mengecek ponselnya yang dari semalam tidak berhenti bergetar . Puluhan panggilan tidak terjawab dan pesan dari Andra
Drrtttt drrttt dtttt "Leo, aku akan menyelesaikan sekarang juga" Kiara menggeser kan layar ponselnya ke arah biru.
" Hallo Andra "
[ Kenapa kamu tidak menemui aku hingga sekarang Ra? Aku masih di sini menunggu kamu ] terdengar suara Andra yang serak dan berat mungkin karena Andra tidak tidur dari semalam
" Maafkan aku Andra , aku ngak bisa pergi sama kamu . Aku tidak bisa melakukan itu, aku mengkhawatirkan papa dan mama ku. Andra sekarang aku sudah memiliki Alana , aku adalah ibu dari Alana . Mungkin kita memang tidak di takdir kan untuk bersama Andra . Aku berdoa supaya kamu juga menemukan cinta yang baru , dan hidup bahagia bersama nya " sangat berat Ara mengatakan kata demi kata kepada lelaki yang masih ada di hatinya itu. Dengan air mata dan sakit di dada , Ara mengucapkan per kalimat tersebut kepada Andra
[Kamu mencintai suami kakak mu Ra? " Tanya Andra di seberang sana
" Tidak ada cinta Andra , mengerti lah jangan semakin menyiksa hati dan pikiran ku, sangat berat untuk mengatakan semua ini kepada mu Andre " bahkan hingga sekarang Ara menangis terisak. Belum ada sedikit pun rasa cinta dan sayang terhadap Andra terkikis oleh apa pun namun Ara sadar jika ia menantang takdir ini, tidak akan hanya dia yang semakin sakit, tapi kedua orang tua nya juga akan malu serta Alana juga akan merasakan efek dari semua itu
[Tapi aku sangat mencintai mu Ra? Bagaimana dengan nasib ku Ra? Apa semua ini karena harta dan kekayaan Ra? Apa kamu lebih memilih mas Vano hanya karena dia adalah kaya dan jauh lebih berkuasa dari pada ku?" Andra yang tidak bisa lagi menahan emosinya di sebrang sana
Mendengar kan semua itu Ara Hanya menggelangkan kepalanya namun tentu Andra tidak mengetahuinya " iya aku hanya berfikir logis dan rasional saja Andra, hidup berumah tangga tidak hanya membutuhkan cinta . Semua butuh materi , uang dan pekerjaan yang Mateng dan menjanjikan" Ara terpaksa berbohong kepada Andra dengan harapan lelaki itu membenci nya dan menjauhi nya.
" Maafkan aku Andra" gumam hati Kiara
[Baiklah Ra, aku akan membuktikan nya kepada mu. Tapi ingat Ra di saat aku sukses kelak , aku akan mencari dan menjemput kamu Ra, jika waktunya tiba kamu tidak memiliki alasan untuk menolak ku lagi ] Andra berbicara dengan nada yang tegas dan berat
" Hiduplah dengan bahagia Andra , capai lah impian dan mimpi mu. Jadilah orang besar , selamat tinggal" Ara mematikan panggilan telfon tesebut. Ara merasa jika nanti Andra sudah berhasil, Andra pasti tidak akan mengingat nya lagi, ada banyak perempuan yang akan tertarik kepadanya tentu salah satu mereka ada yang akan di sukai dan cintai Andra.
" Baiklah Ra, tunggu kedatangan aku Ra " akhirnya Andra memutuskan sambungan telepon di antara mereka
Ara terduduk di lantai dan menyandarkan punggungnya nya ke ranjang tempat tidur. Ara memejamkan matanya dan bertanya-tanya sendiri kenapa semua ini terjadi kepada nya . Takdir yang sangat sulit, menikahi abang ipar sendiri , suami dari kakak kandung nya sedang kan dia memiliki seorang kekasih hati yang sangat mencintai nya begitu pun dengan Ara yang tulus mencintai Andra tanpa embel-embel apa pun.
" Apa hoby kamu nge prank orang lain " suara bariton berasal dari pintu kamar Ara
" Aku ngak bermaksud untuk itu " Ara enggan berdebat dengan Vano yang notabene sudah menjadi suami nya tersebut.
" Hmm tidak bermaksud tapi kamu niat " Vano malah mendekati Ara yang sedang duduk di lantai
" Cepat lah bersiap , siang nanti kita akan ke jakarta " sambung Vano yang setelah mengucapkan Kalimat tersebut ia keluar dan tidak lagi mendengar kan jawaban dari Ara
" Apa harus hari ini mas?" Ara menaikan oktaf suaranya supaya Vano yang telah sampai di pintu kamar mendengar kan apa yang ia ucapkan
" Hmm iya, tapi jika kamu masih ingin di sini atau masih ingin bertemu dengan kekasih hati mu , silahkan saja tapi ingat jangan libatkan saya untuk masalah ini " Vano melanjutkan langkahnya menjauh dari kamar Ara
" Apa aku yakin akan tinggal bersama beruang kutub itu " Ara melihat ke arah dinding yang terpampang nyata photo dia bersama Dila.
" Mbak kenapa semua ini seperti ini mbak? Kenapa sekarang aku merasa mbak mengorbankan aku? Apa mbak membalas ku sekarang karena dari kita kecil mbak selalu mengalah kepada ku
Ara menidurkan badan nya di atas sofa panjang yang ada di kamar nya . Mungkin karena kelelahan atau kurang tidur tadi malam membuat Ara tertidur pulas hingga bermimpi bertemu Dila.
" Ayo ayo cepat lah Ra " Dila memanggil Ara yang sedang melihat taman yang indah dari jauh
" Taman itu sangat jauh mbak, aku tidak berani ke sana . Aku dari sini saja melihat nya " Ara menjawab ucapan yang di lontarkan oleh Dila
" Itu milik mu Ara? Ayo kemarilah, taman itu sangat indah bukan? Cepat lah Ra " Dila dengan susah payah dan semangat untuk membujuk Ara.
" Baiklah mbak, aku akan mencoba nya untuk masuk ke dalam taman indah itu " Ara berlari namun tidak mudah untuk memasuki taman tersebut. Ara harus jatuh bangun dulu, karena jalan nya yang tidak mudah
" Aku sudah tidak sanggup mbak" Ara mengeluh di dalam mimpinya
" Kamu harus semangat Ra, berjuang lah hingga akhir " mendengar ucapan sang kakak, Ara langsung bangkit dari jatuhnya dan melanjutkan berlari menuju taman
" Loh siapa mereka mbak?" Ara yang baru sampai di taman indah tersebut, melihat dua orang di dalam taman tersebut dengan posisi membelakangi Ara.
" Mereka milik mu Ra , berbahagia lah " Dila menunjuk lelaki dewasa dan anak Perempuan tersebut
" Mamahhhhhhh" anak perempuan tersebut membalik kan tubuhnya dan berlari menuju Dila dan Ara sambil membentangkan kedua tangan nya
" Mamahhhhhhh" anak tersebut malah memeluk Ara bukan nya Dila
" Sayang " lelaki dewasa tersebut ternyata Vano yang berjalan mendekati mereka. Vano mendekap tubuh nya Ara dan Alana bukan Dila.
" Mbak" Ara dengan ekspresi yang bingung dan merasa bersalah kepada sang kakak
Dila menggeleng kan kepala " tidak Ra, sekarang mereka milik mu. Jaga mereka Ra, berbahagia lah , berjuanglah Ra untuk keluarga kecil mu. Mbak titipkan Alana dan keluarga mbak Ra. Jaga papa dan mama kita , jangan lagi bersedih, mbak pamit" dengan sekejap Dila menghilang di hadapan Ara
" Mbakkkk Dilaaaaaa " teriak Ara yang membuat semua penghuni rumah tersebut berkumpul di dalam kamar Ara
" Sayang kamu kenapa nak " Ajeng yang mendekati putrinya sambil kwatir melihat keringat yang bercucuran di wajah dan badan anak nya
" Mbak Dila mah hiks hiks hiks hiks " Ara memeluk sang mama. Semua orang yang ada di sana paham jika Ara pasti habis bermimpi bertemu dengan Dila.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments