Hari-hari berlalu, tidak terasa Ariel sudah dah hampir seminggu berada diantara keluarga Pak Imran.
keadaannya sudah membaik, dia sekarang sudah tidak merasakan sakit lagi, namun ingatannya masih tetap sama saat keluar dari rumah sakit.
Malam ini Ariel duduk dihalaman rumah Pak Imran, didekat pohon mangga ada kanebo sedang yang digunakan Pak Imran ataupun Ibuk Siti untuk istirahat sementara.
Ariel duduk di kanebo itu diantara tanaman yang ditanam oleh Pak Imran dan Ibuk Siti.
Ariel menatap langit malam yang penuh dengan bintang, Ariel membayangkan kehidupannya sekarang yang tidak tau asal usulnya.
Disaat Ariel sedang merenung memandang bintang-bintang, Pak Imran yang baru pulang dari pengajian di mushola menyapanya.
"Kenapa kamu diluar, bagai mana sakitnya?" Tanya Pak Imran yang juga menempatkan bokongnya disebelah Ariel.
Ariel tersentak, dia sama sekali tidak melihat atau merasakan langkah Pak Imran.
"Eh Bapak, Bapak baru pulang dari musholla?" Ariel bukannya menjawab yang Pak Imran tanyakan, dia malah balik bertanya.
Pak Imran mengangguk mengiyakan, karena dia memang baru pulang dari pengajian.
"Gimana apa masih sakit?" Pak Imran kembali bertanya karena tadi Ariel tidak menjawab.
"Sudah lumayan Pak, hanya sedikit perih saja." Jawab Ariel. Pak Imran bersyukur Ariel sudah sembuh, dan soal ingatan Pak Imran membiarkan Ariel mengingatnya sendiri, jika dibawa kerumah sakit tidak mungkin karena Pak Imran tidak punya uang, dan uang yang dia dapat dari bekerja cukup untuk makan sehari-hari dan sedikit dikirim untuk putrinya yang sedang menambah ilmu.
"Pak aku ingin bekerja, setidaknya aku punya aktivitas, dan juga bisa membantu Bapak sama Ibuk." Ujar Ariel yang sudah merasa bosan dan tidak enak kalau hanya tidur dan makan saja.
Pak Imran sama Buk Siti sangat begitu baik padanya, dia merawat Ariel dengan senang hati tidak pernah mengeluh, jadi tidak mungkin Ariel hanya berdiam diri dan numpang makan saja.
"Jangan dulu, kamu belum benar-benar pulih, kamu harus istirahat dulu, nanti kalau sudah sembuh total barulah kamu bekerja." cegah Pak Imran tidak mau membuat Ariel sakit lagi.
"Tapi Pak--"
"Sudah, Bapak tau perasaan kamu, tapi, kamu masih sakit, kamu tidak perlu sungkan, anggap kami seperti orang tuamu sendiri." Pak Imran dan Ibuk Siti juga sudah menganggap Ariel seperti Putranya, keduanya tidak pernah merasa terbebani oleh Ariel.
"Baiklah Pak, jika nanti Ariel sembuh, Ariel janji akan membahagiakan Bapak, Ariel akan membawa bapak ke tanah suci." Ucap Ariel yakin, dia harus bekerja keras untuk membahagiakan orang yang sudah menolong dan merawatnya tanpa pamrih dan mengeluh.
Pak Imran jadi terharu mendengar penuturan Ariel, dia tidak menyangka orang yang dia tolong mempunyai hati yang baik.
Pak Imran menepuk-nepuk bahu Ariel, rasanya dia punya Anak lelaki sendiri.
"Ayo masuk, ini sudah larut, Ibuk pasti sudah mengantuk." Ajak Pak Imran.
"Iya pak," jawab Ariel mengikuti langkah kaki Pak Imran masuk kedalam rumah.
Ariel tidak tahu saja, dia mampu membawa Pak Imran dan Buk Siti ketanah suci tanpa harus bekerja keras, bahkan kekayaan Ariel mampu membawa seluruh warga desa ini semua ketanah suci. Namun saat ini Ariel belum mengingat siapa dirinya.
Sampai didalam rumah Ariel langsung masuk kemar yang sudah hampir satu Minggu menjadi kamarnya.
***
Disisi lain seorang wanita paruh baya yang terlihat masih cantik di usianya yang sudah memasuki kepala lima, sedang duduk termenung.
Pandangannya kosong kedepan, pikirannya menerawang entah kemana, sudah hampir satu Minggu dia tidak berselera makan.
Wanita itu menginginkan Anak lelakinya kembali. Disudut ruangan berdirilah seorang pemuda tampan yang terus menatap wanita paruh baya itu dengan hati terenyuh.
Pemuda yang tidak lain adalah Deril, sangat khawatir pada keadaan wanita yang sudah membesarkannya sejak dari kecil.
Deril sudah berusaha mencari Ariel yang sudah menjadi Adiknya walaupun keduanya tidak memiliki darah yang sama namun Deril sangat menyayangi Ariel sebagai Adiknya.
Deril tidak berhenti mencari Ariel, bahkan dia sudah mengerahkan semua orangnya dan juga orang Re untuk menemukan Ariel.
Deril bukan hanya mencari Ariel, dia juga harus memimpin perusahaan karena Ariel tidak ditemukan.
Tubuh Deril sebenarnya sangat lelah, namun dia harus kuat demi membuat wanita paruh baya yang sudah di panggil Mama olehnya sejak kecil jangan sampai sakit.
"Ma, Mama belum tidur?" tanya Deril menghampiri Nyonya Rita yang sudah termenung.
Nyonya Rita tidak menanggapi, dia memandang kedepan degan pikiran kosong.
Deril menggenggam tangan Nyonya Rita hingga membuat Nyonya Rita tersentak dari lamunan.
"Mama jangan terlalu memikirkan Ariel, aku yakin Adikku akan baik-baik saja, aku dan semua orang sedang mencarinya, Mama sekarang tidur ya, aku tidak mau Mama nanti sakit." Ujar Deril menggenggam tangan Nyonya Rita.
Nyonya Rita tidak mengeluarkan. Sepatah katapun, dia hanya mengangguk.
Deril menuntun Nyonya Rita kekamar, dia menyelimuti Nyonya Rita dan mengucapkan selamat malam pada Mamanya itu.
"Selamat malam Ma," Ucap Deril dan setelah itu keluar dari kamar Mamanya itu.
Deril masuk kedalam kamarnya, dia juga tidak bisa tidur, pikirannya selalu memikirkan tentang Adiknya itu.
"Sebenarnya kemana, apa yang terjadi padamu?" tanya Deril pada diri sendiri.
Deril merogoh benda pipih miliknya, dia segera menekan nomor kontak Re.
"Assalamualaikum," Sapa Re diseberang telepon saat sudah tersambung.
"Waalaikumsalam, gimana, apa sudah ada informasi dari orang mu?" tanya Deril berharap sudah ada titik terang tentang keberadaan Adiknya.
"Belum ada, tapi tadi siang anak buahku bertemu dengan seseorang yang pernah melihat tiga pemuda yang bermotor gede." Re memberitahu Deril kalau anak buahnya sempat bertemu seseorang yang melihat tiga pemuda saling kejar dengan motor gede.
"Siapa orang itu, dimana dia melihatnya?" tanya Deril antusias, dia berpikir mungkin ini titik terang untuk menemukan Adiknya.
"Kamu istirahat dulu, besok kita akan menemui orang itu." Ujar Re tidak memberitahu Deril lebih lanjut.
Obrolan keduanya di akhiri, Deril langsung merebahkan tubuhnya yang lelah, dengan harapan besok pagi-pagi dia akan mendapatkan titik terang tentang Ariel.
Sementara disisi lain, bersama kedua temannya yang menjadi anak buahnya, ketiganya sedang bersenang-senang disebuah club malam.
Ketiganya saling tertawa mendengar cerita Bobi yang menceritakan tentang Deril dan Re datang kerumahnya menanyakan Ariel.
Mereka tertawa karena Deril dan Re mampu dikelabui oleh Bobi. "Betapa bodohnya mereka, hahah." Doni tidak bisa berhenti tertawa karena menganggap cerita Bobi sangat lucu.
"Apa kalian tau, kalau Deril dan Re, sempat mengancam ku ketika hendak pergi dari rumah." Ujar Bobi lagi.
"Hahaha, bos tidak usah khawatir, serahkan semua sama kami, lagi pula kami sudah menghapus semua jejak, Deril, Re, dan polisi tidak mungkin mengetahui kalau itu perbuatan kita." Doni sangat yakin tidak ada bukti apapun yang terisi, dan mereka yakin kalau Ariel sudah mati dimakan buaya.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 24 Episodes
Comments
Abu Yub
lanjut dedek.nanti aku datang lagi/Ok/
2025-03-29
2
Nur Wahyuni
orang jahat lama2 bakalan ketahuan juga..
2025-03-23
1