Semua orang langsung menghentikan perkelahian mereka karena tahu bahwa orang yang datang ini adalah penguasa Pakuwon Ganter, Akuwu Arya Gajah.
Sima Ranu selaku kepala prajurit Pakuwon Ganter dengan pangkat Bekel, langsung menunjukkan sikap hormat nya saat penguasa Pakuwon Ganter itu mendekat.
"Ada apa ini Sima Ranu? Mengapa ada keributan semacam ini heh? ", nada tidak senang terdengar dari mulut lelaki paruh baya ini.
" Mohon ampun Gusti Kuwu..
Orang orang ini berani menentang kebijakan kami saat patroli keamanan di pasar besar ini", ucap Sima Ranu dengan memberi hormat.
"Pintar sekali kau memutarbalikkan omongan, Ki Bekel. Kau yang lebih dulu mengganggu ku. Sekarang kau mengatakan bahwa kami menentang kebijakan mu. Sungguh-sungguh licik! ", sahut Parwati yang tidak terima dengan omongan Bekel Sima Ranu.
Sanggahan dari Parwati seketika membuat Akuwu Arya Gajah menatapnya. Lelaki paruh baya ini mengenali Parwati sebagai putri Danghyang Resi Siwamurti, tokoh agama berpengaruh dalam kawasan Pakuwon Ganter.
"Oh Nimas Parwati putri Danghyang Resi Siwamurti rupanya..
Sekarang katakan yang sebenarnya, Nimas. Aku akan berusaha untuk bersikap adil pada semuanya", ucap Akuwu Arya Gajah yang terlihat seperti sungkan pada nama besar Pertapaan Gunung Pegat.
Dengan gamblang dalam berbicara, Parwati menceritakan semuanya mulai dari awal mereka datang ke pasar besar hingga sampai terjadi bentrokan dengan prajurit Pakuwon Ganter pimpinan Bekel Sima Ranu. Tak ada yang disembunyikan sedikitpun dari cerita yang ia utarakan.
Mendengar ini, Akuwu Arya Gajah geram bukan main dan langsung menempeleng wajah Bekel Sima Ranu dengan keras.
Pllllaaaaaakkkkk!!!
"Dasar kurang ajar! Berani-beraninya kau berbuat kurang ajar pada putri Danghyang Resi Siwamurti hah?! Sudah bosan hidup kau, Sima Ranu?! "
Bekel Sima Ranu langsung berjongkok dan menyembah pada Akuwu Arya Gajah.
"Ampuni hamba Gusti Kuwu. Jujur hamba tidak tahu bahwa ia adalah putri pemuka agama terkenal itu. Mohon Gusti Kuwu berbelas kasih pada hamba", hiba Bekel Sima Ranu memelas.
" Huhh, dasar tidak tahu diuntung. Kalau bukan karena kau adik dari selir ku, sudah ku pecat kau sekarang juga.
Nimas Parwati, mohon Nimas tidak memperpanjang masalah ini. Saya minta dengan sangat agar Nimas merahasiakan hal ini dari Danghyang Resi Siwamurti ", Akuwu Arya Gajah mengalihkan perhatiannya pada Parwati.
" Aku bisa saja melakukan nya tetapi semua kerusakan yang disebabkan oleh ulah orang ini aku minta di ganti rugi. Jika tidak, jangan salahkan aku jika aku mengadu pada Kanjeng Romo Resi", tegas Parwati enteng. Mahesa Sura tersenyum tipis sedangkan Tunggak langsung mengacungkan dua jempol nya yang membuat Parwati tersenyum simpul.
"Baik baik, semua ganti rugi akan ditanggung oleh Bekel Sima Ranu. Silahkan Nimas Parwati jika ingin melanjutkan berbelanja", ujar Akuwu Arya Gajah ramah.
" Tidak perlu. Seleraku hilang karena ulah anak buah mu, Gusti Kuwu. Kakang Sura, Tunggak dan semuanya ayo kita pulang ke pertapaan "
Segera rombongan Pertapaan Gunung Pegat ini melangkah meninggalkan pasar besar. Melihat mereka pergi, Akuwu Arya Gajah bisa menghela napas lega.
"Gusti Kuwu, kenapa Gusti Kuwu kelihatan sangat menghargai orang orang Pertapaan Gunung Pegat itu? Gusti Kuwu kan penguasa disini", bisik Bekel Sima Ranu lirih. Mendengar omongan itu, Akuwu Arya Gajah mendelik geram.
" Dasar bodoh! Apa kau tidak tahu bahwa Danghyang Resi Siwamurti itu masih kerabat dekat dengan Istana Kotaraja Majapahit hah?! Jangankan aku, bahkan Bhre Keling Gusti Arya Danaloka tidak berani untuk mengabaikan permintaan dari mereka".
Wajah Bekel Sima Ranu langsung pucat seketika mendengar omongan penguasa Pakuwon Ganter itu.
"Untung saja mereka bersedia untuk tidak memperpanjang masalah ini. Kalau itu terjadi, bisa hilang kepala ku.
Eh Gusti Kuwu lantas bagaimana dengan ganti rugi untuk para pedagang ini? ", tanya Bekel Sima Ranu segera.
" Tentu saja kau yang membayarnya! "
"Tetapi hamba tidak punya uang sekarang ini. Darimana hamba punya banyak uang untuk mengganti? "
"Sudah miskin masih juga berlagak pula. Aku akan mengeluarkan duit dari kantong ku. Tetapi gaji mu selama 6 purnama tidak ku bayar", Akuwu Arya Gajah mengeluarkan sekantong kepeng perak dari balik bajunya dan melemparkannya ke arah Bekel Sima Ranu.
" Ganti semuanya, jangan ada yang terlewati. Aku tidak mau ada yang mengadu pada putri Danghyang Resi Siwamurti itu di kemudian hari", peringat Akuwu Arya Gajah sembari berlalu pergi. Bekel Sima Ranu pun mendesah penuh sesal.
"Nasib nasib... "
*****
Puluhan prajurit mengenakan jarit berwarna hijau berlari kencang menapaki jalan di lereng selatan Gunung Pegat. Nampak dalam kelompok prajurit ini beberapa orang berpakaian berbeda selayaknya seorang bangsawan. Diantara mereka ada seorang perempuan muda berparas cantik.
"Cepat Gusti Putri..!! Kita tidak boleh tertangkap oleh mereka!", ujar salah seorang diantara mereka yang berpakaian seperti seorang perwira.
" Ah aku tahu Paman Tumenggung Dandang Pengaron! Tapi tapi ah aku sudah tidak kuat lagi berlari hooossshhh hooossshhh.. ", balas si perempuan cantik itu dengan nafas tersengal-sengal.
Belum sempat lelaki berpakaian perwira yang dipanggil dengan sebutan Tumenggung Dandang Pengaron itu menanggapi, beberapa ekor kuda berlari kencang ke arah mereka. Dalam beberapa saat kemudian, mereka telah sampai di hadapan rombongan prajurit berjarit hijau ini.
"Sampai disini kalian rupanya hemmmm.. Mau lari kemana lagi kalian hah?! ", hardik seorang lelaki tua dengan rambut separuh memutih dengan pakaian merah tua dari atas kuda tunggangan nya.
"Jaran Guyang! Jangan kau pikir kami takut pada mu, kami akan bertarung melawan mu sampai mati! ", teriak Tumenggung Dandang Pengaron lantang. Para prajurit berjarit hijau itu langsung bersiaga dengan senjata terhunus.
" Melawan ku? Hahahahahaha...
Dandang Pengaron, kalau mau mampus maju saja jangan banyak bicara! ", balas lelaki tua berpakaian merah tua itu penuh kesombongan.
" Bangsat! Prajurit, bunuh bajingan itu!!! "
Mendengar teriakan Tumenggung Dandang Pengaron, 8 prajurit langsung menerjang ke arah tiga orang berkuda itu dengan senjata terarah pada mereka. Pertarungan antara kedua belah pihak pun segera terjadi.
Begitu para prajurit maju, Tumenggung Dandang Pengaron segera mendekati perempuan cantik dan lelaki paruh baya di sebelah nya.
"Kakang Mantri Mpu Teja, aku percayakan keselamatan Gusti Putri Rara Larasati pada mu. Saat aku mengulur waktu menghadapi si keparat Jaran Guyang, kalian berdua larilah secepat mungkin", ujar Tumenggung Dandang Pengaron segera.
" Tapi Paman Tumenggung... ", belum sempat perempuan cantik yang bernama Rara Larasati itu melanjutkan omongan, Tumenggung Dandang Pengaron menghunus keris nya dan melesat ke arah pertarungan.
Thhrrraaaannggg thhrrraaaannggg...
Dhhhaaaaaassshh aaarrrrggggghhhh!!!
Jerit kesakitan mengikuti denting senjata tajam beradu. Adu nyawa di kaki selatan Gunung Pegat ini benar-benar membuat darah berdesir bagi siapapun yang melihatnya.
Lelaki tua bertubuh kurus yang merupakan pejabat tinggi Kerajaan Lodaya itu langsung menggelandang tangan Rara Larasati untuk meninggalkan tempat itu begitu Tumenggung Dandang Pengaron menghambur ke dalam pertarungan.
Tetapi Jaran Guyang bukanlah seorang pendekar bodoh. Melihat Tumenggung Dandang Pengaron terjun ke medan pertarungan, dia melompat mundur sambil melihat ke arah Rara Larasati dan Mantri Mpu Teja. Melihat mereka berdua kabur, Jaran Guyang langsung berteriak keras.
"Paksi Kuning, hadapi perwira tua itu! Buat dia sibuk! "
Yang dipanggil langsung menganggukkan kepalanya dan langsung menghadang pergerakan Tumenggung Dandang Pengaron. Dia yang menggunakan senjata berbentuk cakar burung langsung mengayunkan nya ke arah perwira tinggi Kerajaan Lodaya ini.
Shhhrreeeeeeeeettttt shhhrreeeeeeeeettttt!!
Sergapan cepat Paksi Kuning membuat Tumenggung Dandang Pengaron harus menjatuhkan dirinya agar terhindar dari maut. Tak berhenti sampai disitu, Paksi Kuning kembali mengejar dengan serangan cepatnya yang sangat merepotkan bagi Tumenggung Dandang Pengaron.
Di sisi lainnya, Jaran Guyang mengambil kesempatan ini untuk mengejar buruannya, Rara Larasati. Menggunakan ilmu meringankan tubuhnya, sekali hentak tubuhnya berlari kencang seperti kuda berlari mengejar Mantri Mpu Teja dan Rara Larasati.
Hanya dalam dua tarikan nafas saja, Jaran Guyang berhasil mengejar pelarian Rara Larasati dan Mantri Mpu Teja.
"Mau lari kemana kau, Putri Lodaya?! "
Jaran Guyang memutar kedua telapak tangan nya sembari berlari. Dua cahaya merah gelap tercipta di kedua telapak tangan nya. Lalu dengan cepat ia mengayunkan kedua telapak tangan nya ke arah Mantri Mpu Teja dan Rara Larasati.
Whhuuuuuutttt whhuuuuuutttt...
Dari ekor matanya, Mantri Mpu Teja melihat kedatangan serangan musuh. Lelaki tua renta ini pun segera berteriak keras,
"Selamatkan diri mu, Gusti Putri! Hamba akan mengulur waktu... "
Setelah berkata demikian, Mantri Mpu Teja segera melepas pegangan tangan Rara Larasati sambil komat-kamit merapal mantra. Kedua tangannya cepat berselimut cahaya biru berhawa dingin. Saat serangan Jaran Guyang datang, Mantri Mpu Teja langsung berteriak,
"Ajian Bendung Segara... Chiiiyyyaaaaattttt... "
Blllaaaaaaaaammmmmmm!!!!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 22 Episodes
Comments
🗣🇮🇩Joe Handoyo🦅
Aish.. kenapa namanya Jaran Guyang🤔 jadu ingat lagu dangdut 😅
2025-03-11
4
Batsa Pamungkas Surya
ledakan ajiannya di chapture selanjutnya
2025-03-11
3
saniscara patriawuha.
pastiiii masalae wadonnn maninggg iki.....
2025-03-16
2