Tubuh Mantri Mpu Teja mencelat jauh imbas ledakan keras ini. Tubuhnya yang kurus sampai berguling-guling di tanah hingga penuh rumput dan debu. Darah segar langsung muncrat keluar dari mulut punggawa kerajaan Lodaya ini.
Sementara itu Jaran Guyang sendiri hanya tersurut mundur beberapa tombak ke belakang. Ia sungguh tidak menyangka bahwa lelaki kurus ini masih menyimpan ilmu pamungkas yang membuatnya nyaris saja tumbang andai tak meningkatkan jumlah tenaga dalam di saat-saat terakhir mereka mengadu ilmu kanuragan.
"Tak ku sangka punggawa tengik seperti mu punya sesuatu juga. Tapi aku tidak akan segan-segan lagi. Terimalah ajal mu, punggawa busuk!! "
Kedua tangan Jaran Guyang langsung merentang ke kedua sisi tubuhnya sebelum menangkup di depan dada. Cahaya merah kekuningan langsung berpendar dari pertemuan kedua telapak tangan nya. Rupa-rupanya, Jaran Guyang bersiap untuk menghabisi nyawa Mantri Mpu Teja dengan Ajian Cadas Ngampar, ilmu andalannya.
Usai ilmu andalannya sempurna dirapal, Jaran Guyang langsung melompat ke arah Mantri Mpu Teja yang masih terduduk di tanah.
Whhhhuuuuuuugggggg...
"Awas Paman...!!!! ", teriak Rara Larasati penuh kecemasan.
Sementara itu Mantri Mpu Teja langsung memejamkan matanya karena pasrah menerima ajal yang sebentar lagi menjemputnya.
Saat semua nya sudah terpaku pada pikiran masing-masing, tiba-tiba...
Satu bayangan biru berkelebat cepat dan memapak pergerakan Jaran Guyang dengan telapak tangan bercahaya merah kehitam-hitaman.
Blllllaaaaaaaaaaammmmmm!!!!!
Ledakan dahsyat terdengar memekakkan gendang telinga, menciptakan gelombang kejut yang menyapu ke segala arah. Bahkan Mantri Mpu Teja yang masih terduduk pun ikut terseret oleh hempasan gelombang kejut luar biasa ini.
Tubuh Jaran Guyang terpelanting jauh ke belakang dan menyusruk tanah dengan keras. Dia lekas bangkit tetapi darah segar meleleh keluar dari sudut mulutnya. Rasa sesak terasa menghimpit dada lelaki tua berbaju merah tua itu. Matanya nyalang menatap sosok lelaki berbaju biru yang berdiri tegak di hadapannya.
"Bajingan busuk, siapa kau? Kenapa kau ikut campur dalam urusan ku hah?!! ", gertak Jaran Guyang segera.
" Siapa aku itu tidak penting, tetapi siapapun yang punya hubungan dengan Padepokan Bukit Tengkorak dan Kebo Panoleh adalah musuh ku!! ", balas sosok yang tak lain adalah Mahesa Sura ini lantang sambil menunjuk kalung berbandul tengkorak manusia di leher Jaran Guyang.
Ya, setelah urusan pasar besar Pakuwon Ganter rampung, Mahesa Sura memang mengikuti langkah Parwati pulang ke Pertapaan Gunung Pegat. Namun saat masih berjarak ratusan tombak dari wilayah tujuan, telinga Mahesa Sura yang mendengar suara ledakan keras pertarungan karena kepekaan Ajian Indra Dewa yang diturunkan oleh Serigala Awu.
Dia langsung melesat menuju tempat pertarungan untuk menonton. Awalnya ia tidak ingin ikut campur tetapi melihat kalung berbandul tengkorak manusia di leher Jaran Guyang dan dua pengikutnya, Mahesa Sura tak bisa tinggal diam.
Jaran Guyang terdiam sejenak mendengar omongan Mahesa Sura sembari memperhatikan musuhnya itu. Masih muda, berpakaian biru gelap, memiliki ilmu aneh Ajian Tapak Iblis Neraka yang sanggup mengungguli Ajian Cadas Ngampar nya dan paling penting memusuhi Padepokan Bukit Tengkorak. Dia sama sekali tidak punya gambaran tentang orang ini.
"Nyali mu besar juga, bocah tengik!
Memusuhi Padepokan Bukit Tengkorak jelas kau bosan hidup. Apa kau pikir pimpinan Padepokan Bukit Tengkorak, Jerangkong Hitam akan diam saja melihat anak buahnya di pecundangi oleh mu hah?! ", teriak Jaran Guyang mencoba menggunakan nama besar Padepokan Bukit Tengkorak untuk menakut-nakuti musuh.
Dia tahu bahwa Ajian Tapak Iblis Neraka berhubungan dengan Si Iblis Berjari Perak yang merupakan tokoh dunia persilatan golongan hitam yang sangat ditakuti. Reputasi sebagai pembunuh kejam tak kenal ampun dari Si Iblis Berjari Perak bisa jadi juga dimiliki oleh orang ini. Meskipun sudah puluhan tahun Si Iblis Berjari Perak menghilang dari dunia persilatan, tetapi sampai saat ini Ajian Tapak Iblis Neraka nya tetap merupakan ilmu kanuragan yang menakutkan.
"Persetan dengan Jerangkong Hitam! Semua orang yang terlibat dengan mereka, harus mati! "
Setelah menggembor buas seperti ini, Mahesa Sura langsung menerjang ke arah Jaran Guyang menggunakan ilmu silat yang ia pelajari dari Ki Kidang Basuki, Kebo Kenanga, Nini Rengganis dan Serigala Awu. Gerakan campuran ini membuat Jaran Guyang harus berjibaku dengan seluruh kemampuan beladiri nya.
Shhrrrraaakkkkkk!!!
Aaaaauuuuuuggghhhhhh..!!!
Jaran Guyang menjerit tertahan setelah cakar tangan kiri Mahesa Sura mengoyak punggungnya. Rasa perih seketika menyerang seiring luka itu mengeluarkan darah.
Dengan cepat Jaran Guyang mencoba menjauh dengan melepaskan hantaman Ajian Cadas Ngampar nya.
Whhhhuuuuuussshhh...
Gelombang cahaya merah kekuningan berhawa panas menderu kencang ke arah Mahesa Sura yang baru menjejak tanah. Dengan santainya, Mahesa Sura hanya menggeser sedikit posisi tubuh nya hingga hantaman serangan ini hanya menyambar angin kosong di sebelah tubuh.
Bllllaaaaaarrrrrrrrr!!!
Rerimbunan pohon pisang di belakang Mahesa Sura meledak dan hancur berantakan akibat dari hantaman Ajian Cadas Ngampar Jaran Guyang. Merasa kewalahan menghadapi Mahesa Sura, salah satu petinggi Padepokan Bukit Tengkorak ini langsung berteriak.
"Gajah Biru..!! Bantu aku...!!! "
Teriakan keras ini terdengar oleh dua orang pengikut Jaran Guyang yang sedang mengeroyok Tumenggung Dandang Pengaron. Yang disebut namanya, langsung meninggalkan pertarungan nya dan mendekat ke arah Jaran Guyang.
"Tumben kau memanggil ku, Jaran Guyang? Sudah kelabakan menangkap perempuan cantik itu ya? Hehehehe.. ", seloroh Gajah Biru sambil cengengesan.
" Tutup mulut mu! Apa aku terlihat baik-baik saja hah?! ", bentak Jaran Guyang. Gajah Biru langsung memperhatikan keadaan Jaran Guyang dan melihat bahwa saudara seperguruannya itu mengalami luka-luka yang cukup parah.
" Orang berbaju biru itu pelakunya? ", Jaran Guyang mengangguk cepat mendapat pertanyaan ini. Gajah Biru segera waspada. Bisa melukai Jaran Guyang separah ini pasti bukan orang sembarangan.
" Gunakan kekuatan gabungan antara kita untuk mengalahkan nya, Jaran Guyang. Aku yakin bisa mengalahkan nya", ucap Gajah Biru kemudian. Lagi Jaran Guyang mengangguk cepat dan keduanya langsung berdiri berjajar.
Tangan kiri Jaran Guyang dan tangan kanan Gajah Biru bersatu. Sedangkan kedua tangan mereka segera melakukan serangan Ajian Cadas Ngampar pada Mahesa Sura.
Hiyyaaaaaaaattttttt!!
Gumpalan cahaya merah kekuningan dengan ukuran besar langsung menerabas cepat ke arah Mahesa Sura. Tahu bahwa ini berbahaya, Mahesa Sura langsung menjejak tanah tempat ia berpijak dengan keras lalu melenting tinggi dan mendarat di cabang pohon keluwih.
Melihat lawannya lolos, Gajah Biru dan Jaran Guyang kembali melepaskan serangan ke tempat Mahesa Sura berada. Lagi-lagi Mahesa Sura dengan lincah menghindari serangan maut dua dedengkot Padepokan Bukit Tengkorak itu. Gajah Biru dan Jaran Guyang terus mengejar dengan ilmu kanuragan andalan mereka.
Blllaaaaaammm blllaaaaaammm blllaaaaaammm!
Suara ledakan keras terus menerus terdengar dari tempat itu hingga sekitar tempat itu hancur berantakan.
Sedangkan Rara Larasati yang melihat pertarungan antara mereka, meringkuk ketakutan. Meskipun sesekali ia mencuri pandang, tetapi ia yang awam dengan ilmu kanuragan tetap saja bergidik ngeri.
Melihat kerusakan yang ditimbulkan oleh serangan dua dedengkot Padepokan Bukit Tengkorak yang membabibuta ini, Mahesa Sura menggeram dingin. Apalagi ia melihat perempuan yang meringkuk ketakutan, ia menjadi teringat peristiwa lampau saat ia takut setengah mati saat keluarga angkatnya di bantai.
Segera ia merapal mantra Ilmu Cakar Serigala Besi yang diajarkan oleh Serigala Awu. Kuku tangannya memanjang dan menjadi tajam seperti kuku serigala. Cahaya hitam pekat juga muncul di jari jemari tangannya.
Shhhrrraaaaakkkkk shhhrrraaaaakkkkk!!
Sepuluh larik cahaya hitam pekat menderu cepat ke arah Jaran Guyang dan Gajah Biru usai kedua tangan Mahesa Sura diayunkan. Melihat itu, dua dedengkot Padepokan Bukit Tengkorak itu segera memapak pergerakan serangan itu dengan gabungan Ajian Cadas Ngampar mereka.
Zrraaaashhh zrraaaashhh!!
Hebatnya, sepuluh larik cahaya hitam pekat itu sama sekali tidak terpengaruh dengan Ajian Cadas Ngampar dan terus melaju ke arah Jaran Guyang dan Gajah Biru.
"Bajingannn.... !!! "
Umpatan Jaran Guyang ini membuat Gajah Biru sadar dengan maut mengancam. Mereka langsung memisahkan diri agar selamat dan ini yang diinginkan oleh Mahesa Sura.
Begitu mereka terpisah, Mahesa Sura mengincar Jaran Guyang yang sudah lemah karena luka-luka juga tenaga dalam nya yang sudah terkuras akibat serangan ngawur nya. Dengan gerakan cepat, Mahesa Sura mencegah pergerakan Jaran Guyang sambil mengayunkan cakar tangan kanan nya.
Shhhrrraaaaakkkkk shhhrrraaaaakkkkk..
Jaran Guyang tak sempat menghindari serangan maut Mahesa Sura hingga tubuhnya langsung tercabik-cabik oleh Ilmu Serigala Cakar Besi. Lelaki tua berbaju merah ini langsung roboh dengan tubuh bersimbah darah.
Melihat Jaran Guyang jatuh, Gajah Biru langsung ciut nyalinya. Dia langsung berlari cepat menjauh sambil menghantamkan Ajian Cadas Ngampar nya.
Usai membantai Jaran Guyang, Mahesa Sura mengejar ke arah Gajah Biru yang berbadan besar. Diam-diam ia merapal mantra Ajian Tinju Gempur Bumi yang diwariskan oleh Kebo Kenanga. Cahaya hijau gelap menyelimuti kepalan tangan kiri nya.
Berhasil menghindari hantaman Ajian Cadas Ngampar, Mahesa Sura melompat ke arah Gajah Biru dan menghajar punggung lelaki tua bertubuh gempal itu dengan kepalan tangan kiri sekuat tenaga.
Blllllaaaaaaaaaaammmmmm...
Tubuh Gajah Biru meledak dan terbakar semburat ke segala arah. Petinggi Padepokan Bukit Tengkorak ini tewas mengenaskan. Dari kejauhan, Paksi Abang yang melihat kedua kawan nya tewas, langsung bergegas kabur menyelamatkan diri. Meninggalkan Tumenggung Dandang Pengaron yang hampir kehabisan tenaga.
Dengan langkah terseok-seok, Tumenggung Dandang Pengaron segera mendekati Mahesa Sura yang masih menatap mayat lawannya. Begitu juga dengan Rara Larasati dan Mantri Mpu Teja yang tertatih-tatih mendekati nya.
"Terimakasih atas bantuan nya, Pendekar.. Kami beruntung masih bisa hidup. Ini semua karena bantuan pendekar", ucap Tumenggung Dandang Pengaron penuh hormat.
" Jangan banyak basa-basi. Aku memang dendam pada orang-orang Padepokan Bukit Tengkorak. Aku akan menghabisi mereka semua sekalipun tanpa adanya kalian ", jawab Mahesa Sura acuh tak acuh.
" Selanjutnya jaga diri kalian baik-baik. Aku permisi.. "
Setelah berucap demikian, Mahesa Sura hendak melangkah pergi tetapi suara Rara Larasati segera menghentikannya,
"Tunggu Pendekar.. "
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 22 Episodes
Comments
ruswandi jayanegara
tunggu pendekar saat ini masih bulan puasa mari kita berbuka bersama.......🤣🤣🤣🤣
2025-03-12
3
🗣🇮🇩Joe Handoyo🦅
Tiarap Larasati jangan meringkuk aja 😅
2025-03-12
4
Aifa 2 Jeddah
terimakasih pendekar,aku jatuh cintrong kepadamu
2025-03-12
3