Sifa terlihat sangat kikuk, ia tidak menyangka Mama mertua nya sedetail itu.
Revan pun baru tersadar jika memang Sifa tidak menggunakan cincin kawinnya, karena memang ia jarang bahkan tidak pernah memperhatikan.
Sifa menoleh ke arah Revan, netra mereka bertemu, Revan pun menatapnya dengan tatapan intimidasi.
" Euh.. Itu Mah.. Sifa biasa melepas cincin kalau mandi atau cuci piring, soalnya kadang air suka menggenang di belakang cincinnya " ucap Sifa sekenanya.
" Oh begitu, kirain Mama kemana, nanti pakai lagi ya, itu kan sebagai tanda kalau kalian itu sudah menikah, Mas ingatkan istrimu " balas Bu Ratna.
" Nanti jangan lupa pakai cincin nya ya " ucap Revan kepada Sifa.
Blash
Kali kedua Sifa mendengar Revan berkata lembut kepadanya, namun kali ini berbeda, sangat berbeda. Sifa tertegun, ia masih tidak percaya, biasanya Revan berbicara seperlunya dan sedikit ketus.
Oh ya ia baru ingat, kali ini mereka berada di depan Bu Ratna, Mamanya Revan.
Jika di depan kedua orangtua masing-masing mereka berdua cukup apik memainkan peran. Sehingga kedua orangtua mereka beranggapan jika rumah tangga anak-anak nya baik-baik saja dan bahagia.
Sifa hanya mengangguk kan kepalanya.
" Ayo kita lanjut lagi makannya " ajak Bu Ratna.
Mereka kembali dengan nasi dan lauk dihadapannya. Namun kali ini pikirannya cukup terganggu, ia mengingat-ingat dimana ia menyimpan cincin kawinnya, seusai resepsi pernikahan ia melepas cincin itu lalu ia simpan sembarang, ia pastikan cincin itu ada dikamar nya, di rumah kedua orangtuanya.
" Sif.. " panggil Bu Ratna kembali membuyarkan lamunan Sifa.
" Iya Ma "
" Itu Mas Revan mau tambah, ambilkan "
" O.. Iya Ma "
" Mau yang mana ? " Tanya Sifa kepada Revan.
" Tambah sayur aja " jawab Revan.
Tanpa bertanya lagi Sifa langsung mengambilkan sayur, lalu ia simpan di piring makan Revan.
" Terima kasih " ucap Revan.
Sifa hanya mengangguk lalu kembali fokus pada piring di hadapannya.
" Sifa, kamu perlu ada yang membantu gak disini ? Mama lihat tadi cucian kamu banyak "
" Mmh.. Tidak perlu Ma, tidak apa-apa kalau untuk mencuci Sifa masih bisa kok melakukannya sendiri " ucap Sifa.
" Beneran ? Mas Revan suka bantu kamu ? "
Sifa melirik ke arah Revan, Revan memperhatikan Sifa dan Mamanya. Seolah Revan menunggu jawaban yang diucapkan oleh Sifa kepada Mama nya.
" Iya Ma.. Mas Revan bantuin Sifa kok, kadang kita giliran, kalau Mas Revan lagi sempat " ucap Sifa kembali mengarang bebas.
" Hmm.. Syukurlah, ya memang seharusnya begitu harus saling membantu, bersama-sama, agar di saat kita melakukan pekerjaan di rumah tidak ada beban, malah kita jadi senang kan melakukannya " ucap Bu Ratna.
" I.. Iya Ma.. " balas Sifa tersenyum sedikit di paksakan.
Setelah selesai makan Sifa merapikan piring dan gelas bekas makannya, lalu ia bawa ke wastafel langsung mencucinya. Sedangkan Revan dan Mama nya berada di ruang tv, mereka sedang menonton tv, ingin rasanya ia langsung ke kamar, namun sepertinya tidak mungkin karena Mama mertua nya masih disini.
" Sifa sudah selesai ? Sini Nak " panggil Bu Ratna.
Sifa berjalan menghampiri Mertuanya lalu duduk tepat di depan Revan.
" Mama seneng deh sekarang liat kalian, Mama jadi tenang Papa juga kalau tahu pasti tenang, baik-baik ya kalian dalam berumah tangga "
" Iya Ma " Sifa mengangguk mengiyakan.
Ia menyadari memang sejak awal bertemu Mama mertua nya ini baik, bahkan sangat baik, ia lebih diperhatikan oleh Bu Ratna dibandingkan Revan yang katanya suaminya ini.
Ini yang membuat Sifa akhirnya bisa menerima keadaannya sekarang, ia mengubur masa lalu nya, ia bertekad untuk menjalani hidup sekarang dan kedepannya, sempat ingin menyerah, karena bagi Sifa lebih baik hidup sendiri daripada harus hidup dengan seseorang yang tidak ia cintai dan tidak mencintainya.
Setelah berbincang, akhirnya Mama mertuanya pamit untuk pulang.
" Ya sudah Mama pulang dulu ya, kasian nanti Papa pulang kerja Mama masih di luar "
" Iya, Ma hati-hati, Mama terima kasih banyak ya " ucap Sifa menyalami Bu Ratna.
" Iya, jangan lupa Roti bikinan Mama makan ya sama Mas Revan "
Sifa hanya mengangguk.
" Hati-hati Ma, salam untuk Papa " susul Revan menyalami Mama.
" Iya.. Baik-baik ya kalian Mama pulang Assalamu'alaikum "
" Wa'alaikumusalam " balas Revan dan Sifa berbarengan.
Mereka berdua mengantarkan Bu Ratna sampai teras karena disana ia sudah ditunggu oleh supir pribadi keluarga Revan.
Sifa memperhatikan hingga mobil yang Mama mertua naiki hilang dari pandangan. Hanya dirinya dan Revan sekarang. Ia menjadi kikuk sendiri hal yang jarang terjadi ia berada di tempat yang sama.
Tanpa sepatah kata pun, Sifa berjalan untuk kembali masuk kedalam rumah namun sial kakinya tersangkut keset yang disimpan di lantai persis pintu utama rumah Revan.
" Eh "
Bugh
Dengan secepat kilat Revan meraih untuk menopang tubuh Sifa sehingga ia tidak sempat jatuh.
Blash
Sifa tersadar ia langsung melepaskan tangan Revan dari tubuhnya.
" Kalau jalan pake mata " ucap Revan.
Sifa hanya menoleh sekilas lalu masuk kedalam rumah, ia belum siap untuk berlama-lama dengan Revan, ia berjalan menaiki anak tangga masuk kedalam kamarnya.
Krek
Brugh
Pintu kamar kembali ditutup, Sifa mengusap-usap dadanya, ia merilekskan tubuh dan pikirannya.
Huft
" Kenapa pake acara kesandung segala sih ck " gumam Sifa yang tidak terima dengan kejadian barusan.
Ia lalu menghempaskan tubuhnya diatas kasur, menatap langit-langit kamar nya, menerawang jauh.
" Sampai kapan aku harus hidup dengan manusia seperti Mas Revan Tuhan... " gumamnya lagi.
🌺🌺🌺
Jangan lupa untuk selalu dukung author dengan cara vote like dan komennya ya ❤️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments