BAB 5

Halo pembaca semua.. 🤗🤗

Di 4 Bab sebelumnya ada beberapa part yang aku revisi ya dan nama tokoh utama pria pun aku revisi, jadi jangan bingung jika dari part ini dan seterusnya ada pergantian nama dari tokoh 🙏🥰

Selamat membaca kembali 🤗

🌺🌺🌺

Selama berada di rumah mertua nya, Sifa lebih banyak melakukan aktifitas di taman rumah atau di dalam rumah, ia mencari-cari kesibukan sendiri, dimana Mama mertuanya berada Sifa selalu mengekorinya, entah pura-pura membantu atau apapun itu, padahal jika ia di rumah kedua orangtuanya ia bisa enak berleha-leha menghabiskan waktu di kamarnya dengan bersantai sambil menonton drama korea kesukaan nya.

" Kamu tidak istirahat Sifa ? " tanya Bu Ratna.

" Hmm.. Tidak Ma, aku ingin melihat Mama sedang membuat apa " jawab Sifa polos.

Bukan tanpa alasan, padahal Sifa menghindari Revan, ia cukup malas untuk berhadapan dengan Revan, terlebih sekarang Revan berada di rumah kedua orangtuanya, ia bisa lebih semena-mena memperlakukan dirinya.

Ia masih beruntung, kedua mertuanya terlihat sangat baik dan menerimanya, cukup sedikit membuat kemelut dalam hati dan pikirannya terlupakan.

" Ya sudah sini, Mama sedang membuat menu baru untuk di toko roti Mama " ucap Bu Ratna.

Sifa memang pernah mendengar jika Mama mertuanya ini pengusaha Roti sukses, sudah memiliki beberapa toko yang tersebar. Ia masih fokus memperhatikan apa yang sedang dibuat oleh Mama mertuanya.

" Kita istirahat kan dulu adonan nya supaya mengembang " ucap Bu Ratna.

Sifa hanya mengangguk.

" Oya Sif, kamu masih kuliah kan ? " tanya Bu Ratna.

" Iya Ma "

" Semester berapa ? "

" Semester 5 sekarang "

" Oh ya.. " Bu Ratna mengangguk tersenyum.

Tiba-tiba disaat yang bersamaan terlihat Revan berjalan menuruni anak tangga menuju dapur, Sifa hanya menoleh memperhatikan.

Revan membuka kulkas lalu mengambil air minum di dalamnya.

" Mau makan sekarang Mas ? " tanya Bu Ratna.

" Nanti saja Ma " jawab Revan.

" Hmm... Mas, ini ajak Sifa loh, mungkin dia mau istirahat" susul Bu Ratna.

Revan hanya menoleh kearah Sifa seolah memberi kode agar ia ikut dengannya.

" Ayo sana Sif, temani dulu suami mu " ucap Bu Ratna.

Sifa tidak dapat menolak, tidak mungkin ia berkata sarkas kepada Ibu mertuanya, akhirnya ia menuruti lalu mengekori Revan menuju kamar nya.

Sifa dan Revan sudah berada di kamar yang sama, kamar yang cukup luas, lebih luas dibandingkan kamarnya di rumah.

" Ada kamar lain gak ? " tanya Sifa kepada Revan.

" Ada, kamar tamu "

" Sebelah mana ? " tanya Sifa lagi.

" Ini rumah orang tuaku jangan cari perkara kamu disini, lagipula kita tidak akan menginap disini, mungkin nanti sore atau malam kita akan pulang ke rumahku " jawab Revan.

Sifa terdiam, ia lalu berjalan duduk di atas sofa kamar Revan yang tidak begitu luas.

Sebenarnya ia ingin merebahkan tubuhnya, bebas berleha-leha diatas kasur sebelum esok hari ia harus kembali beraktivitas dengan kuliahnya.

Revan sedang sibuk dengan laptopnya entah apa yang sedang ia lakukan.

Sifa yang terkantuk-kantuk akhirnya tertidur di atas sofa, dengan posisi kepala ia topang dengan tangannya.

Revan menoleh ke arah Sifa, walaupun ia tidak memiliki rasa apapun namun ia masih tetap memiliki rasa iba, ia lalu mengambil bantal, berjalan menghampiri Sifa, ia berniat untuk membetulkan posisi tidurnya.

" Kamu tahu Dek, dengan posisi seperti ini aliran darah kamu akan terhambat, nanti saat kamu bangun tidur badan mu akan terasa sakit, ini tidak nyaman " gumam Revan.

Saat Revan sedang membetulkan posisi tidur Sifa, tiba-tiba Sifa bangun dan terkejut.

" Aaaaaa... "

Dengan spontan Sifa mendorong Revan.

Brakkkk

Revsn pun tersungkur.

" Mau apa kamu Mas ?! " ucap Sifa sedikit meninggi.

" Apa-apaan sih kamu, aku hanya ingin membetulkan posisi tidurmu, jangan kamu mengharapkan yang lain ! " ucap Revan kesal ia masih memegangi tangan dan pinggang nya yang terasa sakit.

Sifa pun merasa tidak enak, jika benar begitu kejadiannya.

" Euh.. Yaudah maaf " ucap Sifa singkat.

Revan bangkit lalu berjalan kembali menuju kursi kerjanya, ia kembali fokus pada laptop di hadapannya.

***

Revan sudah sampai di rumah pribadinya, ia membeli rumah ini sekitar 1 tahun lalu, sebelum ia mengetahui adanya perjodohan dengan Sita, ia membeli rumah ini hasil tabungan nya dan juga hasil sponsor kedua orangtuanya.

" Ini kamarmu sekarang, silakan rapikan semua barang-barangmu disana, kamarku ada di pojok, aku sangat menjunjung tinggi privasi, aku akan menghargai privasi kamu dan kamu pun cukup menghargai privasiku, kita tidak perlu mencampuri urusan pribadi masing-masing " ucap Revan.

" Hmmm " Sifa hanya mengangguk mengiyakan, ia sudah tidak ingin banyak berdebat dengan Revan.

Sifa masuk kedalam kamar, cukup luas hampir sama seperti kamarnya di rumah, ia mendorong kopernya ia simpan tepat di depan lemari pakaian, lalu ia menyimpan tas berisi buku-buku kuliah laptop dan perlengkapan lainnya.

Setelah menyimpan barang-barang nya, ia bergegas untuk merebahkan tubuhnya di atas kasur.

" Akhirnya... Aku bisa bebas kembali beraktivitas di dalam kamar " gumam Sifa.

Ia memejamkan matanya sambil pikirannya menerawang jauh, ia tidak menyangka perjalanan hidupnya akan seperti ini, tiba-tiba menikah dengan calon suami Kakak nya sendiri.

Rasanya ia ingin menangis dan teriak sejadinya-jadinya, namun apakah dengan ini dapat merubah keadaan, sepertinya tidak mungkin.

Disaat yang bersamaan ponsel nya berdering cukup membuyarkan lamunan nya, mata nya terbuka lalu ia meraih tas yang tadi ia simpan sembarang di atas kasur, ia membuka tasnya lalu mengambil ponsel, cukup terbelalak matanya saat melihat pada layar ponsel siapa yang menghubunginya.

" Kak Sita " Pekik Sifa.

Ia langsung menggeser tombol hijau pada layar ponselnya. Ia sudah tidak sabar ingin sekali mencaci maki Kakak semata wayangnya ini.

" Halo Kak.. Kakak kemana aja, kenapa sulit sekali dihubungi, Aku mau minta pertanggungjawaban Kakak, sekarang ini aku..... "

" Dek.. Dek.. Stop !! Dengarkan Kakak dulu! " ucap Sita memotong pembicaraan.

" Apa ?! "

" Dek, sebelumnya Kakak mau minta maaf sama kamu, Kakak ingin bicara, temui Kakak di Cafe Sidewalk sekarang ! "

" Hah.. Gila ya kamu Kak, ini udah jam 10 malem "

" Ayolah Dek Pliss "

Tanpa berpikir panjang, Sifa menyetujui untuk bertemu dengan Kakak nya.

Setelah memutus sambungan teleponnya, Sifa bangkit dari duduknya, ia merapikan baju yang ia kenakan, ia menyoren tas lalu memasukkan ponsel ke dalam tasnya, saat ia akan membuka pintu kamar, ia teringat jika sekarang ia tinggal di rumah Revsn.

" Duh.. Lupa.. Sekarang tinggal dirumah Mas Revan, gimana aku keluar rumah... " gumam Sifa sambil mondar-mandir di depan pintu kamar, sambil memikirkan alasan.

Sekitar 10 menit bertahan di posisi nya akhirnya ia memberanikan diri keluar kamar, ia teringat di depan komplek perumahan Revan, ada minimarket 24 jam, ia berniat meminta ijin untuk membeli sesuatu.

Sifa keluar kamar, ia mengedarkan pandangan nya, ia lalu berjalan menuju kamar Revan.

Dengan mengumpulkan keberanian nya akhirnya ia mengetuk pintu kamar Revan.

Tok Tok Tok

Klek

Pintu kamar terbuka, terlihat Revan sudah dengn stelan tidur nya.

" Ada apa ? " tanya Revan.

" Mas aku mau minta ijin "

Revan mengernyitkan dahinya.

" Ijin untuk ? " tanya Revan lagi.

" Ke minimarket depan komplek, ada yang harus aku beli " jawab Sifa.

" Kamu tidak tahu waktu, ini jam berapa ? Kenapa gak tadi aja sih, besok pagi aja " Revan kembali menutup pintu kamarnya.

" Ta..tapi Mas, bukankah kita tidak akan mencampuri urusan masing-masing " Sifa mencoba menahan pintu kamar Revan agar tidak di tutup.

" Lalu ? "

" Aku hanya menjunjung tinggi etika, maka dari itu aku meminta ijin " tanya Sifa.

" Hah ? Ini sudah malam, kamu perempuan "

" Sebentar saja " ucap Sifa.

" Ya sudah, hati-hati, kunci rumah dari luar saja "

" Oke "

Sifa bergegas menuruni anak tangga, ia berjalan agak cepat menuju pintu utama, ia keluar rumah dengan mengunci rumah dari luar.

Ia berjalan hingga minimarket depan komplek perumahan kediaman Revan karena sebelah minimarket ada pangkalan ojek.

" Pak Ojek " panggil Sifa.

" Ojek Neng, mau kemana ? "

" Ke Cafe Sidewalk ya Pak "

" Jauh Neng dari sini "

" Gak apa-apa Pak, saya lebihin " ucap Sifa.

" Ya udah naik Neng "

Sifa menaiki motor, motor melaju menuju Cafe Sidewalk. Di dalam perjalan ia sudah di hubungi terus oleh Kakak nya.

" Otw.. Kak Otw " ucap Sifa mengirimkan voice note kepada Kakaknya.

🌺🌺🌺

Jangan lupa dukung karya author ya dengan like, vote & komennya ❤️

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!