Aroma-aroma kemewahan terendus dari basement parkir hotel Marriot. Tebak berapa milyar dikeluarkan papa demi anak emasnya itu demi sebuah selebrasi pertunangan?
Kin bilang acara pertunangan sudah diadakan privat dua bulan lalu, ini hanya temu syukur bersama kerabat dan saudara. Hebat juga Sang Ratu membuat suaminya mengeluarkan dana fantastis. Jangan-jangan sudah ada budget khusus yang disiapkannya untuk pemakamanku.
"You nervous?"
"Nope"
"Here hold my hand"
Kin memegang tanganku tanpa permisi dan tanpa aba-aba. Dia membawaku masuk melewati para tamu yang hadir. Sapaan dan senyum bisnis yang akrab, mereka sepertinya lebih mengenal Kin daripada aku.
Padahal akulah pewaris utama Bastian Group, cih!
Tidak semuanya melewatkan aku, beberapa pasang mata cukup terbelalak melihat Keana yang kemarin jadi mayat sekarang hidup kembali.
"Congrats" ucapku berbasa-basi busuk pada pemilik acara.
Luisa menyadari keberadaanku. Ia menyambutku dengan pelukan kencang.
"Kakak, I miss you. Bahagia sekali melihat kamu sudah semakin sehat. Kita sedih, mama sampai bolak-balik masuk rumah sakit memikirkan kamu."
Ah, sandiwara yang terlalu palsu. Luisa sudah setahun jadi aktris series TV, kemampuan aktingnya meningkat tapi muslihatnya mudah terendus olehku.
Dia sedang cari perhatian papa tapi sepertinya lelaki tua itu tak peduli, asyik berbincang dengan tamu lain.
"Ini Jordan, Kakak pasti kenal!"
Luisa mengenalkan laki-laki di sampingnya sebagai tunangan. Tinggi, sedikit chubby, cukup stylish walau sekilas ada aura boty. Ya sesuai dengan tipe pacar-pacar sebelumnya.
Sepertinya aku familiar dengan Jordan. Raut wajahnya tidak asing, tapi tidak melekat di ingatan.
"Jordan Mavis,"
Mavis?
Nama belakang yang sama dengan mantan tunanganku Lionel Mavis.
Seketika mood berubah hancur. Brain freeze, rasanya linglung dan kosong. Ada rasa dingin yang memburu di sekujur tubuh.
Seharusnya aku tidak disini. Aku belum siap jika bertemu dengan lelaki yang sudah mendorongku hingga menuju jurang kematian.
I'm outta here
Saat aku bergegas hendak berlari, heels ini justru tersandung langkah orang. Lucky me ada tangan yang menarik aku agar tidak jatuh.
"Sorry..."
Guess whose hand I'm holding now?
Sesuai prediksi buruk sebelumnya, itu Leon.
"Long time no see, Kea"
Cepat aku menarik tangan lalu membuang wajah dari pandangannya. Leon masih mengikuti walau aku menjauh.
"Bisa bicara sebentar? Dua menit? I gotta clarify something"
"Get away from me, bastard!"
"Aku ingin baik-baik saja demi Luisa dan Jordan"
"Apaan sih? Lepas!"
Leon mengambil tanganku paksa, menuntunku keluar menjauh dari tempat acara ke tempat yang lebih sepi.
"Mau apa lagi? Kita sudah tidak ada urusan. Anggap saja aku sudah mati, selesai kan?"
"Cinta ini belum selesai. Ternyata mencoba baik-baik saja itu menyakitkan ya? I cant stop loving you, Kea. I cant... "
"GILA!"
Leon lelaki tipe yandere jika dalam dunia anime. Dia terlihat baik, royal, soft spoken, over protective, tapi psycho dan manipulatif. Empat tahun pacaran isinya hanya luka dan duka. Aku sempat mempertahankan hubungan karena Papa. Keluarga Mavis dan Bastian punya relasi sangat baik dalam bisnis dan persaudaraan. Finalnya ya aku hampir mati depresi karena skandal perselingkuhannya.
Entah mengapa aku selalu merasa kehilangan energi jika berurusan dengannya. Tidak bisa memberontak hanya menunduk diam menangis. Sekarang terulang lagi, tubuhku kaku. Lelaki di depanku terus mengiba, membongkar lagi kenangan-kenangan manis kami, memaksa aku mengiyakan lagi perasaan cintanya.
Krkkk
Terdengar suara kerik pergelangan tangan yang terplintir.
"Bro you should have manner! Better you go or I'll break your neck."
Kin menarik kerah kemeja Leon lalu membantingnya hingga tersungkur ke tanah. Baku hantam yang tanpa perlawanan. Aku baru sadar kalau Kin punya otot yang terbentuk matang, dia sanggup melemahkan Leon dalam sekali pukulan.
Ia menggendong tubuhku masuk ke mobil, meninggalkan acara yang belum dimulai.
I've ruined my makeup, luntur karena air mata. Sepanjang perjalanan tidak ada kata keluar dari mulut kami. Apalah yang kuharapkan darinya selain respon dingin dan tatapan datar.
Dia benar-benar tidak menanyakan keadaanku.
Apa baik-baik saja? Terluka?
Tangannya justru memperbesar volume lagu Alt-J Breezeblocks.
Muscle to muscle and toe to toe
The fear has gripped me, but here i go
My heart sinks as i jump up
Your hand grips hand as my eyes shut
And i..
***
Seharusnya kami menuju jalan pulang ke rumah tapi alarm lambung lah yang membelokkan stir. Aku tidak makan apapun sebelum berangkat, sepertinya Kin juga lapar.
"Can i order wine?"
"Beer! Just two beers."
Kin tidak memberikan kesempatan untuk memilih, bahkan dia menyuruhku memakan nasi goreng kambing di tempat yang katanya terkenal dengan Lasagna enak. Egois.
"By the way, thanks ya untuk yang tadi"
"Apa?"
"Jangan pura-pura tidak tahu. Harusnya kamu sejak awal mencegah Leon, saat ia menarik tanganku keluar. Dia itu psycho, bagaimana kalau dia berbuat jahat?"
"Kamu kenapa ya? Tadi say thanks, kok jadi marah-marah sekarang?"
ARGHH!!
Semua perasaan berkecamuk jadi satu bagai petasan yang siap meledak. Harusnya aku tidak melibatkan Kin jadi pelampiasan hati yang kacau. Dia sudah cukup heroik menyelamatkan aku dari tekanan Leon.
I want to thank him sincerely.
Tapi kok susah ya, apa ini yang disebut gengsi?
"Kamu istriku, tanggung jawabku. So no need for thanks."
"Istri? Kamu sungguh menganggapku sebagai istri? Kita ini cuma sandiwara kan, Kin?"
"You still think this is a joke?"
"Semuanya gelap untukku, membingungkan. Sebenarnya ada komitmen apa antara kamu dan papa, dibalik pernikahan ini? Please tell me, jangan buat aku tampak bodoh sendirian!"
Kin mengepulkan asap rokoknya ke langit lalu menghela nafas panjang.
"Aku orang yang saat ini paling tepat, untuk menjagamu."
Perkataannya sangat menghunus.
"Buka mata, lihat sekeliling apakah orang-orang di sekitar sangat baik memperlakukan kamu? Hanya butuh sejentik buat mereka membuat semuanya hancur."
Pernikahan ini ternyata memang salah satu rencana papa untuk melindungiku. Sepertinya ia sudah krisis kepercayaan pada keluarga dan orang terdekat. Rania, Luisa, dan Leon. Tiga nama yang tidak bisa tertawa lepas sebelum Keana benar-benar mati.
Nilai manusia tidak lebih tinggi dari selembar uang sepertinya. Ah, andai mama masih ada mungkin aku tidak harus sesepi ini.
Walau Kin pilihan terbaik dari papa, aku masih tidak bisa percaya dengannya. Kami tidak saling kenal, tidak terkait rasa dan ketertarikan sama sekali. Dia masih orang yang asing. Menerima hadirnya saja aku sulit, apalagi mengunyah kenyataan kalau dia suamiku?
"I chose beer for you because you were drunk on wine with your ex."
"Kalau lapar ya makan nasi, jangan kebanyakan mikir, dan tidak usah jaga gengsi demi selera orang. Sini kusuapi!"
Damn
Simple sih, tapi kok bisa sehangat ini di hati?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
crownangel
suka kata-kata englishnya /Sneer/
2025-03-03
8
gina
jadi merasa terasingkan yaa banyak yang kenal kin. semangat ya kea mungkin karena 8 bulan kamu koma jadi gini
2025-03-27
1
incess
hay thor aku mampir ni
2025-03-16
2