⬅️
"Kami saling cinta Pi.. Mi... Elvan minta Papi dan Mami merestui niat suci ini" buka Elvan yang duduk berhadapan dengan orang tuanya.
"Van, dia adik kamu" ingat Mami Julia yang kaget dengan pernyataan Elvan.
"Tapi kan bukan adik kandung Mi, dia datang ke rumah ini saat Elvan sudah kelas tiga SD, jadi kami bisa nikah. Bukan saudara sepersusuan juga kan Mi?" kata Elvan.
"Sejak kapan kalian berdua saling jatuh cinta?" tanya Papi Hadi datar.
"Kebersamaan selama ini yang menimbulkan benih-benih asmara itu ada Pi. Kami sudah mencoba untuk jalin hubungan dengan orang lain, tapi ujung-ujungnya berantakan. Sudah setengah tahun ini kami berkomitmen untuk menjalin asmara, perasaan itu tiap hari makin menggila, diluar kontrol kami. Rasanya cukup sudah merahasiakan ini dari Papi dan Mami, kami sepakat untuk berterus terang" cerita Elvan.
"Syifa.. Apa cerita Elvan benar?" tanya Papi Hadi.
"Ya Pi.. kami saling jatuh hati. Mas Elvan adalah sosok lelaki yang lengkap dan Syifa sangat mendambakan punya pendamping seperti Mas Elvan" jawab Syifa sambil menundukkan kepalanya.
"Apa kalian sudah kebablasan sampai minta untuk segera dinikahkan?" tembak Mami.
"Ga Mi, Syifa selalu Elvan jaga dengan baik. Kami tau itu bisa membuat malu keluarga. Masih wajar seperti orang pacaran pada umumnya" jawab Elvan buru-buru.
"Mami sayang sama kalian berdua. Kalian anak-anak Mami. Ga bisa kalian jadi kakak adik saja? Ya seperti dulu .. sebelum kalian jatuh cinta" pinta Mami Julia.
"Mi.. Maaf kalo Syifa memilih Mas Elvan. Apa karena Syifa anak adopsinya Mami, jadinya Mami khawatir dengan asal usul Syifa? Apa Syifa ga pantas menjadi pendamping Mas Elvan yang notabene adalah pewaris keluarga ini?" kata Syifa sambil pindah duduk disebelah Mami Julia.
Mami Julia memeluk Syifa. Rasa sayangnya tak pernah berkurang sedari dulu.
"Jangan pernah ungkit kamu anak adopsi Syifa. Mami anggap kamu seperti putri Mami sendiri. Meskipun tidak lahir dari rahim Mami, tapi Mami yang bawa kamu ke rumah ini" pinta Mami Julia sambil menitikkan air mata.
Syifa juga tampak berkaca-kaca matanya.
"Kalian sudah yakin mau menikah?" tanya Papi Hadi lagi.
"Iya Pi.. Kami sudah yakin. Bukannya dengan tali pernikahan, lebih memperjelas status Syifa. Menantu kan anak juga. Toh semua surat-surat Syifa sampai sekarang belum atas nama Papi dan Mami kan? Karena Papi mau Syifa tau kebenaran statusnya. Meskipun semua fasilitas dan kasih sayang dari keluarga selalu melimpah buat Syifa" papar Elvan.
"Papi ga keberatan. Dunia rumah tangga itu berbeda, kalian selama ini kan sebagai kakak adik, jadi beda tantangan dan konflik pastinya. Elvan sudah mengenal dengan baik Syifa seperti apa, begitu juga sebaliknya. Papi ga mau dengar ada masalah yang membuat kalian jadi berpisah bahkan putus tali persaudaraan" pesan Papi Hadi.
"Makasih Pi.. Elvan janji semua akan baik-baik saja" ucap Elvan.
"Apa yang buat Mami keberatan dengan hubungan kami?" hati-hati Syifa bertanya.
"Mami takut kalo kalian bertengkar, Mami akan bingung ada diposisi yang mana, mau ga mau Mami akan kehilangan salah satu dari kalian. Mami ga siap..." kata Mami Julia.
"Mi.. Elvan akan jaga Syifa seperti Mami dan Papi jaga dia selama ini. Mami percaya kan sama Elvan?" ungkap Elvan meyakinkan Maminya.
Mami Julia menganggukkan kepalanya.
.
Dalam kurun waktu tiga bulan kemudian, Elvan dan Syifa akhirnya menikah. Selama masa persiapan, Elvan keluar dari rumah orang tuanya dan tinggal di Apartemen miliknya yang kelak akan menjadi tempat tinggal dia bersama Syifa.
Cukup mengagetkan banyak pihak terutama keluarga besar, tapi segala pro kontra bisa dijawab dengan keseriusan Elvan dan Syifa.
Duo lovebird ini menggelar pesta sampai tiga kali. Yang pertama pesta lamaran dimana banyak pihak keluarga yang hadir. Kemudian pesta pernikahan selepas akad nikah, tergelar di Hotel bintang lima yang cukup mewah. Kemegahannya tidak kalah dengan pestanya para artis-artis Ibukota. Pesta ini banyak dihadiri kerabat, rekan bisnis, keluarga yang lebih banyak lagi. Sebagai penutup, ada after party di Labuan Bajo. Elvan dan Syifa menghadiahkan liburan untuk semua pihak yang terlibat dalam prosesi pernikahan mereka yang berjalan lancar. Selain itu, Elvan dan Syifa sekalian bulan madu di kapal pesiar, usaha barunya Elvan.
➡️
Sudah tujuh hari Zia kehilangan kakak tercinta, salah satu tulang punggung kehidupan keluarga ini. Babe Ali adalah seorang supir odong-odong, milik tetangganya, jadi Babe Ali setoran kepemiliknya setiap hari. Sedangkan Ibunya berdagang makanan kecil seperti bakso goreng, cimol, cilor dan minuman sachet. Paginya jualan sarapan seperti nasi uduk, lontong sayur dan gorengan.
Zia sebenarnya sudah selesai SMK, tapi belum bisa menebus ijazahnya. Karena sistem zonasi, namanya tidak bisa menembus sekolah negeri, jadi Zia bersekolah di SMK swasta yang tidak jauh dari kediamannya. Memang SMK nya tidak terkenal dengan kualitas yang bagus, hanya satu alasan yaitu murah biayanya dibandingkan SMK lain. Zia mengambil jurusan perkantoran, meskipun sudah mencoba melamar kerja, dia tak kunjung dipanggil karena tidak menunjukkan fotocopy ijazahnya. Zia sudah ijin mencari uang ke orang tua dengan tujuan menebus ijazahnya. Tunggakan uang SPP dari kelas satu menjadi tagihan membengkak sampai kelas tiga. Uang yang diberikan Hamidah tidak cukup untuk menutupi segala kebutuhan keluarga. Dia tidak bisa memberikan dalam jumlah yang besar karena sudah kost sendiri didekat kantornya.
Sudah seminggu terakhir ini, Zia membantu Mpok Jubaedah (Mpok Jubed nama panggilan kerennya). Beliau usahanya palugada, apa aja selama menghasilkan uang akan diembat juga. Zia ditugaskan untuk keliling mengambil kreditan harian ke warga yang berhutang barang ke Mpok Jubed (tidak pernah mau kasih utang uang). Biasanya jam sembilan pagi Zia sudah keliling dari satu rumah ke rumah lainnya. Selesai jam dua belas siang. Istirahat satu jam, kemudian lanjut di laundry kiloan milik Mpok Jubed yang ada dibelakang sebuah kampus. Biasanya sebelum Maghrib, Zia pulang ke rumahnya. Dalam seminggu, Zia mendapatkan hari libur satu hari, bebas waktunya. Dia dibayar harian, tergantung dari banyaknya tagihan kredit dan jumlah pakaian yang disetrika pada hari itu. Zia bisa mengantongi uang sekitar lima puluh ribu per hari. Tiga puluh ribu akan diserahkan ke Ibunya untuk membantu bayar kontrakan. Sisanya dia simpan untuk menebus ijazah dan memasukkan uang ke kotak amal di Mesjid yang ada di lingkungannya, tidak besar memang yang disumbangkan, sekitar dua ribu rupiah saja. Dia lakukan bukan karena ingin Allah membalas segala amalannya, tapi ingin Mesjid satu-satunya yang ada disini bisa terus berkegiatan dari uang sumbangan dari para jama'ah atau warga sekitar.
Biasanya saat keliling kampung, Zia melihat beberapa tong sampah, untuk mencari buku atau majalah. Bahkan ada juga warga yang memberikan dia buku karena pernah melihat Zia mengorek sampah buat mencari sebuah buku. Zia sadar kondisi ekonominya tidak mampu membuat dia membeli bacaan yang dia inginkan.
"Zia... besok pas selametan empat belas hari Mpok Midah, kita bikin kue cucur ya. Orang sini pada begitu kebiasaannya, cucur itu kaya bentuk payung, biar Mpok Midah ga kepanasan" kata Nyak Rohana, Ibunya Zia.
"Baru juga kita kelar nujuh hari Nyak, itu juga uangnya dari perusahaan Mpok Midah. Lagian masih percaya aja yang kaya gitu. Sadar diri aja Nyak, kita orang yang masih banyak kekurangan, kaga usah dipaksain buat selametan. Cukup berdo'a bareng sama keluarga. Coba itung deh selama tujuh hari kemarin, berapa aja uang kita keluar. Ya meskipun cuma sekedar kue, tapi kan keluar banyak Nyak" jawab Zia.
"Kasian ama Midah, udah mah meninggalnya tragis, masa kaga dido'ain bareng-bareng. Uang dari tempat kerjanya Midah jumlahnya lumayan kok, masih ada sisanya" cerita Nyak Rohana.
"Jangan-jangan yang kemarin Zia sebar itu Nyak pungutin uangnya?" tanya Zia.
"Iyak, itu pan rejekinya Midah. Lagian Lo pake gegayaan kaga mau terima dari Bossnya Mpok, Nyak malu sama kelakuan Lo yang ga sopan kaya gitu. Kita boleh miskin, tapi kita masih punya tatakrama" ingat Nyak Rohana.
"Nyak kan tau kalo dia yang ngilangin nyawanya Mpok. Nyawa itu ga bisa dibayar pake uang sepuluh juta. Kenapa terima uang dari dia? Nyak sama Babe mau damai emangnya?" papar Zia emosi.
"Dia ga bilang uang damai kok, tapi sebagai ucapan duka cita. Kata Babe juga kasusnya masih diselidikin sama Polisi. Bossnya Mpok udah dipanggil ke Kantor Polisi juga. Kita ini orang kaga gablek duit, ga boleh banyak tingkah sama orang kaya. Nyang ada kita yang dipenjara karena nuduh tanpa bukti" cerita Mak Rohana.
"Terserah Nyak mau gimana. Ngomong-ngomong Babe mana Nyak? Tumben udah malam begini belum balik narik odong-odong" tanya Zia sambil celingukan mencari sosok Babenya.
"Masih narik odong-odong lah, katanya ada tarikan borongan Ibu-ibu pengajian pengen liat Mesjid yang lampunya kelap-kelip pas malam. Sekarang pan Mpok Lo dah ga ada, Babe harus nyari uang lebihan, pan adek-adek Lo kudu sekolah juga. Si Ahmad ama Doni juga kudu dibekelin uang jajan. Selama ini uang jajan tuh dua anak ya dari uang yang dikasih sama Mpok Midah" jelas Nyak Rohana.
"Zia ga janji bantu banyak ya Nyak, soalnya beneran mau nyicil ke sekolahan. Zia mau pegang ijazah, biar bisa kerja. Gapapa jadi cleaning service juga. Yang penting kerja halal. Sekarang kan cuma buruh harian lepas. Ga tentu dapat berapa tiap bulannya. Cape juga keliling kampung saban hari jalan kaki. Belum kalo ada yang ngomel tiap ditagih utang kreditan" keluh Zia.
"Nyak juga bingung. Tinggal di Jakarta itu biayanya mahal. Rumah sepetak begini aja ngontraknya mahal. Belum buat kita makan berlima. Babe juga ga tetap pendapatannya. Kalo ada tarikan sistem sewa baru agak lumayan. Saban hari pan belum tentu ada yang nyewa" ungkap Nyak Rohana.
"Emang nasib kita aja kali Nyak yang susah banget meskipun udah banting tulang" kata Zia.
"Kalo orang bilang mah kita ini urat susah, jadi biar kata pala jadi kaki, kaki jadi pala juga ga ngubah nasib" sahut Nyak Rohana.
"Mpok Midah beneran jadi Sekretaris bukan sih Nyak? Kok ga gede ya ngasih buat keluarga. Apa biaya hidupnya Mpok mahal sampe gajinya abis? Kan direkening juga kosong uangnya. Perhiasan ternyata cuma imitasi, belinya cuma emas sepuhan, bukan emas asli" Zia mulai mencerna apa yang terjadi.
"Nyak ga pernah tanya saban dia balik ke rumah. Pan tau sendiri kalo kesini cuma bentaran doangan" jawab Nyak Rohana yang masih polos banget.
"Terus kenapa Mpok harus disingkirin ya? Apa karena tau ada rahasia perusahaan yang harus dijaga? Atau Boss nya naksir tapi Mpok ga mau?" lanjut Zia.
"Lo mah pikirannya ada-ada bae, udah kaya detektip" ujar Nyak Rohana.
"Ya kita liat aja perkembangannya. Pokoknya Zia ga bakal maafin pelakunya sampai kapanpun. Nyak sama Babe juga harus satu suara sama Zia, biar kita solid" ucap Zia.
"Solid? Lah Emak ga mau ikut-ikutan teriak solidddd... Kaya yang lagi rame itu, kaga ngarti pisan solid itu apaan juga" sahut Nyak Rohana.
"Ga usah dibahas Nyak. Ntar malah pusing sendiri. Yang penting Nyak taunya harga dagangan aja, gimana biar untung gede dengan modal kecil" putus Zia.
"Ini lagi, ngablu namanya. Jaman sekarang semua barang harganya mahal. Balik modal sama kita bisa numpang makan aja udah Alhamdulillah" kata Nyak Rohana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments
Atala Putri
semangat bunda pasti ada tokoh yg kerjanya palugada
2025-08-23
1
Eni Djulaeha
baru ngeh ni..
trnyta Syifa anak angkat nya pa hadi
2025-08-04
1