17 Hati yang lelah

Di tempat lain, dua orang yang cemas pada Resa yang tak kunjung pulang, mereka saling pandang. Ibu Tika kemudian bersuara, "Har, coba susul istri kamu. Masa ke warung udah satu jam gak balik-balik."

Hari berpikir yang sama, dia meraih kunci motor dan jaket kulit kesayangannya. Dengan perasaan cemas, Hari mencari istrinya ke setiap warung terdekat. Namun, tak menemukan Resa, akhirnya motor itu melaju menuju arah rumah mertuanya.

Namun, setelah sampai di gang menuju rumah itu, dia berhenti di pinggir jalan kemudian mencari nomor kontak kakak iparnya. Setelah tersambung, dia bertanya apakah Resa ada berkunjung ke rumahnya, tapi Rima menjawab bahwa Resa akhir-akhir ini tidak mengabari dan tidak datang menemuinya juga.

Hari meminta bantuan Rima untuk menanyakan keberadaan istrinya. Dia masih berjongkok di samping motor yang ia parkirkan di pinggir jalan, sambil menunggu kabar dari kakak iparnya. Dia menatap langit yang gelap, hujan sudah reda, tapi cuaca yang dingin terasa menusuk kulit.

Hari menggosok kedua telapak tangan untuk menghangatkan. Setelah menunggu beberapa saat, dia dihampiri oleh dua orang wanita dari arah berlawanan. Rima berjalan dengan santai, sedangkan Resa menghentikan langkahnya. Dia terpaku ketika melihat suaminya sedang menunggu dia di sana.

Tatapan Resa beralih pada layar ponsel yang masih terhubung dengan kakaknya, Rima. Ternyata, kakaknya menyuruh dia ke depan gang untuk menemui orang yang sedang dia hindari. Dengan malas, Resa menghampiri Rima. Tak jauh dari sana, suaminya masih menunggu.

Dengan tatapan kesal, Resa menatap Hari sebentar, kemudian mengalihkan pandangan ke arah lain. "Resa, kamu ke sini gak bilang dulu sama suami?" Rima menatap curiga pada adiknya.

Resa hanya menatap jengah, enggan untuk mengeluarkan suara. "Udah sana, ajak suami ke rumah, jangan lama-lama di luar, cuacanya dingin," peringat Rima, meninggalkan keduanya berjalan lebih dulu menuju rumah ayahnya.

Dengan malas, Resa mendekati Hari yang masih diam di tempat. "Ayo, mau ke rumah bapak gak?" ajak Resa dengan suara dingin. Hari tak menjawab, dia hanya membalas dengan kalimat lain tanpa menoleh pada istrinya. "Mau ikut pulang apa masih mau di sini?" tanya Hari yang sama-sama berkata dengan suara dingin.

Resa terpaku menatap nanar suaminya. Lidah yang terasa kelu dengan bergetar, dia berucap lirih, "Aku masih mau di sini."

Tanpa berkata apa pun, Hari berdiri menaiki motornya, kemudian melajukan kendaraannya dengan sangat kencang. Perasaan Resa makin hancur melihat respon dari suaminya itu. Mengapa begitu terasa sakit?

Resa menatap nanar suaminya yang telah menghilang dari pandangan dengan mata yang sudah berair. Bukan ini yang dia inginkan. Seharusnya Hari bertanya alasan dia pergi tanpa pamit, lalu membujuknya atau sekedar minta maaf. Padahal itu salah dia sendiri, ketika Resa merengek minta diantar untuk berkunjung ke rumahnya ayahnya, tapi tak dipenuhi. Dan ketika minta waktu untuk sekedar makan bersama di luar saja, dia malah mengira istrinya ingin makan di teras.

Menurut Resa, pria kaku itu sungguh tak pengertian dengan keinginan istrinya. Yang entah kenapa, Resa menyadari dirinya yang gampang badmood pada suaminya. Padahal sebelumnya dia bisa mengendalikan diri, tapi akhir-akhir ini emosinya selalu meluap, tidak terkendali. Perlakuan suaminya selalu salah di matanya.

Resa sendiri tak mengerti mengapa dia bisa begitu. Terkadang merasa benci, ingin menghindar jauh, tapi setelah jauh dan diabaikan, dia malah rindu, bercampur sakit hati akan sosok "Om Kulkas"nya itu. Resa merasa bingung dengan perasaannya sendiri, tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk mengatasi perasaan yang terus bergolak di dalam hatinya.

Resa membalikan badan, melangkah gontai menuju rumah ayahnya, berusaha mengontrol emosi yang ingin menangis sejadi-jadinya. Dia mendorong pintu rumah yang tertutup rapat, mengedarkan pandangan, dan sudut matanya menangkap keberadaan Rima, Tina, dan Komala sedang berkumpul di ruang tamu, menatap Resa dengan raut wajah bertanya-tanya.

Dengan enggan, Resa menghampiri mereka. Dia duduk di salah satu kursi yang masih kosong. Mereka saling beradu pandang dalam suasana yang terasa canggung. Rima memecah keheningan dan bertanya pada Resa, "Mana suami kamu, Res? Gak di suruh masuk?"

Resa menggeleng sebagai jawaban. Komala menyahut, "Kalian berantem?" Resa mendongak menatap ibu sambungnya dengan mata yang sudah berair. Dia benci dirinya yang mudah menangis akhir-akhir ini, tapi matanya tak bisa di ajak kompromi, air mata selalu keluar begitu saja.

Komala memberikan nasehat, meskipun Resa berusaha menyembunyikan masalahnya. "Res, berumah tangga memang gak mudah, selalu datang cobaan yang tak bisa di duga. Sesekali berantem dengan suami adalah hal yang wajar, tapi kamu gak boleh keluar rumah tanpa seizinnya."

Perkataan Komala membuat air mata Resa makin deras tubuhnya gemetar. Gadis itu berusaha menenangkan hati dan pikirannya yang berkecamuk. Bibirnya bungkam enggan mengungkap beban berat yang sedang ia hadapi. Menurutnya, ujian dalam pernikahannya terlalu dalam menyakiti relung hati yang dari dulu telah rapuh, kini hancur berkeping-keping, sulit untuk ikhlas menerima.

Resa menunduk, mencoba untuk mengontrol emosinya. Dia tidak ingin menunjukkan kesedihannya di depan keluarganya. Tapi, air mata yang terus mengalir membuatnya sulit untuk menyembunyikan perasaannya.

Rima, Tina, dan Komala saling menatap, khawatir dengan keadaan Resa. Mereka tahu bahwa Resa sedang mengalami kesulitan dalam pernikahannya, tapi mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

"Res, apa yang terjadi?" Rima bertanya dengan lembut, mencoba untuk membuat Resa membuka diri.

Resa menggeleng, tidak ingin berbicara tentang masalahnya. "Tidak apa-apa, Teh. Aku hanya sedikit lelah saja."

Tapi, Rima tidak percaya. Dia tahu bahwa Resa sedang mengalami kesulitan yang lebih besar dari itu. "Res, aku tahu kamu sedang mengalami kesulitan. Tolong, ceritakan pada aku apa yang terjadi."

Resa menunduk, masih tidak ingin berbicara tentang masalahnya. Tapi, Rima tidak menyerah. Dia terus mencoba untuk membuat Resa membuka diri, sampai akhirnya Resa tidak bisa menahan lagi dan mulai menceritakan tentang masalahnya dengan Hari.Terkecuali soal keberadaan Humaira ia masih belum bisa mengungkapkan keberadaannya.

"Apa yang terjadi, Resa? " tanya Komala dengan suara yang penuh rasa penasaran.

Resa mengambil napas yang dalam, mencoba untuk mengontrol emosinya. "Aku merasa Dia menipuku. Dia berbohong tentang banyak hal. Tentang umurnya, tentang masa lalunya... tentang semuanya," kata Resa dengan suara yang tercekat.

"Dan juga tentang anaknya " Tapi kata-kata itu hanya terdengar dalam hatinya sendiri.Mereka tidak bisa menyangka bahwa seseorang bisa berbohong dengan begitu banyak dan begitu tega.

"Aku di tuntut untuk bisa mengerti perangai suamiku yang terkadang sering bersikap tak sedewasa umur nya, untuk sekedar melaksanakan sholat wajib pun harus aku ingatkan setiap waktu"

Batin Resa sambil memejamkan mata, berusaha menyembunyikan hal yang tak bisa ia bagi pada keluarganya.

Rima mengelus pundak Resa, mencoba untuk memberikan dukungan dan kekuatan kepada adiknya.

Resa membuka mata, menatap Rima dengan mata yang masih berair. Dia merasa sedikit lega setelah berada di rumah ayahnya. tapi dia masih merasa sedih dan kecewa karena pernikahannya yang tidak seperti yang dia harapkan.

Terpopuler

Comments

Elisabeth Ratna Susanti

Elisabeth Ratna Susanti

hati yang lelah itu benar-benar membuat semua tulang rapuh dan menjadi tak berdaya

2025-02-22

2

@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸

@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸

hari memang tidak peka. hanya seolah-olah mengerti saat belum menikah

2025-03-03

1

Tini Timmy

Tini Timmy

plis lah hari ngerti sedikit kalau istrinya lagi butuh waktu

2025-02-19

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!