Gadis Tuna Rungu

"Makasih udah nolongin aku, Pak!" seru gadis itu dengan senyum manis di wajahnya.

"Ya, sama-sama," ucapku singkat sembari memijat telapak tanganku yang kaku.

"Kamu hebat sekali, Nona Muda! Kamu dengan lihai mampu menghindari dan menyelinap diantara kepungan para *zombie* itu dan berhasil keluar dengan selamat. Itu sungguh luar biasa," puji Hadi dengan antusias.

"Sebentar, Pak! Aku mohon izin," jawab gadis itu. Tiba-tiba dia mengeluarkan semacam *earphone* dari dalam tasnya dan memasangnya di kedua telinganya.

"Huh? Sebuah *earphone*?" batinku terheran.

"Bisa bapak ulangi lagi perkataan bapak sebelumnya? Maaf aku kurang bisa denger kalo gak pake alat bantu," ucapnya sembari tersenyum yang seakan dipaksakan.

"Ahh sebuah alat bantu dengar ya? Aku pikir itu sebuah *earphone*," batinku tersadar akan benda yang terkait di telinganya saat ini.

"Ah iya. Maaf aku kira kamu mau mengeluarkan apa. Tadi aku hanya mau bilang, aku sangat kagum akan kelihaian kamu dalam menyelinap diantara *zombie*-*zombie* tadi. Kamu sangat luar biasa!" ucap Hadi sembari menepuk tangannya walau tak menimbulkan suara.

"Ahh enggak juga, Pak. Aku juga sempet dibantuin sama bapak itu kok setelahnya. Aku janji! Pasti aku bakalan ngelindungin kalian balik sekuat tenagaku," jawab gadis itu dengan tatapan serius dan mengangkat jari kelingkingnya. Hadi hanya tersenyum hangat dan menautkan kelingkingnya pada kelingking gadis itu. Lalu mereka berdua pun saling tertawa

"Kamu cewe yang menyenangkan, Dek. Kalau boleh tau, siapa namamu?" tanya Hadi sopan.

"Namaku Shima, Pak. Shima Ananta," jawabnya sembari membungkukkan kepalanya.

"Wahh nama yang cantik ya? Persis seperti orangnya hahaha," puji Hadi kepada gadis dengan rambut terikat hingga sepinggulnya itu. Sekilas aku sangat familiar dengan *style* busananya.

"Makasih, Pak," sahut gadis itu tertawa kecil.

"Oiya nama saya Pak Hadi. Yang pake baju batik merah ini namanya Pak Darto. Kalo yang make baju kuning, namanya Pak Amin. Nah kalo bapak yang make jaket navy itu namanya Pak Willie. Dia seorang polisi," ucap Hadi dengan intonasi yang ditekankan pada kalimat terakhirnya. Aku mengerutkan keningku melihat tingkahnya. Tetapi dia malah tertawa geli diikuti tawa gadis itu. Aku menghela napas berat setelahnya.

"Salam kenal ya bapak-bapak sekalian. Maaf kalo misal nanti aku ngerepotin. Tapi aku janji, gak bakalan manja dan ngerepotin kok nantinya," ucapnya lagi sembari membungkukkan kepalanya kepada kami.

"Emangnya kamu malem-malem gini naik kereta malam mau kemana sih, *Nduk*? Bukannya malah enak kalo berangkatnya pas pagi-pagi aja?" tanya Darto dengan suara serak.

"Iya sih, Mbah. Tapi aku udah gak ada waktu lagi. Seharusnya besok aku harus kembali ke kampus dan dirumah masih ada acara sebelumnya. Terus waktunya mepet dan gak ada jadwal kereta lain, ya terpaksa naik kereta malam," jawab Shima sembari memanyunkan bibirnya.

"Ohh begitu? Tapi sayangnya malah harus dikepung sama mayat hidup ya hahaha," sambung Darto sembari terkekeh.

"Iya, Mbah. Jadi sia-sia deh keberangkatanku sekarang ini hehe," sahut Shima tertawa kecil.

"Pantas saja kamu sedikit mengerti tentang bahasa isyarat, Ma? Aku sempet kaget pas kamu tadi lari sambil zig-zag," ucapku kagum.

"Ah iya, Pak. Lagi pun, aku mulai make alat ini pas udah umur 12. Umur 7 tahunnya belajar bahasa isyarat. Makanya aku kek udah hafal banget sama semua isyarat yang Bapak berikan, tadi" jawabnya sembari menyentuh antingnya. Raut wajahnya mendadak sendu dan pandangannya tertunduk. Aku sedikit merasa bersalah kepadanya.

"M-maafkan aku. Aku tidak bermaksud...," sebelum aku sempat mengakhiri ucapanku, dia tiba-tiba tersenyum.

"Tidak apa-apa, Pak. Mungkin inilah jalan yang harus kulalui," sahutnya sembari tertawa kecil. Aku pun tersenyum walau merasa sedikit kasihan kepadanya.

"Hei hei! Terus apa yang harus kita lakukan saat ini?" tanya Amin yang seketika langsung memecah keheningan. Tawa pun pecah diantara kami semua sedangkan Amin semakin keheranan akan tingkah kami.

"Hei? Kenapa kalian malah tertawa? Aku serius ini," sungut Amin. Aku tertawa lepas hingga air mataku keluar dengan sendirinya. Amin pun mendengus kesal.

"Iya iya baiklah. Untuk saat ini, kita akan istirahat sebentar. Aku pikir, area ini sudah cukup jauh dari para *zombie* itu," ucapku dengan perut yang masih sakit sebab tawa yang tertahan. Amin hanya menghela napas berat.

"Aku serius. Untuk 2 jam kedepan, aku akan menjaga kalian semua. Jika situasi aman, maka salah satu dari kalian tolong bergiliran berjaga! Oke?" perintahku. Mereka pun serentak mengangguk.

Mereka kemudian mencari tempat yang cocok untuk merebahkan tubuhnya, aku pun juga begitu. Tetapi aku memilih untuk hanya bersandar di bawah pohon yang batangnya tidak terlalu bergelombang agar punggungku tidak terlalu sakit jika bersandar disana.

Suasana kembali hening. Suara hewan malam bernyanyi saling bersahutan di malam yang kelabu. Dengan pancaran cahaya rembulan yang sedikit pudar, pepohonan dikejauhan nampak seperti siluet bayangan tangan yang menjulang keatas.

"Hei, Wil! Jaga kami semua dengan sungguh-sungguh ya! Kalau aku mati, maka urus saja kuburanmu sendiri," celetuk Amin. Aku terheran akan ucapannya.

"Apa yang kau bicarakan? Kemungkinan besar kita mati karena dimakan oleh *zombie-zombie* itu. Terus kalau mati karena dimakan, siapa juga yang mau datang buat nguburin kita?" sanggah Darto.

"Iya juga ya? Sudahlah aku sudah pening," ucap Amin singkat sembari memalingkan tubuhnya kasar.

Aku semakin terheran melihat tingkah mereka berdua. Shima hanya tertawa kecil melihat tingkah kedua orang tua itu. Aku pun menepuk wajahku merasa tak kuat jika harus mendengar ocehan mereka lagi.

Akhirnya, Darto langsung merebahkan tubuhnya begitu saja pada tanah yang dingin. Dengan cangkul yang ia sandarkan pada batang pohon disamping mereka, mereka tampak udah terbiasa tidur ditempat seperti ini.

Shima dan Hadi hanya menyandarkan tubuhnya pada batang pohon. Hadi menyilangkan kakinya dan menyandarkan kepalanya. Dia langsung terlelap dengan mulut yang menganga dan tangan yang menangkup. Sedangkan Shima, dia duduk meringkuk dan membenamkan kepalanya pada lututnya dengan tangan yang dia silangkan untuk menutupi wajahnya.

Beberapa menit kemudian, suara dengkuran terdengar dari mulut Darto dan Amin. Mereka seperti saling bersaing dalam memperebutkan juara pertama dari siapa dengkuran yang paling keras disini. Aku memandangi mereka sinis, tetapi juga merasa sedikit simpati. Mereka berdua seorang pekerja keras. Bisa tidur dimana saja menandakan bahwa mereka orangnya sederhana dan bisa dengan cepat beradaptasi pada segala medan.

Aku memandangi bulan sabit yang bersinar pudar itu. Suara dengkuran dari kedua pria paruh baya itu seakan menjadi alarmku agar terus untuk membuatku terjaga. Mataku mengembara ke penjuru hutan dan aku harus senantiasa menajamkan pandanganku ke sela-sela pepohonan agar para *zombie* tidak datang tiba-tiba datang dan memelukku dari belakang.

Hingga beberapa menit pun berlalu. Mataku lambat laun semakin berat untuk terbuka. Aku beberapa kali menepuk-nepuk pipiku untuk membuatku terus terjaga disini. Angin sepoi yang membelai pelan semakin menambah rasa kantukku. Aku pun memutuskan untuk membuka ponselku sembari membunuh waktu.

"Benar juga. Aku bisa menelepon seseorang dan mencari bantuan dengan ponselku. Oh Willie! Kenapa kau bodoh sekali," batinku sembari mengetuk keningku.

Aku pun dengan segera mencarinya di dalam tasku dan segera membukanya. Aku berharap masih terdapat sinyal di tengah hutan ini. Memang keberuntungan masih berpihak padaku saat ini. Walau *bar* sinyal hanya 2 garis, tetapi masih bisa digunakan untuk menghubungi seseorang. Aku langsung menelepon seseorang yang kuharap dia masih terjaga walau di jam 02.15 ini.

"Halo? Apa kau masih bekerja sekarang ini?"

Terpopuler

Comments

𝓡𝓲𝓿𝓮𝓵𝓵𝓮 ᯓᡣ𐭩

𝓡𝓲𝓿𝓮𝓵𝓵𝓮 ᯓᡣ𐭩

lanjutt kaa

2025-03-03

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!