Betapa terkejutnya aku melihat sang masinis berada dalam kondisi yang sangat mengenaskan. Dengan bola mata yang sudah tidak bersarang di dalam kelopaknya dan dengan mulut menganga membuat sekujur tubuhku bergidik ngeri melihatnya.
Aku langsung jatuh terduduk dan tubuhku seketika bergetar hebat teringat akan kejadian traumatis yang pernah menimpaku saat aku masih remaja dahulu. Aku bahkan tak mampu lagi untuk berkata-kata dan mataku terpaku kepada jendela kecil yang menghubungkan ke kabin masinis.
Tubuhku terasa membeku dan keringat dingin perlahan membasahi pelipisku. Jantungku berdegup tak karuan. Mataku perlahan melihat sekitar untuk memastikan bahwa sosok yang tidak ingin aku harapkan datang mengunjungiku.
Kegelapan malam masih menyelimuti diluar sana. Pemandangan dari setiap jendela di seluruh lorong masih dihiasi oleh malam yang pekat. Bahkan cahaya emas yang berasal dari lampu gerbong eksekutif masih belum mampu untuk menyinari bayangan diluar sana. Pintu keluar yang gelap dengan angin yang membelai masuk semakin menambah hawa dingin yang mencekam.
Aku perlahan menguatkan jiwaku dan bangkit dari dudukku. Aku berdiri walau sekujur tubuhku masih bergetar sebab rasa takut dan perasaan traumatis masih terngiang-ngiang di kepalaku.
"B-bagaimana cara masuk ke ruang lokomotif yang terkunci?" suaraku bergetar memecah keheningan ruangan. Para konglomerat yang masih meringis kesakitan menatap sinis kearahku.
"Apa masalahmu?" tanya seorang pria dengan perut sedikit buncit yang masih terbaring sembari memegangi perutnya.
"Kita sebisa mungkin harus mematikan seluruh lampunya agar sesuatu yang tidak kita inginkan datang menghampiri kita," jawabku sembari napasku yang masih tersengal-sengal.
"Disaat kami semua menderita seperti ini, kau lebih memilih untuk mematikan lampu seluruh gerbong? Kau gila!" umpat seorang perempuan dengan dengan dress putih dan jam tangan perak yang melingkar di pergelangannya.
"Tunjukkan saja caranya agar kalian semua bisa selamat!" gertakku kepada para konglomerat yang terlihat masih kesakitan itu.
"Kenapa kami harus menuruti perkataanmu, Sialan!" sahut seorang eksekutif muda dengan setelan jas dan celana hitam yang licin.
Beberapa umpatan dan cacian mulai terdengar saling bersahutan menolak permintaanku yang sederhana ini. Aku tak menyangka, mereka sangat kompak menghinaku hingga seperti itu layaknya setiap perkataan mereka sudah tertulis di dalam naskah sebelumnya.
"Apakah kau seorang anak presiden hah? Jadi kau bisa seenaknya mengatur kami?" ucap seorang pria paruh baya dengan jaket kulit yang terlihat sangat mahal.
"Ohh mungkin aku bisa mengatakan, kalau kau sebenarnya hanya orang biasa yang sok jago dan ingin menjadi pahlawan kemudian berpikir bahwa kami akan menyanjungmu setelahnya?" sambung seorang wanita dengan jaket merah darah di sebelahnya diiringi suara tawa yang terdengar merendahkan keluar dari mulutnya.
Para konglomerat itu kemudian saling tertawa atas tindakan provokatif wanita itu dengan tawa yang seakan meremehkanku. Aku yang geram dengan seluruh tingkahnya, aku pun menodongkan pistol yang senantiasa aku bawa dalam tas ranselku.
"Aku akan membungkam mulut kalian dengan ini," ucapku dengan tatapan tajam dan memandangi wajah mereka satu persatu. Mereka kemudian terkejut dan seketika ruangan kembali hening.
"Hohoho tuan? S-sebaiknya kau tidak bermain-main dengan benda itu!" pinta seorang pria paruh baya dengan jaket kulit sembari mengangkat kedua tangannya.
"Kalian semua ingin selamat tidak?! Jika ingin selamat, maka turuti perintahku. Aku tidak ingin mengambil semua uang kalian. Aku hanya ingin tahu bagaimana cara membuka pintu yang menuju ke ruangan lokomotif saja untuk mematikan lampu seluruh gerbong sembari menunggu bantuan. Tetapi tingkah laku kalian semua membuatku jijik bahkan aku ingin sekali meludah ke wajah kalian semua satu persatu," ucapku dengan tatapan penuh intimidasi kepada mereka.
Suasana pun menjadi hening. Mereka saling menatap satu lain dan tak ada lagi yang sembarangan untuk mengucap kata. Aku masih menodongkan pistolku itu kearah mereka semua yang sudah diselimuti oleh ketegangan yang aku ciptakan. Tiba-tiba seorang pria dengan kacamata bulat dan rambut yang sedikit klimis bangkit dari duduknya dan dengan suara lirih berbicara,
"Izinkan aku untuk membantumu. Aku seorang insinyur, sepertinya aku bisa menyelesaikan masalahmu,"
"Kau bisa?" tanyaku sedikit ragu.
"Aku harap aku bisa. Sepertinya aku sedikit tahu beberapa hal tentang kereta api. Yah walaupun aku bukanlah seorang masinis," sambungnya dengan suara bergetar. Aku pun mengendurkan pistolku darinya dan berjalan menghampirinya.
"Baiklah. Pertama-tama, bagaimana cara membuka pintu untuk menuju ke ruangan masinis sekarang?" tanyaku sembari memasang wajah sedikit curiga terhadapnya.
"Untuk membuka pintu ruangan masinis yang dikunci dari dalam tidak bisa, Pak. Dengan dilengkapi sistem keamanan yang canggih, dia hanya bisa dibuka dari dalam saja. Tidak bisa sembarangan dibuka bahkan dengan cara didobrak sekalipun," jawabnya.
"Lalu?" ucapku sembari mengangkat salah satu alisku.
"M-mungkin kita bisa memecahkan kaca depannya dan.. dan kita bisa memanjat masuk ke dalam ruangan, Pak," ucapnya dengan suara bergetar. Aku pun mengangguk dan mengajaknya untuk berjalan keluar dari gerbong. Dia dengan tertatih-tatih mengikutiku dari belakang.
Aku sedikit terkejut dengan tindakan cepat yang dilakukan oleh sang masinis sebelumnya. Dia dengan refleks cepat langsung menekan tombol ataupun tuas untuk membuka seluruh pintu keluar setiap gerbong. Dengan begitu, kami tidak serta-merta terjebak di dalam kereta dan hanya berpangku tangan saja menunggu bantuan.
Sesaat setelah aku keluar dari kereta, aroma khas dari hutan langsung tercium olehku. Hawa dingin sebab rimbunnya daun menyentuh kulitku dan menggoyangkan rambut ikalku. Bayangan pepohonan yang tinggi laksana tangan-tangan hantu yang seakan ingin meraih cakrawala. Aku berjalan dengan perlahan sembari melihat kondisi kereta yang aku tumpangi sebelumnya.
"Sebelumnya suara ledakan berasal dari sini. Tetapi aku belum menemukan kerusakan yang cukup serius sekarang," gumamku sembari memandangi dengan seksama ke seluruh badan kereta.
Aku pun turut memeriksa kondisi roda, piston, dan apapun yang menurutku mengalami kerusakan dikarenakan guncangan dan ledakan yang berturut-turut terjadi sebelumnya. Aku mengeluarkan senter kecilku untuk melihat dengan jelas diantara kegelapan.
"Untuk membuat hubungan kita semakin akrab, apa bisa aku mengetahui namamu, Pak?" ucap insinyur itu yang seketika mengganggu fokusku dalam memperhatikan keadaan kereta ini.
"Namaku Willie," jawabku singkat tanpa mengalihkan pandanganku dari badan kereta.
"Dan pekerjaan anda?" tanyanya lagi.
"Anggap saja aku seorang polisi khusus," aku kembali menjawab pertanyaannya secara singkat.
"Sebuah kehormatan bisa bertemu dengan anda, Pak. Perkenalkan namaku Ir. Hadi Rudyatmo. Aku seorang lulusan terbaik dari...," sebelum dia menyelesaikan ucapannya aku menyela sembari mendengus dingin.
"Yayaya aku tidak peduli atas riwayat pendidikanmu. Asalkan kamu bisa menyelesaikan tugasmu nanti dengan baik," aku pun mempercepat langkahku.
Kami pun sampai di depan moncong lokomotif. Cahaya lampu depan yang berwarna putih menyorot sampai jauh menyilaukan mataku. Aku sedikit kesulitan dalam melangkah hingga kakiku tersandung rel dan hampir terjatuh karenanya. Aku pun mengeluarkan kembali pistolku untuk memecahkan kaca jendela itu.
"Agak mundur sebentar!" perintahku
Kaca pun pecah dan beberapa serpihan kaca berhamburan dari sana. Aku menembak kaca itu beberapa kali untuk membuat lubang yang sekiranya muat untuk insinyur itu memasukinya.
"Ayo segera naik ke punggungku dan segera masuk ke ruangan masinis," ucapku sembari menutupi wajahku sebab silaunya lampu. Tak lupa aku juga melepas jaket tebalku sebagai bantalan agar kaki ataupun tubuhnya tak tergores sebab runcingnya kaca yang tersisa.
"Baik, Pak. Saya mohon izin untuk melakukannya," jawabnya.
Aku kemudian merendahkan tubuhku dan dia melepas sepatu pantofel yang ia kenakan. Aku sedikit simpati terhadap tingkah lakunya. Tak seperti para konglomerat sebelumnya yang malah mencaci dan menghinaku.
Dia pun segera naik ke pundakku sebab jendela untuk memasuki ruangan cukup tinggi untuk kami raih. Aku sedikit bersusah payah mengangkat tubuh gempalnya itu.
"Baik! Aku sampai!" ucapnya sembari mendengus dan terdengar sedikit kesulitan dalam mengangkat tubuhnya.
"Segera bentangkan jaketku diatas kaca jendela yang pecah agar tanganmu tidak tergores!" ucapku dengan napas yang tersengal-sengal mengangkat beban tubuhnya.
Aku terus berusaha bertahan mengangkatnya. Beberapa kali dia menginjak ubun-ubunku dengan keras entah bagaimana caranya dia mengangkat tubuhnya ke atas sana. Beberapa menit ia mencoba, akhirnya dia berhasil memasuki kabin masinis.
"Cuih dasar babi," umpatku sembari memijat pundakku yang sedikit kaku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 24 Episodes
Comments
Ry
tak lanjut lagi bacanya Thor ☺️
2025-02-12
1
novi
hah? sesuatu yang tidak kita inginkan datang menghampiri kita?
2025-03-18
1
tanara
yok yok lanjut aku masih penasaran .
2025-02-06
1