Fort memutuskan untuk membatalkan sarapan di atas kapal yang sudah direncanakan. Sebagai gantinya, ia membawa Peat ke restoran lokal terbaik yang terkenal dengan makanan laut segarnya.
Peat duduk di salah satu meja yang menghadap ke laut, sementara Fort memesan makanan dengan hati-hati, memastikan semuanya sempurna.
Saat makanan mulai disajikan, suasana menjadi lebih santai. Namun, Fort terlihat cemas, matanya terus memperhatikan Peat. Ia masih teringat wajah ketakutan wanita itu saat di bawah air, sesuatu yang membuat hatinya tak tenang.
Peat yang menangkap raut wajah Fort, akhirnya memegang tangannya. Sentuhan itu membuat Fort tersentak.
‘’Hei, aku sudah baik-baik saja sekarang. Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri,’’ ucapnya dengan nada lembut.
‘’Jelas-jelas kau yang habis tenggelam, tapi kenapa aku yang dihibur?’’ tanya Fort membuat Peat tertawa pelan.
‘’Selama aku jadi pemandu, tidak pernah ada insiden seperti ini. Aku... aku benar-benar minta maaf,’’ kata Fort.
Peat mengangguk. ‘’Sudahlah, aku lebih berharap makanan di sini enak. Aku lapar setelah berenang tadi.’’
Fort segera kembali ceria. ‘’Makanan di sini? Kau tidak perlu khawatir. Aku jamin kau akan merasa seperti bangsawan yang disuguhi hidangan kerajaan.’’
Beberapa saat kemudian...
Saat makanan disajikan, hidangan laut segar, sup krim tiram, dan ikan bakar dengan bumbu lokal, Peat mencicipinya dan langsung terpesona.
‘’Ini... benar-benar enak,’’ katanya sambil mengunyah dengan puas.
Fort tersenyum bangga. ‘’Aku sudah bilang, restoran ini tidak akan mengecewakan.’’
Boss tiba-tiba muncul dari dapur restoran, membawa sepiring tambahan cumi goreng. ‘’Hei, jangan lupa ini!’’
‘’Berapa banyak part-time yang kau lakukan di pulau ini? Kenapa kau selalu saja muncul dimana-mana?’’ habis pikir Peat.
‘’Ah, pertanyaan bagus. Biarkan aku menjelaskannya. Aku membantu kakakku dengan toko selamnya, melayani tamu di bar pantai, mengangkut barang di dermaga, bahkan kalau ada turis tersesat, aku yang menemukan mereka. Bahkan aku kadang bingung, aku ini manusia atau hantu lokal,’’ jawab Boss.
Fort menatap adiknya dengan ekspresi setengah geli, setengah jengkel. ‘’Tunggu, bukannya kau lebih sering membuat masalah daripada membantu?’’
Boss menunjuk dirinya dengan dramatis. ‘’Hei, jangan meremehkan. Aku ini tulang punggung pulau ini. Tanpa aku, semua orang akan bingung.’’
‘’Baiklah, kalau kau sehebat itu, kau pantas untuk makan bersama kami. Ayo, duduk di sini,’’ ajak Peat.
Fort langsung melotot. ‘’Dia itu cuma pura-pura sibuk. Kalau kau mengajaknya makan, dia makin besar kepala.’’
Boss tidak menunggu dua kali. Dengan wajah berseri-seri, ia segera duduk di kursi kosong di samping Peat. ‘’Terima kasih, Kakak Ipar. Kau memang yang terbaik.’’
Fort menatap adiknya dengan ekspresi muak. ‘’Tahu begini, kenapa tidak menendang bajingan ini ke tengah laut tadi.’’
‘’Kalau kau melakukannya, turis akan kecewa karena kehilangan daya tarik utama pulau ini, aku.’’
‘’Puff! Kau ini terlalu percaya diri. Tapi aku suka semangatmu,’’ senyum Peat.
Fort menggeleng sambil tersenyum tipis. ‘’Semangat dia? Itu cuma cara dia memanfaatkan situasi.’’
Peat tersenyum lebar hingga matanya tanpa sengaja menangkap kalender yang tergantung, membuat senyumannya perlahan luntur.
‘’Kak Peat, kau belum menyentuhnya, apa aku boleh memakannya?’’
Suara itu menyadarkan Peat dari lamuannya. ‘’Hm? Aa iya, tentu saja, kau bisa memilikinya.’’
‘’Mulai sekarang kau adalah kakakku,’’ senyum lebar Boss.
‘’Dasar bajingan,’’ umpat Fort.
Pagi itu diakhiri dengan gelak tawa dan kunjungan mendadak ke toko es krim lokal atas usul Boss, yang tentu saja tidak mau ketinggalan momen untuk memanfaatkan kemurahan hati Peat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 251 Episodes
Comments
Libra Roshi
ska bnget sma dua kakak adik nih/Curse/
2024-12-08
20
Pisces Aprodithe
nah, peat mewakili/Facepalm/
2025-01-04
13
Jor Mary
🤣🤣🤣
2024-12-08
15