..."Pilihanku selama ini hanya kamu. Baik dihidupku maupun saat kematianku. Hanya kamu"...
...----------------...
Rumah Pak Jaka tampak ramai dipenuhi orang yang akan melayat. Tampak rekan kerja dan para sahabat berdatangan untuk memberikan salam perpisahan kepada jenazah Monica yang diletakkan dibagian tengah Ruang Tamu. Foto Monica terletak dibagian atas, Monica yang tersenyum dengan menggunakan kaca mata baca dan mengenakan kemeja berwarna coklat tampak cantik di foto itu.
Khrisna datang bersama Bella yang langsung meringkuk disamping jenazah dan suara Bella yang meraung memenuhi ruangan. Khrisna berusaha menenangkan Bella yang mencengkeram erat kain penutup jenazah.
Khrisna mendatangi Langit yang menyandarkan badannya di dinding disamping jenazah dengan mata yang tampak sembap tak mengalihkan pandangannya sedetik pun menatap foto Monica yang terpajang disana.
"Turut berduka bro" kata Khrisna sambil merangkul pundak Langit.
Langit hanya mengangguk dan tak mengeluarkan sepatah katapun.
"Laporan kepolisian biar aku sama Bella yang urus, sopir itu yang bermasalah, aku nggak akan melepaskan dia dengan mudah" kata Khrisna yang saat ini bekerja sebagai seorang hakim dan Bella yang bekerja sebagai seorang pengacara ternama.
Langit tersenyum getir mendengarnya lalu menoleh kearah Khrisna sambil menatap mata Khrisna.
"terus? Apa itu bikin Monica balik?" tanya Langit dengan nada bergetar.
"Tentu nggak. Tapi dia harus membayar perbuatannya, dengan begitu Monica akan mendapat keadilan" kata Khrisna menjelaskan.
"Aku nggak ngerti lagi Khris" kata Langit dengan suara yang lemah.
"Kuat bro, ikhlas. Biar Monica tenang" kata Khrisna sambil mencengkeram erat pundak Langit.
Langit terdiam sambil memandang foto Monica.
"Foto itu-- aku yang ambil. Cantik yaa-- Calon istri aku" kata Langit yang kembali meneteskan air matanya.
"Kami akan berjumpa lagi diatas sana kan Khris?" tanya Langit kepada Khrisna.
"Kalau memang jodoh dunia akhirat, bakal dipertemukan kembali" kata Khrisna berusaha memberikan kekuatan dengan Langit.
"Rasanya-- aku pengen nyusulin dia. Kasihan Monica dibawah sana sendirian nantinya" kata Langit dengan nada pasrah.
"Hehh bro, sadar-- Kalau kamu seperti itu, akan berat di Monica dan Pak Jaka akan merasa bersalah dengan keluargamu. Kamu nggak akan diterima di dunia dan di akhirat. Kamu nggak akan ketemu Monica. Kamu mau kayak gitu?" kata Khrisna berusaha menyadarkan Langit.
"Terus? Buat apa aku disini sendiri? Udah nggak ada dia, buat apa aku disini Khris?" tanya Langit kembali.
"Capai cita-cita Monica yang belum terealisasi, jaga keluarganya, kirimi dia do'a-- Dengan cara itu kamu menunjukkan cintamu kepadanya" Khrisna meyakinkan Langit dengan segala cara.
Tak lama kemudian dilakukan proses pemberangkatan jenazah dilakukan. Mulai dari ibadah terakhir dan salam perpisahan dari orang terdekat. Lalu jenazah Monica mulai diberangkatkan ke tempat peristirahatan terakhir.
Langit memeluk erat foto Monica didalam mobil jenazah.
"Aku antar ya sayang-- Tunggu aku disana-- Entah berapa lama lagi, tunggu aku" kata Langit sambil mengusap peti jenazah Monica.
Hingga mereka tiba di tempat pemakaman dan melakukan prosesi pemakaman jenazah yang kembali diiringi isak tangis. Langit hanya duduk bersimpuh berusaha menopang tubuhnya dengan sisa tenaganya melihat sedikit demi sedikit tanah mulai menimbun liang lahat Monica.
Pak Jaka dengan badan bergetar mengatupkan erat mulutnya melihat proses itu. Hingga prosesi selesai hanya tertinggal Langit yang masih terduduk disamping makam dan meletakkan setangkai bunga mawar merah di nisan Monica.
"Aku mencintaimu, sampai kapanpun itu-- Aku mencintaimu" kata Langit dengan tangisan yang menderu dan mencium batu nisan Monica sebelum akhirnya dia memutuskan pergi dari area pemakaman.
...----------------...
"Oke-- Sudah saatnya" kata Afra yang sedari tadi menutup matanya sambil menyilangkan tangan masih terduduk di bangkunya.
"Sudah tanda tangan?" tanyanya lagi sambil memastikan Monica sudah melakukannya.
Ternyata Monica masih menggenggam pena bulu itu dan belum melakukan tanda tangan di halaman terakhir bukunya.
"Tunggu apa lagi-- sebentar lagi kamu dijemput" kata Afra tampak terkejut.
Monica masih terdiam dan tampak ragu sambil terus berfikir.
Tak lama kemudian pintu bilik itu diketuk, membuat Afra dan Monica terkejut. Sosok dengan jubah berwarna putih tampak disana, wajahnya tidak terlihat karena tudung jubahnya menutupi hampir sebagian besar wajahnya.
"Sudah waktunya" kata sosok itu kepada Monica.
"Ayo, buruan tanda tangan" pinta Afra kepada Monica yang masih menggenggam pena itu.
Monica menatap buku itu dan sosok berjubah putih itu dengan bergantian. Lalu dia menarik nafasnya dan meletakkan penanya disamping buku membuat Afra terkejut melihatnya.
"Saya ingin menyelesaikan suatu hal didunia" kata Monica tiba-tiba kepada sosok berjubah putih yang tampak terdiam mendengar perkataan Monica.
"HAHH?" Afra terkejut mendengarnya.
"Tunggu tunggu-- Apa yang kamu lakukan?" bisik Afra kepada Monica.
"Pasti ada hal yang harus saya selesaikan" kata Monica lagi dengan bersungguh-sungguh.
Sosok berjubah putih itu terdiam sejenak lalu mengacungkan tongkatnya kepada Afra.
"Jelaskan semua hal yang harus dia tahu, akan menjadi dosamu jika hal terpenting itu tidak dijelaskan kepadanya, dia berhak tahu akan semua takdir yang telah digoreskan oleh Yang Maha Kuasa" katanya dengan suara menggelegar.
Afra tampak pucat dan menelan ludahnya, lalu mereka melihat sosok berjubah putih itu keluar dari bilik yang membuat Monica menoleh kearah Afra yang bertumpu pada meja.
"Apa maksudnya?" tanya Monica kepada Afra yang tampak pucat.
Afra lalu menatap tajam Monica.
"Aku nggak bilang semuanya karena takut kamu menyesal, aku nggak mau ada lagi yang seperti aku. Ini terlalu sakit" kata Afra menjelaskan.
"Apa? Tentang apa?" Monica mengejar penjelasan kepada Afra.
"Takdirmu" kata Afra yang membuat Monica tersentak.
"Benang merah takdirmu tampak kuat dan masih menyala dengan seseorang didunia. Bahkan suami istri pun akan terputus jika mereka telah sampai ditempat ini, namun milikmu-- milikmu mengingatkan aku pada--" Afra menghentikan kata-katanya lalu terduduk lemas dibangkunya.
"Benang ? Benang apa?" Monica kebingungan dan mencari benang yang dimaksud Afra.
Tangan Afra lalu menutup mata Monica sejenak lalu membukanya. Dan pada saat itu Monica bisa melihat dengan jelas, benang merah yang bersinar terang terikat di kelingkingnya, terhubung kepada dunia.
"Langit--" Monica bergumam
"Iya-- itu terhubung padanya" kata Afra dengan suara pelan.
"Lalu aku harus apa?" tanya Monica lagi.
"Tanda tangani buku itu, maka benang itu akan terputus. Jangan menyiksa dirimu dan orang yang ada didunia. Jika tidak---" kata Afra berusaha mengatur nafasnya.
"-- Jika tidak-- Kamu akan menjadi seperti kami. Tidak memiliki tempat, terus bekerja tiada akhir, melihat kesedihan, amarah, sakit dan tangisan. Sebuah hukuman yang tiada henti dari sebuah keputusan egois" kata Afra sambil menatap mata Monica.
Monica terdiam sejenak berusaha memahami perkataan Afra. Monica kembali melihat benang merah miliknya itu dan dia yakin itu terhubung dengan Langit. Monica merasa masih bisa merasakan adanya perasaan itu.
"Aku ingin menyelesaikannya" kata Monica dengan yakin.
"Jangan gila-- Kamu nggak ngerti-- Kamu nggak akan mampu" kata Afra dengan setengah berteriak.
"Tapi aku harus menyelesaikannya, akan menjadi sebuah penyesalan terbesar dan sakit tiada henti bagi aku dan Langit jika hal ini tidak diselesaikan" Monica balik berteriak kepada Afra.
"HAHHH.. BISA GILA" Afra mencengkeram rambutnya sambil berjalan mondar-mandir. Dia tampak berfikir keras lalu keluar dari biliknya meninggalkan Monica sendiri disana.
Monica tak mengerti kemana Afra pergi. Namun dia yakin bahwa dia harus menyelesaikan ini. Langit harus mengikhlaskannya. Jika tidak, maka arwah Monica tidak akan tenang dan Langit akan hidup dalam penyiksaan yang tiada akhir.
Monica terduduk dibangkunya sambil membuka lembar demi lembar buku riwayat miliknya. Tertulis lengkap semua disana, setiap peristiwa dihidupnya ternyata sudah tertulis sedemikian rupa, namun ada bagian yang belum terselesaikan. Tampak sebuah halaman kosong dengan tulisan diatas sebuah halaman itu.
-Langit, Cinta pertama dan terakhir-
Dada Monica terasa sesak, namun mengapa beberapa halaman itu kosong dan loncat dihalaman terakhir tempatnya harus menuliskan tanda tangannya. Monica merasa harus mencari jawabannya untuk mengisi halaman kosong di buku riwayatnya.
Tiba-tiba Afra kembali bersama dengan sosok berjubah putih. Monica terkejut dan berdiri dengan tangan berpangku dibagian depan tubuhnya.
"Saya ingin menyelesaikannya" kata Monica kembali dengan segenap keberaniannya.
"100 Hari" kata sosok itu kepada Monica yang membuat Monica terkejut.
"100 Hari setelah kamu meninggal adalah masa dimana kamu harus menyelesaikan urusanmu didunia. Yang Maha Kuasa mengizinkan rohmu kembali hidup" kata sosok itu yang membuat Monica terkejut dan tersenyum senang tapi bukankah jasadnya sudah dikuburkan.
Monica mengerutkan dahinya karena tidak paham dengan perkataan sosok berjubah putih itu.
"Rohmu akan menjadi harapan hidup baru bagi sebuah raga yang jiwanya sudah hilang sebagian. Dan kamu harus mencarinya sendiri. Dengan syarat, sosok itu adalah sosok baru yang tidak dikenal oleh orang yang ada disekitarmu dan kamu tidak diizinkan untuk mengenalkan sosokmu sebenarnya. Jika kamu melanggar atau tidak berhasil menyelesaikannya dalam 100 hari maka jiwamu akan terpenjara diantara 2 dunia dan akan menjadi sosok penjemput arwah dan yang ada didunia akan merasakan sebuah kenangan pahit akan sosokmu sehingga akan menimbulkan kesakitan hingga maut menjemput mereka" Sosok berjubah putih itu menjelaskan dengan suara menggema keseluruh ruangan.
"Pahami dan pikirkan kembali sebelum memutuskannya. Jika kamu sudah memutuskannya maka tuliskan didalam buku riwayat milikmu" kata sosok berjubah putih itu sambil mengacungkan tangannya kearah buku riwayat yang terletak diatas meja.
Lalu sosok itu hilang bagai sebuah angin. Meninggalkan Monica yang masih berdiri tertegun bersama Afra yang memandang Monica dengan tatapan tajam.
"Jadi aku akan menjadi seperti kamu jika ini tidak berhasil?" tanya Monica sambil menatap Afra.
Afra memalingkan wajahnya dan berjalan menuju meja sambil membuka halaman yang berbeda. Afra mengusapkan tangannya dan perlahan muncul tulisan baru dihalaman itu. Sebuah perjanjian baru yang harus Monica tanda tangani.
Monica menatap lekat halaman itu dengan pikiran yang berkecamuk.
"Menyelesaikan ini? Apakah aku harus membuat Langit mengenaliku atau harus mengikhlaskan aku?" tanyanya kepada Afra.
"Hanya kamu yang tahu jawaban terbaiknya" jawab Afra sambil memberikan lagi pena bulu kepada Monica.
"Jangan berpikir terlalu lama, waktu disini dan di dunia itu berbeda, jika kamu terus berfikir. Waktumu akan semakin berkurang dan kamu hanya kan menjadi roh gentayangan yang sia-sia" kata Afra dengan menatap Monica.
"Sudah berapa lama didunia sejak aku meninggal?" tanya Monica ingin memastikan sisa harinya.
"3 Hari" jawab Afra singkat
"Hahh? Bukankah aku disini belum terlalu lama" kata Monica terkejut mendengar perkataan Afra.
Afra duduk dengan tidak berdaya sambil memandang Monica.
"Disini tidak ada siang dan malam. Waktumu tinggal 97 hari lagi dan beberapa saat lagi akan menjadi 96 hari lagi"
Monica menghembuskan nafasnya dengan berat. Mempertimbangkan segala hal. Apa yang harus dilakukannya, apa yang menjadi akhir dari 100 hari nantinya. Monica menutup matanya erat berusaha mencari jawabannya.
Sesaat kemudian mata Monica membuka, dengan yakin dia menggoreskan pena bulu dihalaman perjanjiannya.
Afra membelalakkan matanya saat melihat Monica memilih untuk menyelesaikan urusannya dan membuat buku riwayat Monica bersinar terang yang tanpa dia sadari membuatnya tersedot masuk kedalam bersama dengan Afra.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 39 Episodes
Comments