BAB 2 : APA ITU CINTA?

...Apa aku merasakan cinta? Sama kamu?...

...Bolehkah?...

......................

Monica duduk di kursi ruang tamunya yang sederhana sambil memegang remot tv dan memilih acak slauran tv yang ada didepannya dengan terus menerus.

Pak Jaka yang melihatnya hanya tersenyum sambil membawa sepiring pisang goreng dan teh hangat diletakkan di meja ruang tamu.

"Kamu kenapa nduk?" tanya Pak Jaka lembut kepada Monica.

"Jatuh cinta mungkin Pak" kata adiknya Gama dengan tertawa terkikik

Monica melemparnya dengan bantal sofa tanpa berkata sedikit pun.

"Ada kejadian disekolah?" tanya Pak Jaka dengan lembut.

Monica menggelengkan kepalanya. Dia tidak bisa mengatakan apa yang dirasakannya dengan tepat. Dia sendiri pun bingung mengapa dia merasa sekesal ini dengan kejadian tadi.

Jatuh cinta??

Monica berpikir dengan keras mendengar kata-kata itu. Apakah benar dia merasa jatuh cinta dengan Langit. Dia bahkan tidak ingin memikirkannya, karena bagi Monica yang hanya gadis sederhana merasa tidak pantas memiliki perasaan itu kepada Langit yang berada di level kehidupan yang berbeda.

"Pak---" Monica memanggil Pak Jaka dengan tampak ragu.

Pak Jaka yang sudah mengambil alih saluran tv menoleh kepada Monica dan siap mendengarkan apa yang ingin dikatakan putri sulungnya itu.

"--- Cinta itu apa?" tanya Monica dengan menatap wajah Bapaknya dengan serius.

Pak Joko tidak langsung menjawab pertanyaan Monica. Dia menatap dengan lembut Monica dan melihat bahwa putrinya itu memerlukan jawaban darinya. Putrinya sudah beranjak dewasa membuat Pak Joko harus membimbingnya dengan baik.

"Cinta--- Bapak sendiri belum tau bagaimana tepatnya harus mendeskripsikannya" kata Pak Joko sambil menatap Monica.

Gama yang tertarik mendengarnya, mendekat ke kursi ruang tamu dan duduk di bawah sambil menyandarkan kepalanya di meja ruang tamu, siap untuk mendengar jawaban Bapaknya.

"Bapak cinta sama Ibu kalian, sangat mencintai dia. Dia wanita yang luar biasa, tak pernah sekali pun Ibu menuntut apapun. Namun, ternyata Allah jauh mencintainya. Hingga Bapak bingung saat itu, bagaimana definisi cinta. Serindu itu kah Allah kepada Ibu mu hingga dia memintanya pulang diusia itu" kata Bapak mulai menerangkan kepada anak-anaknya yang saat ini adalah waktu yang tepat bagi Bapak.

"Semua orang bisa punya cinta?" tanya Gama dengan polosnya.

"Bisa nak.. Bisa.. Kamu bisa mencintai dan dicintai siapapun. Tapi alangkah baiknya, kamu harus mengerti, tidak semudah itu hati ini memilih cintanya. Dan harus ikhlas jika orang yang kamu cintai ternyata tidak ditakdirkan mencintaimu. Karena semua sudah diatur Allah" Pak Jaka menjawab dengan bijak.

Monica terdiam dan menganggukkan kepalanya berusaha memahami secara perlahan kata-kata Bapaknya yang sedikit sulit baginya.

"Terus ciri-ciri kalo punya rasa cinta?" tanya Monica kembali. "Temen-temen Monica kayak gampang banget bilang cinta si A, cinta si B.. Terus jadian.. Gitu loh Pak" kata Monica lagi menerangkan dunia remajanya.

Pak Jaka tersenyum, dia memang ingin membuat anak-anaknya merasa nyaman menanyakan hal seperti ini dengannya.

"Yang dirasakannya teman-temanmu bisa aja ada cinta, namun bisa juga hanya mengagumi.. Karena cinta itu nggak datang saat kita menyadari, namun dia datang perlahan memasuki hati kita. Hingga kita menyadari saat melihat seseorang, ada perasaan berbeda, cara pandang berbeda, dan ada degupan yang berbeda. Bapak ingin kalian merasakannya dengan perlahan. Jadi jangan terburu-buru bilang cinta keseseorang sebelum kalian meyakini itu benar-benar cinta" kata Pak Jaka menerangkan dengan perlahan.

Monica terdiam kembali, mengingat bagaimana perasaannya didekat Langit, bagaimana cara menatapnya dan bagaimana rasanya saat dia melihat Langit tersenyum dengan siswi lain.

Monica menggaruk kepalanya. Dia sendiri bingung kenapa saat dia membahas cinta, hanya bayangan Langit yang terlintas dipikirannya.

"Pak-- Boleh nggak sih kalau aku tanya kayak gini ke sahabat cowok aku?" tanya Monica kepada Bapaknya.

"Hmm-- Boleh saja, kalian bisa bertukar pikiran. Tapi jangan terlalu membuka perasaanmu nak, seseorang bisa saja memanfaatkannya untuk menyakitimu. Tetap harus terlihat kuat dan berharga didepan siapapun" Pak Jaka memberikan saran kepada Monica.

Monica mengangguk dan dia bertekad akan mencoba membahasnya dengan Langit untuk melihat bagaimana tanggapan Langit dan reaksi Langit.

"Mbak Monica mau punya pacar tuh" kata Gama berusaha menjahili kakaknya.

"Anak kecil nggak boleh ikut-ikut" kata Monica kepada adiknya sambil meletakkan telunjuk di bibirnya.

"Kalau nanti sudah saatnya aku jatuh cinta. Aku ingin ketemu cowok yang kayak Bapak. Kayak Bapak cinta sama Ibuk. Aku pengen kayak gitu" kata Monica sambil tersenyum kepada Pak Jaka.

"Pasti kamu menemukannya suatu saat nanti nak, Bapak do'akan yang terbaik dan lebih baik dari Bapak" kata Pak Jaka sambil mengusap kepala Monica dengan lembut.

Monica tersenyum menikmati usapan kepala dari Bapaknya dan menyerbu Pak Jaka dengan memeluk pinggang Pak Jaka.

"Aku juga mau dipeluk" kata Gama nggak mau kalah dan menuju Pak Jaka untuk memeluk Pak Jaka.

"Sini semuanya Bapak peluk, anak-anak kesayangan Bapak. Jadilah anak yang bertumbuh memiliki hati yang baik dan akal yang cerdas, amin" kata Pak Jak sambil mencium kepala Monica dan Gama bergantian.

Malam itu diluar sedang hujan, membuat suasana terasa dingin. Namun didalam rumah itu terasa hangat dengan kasih sayang Pak Jaka kepada anak-anaknya.

Terpopuler

Comments

Odette/Odile

Odette/Odile

Susah move on

2024-11-28

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!