Pulang dari pertemuan dengan Aira, Galang langsung balik ke apartemen gak pakai mampir-mampir dulu. Surat perjanjian dia bawa, dan malam itu juga dia lihat isinya sontak terkikik geli. Banyak coretan tipe-x sana-sini, juga yang tadinya point pasal perjanjian hanya ada tiga kini menjadi empat.
Point yang ditambah itu berupa permintaan Aira untuk dijaga dari gangguan Adrian. Gak cuma dirinya, tapi juga dengan Alea dan Ibu Salmah. Sedangkan yang dicoret pakai tipe-x, Aira sepertinya gak setuju tentang pasal Galang menyebutkan bahwa laki-laki itu bisa melakukan hal yang biasa dia lakukan meskipun di depan Aira. Hal tersebut bersifat negatif.
Aira menggantinya jadi; gak boleh dilakukan di depannya atau ketika Galang berada di rumah. Kalau di luar rumah dan Aira gak tahu, silahkan saja, sebab mengacu pada pasal kedua yang menyebutkan bahwa gak boleh mencampuri urusan satu sama lain.
Tahu pasal yang pertama apa? sepertinya pasal itu menjadi point tersembunyi dari kalian semua. Yang pasti ketika Aira mencoret-coret point yang pertama tersebut, dahi Galang berlipat serta terbit senyum miring di bibir lelaki itu.
...***...
Perceraian Adrian dan Aira sudah terketuk palu. Mereka benar-benar telah resmi bercerai setelah Galang membuat Adrian gak bisa hadir dipersidangan biar cepat selesai. Gak cuma pasangan Aira dan Adrian saja yang telah resmi bercerai, Galang dan Melvi juga menyusul setelahnya. Anehnya, detik-detik perceraian antara Galang dan Melvi, justru Melvi menunjukkan sikap yang kontras. Gak ada drama-drama manja, malah Melvi terlihat begitu santai bahkan terkesan ikhlas menerima. Beda sekali dengan Adrian.
Apa yang sedang Melvi pikiran sehingga menjadi begitu? tenang saja, Melvi hanya berasumsi bahwa bercerai dengan Galang gak ada ruginya. Lagipula permintaan Melvi tentang harta gono gini dikabulkan Galang. Melvi mendapatkan mobil atas nama dia yang dibelikan Galang sewaktu menjadi istrinya. Mobil Honda Brio yang sering dipakai Melvi kemana-mana.
Dia bisa menjerat Adrian untuk menikahinya kelak. Gak apa-apa kehilangan suami jarang perhatian macam Galang, seenggaknya jika bisa bersatu dengan Adrian, Melvi bisa bangga sedikit. Tampang Adrian yang gak malu-maluin buat dipamerin, serta pekerjaan yang jelas di kantoran menjadi pemicu Melvi legowo menjalani perceraiannya dengan Galang.
Satu hal lagi yang juga menjadi pemicunya, seenggaknya Adrian udah terbukti tokcer karena sudah memiliki anak.
Beberapa bulan kemudian....
"Saya terima nikah dan kawinnya, Aira Nisa binti alm bapak Aman, dengan mas kawin satu unit mobil, seperangkat berlian, serta seperangkat alat sholat dibayar tunai."
"SAH!" serempak para saksi berkumandang. Galang mengusap wajah, kemudian pandangan fokus lagi ke bapak penghulu. Aira juga sama, setelah kata sah berkumandang dia kembali fokus mendengar wejangan. Pernikahan digelar di kediaman mempelai wanita.
Emaknya sama bapaknya Galang senang banget nikah lagi sama Aira, perempuan yang mereka nilai baik etikanya. Emaknya Galang dari awal acara antusias sampai-sampai ngomong ke saudara tetangga yang dia bawa sebagai rombongan besan, beliau selalu bilang Aira mantu kesayangannya. Mungkin efek lepas mantu dari Melvi yang sangat dia nggak suka.
"Yang ini mah bageur pisan ya ceu. Saya juga sreg lihatnya."
"Iya, tumben Galang bener nyari perempuan."
"Semoga aja cepat diberi momongan sama yang ini."
"Aamiin. Saya soal cucu sebenarnya se-dikasihnya aja."
"Oh gitu, kirain saya, mpok ngebet banget pengen cucu dari dia. Saban ari pan berantemnya soal itu mulu."
"Itu mah karena pengen cari masalah aja biar si Melvi gak betah jadi menantu saya. Eh gak disangka-sangka cerainya gara-gara dia selingkuh sama laki orang."
Dan seketika perkumpulan ibu-ibu menjadi ramai dengan topik perselingkuhan Melvi yang dipelopori oleh emaknya Galang. Habis itu mereka lanjut menyantap hidangan berbagai menu yang sudah disediakan. Emaknya Galang tampak senang sekali hari ini.
...***...
Rumah yang direnovasi menjadi megah dan estetik serta ada kolam renangnya sudah jadi ketika Aira sah menjadi istrinya Galang.
Dan di situlah sekarang Aira berada.
"Di sini ada satu kamar utama dan tiga kamar tamu. Kamar saya yang sebelah sana tuh, kamar utama yang pintunya paling beda sendiri dari yang lain. Kalau kamu mau beda kamar, silahkan tempati yang mana saja yang kamu mau. Kalau mau satu kamar ya silahkan tempati kamar utama bersama saya. Atau kamu mau kamar utama, dan saya pindah ke kamar tamu?"
"Saya di kamar tamu yang sebelah sana saja Mas, jadi gak perlu repot-repot Mas Galang pindah kamar. Lagipula ini kan rumah Mas Galang, nggak enak kalau sampai saya yang menempati kamar utama."
"Oke fix kita beda kamar. Kalau begitu selamat beristirahat Aira, nanti kamu akan dibantu sama orang suruhan saya buat bebenah barang-barang milik kamu. Saya mau mandi." Galang beranjak pergi.
"Tunggu Mas,"
"Ada apa?"
"Boleh saya ikut sebentar saja ke kamar Mas Galang? Saya harus tahu letak pakaian Mas Galang beserta accessories lain." Galang menaikkan alis dengar permintaan Aira ini. Dia mikir beberapa detik dulu sebelum menjawab.
"Ayo ikut."
Keduanya kini masuk ke dalam kamar Galang. Lelaki itu membuka jas pengantin sambil dikte dimana saja barang kesehariannya berada, sedangkan Aira sibuk mendengarkan sambil mencari-cari yang dimaksud Galang.
"Udah?" tanya Galang memastikan Aira apakah sudah selesai menyisir kamarnya.
"Sudah Mas, ini handuk yang baru aku ambil dari lemari. Yang ada di dalam kamar mandi mau aku cuci."
Galang terperangah, "oh, yaudah makasih."
Tetapi sudah dibilang terimakasih, Aira masih tetap berada di sana. Hal tersebut menimbulkan tanda tanya bagi Galang. Masih mau ngapain Aira ada di dalam kamarnya? sebenarnya mau pisah kamar atau menyatu saja? Galang jadi bingung. Lelaki itu ikut-ikutan berdiri memperhatikan Aira yang lagi mengamati isi lemarinya.
"Eh laaah." Tangan Aira yang lagi ngambil baju sama celana, plus celana yang paling inti, tiba-tiba di cegah Galang. Dia malu barangnya di oprek sama Aira, yang padahal niat perempuan itu cuma mau menyiapkan keperluan suami.
"Kamu kenapa begini?" tanya Galang sehabis menghentikan aksi Aira melayani suami.
"Ya.. menyiapkan keperluan Mas Galang. Saya sudah terbiasa begini, jika gak dilakuin satu hari saja, saya merasa gak enak badan." Begitu katanya, padahal Aira cuma nggak betah saja punya suami tapi gak ikut ngurusin.
"Langsung sakit?"
"Iya."
"Ra, sebenarnya saya nggak apa-apa kalau kamu gak berlaku seperti istri yang siap siaga melayani suami. Soalnya saya udah biasa apa-apa sendiri. Tapi kalau itu buat kamu sakit, yasudah lakuin aja. Ini kamu yang mau lho ya, bukan saya yang nyuruh."
Aira tersenyum. "Iya Mas, saya yang mau."
Tiba-tiba ada kabar mereka kedatangan tamu. Siapakah gerangan?
.
.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
RE💜
siapa yang kepanasan duluan? Pastinya Adrian, tapi klo liat Galang udah semakin kaya apalgi rmh gedong nanti Melvi dtg jg
2024-11-16
2
Dewi Payang
Gak taunya klo Galang lebih segala2 galanya dari Adrian. Nangis darah dah tar
2024-11-16
2
F.T Zira
mana dapet restu orang tua juga...
2024-11-17
1