Mulai Ada Bukti

Lama-lama dijalani, Melvi dan Adrian terbuai indahnya perselingkuhan. Mereka udah nemuin cara yang bisa menyembunyikan jejak komunikasi di antara mereka. Jadi.. kapanpun mereka ngechat, gak akan ketahuan orang lain kalau bukan si pemilik hp yang buka.

Aira terus berjuang ditengah gerimis yang mengguyur kota hari ini. Di toko bunga miliknya, ia menatap keluar jendela menikmati rinai hujan menari-nari di atas bumi.

"Bu Aira," panggil orang yang membantu menjaga toko. Gitu-gitu Aira punya karyawan yang ia gaji gak seberapa. Hitung-hitung bantu orang, karena dulu ia menemukannya dalam keadaan kelaparan.

"Iya neng, ada apa?"

"Alhamdulillah ya bu, meskipun kemarin-kemarin sempat sepi, tapi sekarang walaupun cuaca begini ada saja pembeli datang."

"Itu namanya rejeki Neng. Makanya kita tuh harus kuat, gak boleh gampang menyerah. Disaat kita hampir putus asa mana tahu ada jalan yang gak diduga-duga."

"Iya, bener-bener." Neneng manggut-manggut. "Oh iya Bu, kemarin saya ketemu Bapak di persimpangan jalan yang arah mau kesini."

"Sendiri?" tanya Aira penuh minat.

"Iya Bu, sendirian."

Aira bernafas lega dengar Neneng cerita kalau dia ketemu suaminya sendirian alias bukan jalan sama cewek lain.

"Terus saya lihat ada sesuatu jatuh dari kantong bapak. Kayanya gara-gara ketarik bareng ambil hp di kantong."

"Begitu?"

"Iya Bu begitu. Ini saya simpan, mau saya balikin ke Ibu aja. Takutnya penting."

Neneng menyodorkan benda yang dimaksud. Bentuknya masih rapi, kentara kalau belum dibuka-buka. Aira buka karena milik Adrian dia juga berhak tahu. Ternyata pas dibuka, isinya faktur pembelian sebuah jam tangan. Bagi Aira harganya juga lumayan mahal.

Untuk siapa jam tangan wanita ini?

Neneng sehabis memberikan penemuannya pada Aira, lantas pamitan mau beres-beres. Aira melipat kembali kertas tersebut, kemudian dia ambil hp, nyari nomor suaminya buat dihubungi. Tinggal pencet log hijau, Aira jempolnya mendadak menggantung. Dia gak jadi telepon suaminya karena kepikiran sesuatu.

Mending aku simpan. Kalau Mas Adrian bahas merasa kehilangan ini, baru aku buka karena itu artinya hanya titipan orang. Tapi kalau dia diam seakan gak pernah kehilangan, maka aku diam saja dan menunggu apakah ini sebuah petunjuk.

Aira membuang nafas kasar. Ia memasukan benda itu ke dalam tas. Hujan sudah reda dan hari pun memasuki senja. Mobil Melvi terdengar berhenti di parkiran. Iya benar, setelah Aira cek, pengemudi yang turun betulan Melvi. Ini juga salah satu perbandingan yang lolos dari mulut Adrian. Katanya Melvi itu mandiri bisa nyetir mobil sendiri, padahal Aira juga mandiri kemana-mana sendiri naik motor. Apa karena istri sendiri sama istri orang lain auranya beda ya?

"Kak Airaaa..." seperti biasanya, Melvi akan heboh bila ketemu Aira. Melvi merentangkan tangan ingin memeluk istri Adrian tersebut. Aira menyambut Melvi hangat, sebagaimana tuan rumah menyambut tamunya.

Aira dan Melvi terlibat obrolan mengenai novel Aira yang baru rilis. Novel tersebut bercerita tentang perselingkuhan.

Gak lama, tiba-tiba suara deru mesin mobil Adrian pun terdengar. Laki-laki itu menyusul Aira ke toko bunganya lantaran ingin menjemput Aira yang hari ini gak bawa kendaraan karena rusak.

"Sayang."

Aira dan Melvi menengok. Jantung Aira berdegup kencang, namun ia harus berpura-pura kalau mau tahu yang sebenarnya terjadi. Sesungguhnya insting Aira masih terasa kurang baik, menduga Adrian dan Melvi ada main walaupun Adrian memberi penjelasan masuk akal atas kejanggalan yang terasa. Jadi Aira kali ini harus lebih pintar demi mendapatkan jawaban.

Aira pura-pura gak tahu kalau Melvi juga menengok walaupun sedetik kemudian wanita itu membuang pandangan ke sembarang arah. Aira menutupinya dengan menyambut hangat si suami.

"Mas Adrian udah sampai ternyata. Aku malah belum bebenah tutup toko ini Mas."

"Mas tungguin, sekalian bantu kamu bebenah. Eh ada Mbak Melvi juga di sini." Adrian nyapa istrinya Galang.

"Iya Nih. Baru bincang-bincang sebentar sama Kak Aira malah udah dijemput pulang."

Perasaan Aira menjadi gak karuan ketika lihat pergelangan tangan Melvi. Jam tangan itu mereknya sama kaya yang tertulis di faktur milik Adrian. Dia baru melihatnya saat Melvi menyingkap rambutnya.

Aira berusaha keras menguasai dirinya biar gak terlihat risau. Tapi dasarnya Adrian dan Melvi yang sudah kongkalikong, merencanakan sebelumnya pertemuan ini hanya untuk memastikan kekhawatiran Adrian yang bilang Aira berubah, sudah bisa menangkap dugaan Adrian benar.

...***...

Adrian: Benar kan kata ku kalau Aira sudah mulai menunjukan sikap berbeda. Sesuai kesepakatan awal, kalau pasangan kita sudah mulai mencium gelagat hubungan ini, maka sebaiknya kita akhiri keindahan ini Mel. Sudah cukup untuk kita bermain-main.

Melvi: Kamu sudah periksa belum dia udah punya bukti apa Mas? apa ini karena kamu yang terlalu takut?

Adrian: Belum sih.

Melvi: Tuh kan. Santai aja Mas, malah kalau kamu bersikap kaya gini yang ada malah bener-bener ketahuan.

Adrian: Maka dari itu, kita sudahi cukup sampai di sini saja ya. Aku benar-benar takut kehilangan Aira.

Melvi: Baiklah, tapi ada syaratnya ya Mas.

Adrian: Apa syaratnya?

Melvi: Kita ketemuan untuk terakhir kalinya, anggaplah sebagai salam perpisahan. Habis itu hubungan ini selesai. Gimana? setuju gak?

Adrian: Setuju.

Melvi tersenyum miring lalu membanting hp nya ke atas kasur. Sebenarnya ia belum bisa terima hubungannya dengan Adrian segera berakhir. Dia uring-uringan gak jelas, akhirnya masuk ke kamar mandi terus guyur badanya di bawah kucuran shower.

.

.

Bersambung.

Terpopuler

Comments

Teteh Lia

Teteh Lia

Aira.... 🥺
koq aku yang sedih ya ..

2024-11-06

1

Riu

Riu

mau apa kira kira ketemu udh OV dluan nih😫

2024-11-06

2

Nomnom

Nomnom

masuk jurang penyesalan kau Adrian

2024-11-14

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!