Kepanikan Ayah Muda di Tengah Sawah

Setelah tawa mereka mereda dan rasa kenyang mulai memenuhi perut, Puthut tiba-tiba teringat sesuatu. Ia melirik ke arah Marni, istrinya, yang sedang asyik menikmati sisa Dawet Ayu. Wajahnya mendadak serius, dan dia mendekatkan diri ke Marni.

"Eh, sayang," bisik Puthut pelan, "anak kita, Kanza, di rumah sama siapa ya? Udah dibikinin susu belum?"

Marni yang sedang menikmati suapan terakhir gedang goreng itu, tersentak. Matanya langsung melebar, dan tanpa sadar dia menutup mulutnya yang penuh makanan. "Ya ampun, Puthut! Aku lupa tadi kita tinggalin sama siapa! Aduh, anak kita gimana?"

Puthut pun langsung panik. "Kamu serius, Marni? Aduh, jangan-jangan dia nangis dari tadi. Anak kita kelaparan!"

Mendengar obrolan ini, Pak Woto dan Bu Sisur hanya bisa menahan tawa. Mereka berdua saling pandang dan sudah bisa menebak ke mana arah kepanikan Puthut ini akan berujung.

Bu Sisur kemudian berkata sambil menahan tawa, "Tenang, tenang, Puthut. Anaknya nggak sendirian kok. Tadi sebelum kalian ke sawah, aku sudah nitipin Kanza ke Bu Kartini, tetangga kita. Katanya dia senang jagain bayi, jadi aman!"

Puthut menghela napas lega, tapi ekspresi cemasnya belum hilang. "Tapi, Bu, gimana kalau Kanza nangis terus? Kasian Bu Kartini, dia kan nggak tahu kebiasaan Kanza. Anak kita suka ngamuk kalau nggak disusuin tepat waktu!"

Marni yang juga masih khawatir, menambahkan, "Iya, Puthut benar. Kanza itu bayi yang sensitif. Kalau kita nggak buru-buru pulang, bisa-bisa Bu Kartini repot!"

Pak Woto, yang sejak tadi tersenyum geli, akhirnya ikut bicara. "Ya ampun, Puthut. Kamu ini gimana sih? Baru beberapa jam di sawah udah kangen sama anak. Bukannya bapak-bapak itu biasanya enjoy kalau kerja di luar rumah biar bebas sejenak dari tangisan bayi?"

Puthut menggaruk-garuk kepala sambil tersenyum malu. "Iya, Pak. Tapi ya gimana lagi, aku jadi mikir, kalau Kanza nangis gara-gara aku tinggalin, nanti dia salahin aku seumur hidup!"

Mendengar itu, Marni tertawa kecil. "Udah, Puthut. Jangan terlalu lebay. Kanza masih bayi, nggak bakal ingat hal-hal kecil kayak gini. Tapi ya, aku setuju kita harus cepat pulang. Nanti dia kelaparan lagi."

Pak Woto kemudian menepuk bahu Puthut sambil berkata dengan nada menggoda, "Eh, Puthut, apa kamu yakin anakmu bakalan ingat soal susu? Jangan-jangan yang kangen susu itu malah kamu!"

Semua langsung tertawa mendengar candaan Pak Woto. Bahkan Puthut pun tak bisa menahan tawanya, meskipun wajahnya sedikit merah karena malu.

Setelah semua tawa mereda, Bu Sisur melanjutkan, "Udah lah, kalian santai aja. Bu Kartini itu jago ngurus bayi. Dan kalaupun Kanza nangis, aku yakin dia tahu caranya menenangkan. Tapi kalau kalian memang khawatir, kita beresin aja dulu di sini, terus langsung pulang."

Puthut dan Marni setuju dengan saran Bu Sisur. Mereka pun mulai membereskan sisa-sisa makanan dan minuman. Puthut, yang masih sedikit gelisah, sesekali melirik jam tangannya, seolah-olah waktu bergerak lebih lambat dari biasanya.

Saat semua sudah beres, mereka pun mulai berjalan pulang. Tapi, di tengah perjalanan, Puthut tak henti-hentinya membahas Kanza.

"Marni, kira-kira Kanza lagi ngapain ya sekarang? Apa dia sudah tidur? Atau lagi digendong Bu Kartini?" tanya Puthut dengan wajah khawatir.

Marni, yang mulai bosan dengan kekhawatiran suaminya, akhirnya berkata, "Sudah lah, Puthut. Anak kita baik-baik saja. Kalau kamu terus mikirin dia, nanti kamu sendiri yang stres!"

Pak Woto, yang berjalan di depan, menoleh sambil tersenyum lebar. "Kamu ini, Puthut, dulu waktu kamu masih kecil nggak pernah kayak gini lho. Santai aja, anak kita itu pintar. Nggak bakal kenapa-kenapa."

Puthut mengangguk, berusaha untuk rileks. Tapi jelas, kepanikannya belum benar-benar hilang. Akhirnya, setelah beberapa menit berjalan dengan cemas, mereka tiba di rumah.

Begitu sampai, Puthut langsung melesat masuk ke rumah tanpa menunggu yang lain. "Bu Kartini! Kanza gimana? Sudah dibikinin susu belum?" teriak Puthut.

Namun, yang dia lihat adalah pemandangan yang membuat hatinya langsung lega. Kanza, bayi kecilnya, sedang tertidur pulas di gendongan Bu Kartini. Wajahnya tenang, tanpa tanda-tanda kegelisahan sedikit pun.

Bu Kartini tersenyum lembut, "Tenang, Puthut. Kanza tadi cuma nangis sedikit, tapi langsung tidur setelah aku gendong. Anaknya gampang kok ditenangkan."

Puthut tersenyum lega, tapi kemudian dia merasa malu karena terlalu panik tadi. "Makasih, Bu Kartini. Maaf kalau tadi saya bikin repot."

Bu Kartini hanya tertawa kecil. "Nggak apa-apa, Puthut. Namanya juga orang tua baru, pasti khawatir."

Marni yang baru masuk rumah melihat pemandangan itu dan juga ikut tersenyum lega. "Lihat kan, Puthut. Aku bilang juga, anak kita baik-baik saja. Kamu terlalu lebay tadi!"

Pak Woto dan Bu Sisur yang ikut masuk ke rumah, tertawa melihat wajah Puthut yang sudah kembali ceria. Pak Woto menepuk bahu Puthut sekali lagi. "Nah, sekarang udah lega kan? Lain kali, jangan terlalu panik. Santai aja. Anak kita itu kuat."

Puthut mengangguk sambil tersenyum malu. "Iya, Pak. Ternyata aku yang lebih heboh dari anak sendiri."

Akhirnya, semua kembali tenang. Mereka duduk bersama, melihat Kanza yang tertidur pulas. Pak Woto, dengan senyum bangga, berkata, "Nah, ini baru namanya keluarga bahagia. Meski kadang panik nggak jelas, tapi yang penting kita selalu bersama."

Bu Sisur mengangguk setuju, "Dan ingat, setiap momen kecil seperti ini, kita syukuri saja. Nanti kalau Kanza sudah besar, kita bisa ceritain bagaimana ayahnya dulu panik gara-gara susu!"

Semua tertawa lagi, dan hari itu pun diakhiri dengan rasa syukur dan kebahagiaan yang sederhana. Mereka duduk bersama di ruang keluarga, menikmati momen-momen kecil yang menghangatkan hati.

Puthut, yang tadinya panik, kini bisa tersenyum lega melihat putrinya tidur dengan tenang. Marni menyandarkan kepala di bahu Puthut, sementara Pak Woto dan Bu Sisur menikmati obrolan ringan tentang kejadian-kejadian lucu hari itu.

"Mungkin besok kita harus bawa Kanza ke sawah juga," canda Pak Woto, "biar dia tahu bagaimana rasanya jadi petani sejak kecil."

Puthut tersenyum sambil mengangguk. "Iya, Pak. Mungkin nanti kalau dia sudah agak besar, kita ajak dia. Biar dia tahu, betapa serunya menghabiskan waktu bersama keluarga di sawah."

Bu Sisur menambahkan, "Yang penting, apa pun yang kita lakukan, kita tetap bersama. Kebersamaan inilah yang paling berharga."

Dan dengan itu, mereka semua sepakat bahwa kebahagiaan sejati adalah saat-saat sederhana yang diisi dengan tawa, cinta, dan rasa syukur. Hari itu berakhir dengan damai, membawa mereka tidur dengan senyum di wajah masing-masing, siap untuk petualangan dan momen lucu berikutnya yang akan datang.

Terpopuler

Comments

anggita

anggita

like👍+dukungan iklan buat pak Woto☝yg lagi di sawah.

2024-09-14

3

lihat semua
Episodes
1 Kisah Inspirasi Pak Woto dan Keluarganya
2 Petualangan Kelapa Muda dan Marimas
3 Kepanikan Ayah Muda di Tengah Sawah
4 Tamu Tak Terduga dan Traktor Ajaib
5 Malam Penuh Kejutan: Pocongan di Sawah
6 Pak Sidik dan Traktor Ajaib: Pengembalian yang Tak Terlupakan
7 Pak Sidik Kembali ke Rumah dengan Cerita Baru
8 Festival Desa yang Semakin Meriah
9 Persiapan Festival Tahun Berikutnya
10 Rapat Keluarga di Ruang Tamu
11 Rapat Keluarga: Usul Ekspansi Ladang
12 Rapat Keluarga Pak Woto: Fokus pada Tanaman Padi
13 Hari Panen Padi di Ladang Pak Woto
14 Ide Brilian dari Marni: Memulai Kanal YouTube Keluarga
15 Kejutan Viral: Konten Pertama Keluarga Pak Woto Menggebrak Dunia Maya
16 Gaji Pertama YouTube: Berita Bahagia dan Kejadian Lucu di Keluarga Pak Woto
17 Kehidupan Keluarga Pak Woto: Konten Bahasa Inggris yang Konyol
18 Keluarga Pak Woto: Dari Viral ke Bintang Internasional
19 Pak Woto Mencari Ladang Baru: Petualangan Pagi yang Menggelikan
20 Hadiah yang Menggembirakan: Silver Play Button untuk Keluarga Pak Woto
21 Panen Raya Keluarga Pak Woto
22 Rencana Renovasi Rumah yang Lucu dan Menggembirakan
23 Rapat Besar: Rencana Renovasi Rumah Keluarga Pak Woto
24 Pak Woto Pamit ke Ladang
25 Pulang dari Ladang: Kembali ke Proyek Renovasi
26 Malam Nasi Goreng: Pujian, Kekacauan, dan Kebahagiaan Keluarga
27 Benih Harapan di Ladang Pak Woto
28 Istana Kecil di Tengah Ladang - Transformasi Keluarga Pak Woto
29 Kepulangan yang Mengejutkan - Istana di Tengah Desa
30 Kejutan Malam dari Dashboard YouTube
31 Viral Sampai Istana - Pak Jokowi Tertawa Terpingkal-pingkal
32 Petani Viral dari Ladang ke Istana - Saat Panen Bahagia Sampai ke Presiden
33 Petani Viral - Kisah Keluarga Pak Woto dan Perjalanan Menuju Ketenaran
34 Petani Viral - Kesuksesan, Tantangan, dan Kesenangan Bersama Keluarga Pak Woto
35 Petani Viral - Dari Kolam Renang ke TV Nasional
36 Menghadapi Tantangan Baru
37 Kejadian Tak Terduga di Malam Hari
38 Petualangan di Sawah
39 Kanza Kesleo
40 Petualangan di Kebun Sayur
41 Kembali ke Rumah
42 Kembali ke Rumah dengan Kenangan Manis
43 Persiapan untuk Festival Desa
44 Petualangan Odong-Odong
45 Serunya Memancing di Sungai
46 Nabrak Pintu
47 Kejutan di Kebun
48 Tantangan Gelut dengan Panda
49 Perasaan Terpendam
50 Si Odong-Odong yang Menari
51 Semut Nakal
52 Petualangan Puthut dan Marni
53 Kanza dan Permainan Petak Umpet
54 Petualangan Malam di Kebun
55 Daya Tarik yang Menggoda
56 Puthut Pergi ke Alfamart
57 Kecurigaan Marni
58 Bab 58: Kejutan di Tengah Malam
59 Bab 59: Rahasia di Balik Kasih
60 Bab 60: Rencana Marni
61 Bab 61: Dugaan yang Makin Kuat
62 Bab 62: Upaya untuk Memperbaiki Hubungan
63 Bab 63: Kejutan di Hari Minggu
64 Bab 64: Petualangan Mencari Sinyal
65 Bab 65: Marni dan Sinyal Rahasia
66 Bab 66: Puthut dan Sinyal Keluarga
67 Bab 67: Misi Belanja dan Kejutan di Alfamart
68 Bab 68: Kunjungan Pak Woto ke Alfamart
69 Bab 69: Puthut Mengantar Pak Woto ke Sawah dan Petualangan di Tengah Persawahan
70 Bab 70: Rencana Puthut untuk Membantu Pak Woto
71 Bab 71: Kemeriahan Panen dan Harapan Baru
72 Bab 72: Kabar Gembira di Tengah Sawah
73 Bab 73: Rencana Besar di Balik Kerja Sama Desa
74 Bab 74: Langkah Baru dan Tantangan yang Muncul
75 Bab 75: Menyongsong Masa Depan dengan Keyakinan Baru
76 Bab 76: Merajut Mimpi di Tengah Keberhasilan
77 Bab 77: Tantangan Baru dan Persiapan Masa Depan
Episodes

Updated 77 Episodes

1
Kisah Inspirasi Pak Woto dan Keluarganya
2
Petualangan Kelapa Muda dan Marimas
3
Kepanikan Ayah Muda di Tengah Sawah
4
Tamu Tak Terduga dan Traktor Ajaib
5
Malam Penuh Kejutan: Pocongan di Sawah
6
Pak Sidik dan Traktor Ajaib: Pengembalian yang Tak Terlupakan
7
Pak Sidik Kembali ke Rumah dengan Cerita Baru
8
Festival Desa yang Semakin Meriah
9
Persiapan Festival Tahun Berikutnya
10
Rapat Keluarga di Ruang Tamu
11
Rapat Keluarga: Usul Ekspansi Ladang
12
Rapat Keluarga Pak Woto: Fokus pada Tanaman Padi
13
Hari Panen Padi di Ladang Pak Woto
14
Ide Brilian dari Marni: Memulai Kanal YouTube Keluarga
15
Kejutan Viral: Konten Pertama Keluarga Pak Woto Menggebrak Dunia Maya
16
Gaji Pertama YouTube: Berita Bahagia dan Kejadian Lucu di Keluarga Pak Woto
17
Kehidupan Keluarga Pak Woto: Konten Bahasa Inggris yang Konyol
18
Keluarga Pak Woto: Dari Viral ke Bintang Internasional
19
Pak Woto Mencari Ladang Baru: Petualangan Pagi yang Menggelikan
20
Hadiah yang Menggembirakan: Silver Play Button untuk Keluarga Pak Woto
21
Panen Raya Keluarga Pak Woto
22
Rencana Renovasi Rumah yang Lucu dan Menggembirakan
23
Rapat Besar: Rencana Renovasi Rumah Keluarga Pak Woto
24
Pak Woto Pamit ke Ladang
25
Pulang dari Ladang: Kembali ke Proyek Renovasi
26
Malam Nasi Goreng: Pujian, Kekacauan, dan Kebahagiaan Keluarga
27
Benih Harapan di Ladang Pak Woto
28
Istana Kecil di Tengah Ladang - Transformasi Keluarga Pak Woto
29
Kepulangan yang Mengejutkan - Istana di Tengah Desa
30
Kejutan Malam dari Dashboard YouTube
31
Viral Sampai Istana - Pak Jokowi Tertawa Terpingkal-pingkal
32
Petani Viral dari Ladang ke Istana - Saat Panen Bahagia Sampai ke Presiden
33
Petani Viral - Kisah Keluarga Pak Woto dan Perjalanan Menuju Ketenaran
34
Petani Viral - Kesuksesan, Tantangan, dan Kesenangan Bersama Keluarga Pak Woto
35
Petani Viral - Dari Kolam Renang ke TV Nasional
36
Menghadapi Tantangan Baru
37
Kejadian Tak Terduga di Malam Hari
38
Petualangan di Sawah
39
Kanza Kesleo
40
Petualangan di Kebun Sayur
41
Kembali ke Rumah
42
Kembali ke Rumah dengan Kenangan Manis
43
Persiapan untuk Festival Desa
44
Petualangan Odong-Odong
45
Serunya Memancing di Sungai
46
Nabrak Pintu
47
Kejutan di Kebun
48
Tantangan Gelut dengan Panda
49
Perasaan Terpendam
50
Si Odong-Odong yang Menari
51
Semut Nakal
52
Petualangan Puthut dan Marni
53
Kanza dan Permainan Petak Umpet
54
Petualangan Malam di Kebun
55
Daya Tarik yang Menggoda
56
Puthut Pergi ke Alfamart
57
Kecurigaan Marni
58
Bab 58: Kejutan di Tengah Malam
59
Bab 59: Rahasia di Balik Kasih
60
Bab 60: Rencana Marni
61
Bab 61: Dugaan yang Makin Kuat
62
Bab 62: Upaya untuk Memperbaiki Hubungan
63
Bab 63: Kejutan di Hari Minggu
64
Bab 64: Petualangan Mencari Sinyal
65
Bab 65: Marni dan Sinyal Rahasia
66
Bab 66: Puthut dan Sinyal Keluarga
67
Bab 67: Misi Belanja dan Kejutan di Alfamart
68
Bab 68: Kunjungan Pak Woto ke Alfamart
69
Bab 69: Puthut Mengantar Pak Woto ke Sawah dan Petualangan di Tengah Persawahan
70
Bab 70: Rencana Puthut untuk Membantu Pak Woto
71
Bab 71: Kemeriahan Panen dan Harapan Baru
72
Bab 72: Kabar Gembira di Tengah Sawah
73
Bab 73: Rencana Besar di Balik Kerja Sama Desa
74
Bab 74: Langkah Baru dan Tantangan yang Muncul
75
Bab 75: Menyongsong Masa Depan dengan Keyakinan Baru
76
Bab 76: Merajut Mimpi di Tengah Keberhasilan
77
Bab 77: Tantangan Baru dan Persiapan Masa Depan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!