Amrita turun dari taksi yang dia naiki lalu membayar ongkos nya , tepat didepan klinik dokter Raymond.
Bertepatan dengan dia turun dari taksi, sebuah mobil sedan berwarna hitam melintas didepannya, lalu berhenti dihalaman klinik itu.
Sebenarnya itu pemandangan biasa, karena kebanyakan yang datang ke klinik itu memang bukan orang biasa. Sebab biaya yang dibutuhkan untuk melakukan prosedur bayi tabung bisa dibilang cukup mahal.Jadi wajar kalau pengunjung disana adalah orang orang menengah keatas yang punya masalah sama seperti dirinya.
" Ini ongkosnya, terimakasih banyak ya pak."
" Iya bu,sama sama." Balas supir taksi itu saat menerima ongkos yang diberikan Amrita. Sebelum melajukan lagi taksinya, meninggalkan Amrita.
Amrita lalu berjalan ke klinik, yang jaraknya hanya beberapa puluh meter saja dari tepi jalan dia turun barusan.
Saat itu memang belum siang dan selain mobil yang barusan dia lihat, dia tidak melihat satupun pengunjung disana.Mungkin karena hari masih cukup pagi,pikir Amrita sambil terus berjalan.
Saat dia tiba didekat mobil sedan hitam itu,ternyata juga bersamaan dengan penumpang mobil itu turun.
Karena jarak mereka cukup dekat,jadi secara reflek Amrita menoleh kearah orang tersebut.Seorang pria berpostur tinggi besar, dengan stelan jas yang membungkus pas dibadan tegap pria tersebut.Membuat penampilan nya benar benar sempurna sebagai seorang pria.
Gila,batin Amrita.Lalu segera memalingkan wajahnya karena sempat merasa kagum dengan sosok tersebut.
Dia biasanya tidak pernah tertarik pada penampilan seseorang, seperti pada pria barusan. Meski orang itu tampan layaknya seorang aktor. Tapi kenapa barusan dirinya punya perasaan begitu. Apa akibat dari perbuatan Aries suaminya yang baru saja dia ketahui? Batin Amrita heran.
Meski dia sakit hati dan sangat marah pada Aries untuk semua pengkhianatan, serta sikap kasar pria itu padanya. Tapi dalam hati Amrita tidak punya niat sedikitpun untuk membalas Aries, dengan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan suaminya itu.
Saat ini, setelah merasa sangat kecewa dengan sikap Aries yang baru dia ketahui tadi. Tujuan hidup Amrita hanya satu, yaitu menjaga anak dalam perutnya baik baik.
Untuk masalahnya dengan Aries akan dia pikirkan pelan pelan saja. Yang pasti dia tidak ingin semua kejadian itu, mempengaruhi kondisinya saat ini.
" Apa anda juga berniat masuk kedalam?"
Pertanyaan dari suara berat dan maskulin itu, menyadarkan Amrita dari lamunannya barusan. Seketika dia mendongak menatap pria yang baru saja bicara dengannya, karena posisi nya saat itu tepat didepan pria tersebut dan sedang sama sama didepan pintu kaca untuk masuk kedalam klinik milik dokter Raymond.
" Kalau iya, ingin menyingkir atau masuk sekarang? Karena aku harus masuk kedalam, Miss."
Ucap pria itu lagi penuh penekanan,meminta Amrita untuk segera masuk atau menyingkir lebih dulu.
Cara bicara pria itu tidak kasar, juga tidak lembut tapi intonasinya sangat berwibawa dan juga ....menenangkan.
Oh sial!Kenapa lagi dia ini? Ini kali kedua dia merasakan sesuatu yang aneh, terhadap pria asing yang tidak sengaja dia temui saat ini. Tapi juga tidak dia benci membuat Amrita merasa bingung pada dirinya sendiri.
Bahkan aroma parfum yang tercium dari pria itu karena posisi berdiri mereka saat itu yang cukup dekat,terasa menenangkan. Sampai rasa mual yang tadi sempat terjadi padanya, saat berada didekat suaminya di Bandara sekarang tidak tersisa lagi.
Ini benar benar aneh sekali,apa perlu sekarang dia bertanya pada pria itu, apa merek parfum yang dia gunakan sekarang . Lalu membelinya,untuk menyuruh Aries supaya memakainya saat ada didekatnya.
" Miss...anda akan terus berdiri didepan pintu begitu?Kalau iya,tolong sedikit menyingkir! Karena aku perlu masuk kedalam klinik ini!" Ucap pria itu lagi, yang kali ini terdengar mulai kesal karena Amrita sejak tadi hanya berdiri diam tidak bergerak dari depan pintu kaca lobi klinik itu.
Tidak ingin dikira perempuan aneh karena sejak tadi hanya berdiri begitu, sambil tanpa sadar terus mengamati pria dibelakangnya. Kali ini Amrita menjawab perkataan pria itu.
" Oh maaf tuan....Saya juga akan masuk kedalam, kok." Balas Amrita lalu buru buru membuka pintu kaca tebal itu. Saking buru buru nya dan lupa kalau pintu itu cukup berat,Amrita hampir terpental jatuh kalau tidak segera ditahan oleh dada lebar dibalik setelan jas milik pria itu yang berada dibelakang tubuhnya.
Tapi kali ini pria itu tidak bicara sopan lagi padanya seperti tadi, melainkan bicara dengan nada sarkas.
Yang jujur cukup membuat Amrita juga kesal saat mendengarnya
" Kalau ingin mencari perhatian pria gunakanlah cara yang lebih elegan Miss. Jangan menggunakan cara murahan seperti ini. Memalukan sekali,dimana harga diri anda sebagai perempuan!"
Mendengar semua kalimat itu Amrita yang semula akan meminta maaf karena sudah tidak sengaja menabrak tubuh pria itu, langsung mengurungkan niatnya.
Amrita membalikkan tubuhnya menghadap kearah pria itu yang punya postur tubuh sangat tinggi sampai dia yang bertubuh mungil harus mendongak sekali supaya mereka bisa langsung bertatapan.
" Maaf tuan...yang terhormat,tidak bisakah anda membedakan orang yang hampir jatuh dengan orang yang sengaja menjatuhkan diri ke arah anda? Kalau tidak bisa, sebaiknya anda pergi ke dokter mata sekarang juga. Untuk memeriksa penglihatan anda, apakah masih normal atau jangan jangan rabun!"
Amrita bisa melihat kalau pria itu marah mendengar apa yang baru saja dia ucapkan,tapi dia tidak perduli. Karena sekarang dia juga marah dengan ucapan pria itu. Jadi kalau pria tersebut tersinggung juga maka anggap saja mereka impas.Sebab setelah mengatakan hal itu tanpa menunggu jawaban pria tersebut dia berbalik lalu membuka pintu kaca yang tadi gagal dia lakukan, kemudian masuk kedalam klinik seperti rencananya semula.
Begitu sudah berada didalam,Amrita sengaja berjalan lebih bergegas menuju ruangan dokter Raymond untuk menghindari pria yang baru saja melakukan konfrontasi dengannya.
Saking terburu buru nya dia sampai tidak menyadari kondisi klinik yang saat itu sangat sepi.Didepan pintu ruang praktek dokter Raymond, dia berpapasan dengan Marta yang merupakan Asisten dokter tersebut.Karena bisa dibilang mereka cukup sering bertemu ketika dia datang ke klinik itu. Jadi,begitu melihat Marta,Amrita langsung menyapa perempuan ramah seperti biasa dan tidak memperhatikan raut wajah Marta yang sejak tadi sudah pucat,menjadi semakin pucat mendengar sapaan Amrita yang ramah.
" Miss Marta,dokter Raymond ada didalam sekarang bukan? Saya sudah membuat janji temu dengan beliau tadi sebelum datang kesini. Tapi sampai sekarang tidak dibalas oleh beliau, meski pesan saya sudah dibaca. Apa mungkin dokter Raymond sedang sibuk? Kalau iya,saya akan menunggu."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments