Setelah mendengar keseluruhan cerita Ray yang menceritakan semua kejadian di novel, Elena, Jonah dan Edward menutup mulut mereka dengan tangan dan wajah mereka berubah total. Ketiganya terdiam seribu bahasa dan sama sekali tidak bicara apa apa, Elena yang awalnya mendekap Ignesia melonggarkan dekapannya membuat Ignesia terlepas dan pindah ke pangkuan Charlotte. Melihat ketiganya diam saja,
“Ray, katakan sesuatu,” ujar Liam menyikut Ray.
“Apa yang harus aku katakan, kamu saja,” balas Ray menyikut Liam.
“Aduh aku ga suka suasana ini,” gumam Laura.
“Mau bagaimana lagi, papa, paman dan tante pasti syok mendengarnya, kita diam saja dulu,” ujar Charlotte sambil memangku Ignesia yang sedang menikmati kue yang dia ambil dari meja.
“Maaf....tapi bolehkah kalian ber lima keluar dulu ?” tanya Edward.
“Baik...paman (Lian dan Laura) papa (Ray dan Charlotte),” jawab ke empatnya bersamaan.
Ke empatnya bangkit dari duduknya kemudian keluar bersama Ignesia yang di gendong oleh Charlotte. Setelah di luar,
“Kita ke kamar ku saja,” ajak Charlotte.
Mereka segera ke kamar Charlotte dan masuk ke dalam, ke empatnya langsung duduk di sofa yang ada di dalam kamar dan termenung, kecuali Ignesia yang berlarian dan berkeliling sampai akhirnya dia melompat ke atas ranjang dan tidur dengan nyenyak. Melihat Ignes sudah tidur, Liam menoleh melihat Ray,
“Menurut mu mereka membahas apa Ray ? bisa kamu liat pakai sihir mu ?” tanya Liam.
“Mana bisa, kamu pikir sihir ku bisa di pakai untuk melihat ruangan tempat mereka berkumpul apa ?” jawab Ray.
“Tapi gimana ya, aku takut mereka tidak percaya,” balas Charlotte.
“Kalau masalah itu, aku yakin mereka percaya, dari awal sudah ku bilang kan, bicara sama mereka mungkin lebih tepat di banding kita ke ruang bawah tanah tadi,” balas Laura sambil melirik Ray dan Liam.
“Uh...kali ini kamu benar Laura, tapi kita belum tahu hasil pembicaraan mereka kan ?” tanya Ray.
“Benar, jujur saja, aku takut prediksi ku benar kalau melihat wajah mereka tadi,” jawab Liam.
“Prediksi apa ?” tanya Laura.
“Seperti yang tadi ku katakan di mobil, kemungkinan besar kita malah di suruh pergi dan tidak boleh kembali, sampai situasi aman dan tentunya mereka akan tetap di sini,” jawab Liam.
Ke empatnya kembali terdiam dan tidak bicara lagi, mereka merenung dan menunggu mereka di panggil kembali untuk menemui Edward, Jonah dan Elena yang nampak nya sedang berdiskusi. Tak lama kemudian, “tok...tok...tok,” pintu kamar Charlotte di ketuk seseorang, Charlotte berdri dan membuka pintu kamarnya, di balik pintu ada seorang pelayan laki laki yang berdiri dan menunduk ketika melihat Charlotte,
“Ada apa Albert ?” tanya Charlotte.
“Tuan Edward memanggil anda, tuan Liam, nona Laura dan tuan Ray, nona,” jawab Albert.
Charlotte menoleh melihat Liam, Laura dan Ray yang sudah berdiri, mereka berjalan ke arah pintu.
“Lalu dia ?” tanya Laura sambil menunjuk Ignesia yang tidur di ranjang.
“Biarkan saja dia tidur, (menoleh melihat Albert) Albert tolong panggil Hannah, minta dia menjaga Ignesia sementara aku menemui papa,” ujar Charlotte.
“Baik nona Charlotte,” balas Albert.
Ke empatnya keluar dari kamar, kemudian mereka berjalan ke ruang tengah dimana Edward, Jonah dan Elena berada. Pikiran mereka menerka nerka apa yang akan di katakan oleh Edward, Jonah dan Elena sepanjang menelusuri koridor. Setelah sampai, Charlotte mengetuk pintunya dan di persilahkan masuk oleh Edward. Ray membuka pintunya, ke empatnya masuk ke dalam, mereka melihat wajah Edward, Jonah dan Elena yang tersenyum melihat mereka namun nampak sangat sedih. Setelah ke empatnya duduk,
“Sekarang, ijinkan aku bicara kepada kalian berempat (menoleh melihat Jonah dan Elena yang mengangguk, kemudian kembali melihat ke empatnya) aku, Jonah dan Elena sudah sepakat, kalian berempat dan Ignesia harus pergi ke ibukota, minta kepada Ignesia supaya dia menyembunyikan tanduk, sayap dan ekornya agar nampak seperti manusia, kami bertiga mempercayakan Ignesia kepada kalian berempat,” ujar Edward tersenyum.
“Hah...tidak mau,” jawab ke empatnya bersamaan.
“Jangan menyela dulu, aku belum selesai, kalian ber lima tidak hanya pergi berlima melainkan bersama dengan seluruh penduduk desa, Jonah akan mengatur semuanya di guild besok dan mengirim surat ke guild di ibukota untuk bekerjasama,” balas Edward.
“Lalu papa, paman Jonah dan tante Elena ikut kan ?” tanya Ray.
Ketiganya tersenyum, mereka saling melihat satu sama lain dan kembali menatap ke empatnya yang duduk di depan mereka.
“Maaf Ray, kami bertiga tidak ikut, papa titip Charlotte dan Ignesia sama kamu ya,” ujar Edward.
Charlotte yang mendengar ucapan Edward langsung menangis dan menutup wajahnya dengan tangan, dia langsung merebahkan tubuhnya kepada Ray yang langsung memeluknya. Jonah dan Elena sedikit bergerak maju melihat ke arah Liam dan Laura,
“Liam...Laura, papa minta kalian mengerti, Ray dan Charlotte adalah saudara kalian, kalian harus bersama mereka dan melangkah ke masa depan, papa dan mama akan selalu mendoakan kalian,” ujar Jonah mewakili Elena dan bergandengan tangan dengan Elena.
“Tapi kenapa pa, kenapa papa ga pergi juga, mama juga ? memang apa yang kalian pertahankan di desa ini ?” teriak Laura.
“Pertanyaan ku sama seperti Laura, pa, ma, tolong jawab,” tambah Liam.
“Liam, Laura, sama seperti kalian berempat, aku, Jonah, tua..ah Edward dan Tiana adalah teman seperjuangan dan teman masa kecil, kita adalah keluarga dan tidak mungkin kita meninggalkan salah satu dari kita di desa ini,” ujar Elena.
“Itu benar Liam, Laura...kita tidak mau pergi karena salah satu dari kita berempat ada disini dan dia tidak akan bisa pergi kemana mana lagi,” tambah Jonah.
“Maksud kalian...mama ku ?” tanya Charlotte sambil terisak.
“Benar dan alasan papa juga sama dengan mereka, papa tidak mungkin pergi meninggalkan mama sendirian di sini,” Edward menjawab pertanyaan Charlotte.
“Hik...hik...hik...aku tidak mau pergi...pokoknya aku tidak mau pergi..huu..huu..hik,” teriak Laura yang menangis.
“Apa tidak ada cara lain pa ?” tanya Liam yang matanya mulai berkaca kaca.
“Aku mungkin bisa memindahkan makam mama menggunakan sihir dimensi, ijinkan aku mencobanya, aku akan memindahkan makam nya ke ibukota,” tambah Ray.
“Ray, kami bertiga jelas mengerti maksud kamu, tapi dari sejak kecil sampai meninggalnya, Tiana suka dengan desa ini dan ingin terus di sini, aku yakin kamu bisa memindahkan makam nya, tapi apa itu tidak bertentangan dengan keinginan nya ?” tanya Edward.
Ray terdiam, dia menunduk sambil memeluk Charlotte di sebelahnya, tiba tiba di pikirannya muncul ingatan dari kehidupan sebelumnya.
******
Bandung, tahun 2010, jam 7 malam, “nguuiiing.....nguuuiiing...nguiiiing,” “kebakaran...kebakaran,” terdengar suara sirene mobil pemadam kebakaran dan teriakan banyak orang meneriakkan ada kebakaran. “Blugh,” seorang anak muda berusia 13 tahun berdiri kaku melihat sebuah ruko tingkat empat yang terbakar di depannya.
“Hei..mundur...di sini berbahaya," teriak seorang pemadam kebakaran sambil memegang pundak sang anak muda.
“Papa....mama....kak Maya....mereka...di dalam,” gumam pemuda itu.
“Ini ruko mu dek ?” tanya sang pemadam kaget.
“Papa....mama....kak Maya,”
Tangan sang pemuda mengibaskan tangan pemadam kebakaran di pundaknya dan berlari ke arah ruko untuk masuk ke dalam, tapi sang pemadam kebakaran menangkapnya dan membekuknya,
“Lepas....lepas.....papa...mama...kak Maya....di dalam...lepas,” teriak anak muda itu dengan air mata bercucuran.
“Tenang, diam disini...berbahaya kalau kamu masuk, serahkan pada kami, kami pasti akan menyelamatkan mereka,” ujar sang pemadam.
Sang anak muda pun menjadi sedikit tenang dan mengangguk, kemudian dia berdiri melihat rukonya yang terbakar dengan air mata bercucuran dan hati yang penuh harap. Beberapa jam kemudian, api berhasil di padamkan, tapi “blugh,” anak muda itu berlutut di hadapan tiga kantung pembungkus jenazah berwana biru yang sudah terbujur kaku. Sang pemuda merangkak mendekat, dia membuka satu persatu kantung jenazah itu, dia melihat wajah ayah, ibu dan kakak perempuannya sudah tidak bisa di kenali lagi karena hangus terbakar, menurut pemadam kebakaran, mereka terjebak di dalam dan tidak bisa keluar dari kebaran yang membesar akibat korsleting listrik, sang anak muda meneteskan air mata dan menangis histeris,
“Waaaaaaaaa.....papa.....mama....kak Maya.....jangan tinggalkan aku sendiri.....maafkan aku yang keluar bermain di rumah teman.....jangan pergi....tolong...jangan pergi....waaaaaaaaa,” teriak sang anak muda histeris sambil menunduk menyembah di depan ketiga kantung jenazah sambil terus menangis tersedu sedu.
Seorang ibu, tetangga nya yang berhasil keluar dan di balut handuk oleh pemadam kebakaran, berlutut di sebelahnya dan memeluk nya.
“Rayhan....ayo, kita ke ambulans...kita ke rumah sakit hik...hik...hik,” ujar sang ibu membujuk Rayhan dan menitikkan air mata.
“Tidak mau....aku mau disni....sama papa...mama...kak Maya....aku mau disini huaaaaaaaaaa,” teriak Rayhan.
Rayhan terus menangis sampai akhirnya dia di paksa evakuasi oleh seorang polisi dan seorang petugas medis yang kemudian membawanya ke rumah sakit.
******
Ray menoleh melihat wajah Edward, Jonah dan Elena yang tersenyum namun nampak sedih, tangannya mulai gemetar dan keringat dingin nya mengucur deras, dia melepaskan pelukan nya dan langsung memegang kepala dengan kedua tangannya, pikirannya bercampur aduk, antara kejadian yang menimpa keluarganya di kehidupan terdahulunya dengan cuplikan dari novel yang dia ketahui,
“Ti..tidak...tidak...jangan lagi....jangan lagi......aku tidak mau....aku benar benar tidak mau merasakan hal itu lagi....tidaaaaaaaak....padamkan apinya....api....api....ambil air....tolong....siapa saja tolong....selamatkan mereka......toloooong,” Ray tiba tiba berteriak sambil memegang kepalanya menggunakan kedua tangannya.
“Ra..Ray ?” tanya Charlotte yang kaget karena tiba tiba Ray melepaskan pelukannya.
Melihat Ray yang berteriak histeris, Liam dan Laura langsung berdiri menghampiri Ray. Edward, Jonah dan Elena tertegun melihat nya dan tidak bisa berbuat apa apa. “Grep,” tiba tiba tangan Ray yang menunduk memegang erat lengan Charlotte di sebelahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments