Charlotte menarik tangan Ray dan mengajaknya masuk ke dalam melewati Liam dan Laura yang saling melihat satu sama lain dengan bingung dan mengangkat pundak mereka. Tiba tiba Charlotte menoleh ke belakang,
“Kalian kenapa diam saja, ayo dong masuk,” teriak Charlotte.
Liam dan Laura saling menoleh sekali lagi dengan senyum lebar di wajah mereka, keduanya langsung berlari menyusul Charlotte yang sedang menarik Ray di depan. Begitu pintu utama mansion, beberapa pelayan yang sedang bekerja atau yang hanya lewat, berhenti kemudian menunduk menyambut Charlotte, Ray, Liam dan Laura masuk ke dalam. Charlotte mengajak mereka semua ke ruang tengah, ruang yang biasa di gunakan oleh keluarganya untuk menyambut tamu.
“Ayo...ayo duduk,” ujar Charlotte yang sudah duduk melompat di kursi dengan tangan masih menggandeng lengan Ray.
“I...iya,” Ray duduk di sebelah Charlotte karena pergelangan tangan nya belum di lepaskan.
Liam dan Laura duduk di depan mereka, keduanya melihat Charlotte yang terlihat ceria dan Ray yang nampak sangat grogi sampai kakinya tidak bisa diam,
“Char, kamu kenal Ray sudah lama ?” tanya Laura.
“Hmmm kita sempat bertemu waktu berusia 7 tahun, kemudian usia 9 dan 10 tahun, terakhir dua bulan yang lalu, (menoleh melihat Ray) benar kan ?” tanya Charlotte sambil tersenyum.
“I..iya, benar (asli ga inget sama sekali, ga tau malah),” jawab Ray tersenyum.
“Oh jadi Ray selalu datang ke perjamuan minum teh atau pesta ya ?” tanya Liam.
“Iya, tidak seperti kakak kembar nya, Desmond, Ray selalu datang bersama pelayan nya untuk mewakili keluarganya, (menoleh lagi melihat Ray) benar kan ?” tanya Charlotte.
“Iya...benar (sekali lagi nanya dapet payung cantik nih cewe),” jawab Ray.
“Eh...Ray juga anak kembar ? kayak kita ?” tanya Laura dengan wajah berseri dan mata berbinar sambil menoleh melihat Ray.
“Benar, aku punya kakak kembar, namanya Desmond,” jawab Ray menjawab pertanyaan Laura.
“Wah...apa dia sama kayak kamu ? sama kayak kita ?” tanya Laura sambil berdiri dan mendekatkan wajahnya ke wajah Ray dengan antusias.
“Uh....dia sedikit berbeda,” jawab Ray sambil mundur dan mengangkat kedua telapaknya.
“Benar, selain itu, dia sombong, tidak pernah mau bicara dan selalu menyendiri, tidak pernah ada yang suka padanya,” ujar Charlotte.
“Um...dia tidak seburuk itu kok, memang sih dia tidak pernah senyum haha,” ujar Ray berusaha membela kakak kembarnya.
“Sayang dia tidak ikut kesini, kalau tidak kita kembar empat hahaha,” ujar Laura.
“Hehe benar, setuju sekali,” tambah Liam.
“Hmm tapi iya juga ya, kok sekarang mata kamu merah Ray ?” tanya Charlotte sambil menjulurkan kepalanya dan mendekatkan wajahnya kembali ke wajah Ray.
“Uh...aku tidak tahu,” ujar Ray sambil mundur menjauh sedikit.
“Kata mama kalau ada seseorang yang memiliki mata merah, berarti dia memiliki elemen langka di dalam tubuhnya, seperti aku dan kak Liam, lihat deh,”
Laura membuka telapaknya kemudian mengepalkannya, kepalannya di selimuti oleh bola cahaya berwarna hitam yang menandakan elemen darkness. Liam tidak mau kalah, dia membuka telapaknya kemudian mengepalkannya, bola cahaya berwarna putih menyelimuti kepalannya, menandakan dirinya memiliki elemen holy. Tiba tiba Ray merasakan ada aliran hangat dan sejuk di sebelahnya, dia menoleh melihat tangan kiri Charlotte mengeluarkan bola cahaya berwarna merah seperti api dan tangan kanan nya mengeluarkan bola cahaya berwarna hijau yang berarti elemen angin.
“Kalau kamu Ray ?” tanya Liam.
“Iya Ray, kasih lihat kita,” tambah Laura.
“Um....dia...”
“Aku tidak bisa...sebab aku tidak punya elemen di tubuh ku...menurut penyihir kerajaan sih,” balas Ray memotong ucapan Charlotte yang sudah tahu kalau Ray tidak memiliki elemen.
“Itu benar, (menoleh melihat Ray) maaf Ray,” tambah Charlotte.
“Tidak apa apa, memang itu kenyataannya (eh tunggu...Charlotte tahu ya soal itu ?)” balas Ray.
“Itu bukan karena kamu tidak punya elemen, tapi memang elemen mu memang tidak kelihatan,” terdengar suara seorang wanita dari arah pintu.
Ray, Charlotte, Liam dan Laura menoleh ke pintu, ternyata yang berbicara barusan adalah Elena, ibu dari Liam dan Laura. Di sebelahnya, berdiri suaminya Jonah dan ayah Charlotte yang merupakan penguasa wilayah bernama Edward Lambert.
“Loh mama ? papa ? kok kesini ?” tanya Liam berdiri.
“Iya, kita mencari Ray dan setelah kita tanya tanya ternyata dia ada di sini,” jawab Jonah.
“Papa kok sudah pulang ?” tanya Charlotte berdiri.
“Ah aku kan hanya meninjau ladang dan peternakan di desa kita saja, ketika di sana aku bertemu mereka berdua dan kita mengobrol sebentar,” jawab Edward.
Edward berjalan ke sebelah Charlotte yang masih berdiri, kemudian dia berbisik di telinga Charlotte yang terlihat mengangguk angguk. Kemudian Charlotte menoleh melihat Liam dan Laura,
“Kita ke kamar ku yuk ?” ajak Charlotte kepada keduanya.
“Iya ayo,” Laura langsung berdiri.
“Ayo Ray, kamu juga,” ajak Liam.
“Maaf Liam, Ray tetap disini, aku, mama mu dan tuan Edward mau bicara dengan Ray,” ujar Jonah.
“Huh...de..dengan ku ? a..ada apa ? (aduh...jangan jangan mereka sudah mendengar kabar soal Desmond di akademi di ibukota, gawat nih),” ujar Ray sedikit grogi dan panik.
“Oh ok papa, kalau begitu kita keluar dulu, (menarik tangan Laura dan Charlotte) yuk, Laura, Char,” ujar Liam.
“Klap,” setelah ketiganya keluar dan pintu di tutup, Edward berdiri kemudian berjalan ke pintu, “klik,” dia mengunci pintunya dan kembali duduk.
“Baiklah, sekarang sudah tidak ada yang mengganggu kita, silahkan bicara,” ujar Edward.
“Terima kasih tuan Edward (menoleh melihat Ray) Ray, maukah kamu tinggal sementara di desa ini ?” tanya Jonah.
“Hah...a..aku ? tinggal di desa ini ? tapi aku mau ke kota Lindhorn,” jawab Ray.
“Ah soal itu, sayang sekali Matthew, Ariane, Shamir dan Frill sudah berangkat tak lama kalian keluar, ada utusan dari kota Lindhorn yang datang menjemput mereka,” balas Elena santai.
“Huh...a..aku di tinggal ?” tanya Ray kaget.
“Sayang nya iya, jadi kurasa kamu tidak punya pilihan selain tinggal disini, betul tidak tuan Edward ?” tanya Jonah.
“Itu betul Ray, lagipula kamu aman disini, tidak mungkin pengejar dari ibukota mencari mu di sini,” ujar Edward sambil tersenyum.
“Huh ? paman tahu siapa aku ?” tanya Ray lebih kaget lagi.
“Tentu saja, mana mungkin aku melupakan anak kembar yang menghebohkan kalangan bangswan lalu di lupakan dalam sekejap, aku tidak tahu apa yang terjadi padamu, tapi kamu mengenakan pakaian seperti itu dan berniat ke kota Lindhorn, berarti kamu lari atau ada sesuatu yang terjadi di ibukota,” jawab Edward sambil mengedipkan mata kepada Ray.
“Waduh...tajam juga insting paman ini,” ujar Ray dalam hati.
“Nah selagi ada kesempatan, ijinkan aku bertanya, kamu tidak bisa menggunakan elemen mu ?” tanya Elena.
“Um...aku tidak bisa, sejak awal aku di katakan tidak memiliki elemen di tubuh ku,” jawab Ray.
“Hoho...kamu salah, kamu punya elemen dan bukan elemen biasa, mata mu merah berarti elemen mu harusnya sudah bangkit dan kamu seharusnya bisa menggunakannya,” ujar Elena.
Ray termenung, dia memang merasa pernah menggunakan elemen darkness di tangan kiri dan holy di tangan kanan, tapi ketika dia mencobanya lagi tidak bisa. Melihat Ray termenung, Elena berdiri dan duduk di sebelah Ray, dia langsung mengambil tangan Ray dan meletakkan telapaknya di telapak tangan nya sendiri.
“Um..tante ?” tanya Ray.
“Sst diam dulu sebentar, pejamkan mata mu, coba bayangkan sebuah senjata yang nyaman untuk dirimu, bayangkan sampai terasa sangat nyata dan bisa kamu raih,” jawab Elena.
Ray memejamkan matanya, pikirannya mulai melayang layang membayangkan senjata senjata yang dia tahu, tapi senjata apapun yang dia pikirkan selalu kabur dan pecah pada akhirnya, keningnya berkeringat sampai Elena mengambil sapu tangan dan menyekanya. Tiba tiba dia teringat ketika dirinya lembur beramai ramai di kantor, bos nya mengajak seluruh karyawannya yang lembur untuk memainkan game jaman dulu yang menggunakan jaringan LAN (local area network) tanpa internet.
“Enemy spotted” kata kata itu terngiang di benak Ray, kemudian pikirannya masuk ke dalam scene memilih senjata. Sebuah senjata api muncul di benaknya dan terasa nyata, kemudian dia merasakan tangannya seperti memegang sesuatu yang lama kelamaan menjadi nyata, namun dia tetap memejamkan matanya.
“Um..Ray, apa yang kamu pegang itu ?” tanya Jonah.
“Huh,” Ray membuka matanya, “cklek,” ternyata yang ada di tangannya adalah sebuah senjata dari game jadul yang hampir dia mainkan setiap hari bersama bosnya untuk menghilangkan penat karena lembur yang tidak habis habis, senjata itu adalah senapan mesin bernama AK-47 yang selalu dia pakai karena merupakan senjata andalan nya di dalam game itu.
“Haaaaah....kok...ginian ?” teriak Ray kaget sambil mengangkat senjatanya.
Dia menoleh melihat Edward, Jonah dan Elena tertegun melihat sebuah benda yang tidak mereka ketahui di tangan Ray walau terlihat sekali kalau wajah ketiganya sangat penasaran. Ray yang melihat wajah ketiganya tidak tahu harus berkata apa,
“Bosssssssss......kenapa....kenapa kamu mengajak aku main counter strike tiap malam....sekarang aku jadi bikin ak 47 pake sihir....paraaah,” ujar Ray di dalam hati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments
Aryanti endah
wahahahaha.. lain sendiri senjatanya 😂😂😂
2024-09-01
0