Satu setengah tahun kemudian, “tap...sraak,” dua bayangan melesat berlari di dalam hutan, mereka melompat ke atas dahan pohon kemudian berlari melompati pohon demi pohon dengan kecepatan tinggi.
“Cepat kakak,” teriak Laura yang terus berlari.
“Ya...ayo,” balas Liam yang berlari di sebelah Laura.
“Vroooom,” sebuah motor melompat keluar dari semak dan berjalan di bawah dengan kecepatan tinggi mengikuti keduanya dari bawah menerobos hutan.
“Liam....Laura...hati hati...mereka ada di depan,” teriak Charlotte yang berdiri sambil membonceng motor sambil melihat ke atas.
Terlihat Liam dan Laura mengeluarkan ibu jari mereka sambil terus berlari, “vrooom,” motor terus melaju mengikuti mereka. “Lompat,” teriak Liam, keduanya melompat keluar dari dalam pohon, “tap,” mereka mendarat tepat di depan perkampungan orc yang berada di dalam hutan, “bruuk...sreeet,” motor melompat dan langsung sliding ke samping kemudian berhenti, “tap,” Charlotte berdiri dan melompat turun, pengemudi motor membuka helmnya, Ray mengibaskan rambutnya dan kemudian menarik standar keluar, dia turun dan berdiri bersama Liam, Laura dan Charlotte.
“Gruh ?” para orc yang berada di dalam perkampungan menoleh melihat empat orang berdiri di depan perkampungannya, “sriiing,” Charlotte mencabut dua bilah pedang tipis dari pinggangnya, kemudian dia memejamkan mata, bilah kedua pedangnya langsung mengeluarkan sinar merah dan hijau, dia memberi sihir (enchant) pada kedua pedangnya berdasarkan elemannya. “Bwuuung...sriiing,” Liam membuat tombak yang di namakan Holy Lance menggunakan tangannya, “tap,” “wuukk...wuuk...wuuk...sreek,” dia memutar mutar tombaknya dan menyabetkannya ke belakang kemudian memasang kuda kudanya.
“Sriiing,” Laura mengangkat tangannya, sebuah pedang besar berwarna hitam bernama Dark Sword muncul di udara, kemudian “tap,” dia menangkapnya dan “wuzzz,” dia mengayunkan pedangnya dengan satu tangan. “Cklik,” “cklik,” “tap,” Ray mencabut dua buah pistol jenis glock dengan pisau sabit (karambit) yang menempel di gagangnya.
“Yuk,” ujar Ray kepada yang lain.
“Ya,” teriak Liam, Laura dan Charlotte.
“Gruh...gruh...groaaaaaah,” para orc berlarian membawa pedang, kapak, gada dan senjata lainnya menyerang ke arah mereka sampai menerobos pagar perkampungan mereka. Wajah ke empatnya tersenyum dan mereka langsung maju menyambut serangan orc yang kira kira berjumlah puluhan itu.
“Ray,” teriak Liam.
“Ya,” balas Ray.
Liam mengayunkan tombaknya dan Ray melompat ke atas gagangnya, Ray melesat melompat tinggi ke atas, sedangkan “crak,” “gruaaah,” tombak Liam menyabet beberapa orc yang berada di depannya. “Blam...blam...blam,” Ray yang melayang menghadap ke bawah dan menembaki para orc dari atas. Laura dan Charlotte juga langsung merangsek menggunakan senjata mereka, mereka menghabisi para orc dengan serangan dan hindaran yang indah seperti sedang menari mengayunkan pedang mereka. “Tap.” Ketika mendarat Ray langsung menunduk menyapu orc di sekitarnya dengan jurus silat sapuan kakinya dan “blam...blam...blam,” dia menembaki orc orc yang melayang akibat tersapu kakinya sebelum jatuh ke tanah.
Dalam sekejap, seluruh orc yang ada di dalam perkampungan yang terletak di depan sebuah gua, habis tidak ada sisa oleh ke empatnya.
“Ok sekarang tinggal yang di dalam gua,” ujar Liam.
“Tunggu Liam, menurut kak Inez, di dalam ada sandera juga kan ?” tanya Laura.
“Iya benar, kita harus selamatkan sandera,” jawab Liam.
“Kalau begitu tunggu apa lagi, nanti keburu sore, aku harus pulang cepat nih, papa pulang hari ini dari istana,” ujar Charlotte.
“Oh...gitu ya, ya udah kita masuk, tidak di haruskan sanderanya selamat kan ?” tanya Ray.
“Kamu gimana sih Ray, ya harus selamat dong,” jawab Laura.
“Hahaha kamu ga akan menang dari dia Ray,” ujar Liam.
“Ok ok...ayo masuk,” balas Ray.
Ke empatnya berlari masuk ke dalam gua, begitu sampai di tengah, mereka menutup hidung mereka karena aroma busuk yang keluar dari dalam gua.
“Uhhh...ini makanya aku sebal masuk ke sarang monster,” ujar Laura.
“Sama, pulang harus mandi bersih nih,” tambah Charlotte.
“Ssst..kalian diam dulu, di depan ada suara,” ujar Ray.
“Dan ada cahaya, siap siap semua,” tambah Liam.
Mereka melangkah dengan hati hati dan tidak menimbulkan suara, terlihat cahaya di depan mereka, ke empatnya mengintip dari sisi gua melihat ruang luas di dalam gua yang penuh dengan orc yang sedang menyantap beberapa orang pria yang memakai pakaian pelindung dan beberapa orc yang sedang menyetubuhi beberapa wanita yang sama sekali tidak mengenakan busana. Terdengar suara suara erangan, teriakan minta tolong dan para orc yang sepertinya sedang bersenang senang.
“Grrrr....biadab....aku benci orc,” ujar Charlotte.
“Ok aku mulai, kakak...Ray...Char susul ya,” ujar Laura.
“Ok,” balas Liam dan Ray.
“Bum,” Laura menghilang dan melompat tinggi sekali sampai mendekati stalaktit yang menempel di langit langit gua, dia mengarahkan pedangnya ke bawah,
“Shadow bind,”
Sebuah pusaran kabut berwarna hitam seperti pusaran air muncul di dasar gua, “syuut,” dari dalam pusaran keluar tentakel tentakel yang berjumlah banyak mengikat sebagian orc yang nampak kaget sampai tidak bisa bergerak sama sekali.
“Ayo Ray,”
“Bum,” Liam menghilang dan muncul di atas sama persis seperti Laura, dia langsung memutar tombaknya di udara dengan kencang sampai mengeluarkan cahaya putih terang. Muncul bayangan sisa tombak (afterimage) cahaya yang berjumlah sangat banyak dan tembus pandang mengarah ke orc orc yang sudah terika kencang di bawah.
“Spear Rain,”
Bayangan bayangan tombak itu mengeluarkan cahaya terang dan mulai turun berjatuhan seperti hujan, “gruaaah,” tombak tombak itu menembus tubuh orc dan membunuhnya kemudian menghilang namun efeknya berbeda jika kena manusia, seorang wanita yang terluka langsung mendapat ke sembuhan ketika di lewati bayangan tombak itu. “Tap,” Liam dan Laura turun bersamaan kemudian keduanya berpencar membunuh orc yang tersisa dan menyelamatkan orang orang yang masih hidup. Ray dan Charlotte melihat dari mulut gua,
“Kita kayaknya ga di perlukan deh,” ujar Ray.
“Hehe iya, mereka hebat,” balas Charlotte.
“Dasar main character, mereka memang hebat, susah deh menyainginya, tapi ini belum cukup,” ujar Ray dalam hati.
Wajah Ray sedikit berubah, walau dia melihat Liam dan Laura beraksi di depannya dan menurutnya mereka sangat hebat, namun masih ada yang mengganjal di hatinya.
******
Kembali ke dua bulan sebelumnya, Ray menemui Edward di ruang kerjanya sendirian ketika Edward sedang bekerja di dalam, “blak,” Ray masuk dan langsung berjalan ke meja Edward yang sedang menulis. Edward melihat Ray yang berdiri di depan mejanya,
“Ada apa Ray ?” tanya Edward.
“Papa, aku minta ijin untuk pergi ke kota Lindhorn untuk menemui guild master di sana, boleh kan,” ujar Ray.
“Hmmm....begitu, maaf aku tidak bisa ijinkan,” ujar Edward tersenyum.
“Kenapa papa ? aku hanya ingin bergabung ke guild untuk menjadi petualang,” balas Ray.
“Kamu tahu kan perang saudara yang sedang terjadi di kekaisaran Agares ? kota Lindhorn adalah kota yang berada tepat di perbatasan, di sana sekarang di jaga ketat dan di awasi, karena kaisar menduga ada fraksi pangeran kedua yang bermarkas di sana, jadi sangat berbahaya untuk kamu kesana, apapun alasannya,” ujar Edward.
“Aku tahu papa, (itu makanya aku mau kesana karena aku tahu siapa fraksi kedua yang ada di kota Lindhorn, tapi aku tidak mungkin mengatakan kalau aku mau ikut serta menggulingkan kekaisaran kan supaya pangeran kedua yang menjadi kaisar dan rakyat akan menudukungnya untuk menghadapi pasukan iblis 2 tahun lagi),” ujar Ray.
“Kalau memang kamu ingin menjadi petualang, aku akan mengutus orang ke guild petualang di ibukota supaya membuka cabang di desa kita,” ujar Edward.
“Eh...ga usah papa,” ujar Ray.
“Hohoho maaf, sudah ku lakukan,” balas Edward.
******
“Dan inilah makanya kita berempat ada di sini membasmi orc atas permintaan guild baru di desa kita...hadeh...aku tidak boleh buang buang waktu, sisa waktu hanya tinggal enam bulan lagi sebelum serangan pertama dan pasukan ksatria akan sibuk, perang saudara atau perang revolusi sudah terjadi di kekaisaran Agares setengah tahun lalu, aku sama sekali belum menemukan anggota kelompok pahlawan yang lain, ketika mendekati taman rahasia di pelototin oleh tante Elena, kalau begini sesuai novel dong,” gumam Ray dalam hati.
“Ray...oi Ray,” “ctak...ctak,”
Ray kaget dan mendongak, dia melihat Liam dan Laura yang penuh darah sedang menjentikkan jari di depannya dan memanggilnya.
“Oh...maaf,” ujar Ray berdiri.
“Kamu gimana sih, bukannya bantuin malah bengong, Char saja masuk ke dalam bantuin kita,” ujar Liam kesal.
“Oh...maaf hahaha,” balas Ray.
“Iya nih, aku panggil panggil mengajak kamu masuk kenapa diam saja sih,” ujar Char.
“Maaf Char,” balas Ray.
“Hehehe biasa deh, dia kan suka bengong mendadak dan tidak ada yang bisa menghentikannya,” ledek Laura sambil membersihkan wajahnya yang terkena cipratan darah.
“Haaah sudah lah, ayo bantu mengevakuasi korban di dalam, mereka sulit untuk bergerak sendiri,” ujar Liam.
“Pyek,” tangan Liam yang merah karena darah memegang pundak Ray yang bersih sambil tersenyum sinis, kemudian di susul Laura yang menempelkan kedua telapak tangannya di dada Laura dan Charlotte yang merangkul lengannya, mereka juga di penuhi cipratan darah dan tersenyum sinis.
“Kalian ini,” ujar Ray.
“Enak aja mau bersih sendirian hahaha,” ujar Liam.
“Ayo ayo Ray, keluarkan benda besar itu...eh apa namanya ?” tanya Laura.
“Mobil pick up...benar kan Ray ?” tanya Charlotte.
“Iya benar, yuk lah,”
Mereka masuk ke dalam gua dan mengumpulkan lima orang yang terdiri dari tiga wanita yang pingsan tanpa mengenakan benang sehelai pun dan dua orang pria yang kehilangan tangan juga kakinya.
“Dimensional box,”
Ray menaikkan telapak tangannya, sebuah pusaran lubang hitam yang cukup besar keluar tepat di depan telapaknya, kemudian tangannya masuk mengambil beberapa potong kain dan memberikannya pada Char untuk menyelimuti ketiga wanita yang tidak memakai busana, kemudian dia menggerakkan telapaknya ke tanah dan pusaran lubang hitam itu mengikuti tangannya menjadi horizontal di atas tanah dan membesar. Perlahan lahan sebuah mobil “daihatsu pick up” keluar dari lubang hitam dan “jgleg,” empat rodanya mendarat di tanah ketika lubang hitam menghilang.
Liam dan Ray menaikkan dua orang pria yang terluka yang sepertinya adalah pedagang ke atas bak yang sudah terbuka, bersamaan dengan Char dan Laura yang membopong satu demi satu wanita yang pingsan ke atas bak. “Gleng,” ketika bak di tutup, Liam naik ke kursi pengemudi dan Laura duduk di sebelahnya,
“Dah buka Ray,” ujar Liam.
“Ok,”
Ray berjalan ke depan mobil dan tangannya terentang naik ke atas, telapaknya membuka ke arah dinding gua di depannya,
“Everywhere door (pintu kemana saja),”
Sebuah pintu gerbang besar seperti pintu gerbang sebuah gudang muncul di dinding dan terbuka, di balik pintunya ada sebuah pusaran cahaya putih bagai susu yang terus berputar melawan arah jam.
“Dah masuk, tunggu aku di luar gua,” ujar Ray.
“Sip cepetan keluar ya, aku dan Laura duluan,” balas Liam.
“Brum,” Liam menjalankan mobilnya dan masuk ke dalam gerbang, setelah mobil masuk, “blam,” pintu kembali menutup dan menghilang. Ray menoleh melihat Charlotte yang berdiri di sebelahnya,
“Yuk Char,” ujar Ray menyodorkan sikunya.
“Ok ayo Ray,” balas Char menggandeng lengan Ray.
Keduanya berjalan menuju ke lorong yang merupakan pintu keluar dari ruangan besar di dalam gua sambil melangkah menghindari tubuh orc yang berserakan di dalam.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments