HARI TERAKHIR EVELINE

Azkan menatap Laina dengan mata birunya yang bercahaya, “Lai, sebentar lagi, adalah akhirnya. Kuatkan dirimu. Sebentar lagi, semuanya selesai.” Laina menganggukkan kepala, menggenggam tangan Azkan lebih kuat. 

Laina dan Azkan, berpindah ke dalam kamar pengantin Eveline dan Robert. Itu adalah kamar di lantai paling atas rumah pribadi keluarga Brown. Bangunan setinggi empat lantai itu adalah salah satu bangunan hunian terbesar di kota. Dikelilingi oleh taman hijau di keempat sisinya, rumah keluarga Brown memiliki privasi terbaik dibanding rumah-rumah lainnya. Tidak ada suara dari luar yang bisa terdengar ke dalam bangunan rumah, dan juga sebaliknya. Jadi, malam ini, ketika Eveline dan Robert memasuki malam pertama mereka secara resmi sebagai pasangan suami istri, tidak akan ada seorang pun yang bisa mendengar keduanya. 

“Jadi, lanti empat ini adalah tempat tinggal pribadimu?” Eveline berjalan sambil bergelayut manja, mengamati segala hal di sekitarnya ketika dia berjalan memasuki area pribadi Robert. Hatinya mengembang, membayangkan mulai sekarang, dia akan tinggal di sini bersama Robert dan anak-anak mereka. Lantai empat, bagian tertinggi rumah, dengan pemandangan terbaik ke seluruh kota, dan pelayan yang selalu siap sedia melakukan semua perintah. Bayangan Eveline tentang kehidupan yang nyaman memenuhi kepalanya sampai meluap.

“Iya. Dulunya ini tempat tinggal orang tuaku. Tapi setelah aku dewasa, lantai ini sepenuhnya menjadi milikku dan kedua orangtuaku menggunakan lantai dua sebagai tempat tinggal pribadi mereka.”

“Robert, sayang, aku mencintaimu.” Eveline meraih leher Robert, mengecup pipinya dengan lembut sambil berjinjit ketika mereka memasuki kamar tidur. 

Robert menatap Eveline, tanpa membalas ungkapan cintanya. 

“Mulai sekarang, aku bisa memanggilmu sayang di depan umum. Tidak akan ada lagi yang mempermasalahkan hal itu kan? Justru itu hal yang baik bagi rumah tangga kita. Kita akan menjadi pasangan harmonis yang saling mencintai di mata semua orang.”

Kedua mata Robert menggelap. Dia meraih pinggang Eveline, menempelkan tubuh Eveline seerat mungkin padanya. “Ah! Sayang, pelan-pelan.” Eveline cekikikan, membayangkan malam pertamanya akan menjadi malam yang luar biasa. 

“Apa kau benar-benar sudah hamil?” bisikan Robert terdengar menakutkan di telinga Eveline. 

“Apa maksudmu? Kenapa kau bertanya seperti itu?” Eveline berusaha keras menutupi kegugupannya.

“Aku mendengar cerita menarik tadi. Salah seorang temanku, adalah dokter kandungan di rumah sakit kota. Dia berkata padaku, bahwa kau tidak pernah datang memeriksakan diri ke rumah sakit. Lalu, bagaimana kau bisa yakin kalau sekarang, kau sedang hamil?” Robert membenamkan kepalanya ke tengkuk Eveline, lalu menggigitnya hingga meninggalkan bekas.

“Ah! Sayang, kau salah paham. Aku benar-benar hamil. Aku memeriksakan diri ke klinik, bukan rumah sakit. Aku belum datang bulan dan aku mulai merasa mual. Jadi aku memeriksakan diri.”

“Klinik?” Robert menggigit tengkuk  Eveline di sisi lain.

“Iya. Aku tidak punya uang untuk memeriksa diri ke rumah sakit.” Robert melepas satu per satu tali yang menempel di gaun Eveline, sehingga gaun itu melonggar dan jatuh begitu saja ke lantai.

“Lalu?” tangan Robert meremas dada Eveline sekuat mungkin hingga memerah.

“Lalu, aku tahu kalau aku hamil.” Eveline mengaduh dengan nafas memburu. “Aku sangat senang waktu itu.”

“Benarkah?” Robert meraih rambut di belakang kepala Eveline dengan tangannya, meremasnya sekuat tenaga lalu menariknya ke belakang hingga wajah Eveline tertengadah menatapnya.

“Iya, sayang. Aku bahagia karena mengandung anakmu.”

“Apa kau benar-benar mencintaiku, Eveline? Atau kau hanya mencintai apa yang kumiliki? Atau sebenarnya, kau hanya ingin mendapatkanku karena aku milik Arlina sebelumnya?” Eveline merasakan angin malam berembus menyentuh kulitnya yang hanya mengenakan pakaian dalam. 

“Robert, sayang, kenapa kau berpikiran seperti itu? Tentu saja aku mencintaimu. Tidak ada hubungannya dengan Arlina. Meskipun aku bisa mengenalmu karena kau mengenal Arlina lebih dulu. Tetapi perasaanku, jauh lebih besar darinya. Aku jauh lebih mencintaimu. Buktinya, aku memberikan segalanya padamu. Tidak seperti Arlina yang membatasi dirimu.” Eveline mengalungkan lengannya di pundak Robert. 

“Bisakah aku mempercayaimu?” Robert masih menatapnya dengan tatapan gelap dan dalam. 

“Tentu saja.” Eveline menyunggingkan senyuman menggoda. Dia berjinjit, menyodorkan tubuhnya yang hampir telanjang ke tubuh Robert, lalu meraih bibirnya dan memagutnya hingga Robert kehabisan nafas. 

“Baiklah kalau begitu. Aku akan mempercayaimu sekarang.” Robert mendorong tubuh Eveline, menyeringai sambil berkata, “Kalau begitu, malam ini, tunjukkan seberapa dalam kau mencintaiku. Buktikan kalau kata-katamu itu sungguh-sungguh.”

Robert meraih tubuh Eveline. Dia mengangkat kedua kaki Eveline, melingkarkannya di pinggang, lalu berjalan ke tempat tidur sambil melumat bibir Eveline dengan kasar. Lalu dia melemparkan tubuh Eveline ke atas tempat tidur hingga terpental. Tanpa menunggu, dia melepas semua pakaiannya, juga pakaian dalam Eveline yang masih melekat sempurna. 

“Tunjukkan padaku. Seberapa besar rasa cintamu padaku.” bisikan kasar Robert, memulai malam panjang mereka. 

Laina menutup matanya. Dia tidak ingin melihat adegan intim dua orang brengsek itu. Azkan tersenyum kecil melihat tingkah Laina. Padahal, yang akan terjadi sebentar lagi, bukanlah malam panjang pasangan romantis. 

“Ah! Robert! Sayang, pelan-pelan.” ucapan Eveline diabaikan oleh Robert. Dia tidak mendengar apa pun yang keluar dari mulut Eveline. Dia menutup telinganya rapat-rapat. Dia sedang meluapkan semua perasaan dan emosinya sekarang ini. Dia mengeluarkan semua pikiran dan hasratnya pada tubuh di bawahnya. Sekeras mungkin, sedalam mungkin, sekasar mungkin, hingga dia sendiri tersengal kehabisan nafas. Tapi tenaganya masih ada. Pikirannya masih begitu kalut. Tidak ada yang berubah. Tidak ada jalan keluar. Tidak ada masa depan yang dia lihat. Tidak ada lagi kehidupan dengan matahari hangat dan kebahagiaan di dalam pikirannya. Semuanya sekarang, menggelap. Semua karena perempuan yang sedang terlentang di bawahnya. 

Robert menggigit kasar tubuh Eveline, meremas dadanya hingga memar, menarik rambutnya, mendorong tubuhnya semakin dalam dengan kekuatan penuh. Ketika hasratnya mencapai puncak, dia menggunakan mulutnya untuk menelusuri tubuh Eveline dengan cara yang kasar. Salah satu tangannya mengunci kedua pergelangan tangan Eveline di atas kepalanya, sedangkan tangannya yang lain memainkan titik pusat Eveline sedemikian rupa. Lalu dengan mulutnya, dia meninggalkan bekas memar dimana-mana. Robert bahkan tak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Dia sudah menggila. 

“Sayang, sakit. Tunggu.” Mulut Eveline disumpal oleh lidah Robert dan gigitan kasar di bibirnya membuatnya mengaduh kesakitan. Rasa darah memenuhi mulutnya. 

“Robert, kenapa kau begitu kasar?” sekali lagi Robert memasukkan tubuhnya ke dalam tubuh Eveline. Dia mengulangi intensitas gerakan kasarnya. Justru kali ini semakin kasar. Dia tak peduli jika perbuatannya meninggalkan luka pada tubuh Eveline. Dia tak peduli. Dia tak mau peduli. Dia hanya ingin meluapkan semuanya lalu mengakhirinya untuk selamanya. 

Sepanjang malam itu, berkali-kali Robert mengulangi perbuatannya, hingga Eveline pingsan. 

Bahkan ketika Eveline pingsan, dengan tubuhnya yang tak berdaya dan tak bisa lagi merespon, Robert terus  melakukannya. Lagi. Lagi. Lagi. Dan lagi, sampai rasanya dia hampir mati karena lelah dan emosinya terkuras habis. 

“Cinta? Hah!” Robert melempar selimut dengan kasar ke atas tubuh Eveline yang terlentang dengan kedua mata terpejam. Dia muak melihat tubuh itu.

“Hamil?!” Robert memukul dinding di sisi meja. “Sialan!!!” pukulan berikutnya, meninggalkan luka di punggung tangannya. 

“Dasar perempuan iblis! Penipu!” Robert berbicara pada tubuh yang tak sadarkan diri. 

“Aku sudah menyelidiki semua tempat yang memungkinkanmu untuk memeriksakan kandungan. Tidak ada satupun tempat di kota ini, bahkan klinik paling kumuh sekalipun, yang pernah memeriksa kehamilanmu. Tidak ada satu pun bukti bahwa kau benar-benar mengandung anakku.”

Robert meneteskan air mata, tapi bibirnya tersenyum lebar. Dengan langkah gontai dia berjalan ke arah jendela kamarnya yang menunjukkan pemandangan malam kota. “Aku memang pria brengsek. Aku telah melakukan kesalahan paling fatal pada perempuan yang sangat kucintai. Aku sudah menyakiti perempuan yang sangat berharga, demi seonggok sampah! Aku tidak layak hidup. Aku benar-benar harus masuk neraka. Maafkan aku, Arlina. Aku sungguh-sungguh mencintaimu. Tapi aku terlalu brengsek untukmu. Aku hanya layak berada di neraka.” 

Bruk!

Tubuh Robert, menghantam rerumputan di taman, membasahi tanah dengan aliran darah dari kepalanya yang pecah membentur bebatuan. 

Di dalam kamarnya, di atas tempat tidurnya, mengalir darah segar dari dalam rahim Eveline. Selimut yang menutupi tubuh Eveline dengan sembarangan, berubah menjadi merah. 

Rumah keluarga Brown, adalah rumah dengan tingkat privasi paling tinggi. 

Tidak ada orang luar yang bisa mendengar apa yang terjadi di dalamnya. 

Hingga pagi hari, di waktu para pelayan dan pekerja keluarga Brown, datang untuk mengurus rumah setinggi empat lantai itu. 

Sehari setelah pernikahan berlangsung, sang mempelai pria dan wanita, memenuhi janji pernikahan mereka. “... hingga maut memisahkan.”

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!