“Wah!” Laina tak bisa menutupi keterkejutannya ketika Azkan membawa Laina kembali ke dalam kamarnya lalu menunjukkan satu lemari kayu besar setinggi dinding kamar, yang penuh dengan pakaian untuknya. Mulai dari pakaian rumah yang nyaman seperti kaus dan celana pendek, kemeja, blouse, sweater, hoodie, piyama, celana jins, celana kain, gaun pendek ataupun panjang, rasanya Laina bisa menemukan semua jenis pakaian yang ada di dalam lemarinya.
“Apa kau menyukainya?” Azkan berdiri di samping lemari yang terbuka lebar sambil menyandarkan punggungnya dan bersedekap.
“Ini semua untukku?”
“Tentu saja.”
“Bagaimana bisa?”
“Aku meminta Armana untuk menyiapkan semua pakaian yang nyaman untukmu.”
“Bagaimana kau bisa tahu ukuran bajuku?” Laina meraih celana jins berwarna biru muda dan kaus putih berkerah V. Lalu menatap pantulan dirinya di cermin yang juga setinggi dinding, di dekat lemari pakaiannya.
“Saat menggendongmu masuk? Lalu saat aku menggantikan pakaianmu, aku jadi tahu ukuranmu.”
Laina segera berbalik, melotot pada Azkan yang dengan santai mengucapkan hal tentang mengganti pakaiannya.
“Bisakah kau tidak terus-menerus mengatakan hal itu? Aku tidak nyaman mendengarnya.”
“Apa? menggendongmu?”
“Bukan.”
“Menggantikan pakaianmu?”
“Azkan!”
“Hahahaha, aku jadi banyak tertawa karenamu.”
“Jangan menggodaku. Aku benar-benar malu kalau mengingat hal itu.”
“Kenapa?”
“Tentu saja karena orang yang tidak kukenal menggantikan pakaianku.”
“Tapi kan kau datang ke sini karena dikirim Sang Dewa sebagai Perempuan Pilihan untukku.”
“Tapi kan aku tidak mengenalmu. Aku juga tidak pernah tahu apa pun tentang Perempuan Pilihan Dewa itu. Semua itu terjadi begitu saja di luar keinginanku.”
“Iya, kau benar. Apa kalau Dewa meminta pendapatmu, kau akan menerimanya?” Azkan berjalan menghampiri Laina yang masih berdiri di depan cermin sambil memegang pakaiannya, “Menjadi Perempuan Pilihan untukku, apa kau mau?” Evan berhenti ketika jarak mereka kurang selangkah lagi.
“Entahlah. Aku tidak tahu.” Laina menunduk, sungguh-sungguh merenungkan pertanyaan Evan.
“Mungkin kau akan menolak.” Jawaban Evan atas pertanyaannya sendiri membuat hati Laina seperti tertusuk jarum. Dia menatap wajah Evan yang kehilangan tawa dan cengiran usilnya, berganti sendu dalam kesepian.
“Kenapa kau bilang begitu?”
“Memangnya, siapa manusia yang mau menjadi pendamping seorang pria berusia ratusan tahun yang tak punya perasaan sepertiku? Dan harus bertanggungjawab bersamaku dalam mengurus seluruh pulau serta setiap penduduknya? Ini bukan tugas yang mudah dan bukan kehidupan yang nyaman. Lalu, sebagai Perempuan Pilihan, kalau kau tidak bisa memenuhi tanggung jawabmu selama di sini, kau tidak akan mendapat kesempatan untuk memilih kehidupan baru seperti apa yang kau inginkan. Memulai dari awal sebagai penduduk pulau atau memulai kehidupan baru di dunia luar. Padahal, seorang Perempuan Pilihan sekalipun, juga memiliki luka yang dalam di jiwanya. Dia juga harus dipulihkan di sini.”
Laina tak bisa berkata-kata.
“Jadi, sekarang ini, untuk pertama kalinya, aku bersyukur karena keputusan Dewa tentang Perempuan Pilihan, adalah hak preogatifNya sendiri.”
“Karena aku jadi tidak bisa pergi begitu saja setelah datang ke sini?”
Evan mengangguk, ujung bibirnya terangkat sedikit, tetapi kedua matanya memancarkan rasa bersalah.
Laina menghela nafas cukup keras, “Yah! Mau bagaimana lagi? Sekarang aku ada di sini kan? Jadi, aku kana mencoba menjalani kehidupan di sini dengan baik.”
“Kalau begitu, ayo kita mulai dengan berkeliling pulau. Apa kau mau mandi dulu?” Jemari Azkan membelai wajah Laina sambil tersenyum. Sekarang, rasanya dia sudah terbiasa menyentuh dan menatap Laina seperti ini. Padahal, waktu baru saja berlalu semalam.
“Di mana kamar mandinya?” Laina pun tak lagi merasa canggung dengan perlakuan lembut Azkan padanya.
“Tunggu,” Laina berlari kecil kembali ke lemari pakaiannya, lalu memperhatikan sekilas seluruh isinya, dan menarik empat laci besar di bagian bawah lemari. Benar saja, dia menemukan beragam model pakaian dalam di sana, yang sesuai dengan ukurannya. Azkan berdiri di belakang Laina yang berjongkok di depan laci-laci yang terbuka itu, dan wajahnya memerah. Dia segera mundur selangkah dan mengalihkan pandagnannya. Tapi otaknya sudah menyimpan segala hal yang baru dilihatnya. Kemudian, bayangan sosok Laina yang mengenakan semua itu, bermunculan di dalam otaknya. Tak bisa dia kendalikan, meski dia membalikkan tubuh besarnya hingga memunggungi Laina.
“Az!” wajah Laina pun memerah. Tetapi dia tetap berdiri, menghadap punggung Azkan yang terlihat begitu kokoh dari belakang. “Aku minta kamar pribadi sendiri.”
Azkan berbalik, menatap Laina yang menatapnya dengan ketegasan tanpa ada cela untuk membantahnya. “Baiklah. Aku akan menyiapkan kamar untukmu di lantai yang sama denganku.”
“Terima kasih.”
Laina tak ingin berada dalam suasana canggung dan malu seperti ini lebih lama lagi. Dia segera berjalan ke arah kamar mandi pribadi di dalam kamar Azkan, dan mengunci pintunya rapat-rapat.
Sementara Azkan, terjatuh di atas tempat tidurnya yang sudah dirapikan pelayan, dengna debaran jantung tak terkendali.
“Dasar gila!” gumamnya dengan suara teredam karena posisinya yang tengkurap.
“Aku bahkan belum menjadi kekasihnya secara resmi. Hanya karena dia datang sebagai Perempuan Pilihan, belum tentu dia akan menyukaiku sebagai seorang pria kan? Sepertiku yang selama ini tidak menyukai satupun dari Perempuan Pilihan itu sebagai seorang perempuan. Seharusnya aku tidak gegabah. Seharusnya aku memberinya waktu dan menunggunya. Seharusnya aku perlahan-lahan mendekatinya dan mendapatkan perasaannya.”
Azkan terus bicara sendiri dengan gumaman yang menggema di kamar kosongnya. Suara air mengalir dari dalam kamar mandi membuat gumaman penuh penyesalannya semakin tak terdengar. Namun cukup jelas terdengar di dalam kepalanya sendiri.
“Dassar Azkan bodoh!”
Azkan langsung bangun dari posisinya yang takberwibawa sama sekali itu, dan segera memanggil Armana untuk menyiapkan satu kamar di bagi Laina.
Setelah memastikan kamar Laina akan siap malam ini, Azkan kembali ke kamarnya, dan langsung disambut teriakan histeris Laina.
“MAAF!!!” Azkan juga berteriak sambil membalikkan tubuhnya dan menutup pintu kamar rapat-rapat.
“Kenapa kau tidak mengetuk pintu?”
“Aku lupa, aku lupa kalau kau ada di dalam kamarku.”
“Jangan berbalik!”
“Iya.” Azkan menunduk, sekali lagi memarahi dirinya sendiri dari dalam hati.
“Sudah. Kau bisa berbalik sekarang.” Ketika Azkan berbalik, Laina sudah berpakaian lengkap, dan handuk yang tadi dilepaaskannya ketika Azkan masuk, sudah tergeletak di atas tempat tidur.
“Kau cantik.” pujian dari Azkan langsung terucap ketika dia menatap Laina yang mengenakan celana jins biru muda dengan kemeja putih longgar yang tak bisa menutupi lekuk indah tubuhnya sama sekali.
“Kukira kau akan memakai kaus putih yang tadi?” Azkan berusaha mengusir isi pikirannya.
“Kau akan mengajakku berkeliling kan? Ini kali pertamaku bertemu mereka semua, jadi, kurasa, aku harus berpenampilan lebih sopan, untuk menghargai mereka. Kurasa kaus terlalu santai untuk pertemuan pertama. Bagaimana menurutmu? Apa aku sebaiknya memakai pakaian lain yang lebih formal dari ini?”
“Tidak, tidak perlu. Kau bebas memakai pakaian apa pun di sini. Lakukan saja seperti yang kau inginkan. Tidak perlu terlalu memikirkan pendapat orang lain. Di sini, kau bebas menjadi dirimu sendiri, Lai.”
“Terima kasih, Az.” bagaimana mungkin hatiku tidak terasa hangat jika terus diperlakukan sebaik ini olehnya?
“Baiklah, kalau begitu, kau bisa menungguku bersiap-siap sebentar? Kau boleh berkeliling kastil kalau kau bosan menungguku di sini.”
“Aku boleh melihat-lihat semua ruangan?”
“Iya, boleh. Silahkan.”
“Terima kasih. Kalau begitu, aku akan mengeringkan rambutku dulu.”
Azkan tersenyum, menganggukkan kepalanya, lalu masuk ke dalam kamar mandi dan dia kembali berdebar ketika menyadari sisa kehadiran Laina di dalam kamar mandi pribadinya.
Suara pengering rambut dan suara air di dalam kamar mandi, memenuhi kamar. Sambil mengeringkan rambutnya, Laina menyadari kalau di atas meja rias berwarna putih yang jelas-jelas terlihat baru itu, hanya berisi perlatan make up untuk perempuan. Tidak ada barang-barang pria sama sekali. Senyuman Laina mengembang. Sebenarnya, sudah seberapa banyak yang dia siapkan hanya dalam semalam? Aku jadi merasa bersalah pada Armana yang sudah bekerja keras menyiapkan semua ini.
Ternyata, Azkan hanya membutuhkan waktu kurang dari sepuluh menit untuk menyelesaikan mandinya. Sedangkan Laina, yang dikiranya akan bosan menunggu, ternyata masih belum selesai mengeringkan rambut panjangnya.
“Tunggu, aku akan cepat menyelesaikannya.” Laina bergegas ketika melihat pantulan sosok Azkan berjalan keluar dari dalam kamar mandi dengan berbalut handuk dan rambut basah yang masih meneteskan air ketika dia berjalan.
“Tidak perlu, silahkan lakukan seperti yang biasa kau lakukan.” Azkan menyesal karena tidak memiliki ruang ganti sendiri seperti yang pernah disarankan Armana untuknya. Seandainya dia punya ruang ganti sendiri, sekarang ini dia tidak perlu berjalan dengan bertelanjang dada untuk mengambil pakaian di lemarinya yang bersebelahan dengan milik Laina.
“Aku akan berganti baju di kamar mandi.” ucap Azkan canggung pada pantulan wajah Laina di cermin. Setelah melihat Laina mengangguk kecil, Azkan segera berjalan masuk kembali ke dalam kamar mandi yang masih basah.
“Memang sebaiknya Laina memiliki kamar pribadi sendiri. Aku terlalu gegabah,” bisiknya sambil mengeringkan seluruh tubuhnya.
“Ayo!” Laina sudah berdiri di samping tempat tidur, menyambut Azkan yang sengaja berlama-lama mengganti pakaiannya di dalam kamar mandi.
“Kau sudah selesai bersiap-siap?” Azkan tahu betul jawabannya. Laina sekarang, berdiri di hadapannya dengan senyuman manis. Bibirnya kemerahan tapi tidak mencolok, rambut panjangnya digerai indah membingkai wajahnya, aroma parfum samar-samar menyapa penciumannya.
“Ayo,” Azkan mengulurkan tangannya, menyambut tangan mungil Laina dalam genggamannya, lalu mereka meninggalkan kastil dengan mengendarai mobil hitam milik Azkan.
“Aku tidak menyangka kalau kau juga punya mobil.” ucap Laina tepat setelah masuk ke dalam mobil.
“Apa maksudmu?”Azkan memakaian sabuk pengaman untuk Laina.
“Kukira, dengan semua ceritamu tentang Dewa dan Perempuan Pilihan, usiamu yang sudah ratusan tahun, kastil tempatmu tinggal, pulau yang tak bisa dilihat manusia lainnya, kukira kehidupan di sini akan terisolasi. Tidak ada teknologi. Seperti kehidupan waktu zaman kerajaan dulu?”
Azkan tertawa sambil menyalakan mesin mobilnya. Mobil keluaran terbaru di dunia manusia yang masih hidup.
“Aku paham maksudmu. Tapi, meski kami tinggal di pulau yang tak terlihat, bukan berarti kami tak bisa datang ke dunia manusia. Ada segelintir orang yang mendapat ijin untuk keluar masuk antara dunia manusia yang masih hidup dengan pulau ini. Tujuannya, untuk mendapatkan pasokan barang kebutuhan yang tidak bisa kami peroleh sendiri dari pulau. Jadi, sebenarnya, kehidupan penduduk di sini, sama seperti dunia luar. Semua hal yang kau tahu ada di duniamu sebelum mati, juga ada di sini. Juga semua hal yang sejak dulu pernah ada di duniamu. Masih ada di sini. Orang-orang masih menjaga barang-barang lama untuk menyimpan kenangan masa lalu.”
Seiring dengan penjelasan Azkan, mobil yang mereka tumpangi sudah meninggalkan area kastil yang private dan memasuki area umum milik seluruh penduduk pulau.
Azkan membawa Laina mengunjungi markas militer para prajuritnya lebih dulu. Dia diperkenalkan pada pemimpin militer angkatan darat, laut, dan udara juga pada semua anggota pasukan yang bertugas. Mereka menyambut kedatangan Laina dengan sorak-sorai yang sangat meriah ketika melihat Azkan datang sambil menggandeng tangannya. Apalagi, selama mereka melayani Azkan, mereka tak pernah melihat Azkan memperlakukan seorang perempuan dengan begitu lembut. Maka, respon mereka pada kehadiran Laina, seperti sedang menyambut istri pimpinan yang sudah begitu lama mereka nantikan.
Setelah itu, Azkan membawa Laina mengungjungi pabrik-pabrik yang memproduksi bahan makanan seluruh penduduk. Juga ada pabrik-pabrik yang khusus mengolah kekayaan alam Pulau Asa yang menghasilkan perhiasan dan bahan bakar. Dari pabrik-pabrik inilah, Pulau Asa mendapatkan uang untuk membeli segala kebutuhan lain dari dunia luar. Selanjutnya Laina berkeliling melihat peternakan, pertanian, pertambangan, perumahan penduduk, vila-vila liburan di pesisir pantai, tempat-tempat hiburan yang dibangun oleh para penduduk seperti mall, taman bermain, toko-toko kerajinan tangan, toko buku, toko kebutuhan sehari-hari, hingga kantor pemerintahan tempat ketujuh Perempuan Pilihan bekerja dibantu dengan orang-orang terbaik dari penduduk Pulau Asa. Di kantor ini, juga ada ruangan khusus milik Azkan di lantai paling atas tempat dia bekerja setiap hari.
“Jadi, di sini kau bekerja?” Laina memutar tubuhnya, menatap keseluruhan ruang kerja Azkan. Sama seperti kastilnya, tidak ada banyak perabotan. Semua yang ada di sini, adalah barang-barang yang pasti digunakan Azkan. Tidak ada hiasan atau barang yang diletakkan dengan alasan keindahan. Hanya barang yang berguna.
“Iya. Kemarilah.” Azkan memanggil Laina yang berkeliling ke segala arah, untuk mendekat padanya, karena dia ingin menunjukkan pemandangan dari balik jendela kaca di sisi kanan meja kerjanya.
“Wah! Indah sekali!!!” Laina bisa melihat hampir seluruh pulau dari sini. Semua tempat yang tadi dia lewati dengan mobil bersama Azkan, kini terlihat seperti sebuah lukisan indah yang mengagumkan. Terlebih lagi dengan naungan langit biru cerah dan gumpalan awan tak beraturan yang mendamaikan hati.
“Pulau ini sangat indah, Az,” ungkap Laina terpesona.
“Ya. Harus kuakui, Dewa memberi tempat yang sangat indah. Sehingga meskipun aku sudah melihatnya setiap hari selama ratusan tahun, aku tak pernah bosan dan selalu terkagum-kagum dengan apa yang kulihat.”
Laina mengalihkan pandangannya dari pemandangan luar biasa di balik jendela kaca, lalu memeluk Azkan yang tubuhnya menegang karena kaget.
“Az, kau pria yang baik. Kau orang yang hebat. Kau adalah pemimpin yang sangat dicintai semua penduduk. Aku yakin, Dewa memilihmu sebagai penjaga pulau ini, karena Dewa mempercayaimu. Karena semua kualitas terbaik yang ada di dalam dirimu. Setelah berkeliling bersamamu, aku menjadi semakin bersyyukur karena Dewa membawaku ke sini.”
Air mata Azkan menggenang. Tak pernah sekalipun, ada orang lain yang memeluknya sambil mengatakan hal sehangat ini padanya. Usapan lembut tangan Laina di punggung Azkan, mengendurkan ketegangan tubuhnya dan dia menikmati pelukan itu. Kedua tangannya pun melingkar di pinggang Laina, mempererat pelukan mereka.
“Jadi, bagaimana dengan tawaranku? Apa kau mau menjadi kekasihku?”
“Az!” Laina mendorong tubuh Azkan yang tak menjauh sedikitpun darinya. Kedua lengan Azkan jauh lebih kuat dibanding dorongannya.
“Bagaimana kalau kita memulainya sesuai prosedur?”
“Maksudmu?”
“Kita sudah berkenalan. Perlahan, kita akan lebih saling mengenal satu sama lain. Jadi, sekarang, bukankah bisa dibilang kalau kita ada di tahap pendekatan? Aku akan mendekatimu sebagai seorang pria. Aku akan mengenalmu lebih baik lagi, dan menunjukkan padamu kalau perasaanku tulus. Aku akan berusaha membuatmu jatuh cinta padaku, lalu suatu saat nanti, ketika aku yakin kalau perasaanmu padaku sudah tumbuh, aku akan mengajakmu berkencan secara resmi. Bagaimana menurutmu?”
“Kedengarannya masuk akal.”
“Jadi kau setuju?”
Laina mengangguk.
“Kalau begitu, apa aku akan tinggal di luar kastilmu?”
“Kalau itu tidak. Kau tetap akan tinggal di kastilku. Malam ini, kamar pribadimu siap untuk kau tempati.”
“Mana ada orang yang baru pendekatan tapi sudah tinggal serumah?”
“Itu bukan rumah. Itu kastil.” cengiran tak tahu malu terbentuk di wajah Azkan dan membuat Laina tergelak.
“Azkan?” suara seorang perempuan menghentikan tawa Laina. Tatapan perempuan yang tiba-tiba membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam ruang kerja Azkan, tertuju pada Laina yang masih berada dalam pelukan Azkan.
“Siapa dia?” Laina bisa mendengar nada ketus perempuan itu dan tak perlu banyak berpikir untuk mengetahui dengan pasti, bahwa perempuan itu, tidak menyukainya.
“Laina, kenalkan, ini Perempuan Pilihan ke-7, Eveline. Kau bisa memanggilnya Eve. Semua orang di pulau ini memanggilnya begitu.”
“Hai, Eve. Aku Laina.” uluran tangan Laina tak disambut Eve. Pandangan Eve teralihkan pada lengan Azkan yang melingkar di pinggang Laina meski sudah tak memeluknya seperti tadi.
“Dia Perempuan Pilihan ke-9?” Eve bicara pada Azkan, mengabaikan Laina yang menarik kembali tangannya.
“Iya. Besok, aku akan memperkenalkan Laina secara resmi pada semua Perempuan Pilihan dan orang-orang yang bekerja di kantor pemerintahan. Hari ini, Laina sudah berkeliling pulau dan dia masih lelah setelah kedatangannya kemarin. Jadi, aku akan pulang sekarang.”
“Di mana perempuan itu tinggal, Azkan?”
“Di kastilku.”
“Lantai satu? Sampai kapan? Di mana rencananya kau akan membangun rumahnya?”
“Tidak perlu membangun rumah. Laina akan tinggal bersamaku. Malam ini, kamarnya di lantai tiga sudah siap untuk ditempati. Kalau begitu, aku pergi dulu.”
Azkan menggandeng Laina berjalan melewati Eve yang masih berdiri termenung.
“Oh iya, lain kali, ketuk pintu dulu sebelum masuk ke dalam ruanganku. Tolong hargai privasiku.”
Blam!
Suara pintu yang tertutup menghancurkan hati Eve.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments