Masih di kamar milik Alice
Akhirnya setelah membaca satu persatu isi pesan sang mantan kekasih ia menuskan untuk membalas satu pesan.
Ditulis nya : Terimakasih penjelasannya, tapi maaf hubungan kita sudah berakhir. Dan tolong jangan ganggu aku lagi!
Balas Alice dengan sekali ketik tanpa ragu, akhirnya tangannya menuju pengaturan pesan untuk memblokir nomor sang mantan kekasih.
"Buang mantan pada tempatnya. Hah lega deh!" Ucap Alice sambil melemparkan gawainya ke sembarang arah.
Mengingat betapa teganya Bara membohongi nya dalam waktu yang cukup lama. Saat mengetahui bahwa sang kekasih mulai berubah, Alice yang awalnya membiarkan lama-lama jadi curiga. Akhirnya ia tidak tinggal diam lalu membuntuti sang mantan yang beralasan ingin pergi dengan mamanya.
Namun ternyata apa yang di saksikan dengan mata kepala Alice di luar ekspektasi nya, bukan wanita paruh baya yang sedang bersama Bara.
Melainkan seorang wanita muda yang sedang bergelayut mesra dengan sang mantan kekasih.
Mereka terlihat sangat romantis di sebuah pusat perbelanjaan, sampai keputusan Alice untuk membuntuti Bara berhenti kala sepasang anak Adam tersebut berhenti di sebuah hotel.
Membayangkan saja Alice sangat mual, ternyata Bara memang tidak sebaik seperti yang ia lihat.
Alice menyesal dulu ia tidak mendengar kan apa kata Viona, padahal dulu sahabatnya tersebut sudah tiap hari ngoceh untuk segera meninggalkan Bara.
Namun karena kebucinan Alice membuat isi otaknya tidak bisa berfikir dengan baik.
Setelah berkutat dengan fikirannya yang bertraveling pada masa lampau nya, segera Alice beranjak menuju kamar mandi. Tak lupa Ia pun menyambar handuk yang tergantung pada rak di balkon kamarnya.
Hari ini ia belum memutuskan akan kemana, masih setengah hari lagi untuk sampai di waktu malam.
Badannya pun terasa segar setelah mandi dan berganti pakaian, Alice pun segera turun ke meja makan untuk menyantap makan siangnya.
Di meja makan Alice tidak menemukan sang Oma, hanya beberapa asisten rumah tangga dan Bi Mirah yang masih sibuk dengan cucian di dapur.
"Bi, pada kemana sih kok Alice gak lihat Oma sama Uncle?" Tanya Alice
"Oh Non Alice sudah bangun, tadi Nyonya berpesan kalo Nyonya Besar sedang pergi jalan-jalan ke Mall sama Tuan William. Katanya sekalian mau belanja kebutuhan rumah yang mulai menipis." Ucap Bi Mirah dengan sopan.
"Oh kok aku gak di ajak sih!" Protes Alice sambil duduk di kursi
"Anu non, tadi Nyonya besar sudah dari kamar Non Alice tapi balik lagi gara-gara tulisan Non Alice." Jelas Bi Mirah dengan membuka satu persatu lauk di meja makan
"Oh iya Alice lupa. Hehe" jawab Alice menggaruk kepalanya yang tidak gatal
"Eh iya non, kalo Non Alice mau menyusul nanti bisa di anterin sama Mang Asep kata nyonya. Tapi makan siang dulu ya non, soalnya dari pagi Non Alice kan belum makan." Tawar Bi Mirah
"Ah gampang nanti bi, ayo bi Alice makan dulu ya." Ucap Alice sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Seperti biasa makanan yang di masak Bi Mirah tidak pernah gagal menggugah selera makan Alice, buktinya beberapa hari di sini sudah membuat Alice sedikit berisi.
Setelah selesai makan Alice pun memilih untuk kembali ke kamarnya. Ia mendaratkan tubuhnya yang masih lelah di atas sofa, di lihatnya layar berukuran 29inch yang menempel pada dinding kamar miliknya.
Namun tidak ada satupun acara yang menarik untuk ia lihat, akhirnya Alice memutuskan untuk mematikan TV.
Saat yang sama sebuah email masuk ke dalam ponselnya. Berapa bahagianya ketika Alice membaca isi pesan tersebut. Ternyata satu produk skincare yang ia rancang sebelum datang ke rumah Oma telah memasuki tahap pengajuan BPOM.
Skincare tersebut sudah selesai di racik dan di kemas pada kemasan dan design seperti apa yang di harapkan Alice.
Selesai dengan aktifitasnya untuk sekedar mengecek laporan perusahaannya, Alice pun memilih untuk menghubungi sahabat nya langsung via telepon.
Setelah mendapatkan nama Viona lantas Alice segera mendial nomor tersebut agar tersambung dengan sahabat nya.
"Hallo Vi, gimana ada kendala gak selama aku tinggal?" Tanya Alice to the poin.
"Eh Bu Alice apa kabar? Hihihi.. Enggak kok neng, Semua berjalan dengan baik. Laporan harian dan mingguan udah aku kirim semua via email ya, sama produk baru yang kita meetingin terakhir kemarin sebelum kamu terbang ke sana sudah siap tinggal nunggu persetujuan aja." Jelas Viola dengan detail
"Oh Ok ok kerja bagus Bu Sekertaris, jangan khawatir nanti bonus kita bicarakan di belakang ya." Kata Alice sambil meledek
"Ah Bu Alice bisa aja, nanti kalo ada yang kurang paham bisa langsung tanya saya ya. Hahaha." Jawab Viola ikut mengimbangi akting Alice. "Eh iya Al, aku hampir lupa kemarin Bara datang ke kantor dia nanyain kamu. Dan aduh ada salah satu karyawan yang keceplosan bilang kamu lagi di rumah Oma." Imbuh Viola menjelaskan
"Oh pantes aja Vi, dari tadi dini hari Bara itu nelpon terus minta maaf ngajak balikan. Katanya dia mau dateng nyamperin aku, pantesan aja dia bisa antusias banget. Ternyata dia tau dimana aku sekarang, tapi bodo amat lah aku sudah tidak peduli lagi dengan dia. Kemarin udah aku blokir nomornya sekalian biar gak bisa hubungin." Ucap Alice lalu merebahkan tubuhnya di atas sofa menatap langit-langit kamarnya.
"Ah hati-hati Al takutnya dia berbuat nekat sama kamu di sana, ternyata disitu dia juga punya saudara loh."
"Masa sih Vi?" Ucap Alice kaget, spontan ia langsung menegakkan kembali tubuhnya.
"Iya aku cari informasi kemarin, nanti deh kalo aku denger dia ke sana aku kabarin lagi. Yasudah ya Al, nanti kita sambung lagi. Aku mau pergi dulu udah di tungguin sama Oppa. Hehe" pamit Viola
"Etdah mentang-mentang yang gak jomblo kencan teros." Ejek Alice pada sahabat nya.
"Makanya cepetan move on dong jangan mikirin bara api terus cuma bikin panas. Masa iya disitu gak ada yang nyantol, eh apa kabar si manager dingin masa iya parasnya tidak membuat hati terpana." Goda Viola dengan mengulum senyum
"Tauk ah. Udah ya Bye." Pamit Alice yang langsung memutus sambungan telepon secara sepihak.
Tiba-tiba wajahnya memerah mengingat kejadian saat Steven mengantarkan nya pulang kemarin. Ada rasa malu mengingat ia tiba-tiba memeluk si pria kutub tapi tidak ada respon dari yang di peluk.
'aduh Al malu banget gak sih, kerasukan setan apa sih kemarin. Gimana besok kalo ketemu di kantor pasti canggung banget rasanya.' Monolog Alice merutuki dirinya mengingat kejadian yang membuatnya begitu malu.
Setelah insiden Alice memeluk Steven dengan Isak tangis, Steven pun hanya mengantarkan Alice pulang tanpa pamit dan pergi begitu saja.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments