Masih di taman
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 09.00, setelah kepergian William akhirnya Steven beranjak pergi tanpa memberi aba-aba. Alice yang tersadar Steven sudah berjalan duluan sontak lari terbirit-birit mengekorinya.
Sepanjang jalan menuju tempat parkiran dipandangi nya tanpa berkedip punggung si pria kutub yang sudah berjalan sedikit jauh di depan. Tak ayal umpatan demi umpatan kerap Alice lontarkan dalam hati.
'Dasar Pria Kutub! Bagaimana bisa dia pergi tanpa memberitahu ku, tadi aja baik banget sama uncle.'
'Menyebalkan! Ih tau gitu aku pulang sendiri aja!'
Monolog Alice sambil mengusap kasar wajahnya.
BRUK
Tiba-tiba Alice jatuh terpental, karena tubuh mungilnya menabrak punggung besar milik si Pria Kutub yang tiba-tiba saja berhenti di hadapannya. Padahal tadi dia berjalan dengan cepat.
"Aduh! Ka-"
Rintih Alice saat mendapati dirinya sudah terduduk di tanah, di usapnya jidat dan bokongnya bergantian setelah berhasil berdiri. Saat yang sama ucapannya untuk mengumpat Steven pun tertahan. Kala di pandangnya Steven yang terlihat dingin tanpa ekspresi, meski ia hanya melihat di balik punggung namun Alice faham jika suasana hati Steven sedang tidak baik-baik saja.
...***...
Di tempat lain William berjalan menuju tempat dimana mobilnya ia parkirkan. Dengan tergesa tangannya pun mengepal kuat serta wajahnya yang dipenuhi oleh amarah, tatapannya begitu dingin dan mematikan. Berulang kai ia membuang nafas kasar mencoba menstabilkan dadanya yang naik turun menahan kebencian.
Sedikit jauh perjalanan yang William tempuh, menembus hutan yang berkali-kali William lewati.
Karena lokasi yang barusan di sampaikan oleh John berada di sebuah Pemukiman pedesaan.
Akses jalan yang rusak membuat William mengemudi cukup lama untuk sampai di tempat yang di maksud.
Pandangannya begitu fokus ke depan, namun sesekali ia menoleh ke arah luar mobil.
William tidak ingin memikirkan kemungkinan yang belum pasti dia yakini keberadaan nya.
Setelah menempuh perjalanan yang tidak mudah akhirnya mobil yang membawa William sampai pada titik lokasi yang di maksud. Tepat di halaman sebuah rumah kecil dan sederhana ia menepikan mobilnya.
Di sana sudah terparkir sebuah mobil Jeep berwarna hitam.
Menyadari siapa yang datang laki-laki yang berada di dalam mobil tersebut bergegas keluar mobil dan berjalan mendekati mobil William yang berhenti.
"Selamat datang Tuan, maaf membuat Tuan datang jauh-jauh kemari." Lapornya dengan sopan sambil membungkuk memberi hormat pada Tuan Muda nya.
"Langsung pada intinya saja, jadi bagaimana dia bisa pergi dan menyadari kehadiran kalian." Tanya William tak mengalihkan pandangan pada sebuah rumah di depannya.
"Maaf Tuan, saya sudah menyuruh anak buah saya untuk melacak keadaan di sekitar sini. Mereka juga menyusuri sungai bahkan ke terminal barangkali mereka terekam cctv saat pergi. Saat saya cek di dalam rumah tersebut saya menemukan ini tuan."
Jelas John panjang lebar menyodorkan secarik kertas berisikan identitas seseorang.
"Saya juga sudah bertanya pada Kepala Desa tapi ternyata orang ini tidak terdaftar di desa ini Tuan. Mereka hanya tau jika orang tersebut hanya menyewa rumah kosong ini." Ucap John kembali menjelaskan.
"CK! Dasar Br******!"
William berdecak dengan penuh amarah, pasalnya ia sedikit berharap ada titik terang untuk menemukan dalang di balik kematian sang Papa. Namun naas harapan William harus pupus lagi untuk saat ini.
Sejak semalam saat John menelpon jika dia menemukan tempat tinggal pemilik mobil yang menabrak Tuan Anthony, William sedikit senang jika ada sedikit harapan.
"Maafkan saya Tuan." Ucap John masih menunduk.
"Sudah tidak apa, untuk saat ini kita biarkan saja mereka lolos. Jangan ada yang mengusiknya sedikitpun, dan kamu John tolong kamu cari tau identitas asli pria di foto ini. Saya yakin ini palsu, berapapun saya akan bayar." Titah William dengan tegas
"Baik Tuan. Tuan tolong izinkan saya mengantar anda kembali." Pinta John yang mengetahui expresi sang majikan yang telah berubah.
John hanya takut jika fikiran William yang kalut membuat fokusnya mengemudi hilang.
Mengingat medan yang di tempuh cukup sulit, dan sedikit jauh menuju kota.
Cukup lama John bekerja untuk Tuan Mudanya tersebut, sehingga dia sudah hafal bagaimana pola fikir sang majikan.
Karena kesetiaan nya mengabdi tanpa pernah mengecewakan maka saat ini ia sudah jadi orang kepercayaan William.
John juga selalu mengiyakan apa perintah William tanpa melunjak atau menolak kapanpun tugas yang di berikan sang majikan.
...***...
Kembali ke tempat parkir taman
Alice yang masih terduduk menyaksikan aura dingin Steven memandang sepasang anak manusia di seberang parkiran sedang berdiri berhadapan.
Saling tertawa bersama mengumbar kemesraan tanpa malu dengan banyak orang di sekitarnya.
Dengan sedikit penasaran Alice akhirnya bangun dengan sendirinya untuk berdiri di sebelah Steven, ia edarkan pandangan mengikuti arah pandangan Steven.
Betapa terkejutnya ketika pandangan Alice searah pandangan Steven. Belum sempat Alice bertanya sudah keduluan Steven menaiki kendaraan roda duanya.
"Hei tunggu!" Teriak Alice manakala Steven sudah menyalakan mesin.
"Aku cuma bawa motor, kalo mau bareng ayo kalo masih mau di sini silahkan." Jawab Steven
"Eh aku ikut." Ucap Alice cepat, dengan segera ia menaiki motor sport William.
"Ehhh ehhh!" Teriak Alice saat tiba-tiba pedal gas di tarik kencang oleh Steven.
Karena sungkan akhirnya Alice berpegang pada pundak Steven.
Dalam perjalanan pulang hening tanpa sepatah katapun, Alice ingin bertanya tapi ia urungkan.
Ia akan menunggu hingga Steven menceritakan sendiri tentang apa yang telah mereka saksikan.
Takut jika pertanyaan bodohnya akan membuat Steven marah, nanti yang ada Alice malah di turunkan di jalan.
Semakin cepat motor melaju maka semakin erat pula tangan Alice mencengkeram kedua pundak Steven. Hingga satu pukulan lolos menyadarkan Steven yang di kuasai amarah.
"Pelan-pelan bisa kali, aku belum mau mati bodoh!" Teriak Alice sambil terisak yang sudah geram dengan tingkah Steven yang menggila di jalanan.
Akhirnya Steven pun menepikan sepedanya karena tersadar bahwa dia bukanlah seorang diri. Saat sudah di pinggir jalan Steven melihat Alice dari kaca spion yang terus menunduk dengan Isak tangis.
"Kamu kenapa? Maaf sa-!" Ucap Steven menoleh pada Alice.
Ucapannya tertahan manakala Alice tiba-tiba masuk dalam pelukan Steven. Jantung Steven pun seolah berhenti berdetak, ia bingung kenapa Alice tiba-tiba menangis.
Padahal menurut Steven kecepatannya mengemudi tidak terlalu tinggi untuk ukuran Steven.
Steven hanya mematung saat pelukan Alice semakin erat, Isak tangisnya pun masih keras terdengar.
Steven yang mendengar Isak tangis Alice menjadi gusar, ada keinginan untuk membalas pelukannya namun ia sungkan.
Hingga saat tangan Steven hendak membalas pelukan nya, tiba-tiba Alice melepas tangan yang melingkar di perut Steven.
"Maaf saya kelewatan." Ucapnya dengan segera.
penampakan mereka ya .. 😁
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments