"Morning ponakan gemes?" Sapa seorang laki-laki yang berjalan dari kamarnya menuju ruang makan mengekor pada Alice yang berjalan di depannya.
"Uncle William!" Seru Alice kegirangan menoleh ke sumber suara lalu berlari menghambur ke pelukan laki-laki yang barusan menyapanya.
"Kenapa? Kamu kangen ya denganku?"
Goda William seraya tangannya mengulur mengacak rambut ponakannya tersebut.
"Enggak! Yah! Jangan acak rambutku, kebiasaan deh aku bukan anak kecil lagi tau! "
Teriak Alice mendongok menatap pamannya dengan bahagia, bukan Alice namanya jika tidak usil iapun mengulurkan tangannya mencubit perut datar William.
"Aw.. Sakit Al!" Keluh William mengusap bekas cubitan Alice lalu mengurangi pelukan.
"Biarin! Siapa suruh!" Balas Alice cekikikan melihat pamannya kesakitan.
"Emang kamu beneran gak rindu sama cowok ganteng di depanmu ini? Bahkan banyak wanita yang rela mengantri jadi pacar Uncle." Ucap William dengan Percaya Dirinya.
"Nggak deh! Dimataku Uncle itu jelek! Mereka aja yang sakit matanya. Hahahha... Wlekkk" ejek Alice menjulurkan lidah menertawakan pamannya, ia pun segera berlari takut kalau kena jitak.
"Awas Ya! Jangan lari kamu!" Teriak William geram tidak terima dengan ejekan Alice.
Seperti sudah jadi kebiasaan sedari kecil mereka selalu membuat suasana rumah bak istana tersebut menjadi ramai. Ada saja tingkah usil yang mereka lakukan, dari saling meledek , kejar-kejaran, saling menyembunyikan mainan sampai adu mulut yang membuat Alice menangis.
Pada akhirnya Oma Rochelle lah yang berhasil mendamaikan, sampai saat ini pun di usia yang sudah menginjak kepala 2 mereka masih asyik bertengkar seperti waktu kecil.
"Dasar anak-anak nakal." Gumam Oma dari lantai dua, bibirnya tersenyum menyaksikan anak & cucunya berlarian seakan tidak ada yang mau mengalah.
"Oma! Uncle nakal!" Rengek Alice melambaikan tangan dari ruang makan.
"Jangan dengerin anak manja ini Ma" Teriak William tak kalah keras.
"Sudah-sudah kalian sudah bukan anak kecil lagi jangan berantem malu sama umur! Ayo lebih baik kita segera sarapan." Seru Oma seraya menuruni anak tangga menghampiri keduanya.
"Siap Nyonya Besar!." Jawab mereka serempak lalu saling pandang terjadilah tawa renyah diantara mereka.
Para asisten yang melihatnya di buat ikut tertawa melihat tingkah kedua majikannya. Apalagi asisten rumah tangga yang belum lama bekerja di Rumah Besar Christopher pasti heran. Tapi tidak dengan Bi Mirah dan mang Asep, pemandangan seperti ini sudah sering mereka saksikan sejak dulu.
Bahkan Bi Mirah dan Mang Asep dibuat ribet dengan kejailan William yang sering mengerjai Alice.
Seakan mengulang kejadian berapa tahun yang lalu, sarapan pagi ini begitu riuh & penuh suka cita. Keheningan yang dirasakan setelah kepergian sang suami kini perlahan mulai sirna berkat kedatangan Alice & William.
"Bi.. sekarang ada Non Alice rumah jadi rame ya? Nyonya Rochelle juga jadi seger, gak kayak kemarin sebelum Nona datang. Wajahnya murung terus jarang senyum." Bisik Rima pada Bi Mirah yang sibuk mengupas buah untuk hidangan cuci mulut.
"Sstttt... Jangan gitu Rim nanti nggak enak kedengaran sama Nyonya. Alhamdulillah kalo keadaan yang buruk sudah membaik." Ucap Bi Mirah.
"Iya bi, maksudnya Rima juga ikut seneng gitu. Tapi orangtuanya Non Alice kok gak ikut pulang ya?" Tanya Rima mulai penasaran.
"Hah wes gausah penasaran pada saatnya kamu bakal tau sendiri. Udah selesaikan itu cucian piringnya, masih banyak kerjaan kita." Ajak Bi Mirah.
***
Ditempat lain ada wanita paruh baya yang sedang serius mengamati tablet di genggamannya. Tangannya pun mengepal dengan geram, mimik wajahnya berubah masam dan sorot matanya berubah menjadi tajam seperti kobaran api.
"Bersenang-senanglah kamu Alice, kita lihat siapa yang Akan bertahan lebih lama. Aku akan kembali menghancurkan mu hingga lenyap tanpa sisa. Agar kamu Florence bisa merasakan apa yang aku rasakan, kehilangan kakaknya Moza."
Janji Berlian dengan bibir bergetar penuh dendam.
Tanpa banyak orang sadari, Berlian telah menempatkan seseorang di rumah besar Oma Rochelle untuk jadi mata-matanya, mengintai pergerakan Alice. Melaporkan segala yang dilakukan maupun di bicarakan Alice.
Dia hanya tidak ingin terjebak dalam rencana yang telah disusun Alice, seperti ancaman Alice saat di rooftop Hotel tempo hari.
Tok Tok Tok
Tiba-tiba terdengar suara langkah dilanjutkan ketukan pintu.
"Ma, ayo sarapan dulu? Papa sudah nungguin di bawah." Seru Moza dari balik pintu kamar sang mama.
"Iya sayang, kamu duluan turun bentar lagi mama nyusul". Sahut Berlian dari dalam kamar, bergegas dia menyembunyikan tablet yang digenggamnya disebuah laci meja riasnya.
Berlian baru saja mendapat kiriman video yang memperlihatkan betapa bahagianya acara sarapan pagi di Rumah Besar Oma. Bagaimana tingkah William dan Alice yang membuat Oma Rochelle terlihat tersenyum bahagia.
Senyum yang dulu sering ia tampilkan saat sang suami masih di sisinya.
Namun semuanya terasa suram saat kepergian Papa Anthony.
Setelah memantaskan wajahnya di cermin Berlian pun lalu bergegas keluar dari kamar dan turun menuju ruang makan.
Selang beberapa waktu mereka berkumpul di meja makan, seperti biasa mereka makan dengan begitu lahap dan bersemangat. Sesekali bercerita tentang kegiatan masing-masing atau sekedar bercanda hal yang remeh. Keadaan keluarga Berlian begitu harmonis, terlihat dari bagaimana Marvel memperlakukannya dengan lembut.
Begitupun Berlian dia selalu membantu suaminya mempersiapkan segala kebutuhannya sebelum pergi ke kantor.
Moza yang memperhatikan tingkah kedua orang tuanya begitu bahagia membuat dirinya ingin memiliki keluarga yang harmonis seperti kedua orang tuanya kelak. Tak terasa bulir bening melewati pipinya begitu saja tanpa permisi.
"Moza? Ada apa nak? Kenapa menangis?" Ucap Mama Berlian memperhatikan putri semata wayangnya. Lalu tanpa basa-basi ia mendekat dan menariknya dalam pelukan.
"Ah kenapa jadi mellow gini, Moza baik-baik saja ma. Moza hanya bahagia melihat Papa dan Mama begitu harmonis. Semoga pernikahan Papa dan Mama langgeng terus ya. Moza juga pengen suatu saat bisa seperti Papa dan Mama. Seandainya ya ma Kakak masih diizinkan Tuhan disini dia pasti juga sangat bahagia ya ma?"
Ujar Moza yang berada di pelukan sang mama sambil mengusap air matanya.
"Sstttt... Moza, sudah jangan menangis lagi ya nak. Kakakmu pasti juga sangat bahagia melihat kita disini bahagia. Mama dan papa tidak akan membiarkan Kamu menderita, kami tidak akan melakukan hal bodoh seperti dulu lagi."
Berlian pun mencoba menenangkan Moza sambil mengusap pelan mahkota putrinya tersebut.
"Benar sayang, sudah cukup kesedihan kita. Kini saatnya kita bahagia" Ucap Marvel ikut berjalan mendekati Moza dan Berlian. "Kita do'akan kakakmu Bahagia di surga ya."
Ketiganya lantas berpelukan saling menguatkan, mengingat bagaimana kelam masa lalunya menimpa mereka. Meski hampir berpisah, tapi pada akhirnya Oma Rochelle dan William lah yang menyatukan mereka kembali.
Menyadarkan bahwa takdir Tuhan yang bekerja, dan bukan karena kemauan seseorang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
🌺Zaura🌺
Sepertinya ada dendam yangtersimpan rapat...🙄
2024-09-04
1