BAB 8

Akhirnya hari sabtu pun tiba, yang artinya sekolah diliburkan. Sekedar informasi, sekolah Rena libur pada hari Sabtu dan Minggu. Tapi ia masih ada jadwal bimbel sore nanti. Tidak apa-apa, setidaknya Rena punya waktu bersantai di pagi hingga siang hari.

Melupakan kejadian menyedihkan kemarin malam, pagi ini Rena sudah rapi dengan pakaian olahraganya. Ia tampak bersemangat untuk pergi ke tempat gym bersama Paman Rudi. Setelah siap, gadis itu pun langsung keluar kamar dan berlari kecil menuruni tangga.

“Bibi~ dimana protein shake-ku?” tanya Rena kepada Bibi Eli yang sedang berkutat di dapur.

“Ini, Nona,” jawab Bibi Eli sambil menyerahkan botol berisi protein shake.

Rena menerima botol itu dengan senang, lalu mengucapkan terima kasih. Gadis itu hendak meninggalkan dapur sebelum suara seseorang menginterupsi langkahnya.

“Mau pergi kemana kamu pagi-pagi begini?” tanya Flo yang baru saja turun dari lantai atas.

“Mau ke gym,” jawab Rena.

“Apa? Kamu mau ke gym?” Flo tampak sangat terkejut.

Rena memutar bola mata malas, “memang kenapa? Orang gemuk sepertiku tidak boleh ke gym?”

Flo berdeham canggung, “bukan begitu. Tumben sekali kamu mau ke gym. Padahal dulu, aku paksa ikut denganku ke gym saja tidak mau.”

Rena hanya melirik sebentar tanpa ingin membalas ucapan kakak keduanya itu. Walaupun tidak ada hinaan keji yang keluar dari mulut pedas kakaknya, tapi tetap saja, Rena sangat malas berbicara dengan Flo yang selalu mengejek dirinya.

...----------------...

Menghabiskan waktu dua jam di tempat gym benar-benar menguras energi Rena, apalagi coach yang sangat disiplin itu sama sekali tidak membiarkan Rena melewatkan satu pun set latihan.

“Bagaimana hari pertama di tempat gym?” tanya Rudi diiringi kekehan pelan.

Rena mendongak untuk melihat sopir pribadinya yang baru saja menyelesaikan latihan. Pria berusia kepala 4 itu terlihat sangat bugar. Tentu saja, untuk menjadi sopir dan satpam di kediaman Airlangga diperlukan seleksi fisik yang ketat.

“Rasanya seperti mau meninggal,” keluh Rena yang masih sibuk menghirup oksigen.

Rudi tertawa pelan, lalu duduk di sebelah nona muda Airlangga. Pria itu menyodorkan botol minum berisi air putih milik Rena yang sudah disiapkan oleh Bibi Eli.

“Minum dulu. Setelah ini, nona bisa mandi, lalu minum protein shake,” ucap Rudi yang langsung dituruti oleh Rena.

“Apa nona Rena yakin tidak mau makan sesuatu? Protein shake saja pasti tidak akan mengenyangkan,” tawar Rudi.

Rena menggeleng mantap, “aku sedikit terburu-buru.”

“Maksud Nona?”

“Eh, maksudku, aku ingin segera menurunkan berat badan, jadi aku harus disiplin dengan dietku,” jelas Rena.

Rudi mengangguk paham, “Nona tidak apa-apa? Ini baru seminggu sejak Nona keluar dari rumah sakit, tapi berat badan Nona Rena sudah turun 5 kilogram.”

“Itu bagus!” seru Rena, “lebih cepat, lebih baik. Paman tahu, aku jadi lebih cepat lelah karena badanku gemuk. Kalau aku kurus, pasti aku bisa melakukan lebih banyak hal tanpa harus takut lelah.”

Pria paruh baya itu hanya tersenyum simpul. Nona mudanya ini memang tergolong obesitas dan dianjurkan untuk menurunkan berat badan. Tapi ia juga khawatir melihat diet ekstrem yang dilakukan oleh Rena. Semoga saja gadis itu tidak mengalami masalah kesehatan.

...----------------...

Setelah selesai berolahraga di gym, Rena meminta untuk diturunkan di mall dekat dengan tempat bimbelnya. Gadis itu terlalu malas untuk pulang ke rumah, ia juga sedang ingin jalan-jalan sendirian. Maka dari itu, setelah menurunkan Rena di mall, Rudi langsung diperintahkan untuk meninggalkannya sendirian.

Dan di sinilah Rena berada. Di sebuah mall besar yang terletak di pusat kota. Ia tidak terbiasa menghamburkan uang, jadi ia tidak akan membeli apa-apa, hanya ingin cuci mata saja.

Saat jalan-jalan di lobby mall, ia tidak sengaja melihat keramaian di sana. Ternyata itu adalah ajang kompetisi menyanyi. Melihat para pesertanya kebanyakan adalah remaja, jiwa penyanyi dalam dirinya langsung terpanggil. Rena pun segera mendekat ke arah meja pendaftaran.

“Permisi, Kak. Apa pendaftarannya masih dibuka?” tanya Rena dengan sopan.

“Halo, Kak. Iya, masih dibuka. Lombanya dimulai 15 menit lagi, kakak mau mendaftar?” tanya panitia lomba itu.

Rena mengangguk mantap, “ketentuannya apa saja, Kak?”

“Usia minimal 13 tahun dan maksimal 18 tahun, lagunya bebas asalkan berbahasa Indonesia,” jawab panitia itu.

“Saya mau mendaftar, Kak. Atas nama Alisa—eum, maksud saya, Renata,” ucap Rena yang saking bersemangatnya hingga tanpa sengaja menyebut nama aslinya.

“Atas nama Renata, ya? Nama lengkapnya siapa, Kak?” tanya si panitia sambil bersiap menulis nama lengkap Rena.

“Renata Anelis Air--,” Rena terdiam sebentar, “Renata Anelis saja. Renata Anelis.”

Panitia itu menganggukkan kepala dan menuliskan nama ‘Renata Anelis’ di data peserta. Kali ini, Rena tidak akan menggunakan nama ‘Airlangga’. Ia ingin dikenal sebagai Rena, dirinya sendiri, bukan sebagai putri bungsu konglomerat Airlangga.

“Kak Renata dapat nomor urut terakhir ya, nomor 23,” ucap panitia itu sambil menyerahkan label peserta bernomor 23.

Rena pun duduk di barisan peserta bersama dengan peserta yang lain. Entah mengapa, ia merasa lebih nyaman duduk bersama dengan ornag-orang asing yang tidak ia kenal. Tidak seperti di rumah dan sekolah, di sini tidak ada yang menatap rendah fisiknya yang berbadan gemuk. Sepertinya mereka hanya fokus pada kemampuan menyanyi, bukan fisik.

Satu setengah jam Rena menunggu gilirannya dengan sabar sambil sesekali berbincang dengan peserta di sebelahnya. Akhirnya tiba juga gilirannya.

“Peserta selanjutnya, nomor urut 23, silahkan naik ke panggung,” panggil MC.

Walaupun dulu sering bernyanyi di hadapan publik, tapi Rena merasa sangat gugup sekarang. Ia belum pernah mencoba suara Rena untuk digunakan bernyanyi.

‘Tenang, Alisa. Suara Rena cukup merdu saat berbicara. Setidaknya aku menguasai teknik vokal,’ batin Alisa dalam tubuh Rena.

Rena menggenggam mikrofon itu dengan erat. Menghembuskan nafas panjang sekali agar tubuhnya lebih rileks, lalu memejamkan mata bersiap mengeluarkan lantunan nada. Tidak seperti para peserta yang memilih lagu hits terkini, Rena memilih lagu lawas berjudul ‘Bunda’ sebagai ungkapan kerinduan Alisa kepada ibunya.

Kubuka album biru…

Penuh debu dan usang…

Kupandangi semua gambar diri

Kecil, bersih, belum ternoda

Semua orang, bahkan Rena sendiri terkejut dengan suaranya. Jika suara Alisa dulu merdu karena teknik vokal yang sering dilatih, maka suara Rena kini justru sangat sempurna. Terdengar lembut dan penuh penjiwaan, ditambah tenik vokal yang tepat, membuat semua hadirin seolah tersihir.

Pikirku pun melayang

Dahulu penuh kasih

Teringat semua cerita orang

Tentang riwayatku

Air mata Rena lolos dari manik coklatnya. Ia tidak kuasa menahan tetesan itu ketika menghayati lirik lagu yang menggambarkan kerinduannya pada sang ibunda. Sekalipun sambil meneteskan air mata, suara Rena tetap stabil, bahkan terdengar lebih menjiwai.

Para juri dan semua orang yang mendengar nyanyian Rena seolah merasakan kesedihan dalam melodi itu. Makna lagu dan suara merdu si penyanyi membuat mereka tidak bisa melepaskan pandangan dari sosok Rena di atas panggung.

Oh, Bunda, ada dan tiada dirimu

'Kan selalu ada di… dalam… hatiku…

Seiring dengan selesainya lagu, air mata terakhir lolos juga dari mata Rena. Gadis itu langsung menghapus air matanya setelah tersadar bahwa dirinya masih berada di hadapan publik.

Prok prok prok!

Perlahan tapi pasti, suara gemuruh tepuk tangan mulai terdengar meriah. Bahkan Rena bisa melihat semua juri dan para peserta lain yang tadinya duduk, kini sudah berdiri sambil bertepuk tangan ke arahnya.

Rena tersenyum haru, ‘kamu punya suara indah yang sangat memukau, Rena.’

...----------------...

Terpopuler

Comments

princess Halu

princess Halu

wow..akankah rena jadi bintang mengalahkan kakak2nya

2025-01-05

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!