Bab 4 Dipaksa Nginap

"Uhhgg!! Uhhgg!!" Chartiana yang sedang kesal terus saja memukul-mukul bantal, semua keinginan dan harapan yang sejak lama ia impikan tidak terkabulkan padahal susah payah ia berkuliah jauh-jauh di universitas ternama untuk menyenangkan kedua orangtuanya, berharap keinginannya bisa terkabul, tapi semuanya malah kacau...

"Gara-gara kak Stefan!! harusnya dia gak datang untuk makan malam disini!! dasar benalu!!" umpatnya, sejak dari kecil Stefan selalu saja merebut perhatian Jeremy dan kedua orangtuanya. Bahkan hingga saat ini.

"Percuma aku paksakan diri menderita untuk membentuk tubuhku jadi montok begin, tetap saja kak Jeremy tidak mau melihat ke arahku." keluh Charty dengan raut wajah bersedih, ia tahu kakak tirinya yang playboy suka sekali dengan wanita yang bentukkan seperti di majalah-majalah playboy.

Tok tok tok tok.

Pintu kamar Charty di ketuk.

"Tiana, hei... lu masih ngambek gara-gara soal tadi." tanya Vivian sembari berjalan mendekati Charty yang sedang rebahan di ranjang.

"Iya gua bete kenapa gak ada yang bertanya padaku soal bekerja di perusahaan kak Stefan. Kenapa mereka langsung memaksaku berkerja disana sih." keluhnya melipat tangannya sambil cemberut.

"Ya ambil sisi positifnya saja Tia-, produk kecantikan memang lebih cocok buat kamu kerja dibandingkan entertainment dan real estate, terlalu berat tau, tenangkan dirimu cinta, gua yakin kak Stefan pasti akan jadi boss yang baik buat lu, gak mungkin dia akan bentak-bentak kamu, secara dia itu sahabat kakak kamu, kalau ada apa-apa langsung saja kamu lapor ke kakak dan orangtua kamu."

"iihhhss, gak mungkin tampangnya jutek gitu, pelit senyum, pasti semua bawahannya sangat menderita di atur-atur oleh dia!! Ya tapi lu bener juga, kalau dia berani galak sama gua, tinggal gua lapor aja ke ayah dan bunda." serunya tersenyum smirk.

"Hahaha... tenang saja beban lu gak seberat beban gua kok, apalagi kerja di perusahaan sahabat kakakmu, pasti dapat perlakuan spesial."

"Yah pokoknya gua bakalan cerita banyak ke lu Vi-, siap-siap ya dengerin curhatan gua tiap malam soal kak Stefan."

"Iye... gua dengerin sambil tidur, ya udah gua pulang dulu ya, mommy Daddy udah nyariin gua nih." Vivian segera beranjak dan mengambil tasnya untuk pulang.

"Titip salam ke paman bibi ya... bujuk mereka buat kasih kado kelulusan ke keponakan tercinta ini, hehehe...." Charty selalu iri pada Vivian yang dimanjakan oleh kedua orangtuanya, apapun yang Vivian mau pasti akan dibelikan, berbeda sekali dengan kedua orangtua Chartiana yang selalu ngomel dahulu kalau dia mau membeli sesuatu.

.

.

.

Malam semakin larut,

"Aku mau pulang."

"Eh, jangan, udah lu nginep aja malam ini, lagian dulu juga kan sering nginap disini juga." Jeremy menahan Stefan agar tidak keluar dari kamarnya.

"Itu kan waktu kita masih sekolah cakep, sekarang udah beda, besok gua mesti kerja masuk kantor pagi-pagi" keluh Stefan, dirinya sedang sangat sibuk dengan proyek baru dari ayahnya. Namun Jeremy tetap saja memaksa.

"Mobil gua ada di kantor bro... jadi besok kita berangkat bareng aja dari sini ya, gua numpang lagi boleh kan." Jeremy terus memaksa Stefan untuk menginap.

"Hadeh...hadeh... astaga maksa banget sih..." keluhnya sambil melihat jam tangan yang memang sudah menunjukkan pukul 10 malam, yah... tidak terasa waktu memang cepat berlalu. Habis makan ia diajak bermain catur sebentar dengan om Jonathan, lalu ngobrol-ngobrol panjang lebar dengan Jeremy, waktu berlalu begitu cepat, malam sudah semakin larut.

"Nih pakai piyama tidur punyaku, ukuran badan kita kan gak beda jauh. Besok pagi kamu bebas pilih baju apa saja yang lu mau pakai buat ke kantor. Sekalian gua kasih gratis ke lu." Kekeh Jeremy.

"Serius!! Murah hati sekali anda." Stefan terkekeh, Jeremy memaksa sekali sampai-sampai rela memberikan setelan pakaian kerjanya yang mahal.

"Iya serius, sebagai gantinya lu harus terima Charty kerja di perusahaan, bantu dia belajar kerja, soalnya belum ada pengalaman, tolong ya bro..." Jeremy membuat kesepakatan.

"Oke, tapi jangan salahkan aku, kalau tiba-tiba dia menangis karena aku marahi, gini-gini gua terkenal boss killer di kantor bapak gua." serunya tegas.

"Yah terserah, lu yang atur aja, gua yakin lu lebih cocok jadi pawang si Charty dari pada gua, wahai penasihat ku." ledek Jeremy.

Stefan mendelik menatap kawannya yang sedang terkekeh itu, "Ahh... Gua ngerti sekarang!! Kenapa lu tiba-tiba maksa Charty buat kerja ditempat gua." Stefan mendapatkan pencerahan saat melihat senyum licik temannya ini.

"Kamu takut ketahuan berbuat nakal dengan para model di kantor kan!! Oh ya!! Kalau Charty sampai kerja satu kantor sama kamu, sudah pasti gak akan segan-segan melaporkan ke om Jonathan." lanjut Stefan tebakannya 100% benar.

"Yup... lu memang sahabat terbaik gua bro... pengertian banget anda." Jeremy memberikan jempol kearahnya.

"Cih!! teganya lu manfaatin gua." decak Stefan, segera ia merebahkan dirinya diatas sofa sambil memijit kepala. Dirinya tidak bisa membayangkan jika Charty bekerja sebagai karyawan di kantornya, gadis bar-bar itu pasti akan sangat sulit diajak bekerja sama.

"Ayolah kawan, bantu aku kali ini, kamu tau kan gua sangat-sangat tidak ingin mengecewakan ayah dan bunda, please bro, Lagian aku sangat berharap banyak padamu agar bisa lebih dekat dengan Charty, sejujurnya aku gak suka melihat kalian suka sekali berdebat kalau sudah bertemu."

"Hmm... jadi maksudnya, lu mau jodohin gua dengan Charty, Astaga!! Sorry banget bro jujur aja Charty itu bukan tipe wanita yang baik untuk dijadikan istri. Dan aku sama sekali gak akan tertarik dengannya." Stefan blak-blakan, ia berbicara dengan lantang.

"Iya gua tau itu... justru karena kamu dari dulu sekali tegas sama dia, gua jadi berpikiran kalau lu tuh cocok banget jadi pawangnya." Jeremy terkekeh.

"Pawang apaan sih... dengerin suara cemprengnya aja aku bulu kudukku sudah berdiri." Dirinya tidak sanggup membayangkan harus menjaga Charty setiap hari, menggantikan peran Jeremy. Sejak kecil Stefan sudah melihat langsung bagaimana Jeremy selalu di repot kan oleh ulah nakal dan tingkah absurd adik perempuannya.

"Idih jangan begitu dong, nanti lama-lama suka loh." ledek Jeremy.

Stefan yang diledek langsung melempar Jeremy dengan bantal sofa. "Gak kena wekk, udah yah... gua mandi dulu." Jeremy keluar kamar sambil membawa piyamanya.

"Eh, loh lu mau kemana??" Stefan terheran-heran, kenapa Jeremy malah keluar dari kamarnya.

"Malam ini aku tidur di kamar tamu, kamu tidur disini aja, gak mungkin kan kita tidur bareng kayak waktu kecil dulu," serunya dengan senyuman smirk.

"Iiihh ogah!! bagus deh malam ini gua jadi penguasa kamar lu sampai besok pagi," seru Stefan, bulu kuduknya berdiri membayangkan dirinya tidur satu ranjang dengan Jeremy, memang tidak mungkin menginap seperti dulu lagi.

"Baik hati kan gua, biar lu gak repot-repot kesini untuk pilih baju kerja gua besok pagi." ujar Jeremy lalu keluar dari kamarnya.

Blam...

pintu kamar pun di tutup, segera Stefan bersiap-siap untuk tidur malam ini.

.

.

Malam semakin larut, para anggota keluarga sudah tertidur lelap, semua lampu kamar juga sudah dimatikan, namun seperti biasa Stefan membuka sedikit gorden agar cahaya bulan masuk ke dalam kamar, lalu ia naik ke atas ranjang dan tertidur pulas....

Ngeeekk...

Tiba-tiba pintu kamar terbuka pelan, lalu seseorang masuk mengendap-endap mendekati Stefan yang sedang tertidur diatas ranjang Jeremy.

Bruk...

Stefan merasakan orang itu naik keatas ranjang.

"Eehh!! Jeremy ya." batin Stefan setengah tidak sadar dengan mata tertutup karena sangat mengantuk.

Iya tidur membelakangi sosok yang datang menghampiri dia, lalu tiba-tiba sebuah lengan melingkari pinggangnya, "Ampun deh si Jeremy udah gila ya dia!!!" umpat Stefan ingin berbalik menendang temannya ini.

Namun...

"Loh...loh!! Apa ini!!" gumamnya dalam hati, tiba-tiba merasakan dua benda kenyal menempel erat di punggungnya.

"Masa Jeremy punya itu!! Terus ini siapa!!" batin Stefan kini matanya terbuka membulat sempurna, saat merasa kekenyalan dua benda yang semakin menempel dan semakin mendorong pada punggungnya.

"Hangat sekali." batin Stefan, yang malahan menikmati sentuhan nakal seseorang.

Bersambung~

...****************...

#TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA ❤️❤️❤️

Jangan lupa memberikan Like, Subscribe, dan Vote ya...~ biar Author makin semangat menulis cerita ini, bentuk dukungan kalian adalah penyemangat ku...😘😘😘

Novel ini menceritakan kisah cinta anak-anak yang lahir di dua novel sebelumnya, sembari menunggu update novel ini, silahkan membaca kisah cinta orangtua mereka, pastinya cerita romantis, lucu, bikin tegang, plus sedih menguras air mata...🥹🥹🥹

Terpopuler

Comments

TAG

TAG

Kenyal kaya agar-agar /Facepalm/

2024-12-03

0

Mizuki

Mizuki

kok w malu ya bacanya 🗿

2024-07-09

1

Aiyuki

Aiyuki

smpai sni dlu ya thor, aku ksih 🌹+ 2 iklan buat mu, semangat !! 🔥

2024-06-13

1

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!