...-Selamat membaca-...
Sebastian Dwiantara duduk di ruang kerjanya dengan tatapan serius, mata tajam menatap layar komputernya. Ia adalah pria yang dingin, disiplin, dan selalu fokus pada karirnya. Sebagai seorang manajer proyek di perusahaan teknologi terkemuka AuroraTech, ia dikenal sebagai sosok yang cerdas dan berprestasi. Setiap langkahnya diatur dengan cermat, setiap keputusan diambil dengan hati-hati. Baginya kesuksesan dalam pekerjaan adalah segalanya.
Namun, belakangan ini, Sebastian merasa semakin jauh dari Luna, Istrinya. Ia terperangkap dalam dunianya sendiri.
Luna adalah sosok wanita yang hangat, penyayang, dan selalu penuh perhatian dengan rutinitasnya sebagai ibu rumah tangga. Setiap hari, dia bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan untuk Sebastian. Dia berusaha keras untuk menjaga rumah tetap rapi dan nyaman, meskipun terkadang terasa berat.
"Pagi, sayang," sapa Luna sambil tersenyum manis.
Sebastian mengangkat kepala, tatapannya masih tertuju pada layar laptopnya. "Pagi," jawabnya singkat, tanpa mengalihkan perhatian dari pekerjaannya.
Luna kecewa, tetapi dia mencoba untuk tetap tenang. "Sayang, Aku pikir kita bisa sarapan bersama hari ini," ujarnya dengan lembut.
Sebastian hanya mengangguk sekilas. "Aku punya rapat penting pagi ini. Kita bicara nanti saja," katanya sambil bergerak menuju pintu.
Luna merasa kekecewaan memenuhi hatinya saat dia melihat Sebastian pergi begitu saja. Dia merindukan kehangatan dan perhatian dari suaminya ketika mereka masih baru menikah dan segala sesuatu terasa lebih mudah, tetapi sepertinya Sebastian selalu sibuk dengan pekerjaannya.
Di rumah, Luna merasa semakin kesepian.
Setiap kali dia mencoba untuk berbicara dengan Sebastian, selalu saja ada sesuatu yang menghalangi. Dia mencoba untuk bersabar, tetapi perasaannya semakin terabaikan.
Luna duduk di ruang keluarga, menatap ke arah Sebastian dengan ekspresi sedih yang mencerminkan kekecewaannya. "Sebastian, apa kamu ingin makan malam bersama malam ini?" tanyanya dengan lembut, berharap untuk mendapatkan sedikit perhatian dari suaminya.
Sebastian mengangkat kepala dari laptopnya hanya untuk sekejap, matanya melemparkan sekilas pandang singkat ke arah Luna sebelum kembali terfokus pada layar yang berkedip-kedip. "Malam ini tidak bisa. Aku memiliki pertemuan penting yang tidak bisa kutinggalkan," jawabnya singkat,
Luna merasa hatinya semakin berat, tetapi dia mencoba untuk menyembunyikan kekecewaannya. "Oh, begitu ya," jawabnya pelan, mencoba keras untuk tidak menunjukkan betapa terlukanya dirinya.
Sebastian tampak tidak peduli dengan reaksi Luna. Dengan cepat, ia membereskan semua perlengkapan kantornya dan berjalan menuju ke arah mobil pribadinya.
Ia meninggalkan Luna yang merasa semakin terabaikan dan sendirian dalam kehampaan ruang keluarga mereka.
Luna menelan ludah, merasa semakin tersingkirkan. Dengan langkah gontai, dia berjalan ke dapur, menekan rasa sedih yang melanda hatinya. Rasanya seperti dia tidak lagi memiliki tempat di dunia Sebastian, seperti dirinya hanyalah gangguan yang harus dihindari.
Baginya, itu bukan hanya soal kata-kata tajam Sebastian, tetapi juga perasaan diabaikan dan tidak dihargai oleh orang yang seharusnya mencintainya.
...****************...
Sebastian mengendarai mobilnya dengan tangan kiri sementara tangan kanannya memegang ponsel, mendengarkan panggilan dari sekretarisnya, Wina. "Baik, Wina. Saya sementara menuju kantor," ujarnya dengan suara tegas.
Wina memberikan pengingat, "Rapat akan dimulai pukul 8 pagi Pak."
Dengan pandangan cepat ke jam di dashboard mobilnya, Sebastian menyadari bahwa sudah hampir pukul 7.45 pagi. "Baik, terima kasih, Wina. Saya akan berusaha sampai di sana secepat mungkin," ucapnya, sedikit tergesa.
Wina mengkonfirmasi sekali lagi, "Baik, Sebastian. Pak Arif mengatakan untuk tidak terlambat."
Sebastian mengangguk meskipun tindakannya tidak bisa terlihat oleh Wina. "Saya akan berusaha secepat mungkin," katanya sambil menyesuaikan kecepatan mobilnya.
Sebastian menutup panggilan dan menyesuaikan sedikit kecepatan mobilnya, berharap bisa tiba di kantor tepat waktu.
...****************...
Rapat dimulai tepat pukul 8 pagi, Para eksekutif dari perusahaan Sebastian dan perusahaan Pak Arif berkumpul untuk membahas proyek baru yang menjanjikan. Mereka tengah tenggelam dalam diskusi strategis ketika pintu ruangan tiba-tiba terbuka dengan tegas. Masuklah seorang wanita muda dengan langkah mantap, menghentikan semua pembicaraan dan menarik perhatian semua orang.
"Maafkan saya, saya agak terlambat," ucap wanita muda itu dengan senyum cerah di wajahnya.
Eksekutif-eksekutif yang sedang berkumpul saling berpandangan, kebingungan tergambar di wajah mereka. Siapa wanita ini dan mengapa dia tiba-tiba muncul di tengah-tengah rapat yang sangat serius ini?
......................
...Sampai jumpa di part selanjutnya guys 😋...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 39 Episodes
Comments
afwatun nikmah
kayaknya seru ni
2024-07-10
0
afwatun nikmah
kayaknys seru nih
2024-07-10
0