7

Daren merasakan perubahan yang signifikan dalam sikap Hanna dalam beberapa minggu terakhir. Hanna terlihat lebih emosional dan mudah tersinggung. Daren merasa khawatir tentang perubahan ini dan ingin mencari tahu apa yang sedang terjadi dengan istrinya.

Suatu malam, setelah makan malam, Daren duduk di samping Hanna di sofa. "Sayang, aku ingin bicara denganmu tentang sesuatu. Aku merasakan perubahan dalam sikapmu akhir-akhir ini. Apakah ada yang mengganggumu?"

Hanna menatap Daren dengan air mata di matanya. "Daren, aku minta maaf jika aku terlihat emosional belakangan ini. Aku benar-benar berjuang dengan perasaan dan emosi yang rumit. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya."

Daren menggenggam tangan Hanna dengan lembut. "Kamu tahu, sayang, kita adalah tim. Aku ada di sini untukmu, dan aku ingin tahu apa yang sedang kamu alami. Kita bisa menghadapinya bersama-sama."

Hanna menghela nafas dan mencoba mengumpulkan keberanian. "Daren, aku merasa sangat aneh belakangan ini. Tubuhku terasa berbeda, dan aku merasa lelah sepanjang waktu. Aku takut ada yang salah dengan kesehatanku."

Daren mengangguk penuh perhatian. "Kita harus mencari tahu apa yang sedang terjadi. Aku akan memanggil dokter untuk membuat janji temu. Kita akan menyelesaikan ini bersama."

Beberapa hari kemudian, Daren mengantarkan Hanna ke dokter. Setelah pemeriksaan yang cermat, dokter memberikan kabar yang mengejutkan kepada mereka berdua. "Hanna, kamu sedang hamil. Kamu sudah sekitar dua bulan."

Hanna terkejut dan bahagia mendengar berita itu. Air mata kebahagiaan mengalir di pipinya. Daren memeluk Hanna dengan erat. "Sayang, ini adalah berita yang luar biasa! Kita akan menjadi orang tua."

Dokter menjelaskan lebih lanjut tentang kehamilan Hanna dan memberikan saran tentang perawatan yang harus dilakukan. Hanna dan Daren mendengarkan dengan penuh perhatian, penuh kegembiraan, dan rasa tanggung jawab yang baru.

Setelah meninggalkan kantor dokter, Hanna dan Daren duduk di mobil, memandang satu sama lain dengan senyum yang tak terhapuskan dari wajah mereka. "Daren, kita akan menjadi orang tua. Aku tidak bisa mengungkapkan betapa bahagianya aku merasa saat ini," kata Hanna dengan suara gemetar.

Daren meletakkan tangannya di perut Hanna yang baru mulai menampakkan tanda-tanda kehamilan. "Kita akan menjalani petualangan baru bersama, sayang. Kita akan memberikan segala yang terbaik untuk anak kita. Aku sangat bahagia."

Hanna merasa beruntung memiliki suami seperti Daren yang selalu ada di sisinya. Mereka berdua merencanakan masa depan mereka dengan penuh harapan dan kebahagiaan. Mereka tahu bahwa perjalanan menjadi orang tua mungkin tidaklah mudah, tetapi mereka siap menghadapinya dengan cinta dan kekuatan bersama.

Jayson dan Jayren duduk di kamar mereka dengan wajah yang sedih dan terlihat cemas. Mereka baru saja mendengar kabar bahwa ibu mereka, Hanna, sedang mengandung bayi. Perasaan takut dan kecemasan melanda pikiran mereka. Mereka khawatir bahwa dengan kehadiran bayi baru, mereka tidak akan mendapatkan kasih sayang dan perhatian yang sama seperti sebelumnya.

Jayson menatap lantai dengan mata berkaca-kaca. "Jayren, apa yang akan terjadi dengan kita setelah bayi ini lahir? Apakah ibu akan lebih mencintai bayi itu daripada kita?"

Jayren menggenggam tangan Jayson dengan erat. "Aku juga merasa takut, Jayson. Tapi kita harus percaya pada ibu. Dia selalu menyayangi dan mencintai kita. Kita harus bicara dengannya dan meminta penjelasan."

Mereka berdua berjalan menuju kamar Hanna dengan hati yang berdebar. Mereka mengetuk pintu dengan lembut dan masuk begitu mendengar suara "silakan masuk" dari dalam kamar.

Hanna tersenyum saat melihat kedua anaknya masuk. "Ada apa, sayang? Ada yang ingin kalian bicarakan?"

Jayson dan Jayren saling berpandangan sejenak sebelum Jayson mengambil nafas dalam-dalam. "Ibu, kami mendengar kabar bahwa kamu sedang mengandung bayi. Kami merasa sedih dan takut bahwa kita tidak akan mendapatkan kasih sayang dan perhatian yang sama seperti sebelumnya."

Hanna menghampiri mereka dan duduk di samping mereka di tempat tidur. Dia mengelus punggung mereka dengan lembut. "Anak-anakku, aku mengerti perasaan kalian. Tetapi aku ingin kalian tahu bahwa kasih sayangku untuk kalian tidak akan berkurang. Aku akan selalu mencintai dan menyayangi kalian sebanyak sebelumnya."

Jayren menatap Hanna dengan mata penuh harap. "Tapi ibu, apa yang akan terjadi setelah bayi ini lahir? Apakah kita akan diabaikan?"

Hanna tersenyum lembut. "Tidak, sayang. Kehadiran bayi ini tidak akan mengubah cinta dan perhatianku terhadap kalian. Sebaliknya, ini akan menjadi tambahan untuk keluarga kita. Kita akan menjadi lebih besar dan memiliki lebih banyak cinta untuk saling berbagi."

Jayson masih merasa ragu. "Tapi bagaimana jika kita tidak bisa mendapatkan perhatianmu

seperti sebelumnya? Bagaimana jika kita merasa cemburu?"

Hanna mengambil tangan mereka dan menatap mata mereka dengan tulus. "Anak-anakku, cemburu adalah perasaan yang normal. Tapi aku berjanji akan selalu ada untuk kalian. Kita akan berbicara tentang perasaan kita, dan aku akan membantu kalian melewati segala rasa cemburu dan ketakutan. Kalian adalah anak-anakku yang istimewa, dan kalian akan selalu mendapatkan kasih sayang dan perhatianku."

Jayson dan Jayren merasa lega mendengar kata-kata ibu mereka. Mereka merasakan kehangatan dan cinta dalam pelukan Hanna. Mereka tahu bahwa meskipun ada perubahan dalam keluarga, mereka tetap memiliki tempat yang istimewa di hati ibu mereka.

Beberapa bulan kemudian, bayi yang dinanti-nantikan akhirnya lahir. Jayson dan Jayren melihat adik mereka dengan penuh kegembiraan dan cinta. Mereka merasakan kebahagiaan yang tak terkatakan saat mereka memeluk adik mereka dengan penuh kasih sayang.

Hanna tersenyum melihat kebahagiaan di wajah anak-anaknya. "Lihatlah, anak-anakku. Kita sekarang memiliki keluarga yang lebih besar. Kita akan saling mendukung dan mencintai satu sama lain. Kalian adalah kakak yang hebat, dan adik kalian akan tumbuh dengan cinta dan perhatian kita semua."

Jayson dan Jayren merasakan cinta dan kebahagiaan yang tak tergoyahkan dalam keluarga mereka. Mereka belajar bahwa cinta ibu tidak terbatas dan dapat diberikan kepada semua anak-anaknya tanpa kecuali. Mereka tumbuh menjadi keluarga yang penuh kasih, saling mendukung, dan bahagia.

Daren memandangi wajah mungil bayi perempuan itu dengan penuh kekaguman. "Dia sangat cantik, Hanna. Seperti bintang yang bersinar di langit malam. Apa kamu sudah memikirkan namanya?"

Hanna tersenyum lembut. "Aku sudah memikirkannya, Daren. Aku ingin memberinya nama Aurora. Nama itu terasa indah dan penuh makna, seperti sinar matahari terbit yang membawa kecerahan dan harapan."

Daren mendekat dan meraih tangan Hanna dengan lembut. "Aku suka namanya, sayang. Aurora, nama yang indah untuk bayi perempuan kita. Aku setuju dengan pilihanmu."

Mereka berdua saling memandang dengan kebahagiaan yang tak tergambarkan. Mereka tahu bahwa kehadiran Aurora dalam hidup mereka akan membawa keajaiban dan kebahagiaan yang tak terhingga.

Beberapa hari kemudian, Hanna dan Daren membawa Aurora pulang ke rumah mereka. Mereka menyiapkan kamar kecil yang indah dengan cinta dan perhatian. Bayi perempuan mereka tidur dengan tenang di tempat tidurnya yang nyaman.

Hanna dan Daren duduk di samping tempat tidur Aurora, memandanginya dengan penuh cinta. "Kita memiliki keluarga yang indah, Daren. Aurora adalah anugerah terbesar dalam hidup kita," ucap Hanna dengan suara lembut.

Daren menggenggam tangan Hanna dan mencium keningnya. "Kamu benar, sayang. Kita akan memberikan yang terbaik untuk Aurora. Kita akan menjadi orang tua

yang penuh kasih dan mendukungnya dalam setiap langkah hidupnya."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!