3

Hari itu, Hanna tiba di kantor dengan perasaan campur aduk. Dia masih teringat akan pertemuan dengan Jayson dan Jayren di taman beberapa waktu yang lalu. Pikirannya dipenuhi dengan kekhawatiran dan pertanyaan tentang hubungan mereka dengan Daren. Namun, dia mencoba untuk tetap tenang dan fokus pada pekerjaannya.

Beberapa saat setelah tiba di kantor, Hanna menerima pesan dari Daren. Dia diminta untuk datang ke ruangannya segera. Hanna merasa penasaran dan sedikit gugup. Dia berjalan menuju ruangan Daren dengan hati yang berdebar-debar.

Sesampainya di depan pintu ruangan Daren, Hanna menarik napas dalam-dalam dan mengetuk pintu. Daren memberi isyarat untuk masuk, dan Hanna memasuki ruangan dengan hati-hati.

"Hanna, silakan duduk," kata Daren dengan senyum ramah.

Hanna mengambil tempat di depan meja Daren, mencoba untuk tetap tenang meskipun ada kegelisahan dalam dirinya.

"Daren, ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan?" tanya Hanna dengan penuh harap.

Daren mengangguk. "Iya, Hanna. Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan. Seperti yang kamu tahu, aku memiliki dua anak kembar, Jayson dan Jayren."

Hanna mengangguk, mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri. Dia sudah mengetahui tentang anak-anak itu, tetapi masih merasa terkejut dan cemas tentang bagaimana hubungan mereka akan berkembang.

"Ternyata, Jayson dan Jayren sangat menyukaimu, Hanna. Mereka sering bercerita tentang pertemuan kalian di taman dan betapa senangnya mereka bisa bermain bersamamu," ungkap Daren dengan senyum bangga.

Hanna merasa lega mendengar kata-kata itu. Dia merasa sedikit lebih tenang mengetahui bahwa hubungan mereka berjalan dengan baik.

"Aku juga senang bisa bertemu dengan mereka, Daren. Mereka adalah anak-anak yang luar biasa," kata Hanna dengan tulus.

Daren mengangguk. "Aku tahu bahwa ini adalah situasi yang rumit, Hanna. Tapi aku ingin kamu tahu bahwa aku sangat serius tentang hubungan kita. Aku ingin kita bisa membangun keluarga yang bahagia bersama-sama."

Hanna merasa haru mendengar kata-kata itu. Dia menyadari bahwa Daren adalah pria yang jujur dan peduli, dan dia merasa beruntung bisa memiliki dia sebagai pasangan hidupnya.

"Daren, aku juga sangat serius tentang hubungan kita. Aku siap untuk menerima Jayson dan Jayren sebagai bagian dari hidupku," kata Hanna dengan tulus.

Daren tersenyum bahagia. "Terima kasih, Hanna. Aku sangat menghargai keputusanmu. Aku yakin kita akan menjadi keluarga yang bahagia dan saling mendukung."

Percakapan mereka berlanjut, dan Hanna merasa semakin dekat dengan Daren. Mereka membicarakan rencana untuk mengenalkan Hanna kepada Jayson dan Jayren secara resmi, dan bagaimana mereka akan membangun hubungan yang kuat sebagai keluarga.

Beberapa minggu kemudian, Hanna dan Daren mengundang Jayson dan Jayren untuk makan malam bersama. Hanna merasa gugup dan berharap semuanya berjalan dengan baik.

Ketika Jayson dan Jayren tiba, Hanna menyambut mereka dengan senyum hangat. Dia mencoba untuk menciptakan ikatan dengan mereka dan membuat mereka merasa nyaman.

Selama makan malam, Hanna dan Jayson serta Jayren berbicara dan tertawa bersama. Mereka berbagi kisah, minat, dan impian mereka. Hanna merasa bahagia melihat senyum di wajah anak-anak itu dan merasa terhubung dengan mereka.

Hari itu adalah hari yang penuh kebahagiaan bagi Hanna dan Daren. Setelah melewati berbagai tantangan dan perjalanan panjang, mereka akhirnya akan menikah. Pernikahan mereka akan dilaksanakan dengan penuh kemewahan dan kebahagiaan.

Di tempat pernikahan yang indah, tamu-tamu mulai berdatangan. Hanna merasa gugup dan berdebar-debar, tetapi dia tahu bahwa dia telah membuat keputusan yang tepat. Dia akan menjadi istri Daren dan ibu dari Jayson dan Jayren.

Saat upacara dimulai, Hanna berjalan di lorong menuju altar dengan gaun pengantin yang indah. Daren tersenyum melihatnya, dan hati mereka berdua dipenuhi dengan kebahagiaan. Mereka saling berjanji untuk saling mencintai dan mendukung satu sama lain sepanjang hidup.

Setelah upacara pernikahan selesai, mereka berjalan ke ruang penerimaan untuk merayakan bersama keluarga dan teman-teman. Jayson dan Jayren berdiri di samping Hanna dan Daren dengan senyum bahagia di wajah mereka.

"Kak Hanna, kami sangat bahagia kamu menjadi ibu kami," kata Jayson dengan penuh kegembiraan.

Hanna tersenyum dan memeluk mereka berdua. "Aku juga sangat bahagia menjadi ibu kalian. Kita akan menjadi keluarga yang bahagia dan saling mendukung."

Pesta pernikahan berlangsung dengan penuh sukacita. Hanna dan Daren menari bersama di tengah-tengah lantai dansa, sementara Jayson dan Jayren bergembira melihat mereka. Semua tamu merasa terhibur dan bahagia melihat kebahagiaan mereka.

Setelah pesta pernikahan, Hanna dan Daren pergi bulan madu ke sebuah pulau tropis yang indah. Mereka menikmati momen-momen romantis dan menghabiskan waktu bersama sebagai pasangan yang baru menikah.

Kembali dari bulan madu, Hanna dan Daren mulai menjalani kehidupan pernikahan mereka. Mereka membangun rumah tangga yang penuh cinta dan kebahagiaan. Hanna merasa terhormat dan bersyukur bisa menjadi ibu bagi Jayson dan Jayren. Dia belajar bagaimana menjadi ibu yang baik dan berusaha memberikan kasih sayang dan perhatian yang mereka butuhkan.

Hanna dan Daren juga bekerja sama dalam mengasuh dan mendidik Jayson dan Jayren. Mereka berbagi tugas dan tanggung jawab, menciptakan lingkungan yang penuh kasih dan dukungan bagi anak-anak mereka.

Hanna menikmati peran barunya sebagai seorang ibu dan seorang istri. Dia merasa bahagia dan beruntung bisa memiliki keluarga yang penuh kasih seperti ini. Setelah beberapa bulan menikah, Daren mengajukan permintaan kepada Hanna.

"Hanna, aku ingin meminta sesuatu darimu," kata Daren dengan lembut.

Hanna menatap Daren dengan rasa penasaran. "Apa itu, Daren?"

Daren menggenggam tangan Hanna dengan lembut. "Aku ingin kamu berhenti bekerja dan fokus mengurus anak-anak dan rumah tangga kita."

Hanna terkejut mendengar permintaan itu. Dia telah bekerja keras untuk membangun karirnya dan merasa puas dengan pencapaian yang telah dia raih. Namun, dia juga merindukan waktu yang lebih banyak bersama anak-anak dan ingin memberikan perhatian penuh kepada mereka.

"Hmm, aku tidak tahu apa yang harus kukatakan," kata Hanna dengan ragu. "Aku mencintai pekerjaanku dan merasa terpenuhi di bidang itu. Tapi aku juga ingin memberikan perhatian penuh kepada anak-anak dan keluarga kita."

Daren mengerti kekhawatiran Hanna. "Aku mengerti bahwa ini adalah keputusan yang sulit bagimu. Tapi aku ingin kita bisa memberikan yang terbaik untuk anak-anak kita. Aku ingin mereka tumbuh dalam lingkungan yang penuh kasih dan perhatian."

Hanna merenung sejenak. Dia melihat ke dalam hatinya dan menyadari bahwa keluarga adalah prioritas utamanya. Dia ingin memberikan waktu dan perhatian yang cukup kepada anak-anak dan Daren.

"Aku memahami keinginanmu, Daren. Aku akan berhenti bekerja dan fokus mengurus anak-anak dan rumah tangga kita," kata Hanna dengan tulus.

Daren tersenyum dan memeluk Hanna dengan penuh kasih. "Terima kasih, Hanna. Aku tahu ini bukan keputusan yang mudah bagimu, tapi aku sangat menghargai pengorbananmu. Kita akan bekerja sama dalam mengurus keluarga dan menciptakan kehidupan yang bahagia bersama-sama."

Beberapa minggu kemudian, Hanna mengajukan pengunduran diri dari pekerjaannya dan memulai peran barunya sebagai ibu rumah tangga. Dia merasa campur aduk dengan perubahan ini, tetapi dia juga merasa senang dengan kesempatan untuk lebih dekat dengan anak-anak dan memberikan perhatian penuh kepada mereka.

Hari-hari berikutnya dihabiskan Hanna dengan mengurus rumah tangga dan anak-anak. Dia menyiapkan makanan yang lezat, membersihkan rumah, dan mendampingi anak-anak dalam kegiatan mereka. Meskipun ada tantangan dan kelelahan, Hanna merasa bahagia melihat senyum di wajah anak-anak dan keharmonisan dalam keluarga.

Suatu hari, ketika Daren pulang kerja, Hanna menyambutnya dengan senyum lebar. "Hari ini aku berhasil membuat kue yang lezat untuk kita semua. Ayo, mari kita nikmati bersama-sama."

Daren tersenyum dan memeluk Hanna. "Aku sangat beruntung memiliki kamu sebagai istri dan ibu untuk anak-anak kita. Terima kasih atas semua yang kamu lakukan untuk keluarga kita."

Hanna merasa hangat di hatinya mendengar kata-kata itu. Meskipun dia telah meninggalkan pekerjaannya, dia merasa bahwa peran barunya sebagai ibu dan istri memberikan kepuasan dan kebahagiaan yang tak ternilai.

Percakapan mereka berlanjut, dan mereka berbagi cerita, tawa, dan impian mereka untuk masa depan. Hanna

merasa bahwa keputusan untuk berhenti bekerja adalah yang terbaik bagi keluarga mereka.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!