Lizz... kau harus ke Amerika menyusul Papamu. Akan ku antar kau
Liza
Eh ke Amerika? Ta... tapi pakaianku masih ada di rumah
Jeon mengalihkan perhatian soal Liza yang harus ke Amerika. Karena adanya pertengkaran dirumah yang mengharuskan Liza pergi.
Rose
Kau mau kemana?
Rose
Kita belum selesai bicara
Jeon
Sudahlah Rose, aku tidak ingin membahasnya.
Jeon menyuruh pelayan untuk mengantarkan Liza ke kamarnya dengan isyarat matanya
Liza pergi ke ke kamarnya diatas, dia juga tidak ingin berada di antara pertengkaran mereka
Jeon
Akan ku putuskan nanti, kita tetap bersama atau cerai
Rose
Tidak aku tidak ingin Cerai
Liza
Astaga... cerai...
(Bergumam)
Jeon
Sejujurnya.... Ah.. lupakanlah...
(Jeon pergi )
Sebenarnya keberadaan Liza disana sangat menguntungkan Rose, kalau bukan karena keberadaan Liza disana mungkin Jeon sudah memakai kekerasan yang lainnya.
Jeon sedang menahan amarahnya. Bukan soal perselingkuhan saja. Kalau soal perselingkuhan Jeon tahu sejak lama, sejak 7 tahun yang lalu, tapi ia sengaja menutup mata untuk mempertahankan rumah tangganya. Selama ia tak melihatnya secara langsung, maka Jeon akan menganggapnya gosip belaka.
Namun ini masalah lain...
Jeon ingin pergi keluar rumah. Rose mengikutinya dan berjalan cepat agar dia bisa berada di depan Jeon untuk menahannya
Rose
Jeon... Katakan padaku... siapa wanita yang sudah membuatmu jatuh cinta hah?
Rose
Apa kau sudah tak mencintaiku?
Rose
Kenapa diam saja? Katakan!
(Sambil mencengkeram kerah Jeon dan mengguncangkan tubuh pria itu)
Jeon
Kau tidak perlu tahu siapa
Jeon
Aku masih mencintaimu, tapi untuk apa mempertahankan rumah tangga yang didalamnya berasa hampa.
Jeon
Kalau di haruskan memilih kau atau dia... aku akan pilih dia
Plaaaak!
Tanpa sadar Rose menampar Jeon
Jeon
Argh
(Merintih dalam hati dan menahannya)
Penghinaan terbesar bagi seorang Jeon. Matanya mulai memerah, tamparan dari Rose terasa semakin memanas. Di usapnya tangan ke pipinya sambil melihat Rose dengan tatapan tajam
Jeon meraih leher Rose dan mencengkeramnya dengan kuat, dengan satu tangan saja.
Rose memundurkan langkah dan berusaha melepaskan cengkeraman itu dengan kedua tangannya.
Rose
Ah... Jeon..
(Merasa tercekik dan kesakitan)
Liza sudah berada di kamar, ia tidak tahu apa yang dilakukan Jeon saat ini.
Amarahnya menjadi tidak terkendali
Jeon
Aku sudah bilang tak ingin membahasnya.
Jeon
Sejak tadi aku menahan amarahku karena ada keponakanmu disini.
Jeon
Sejak tadi aku berusaha menahan emosi ku karena masih menghargaimu sebagai istriku
Rose
Jeonn aku tak bisa bernapas
Jeon
Kau mulai tak memperhatikan diriku, kau tak pernah menyambut ku saat pulang kerja. Ketika aku melampiaskan napsu ku, kau sudah terkapar di tempat tidur karena lelah. Aku seperti bermain dengan manekkin. Tak ada gairah darimu, aku pun hilang selera. 7 tahun terakhir terasa hampa, hanya menyalurkan hasrat tanpa menikmatinya.
Jeon
Sampai akhirnya aku tahu, kau bermain manja diluar sana, apa yang kau cari? Tantangan? Kau suka melakukannya diam-diam padahal sebenarnya aku tahu. Tapi aku sengaja menutup mata, selama aku tidak melihatnya dengan mataku sendiri
Jeon
Tapi sepertinya kau lupa diri
Rose
Akhh sakit jeon..
Jeon
Seolah kau tak berdosa
Jeon
Setan apa yang merasukimu, hingga kau telah membunuh calon anakku tak hanya sekali melainkan tiga... Tiga kali aborsi...
Jeon
Apa kau waras... ! Hah?!!
(Berteriak)
Jeon
Dan bodohnya aku tak pernah tahu soal ini...
Jeon
Hahhaa.... kau sempurna, tapi tak layak menjadi istriku.
Jeon
18 belas tahun pernikahan kita, aku menantikan seorang anak darimu, aku sampai merasa tak berguna karena tak bisa memberi keturunan
Jeon
Ternyata semua itu....Shiiiiit!!!
Jeoon semakin menekan leher Rose, sampai wanita itu merasa engap, sakit dan terus meronta dengan memukul tangan Jeon. Rose tak bisa bergerak kemanapun di sudut dinding itu.
Liza
Om!!
(Teriak Liza dari balkon lantai 2 depan kamarnya)
Jeon langsung merenggangkan jari jemarinya yang terasa kaku, matanya memerah dan berkaca-kaca. Untung Liza berteriak dan menghentikannya.
Lalu Jeon masuk ke kamar, ia ingin mengemasi barangnya. Namun sebelum itu ia masuk kedalam shower box dan membasahi tubuhnya. Ia memutar pengatur shower dengan putaran keras. Agar terasa segar dan amarahnya mereda.
Liza menghampiri tantenya yang menangis dan menenangkannya di kursi sofa.
Rose
Apa kau mendengar semuanya?
Liza
Mendengar apa?
(Liza pura-pura tidak tahu)
Padahal ia mendengar semuanya, Bagaimana tidak rumahnya yang besar itu seolah bergema meski hanya gumaman saja. Terlebih lagi Jeon mengatakan semuanya dengan suara yang tidak kecil
Rose
Jangan ceritakan ini pada Papa Mamamu
Liza
Tentu tidak tante....
Liza
Tante minum air dulu ya, Aku ambilkan
Rose
Tidak perlu... aku akan menenangkan diriku diluar.. Aku akan pergi...
(Sambil menghapus air matanya)
Liza
Tante mau kemana?
Rose
Hmmm kau akan ke Amerika kan? Maaf tante tidak bisa mengantarmu.
Rose
Bye
(Melambaikan tangannya)
Rose tidak menjawab pertanyaan Liza, dia keluar dengan perasaan shock dan tubuh yang melemas karena ia hampir kehilangan nyawanya.
Kesalahan terbesarnya... aborsi tanpa persetujuan suaminya
Comments
Beby Bebyara
wkwkwk
2025-04-03
0
axel leoni
si rose anj..
gilaa, hyper tp k laki2 lain
ga mau hmil, pas hmil malah aborsi
gila2
dan jeon msi mau brthan
cereiiiiin jeon
dia ga puas hny 1 laki2 it
2024-09-06
6
🌸ラヒマ🌸
wah Gilak sih
2024-08-19
0