Haris keluar dari vila karena itu memang vila mantan istrinya. Haris menjual jam tangannya untuk mendapatkan uang, lalu Haris menyewa kost kecil setelah keluar dari vila dan akhirnya melamar pekerjaan di sebuah restoran.
—---
Pintu dibuka, dan seorang pria berjas masuk sambil menarik dasinya. Dia terkejut melihat Haris masih terbaring di sofa sedang istirahat.
“Haris, kenapa kamu masih ada di sini? Tidakkah kamu ingin pulang?”
Sofa itu kecil, dan Haris sedang berbaring di sofa di sebelah loker dengan lengan menutupi matanya, menghalangi cahaya.
Tinggi Haris 1,83 Cm, dengan proporsi yang sangat baik. Kakinya yang panjang harus meringkuk di sandaran lengan sofa.
Haris masih mengenakan seragamnya, dan penjahitan di seragamnya yang dijahit gaya barat menunjukkan sosoknya dengan sangat baik. Haris memiliki pinggang yang sangat menarik. Seperti pohon bambu, tipis namun kokoh, membuat orang ingin menyentuhnya. Sulit membayangkan pinggang pria juga bisa mengguncang hati orang lain seperti ini.
Rambut Haris mencapai telinganya dan berserakan di sofa, membuatnya terlihat malas namun agak menggoda. Bahkan sofa yang sudah warnanya sudah pudar dan usang pun terlihat jauh lebih berkelas saat Haris berbaring di atasnya.
Haris mendengarkan rekannya berbicara dan menjauhkan tangannya, menoleh untuk melihat orang yang masuk, dan tersenyum padanya. “Aku hanya sedikit lelah, jadi aku hanya ingin berbaring sebentar lagi.”
Setelah melamar, Haris mendapatkan pekerjaan sebagai pelayan di restoran barat. Gajinya memang bagus, tapi agak melelahkan karena Haris mengambil shift malam di mana waktu malam adalah waktu tersibuk.
Sebelumnya saat dia tinggal di sebuah vila, ada kartu kredit yang bisa digesek tanpa batas. Haris mengambil uang dari kartu kredit sesekali dan ia hanya mengambil secukupnya saja.
Sekarang setelah bercerai, hal-hal ini telah diambil kembali termasuk kartu kredit dan vilanya. Bahkan jika mereka tidak diambil kembali, Haris mungkin tidak akan mau menyentuh mereka lagi.
Haris dulunya lulusan sekolah swasta bergengsi, namun jenjang pendidikan yang dihasilkan secara acak dalam kehidupan ini hanya setingkat SMA.
Tidak banyak pekerjaan yang cocok untuk Haris.
Tempat bekerja Haris yaitu restoran western ini cukup terkenal. Dan dibuktikan dengan banyaknya pelanggan kaya yang datang dan pergi, dan mereka murah hati dalam hal pembelanjaan. Gaji dan tip yang diterima sangat mengesankan, sehingga wawancara juga semakin sulit untuk dilewati.
Syarat untuk melamar kerja di restoran ini salah satunya adalah tingkat pendidikan minimumnya yang dibutuhkan adalah gelar sarjana D3. Gelar sekolah menengah atas Haris sama sekali tidak memenuhi syarat. Alasan dia bisa lulus adalah karena bahasa Inggrisnya yang lebih fasih dari orang lainnya yang saat itu juga sedang melamar. Dan tentu saja alasan lainnya adalah karena Haris sangat cantik!
Kolega itu sudah melepas rompinya dan membuka lokernya. Haris melirik jam di dinding dan bertanya. “Ini baru jam setengah sepuluh. Apakah sudah waktunya untuk berganti shift? Ini belum waktunya.”
“Singkatnya, ini karena seseorang memesan restoran. Hanya dua kepala pelayan dan manajer yang menginap. Para tamu cukup penting. Kudengar itu adalah perjamuan untuk memulai syuting film berbiaya besar. Mereka memesan seluruh tempat. Dan tentu saja menghabiskan banyak uang.”
"Apa kamu sudah makan?"
Haris menggelengkan kepalanya.
Rekannya merogoh saku rompi yang tergantung di lengannya, mengeluarkan sepotong cokelat hitam, dan memberikannya ke Haris.
“Jangan sering melewatkan waktu makan. Makan sesuatu untuk mengisi perutmu. Kamu belum makan apapun malam ini, kan?”
Haris mengambil cokelat yang diberikan padanya. Dia meringkuk di sofa, masih belum sepenuhnya bangun.
Dia melihat cokelat itu, merobek kemasannya langsung dengan giginya, mengerutkan kening karena ia tidak menyukainya, dan menelannya setelah beberapa kunyahan sederhana.
Haris adalah kecantikan yang glamor, tetapi dia memiliki daya tarik yang berbeda ketika dia melakukan tindakan kasar seperti itu.
Cokelat itu harganya cukup mahal. Bermerek asing dan ada kata-kata Swiss di seluruh kemasannya yang berwarna kuning.
Coklat itu adalah hadiah kecil yang disiapkan untuk para tamu oleh restoran ini. Jika para tamu tidak mengambilnya, mereka semua akan dibuang saat meja dibersihkan. Oleh karena itu, pelayan yang bertugas terkadang mengambil beberapa potong.
Haris selalu berusaha menelannya sebelum merasakan pahitnya. Rasa coklatnya memang agak pahit. Kali ini, dia gagal lagi menyembunyikan ekspresi wajahnya. Begitu dia menggigitnya, rasa pahit mulai menyebar di mulutnya.
Rekan kolega itu memandang Haris. Ia sudah berganti pakaian santai dan hendak keluar. Dia cukup geli melihat Haris mengerutkan kening dan menelan begitu cepat coklatnya.
“Ah, aku lupa lagi, kamu tidak suka rasa pahit. Tapi aku tidak mengerti kamu. Kamu jelas membenci hal-hal yang pahit, namun kamu masih memakannya setiap kali aku memberikannya kepadamu. Ada apakah gerangan?”
"Itu karena kau memberikannya padaku,” jawab Haris.
Haris menutup matanya dan terlihat masih mengantuk. Mungkin karena dia belum sepenuhnya bangun, tapi suaranya yang barusan keluar terdengar agak memikat. Ketika koleganya melihat Haris dengan mata tertunduk, Haris terlihat sangat memabukkan. Setiap kata seakan keluar dari ujung lidahnya yang menggoda.
Kolega itu memiliki potongan rambut cepak dan terlihat tangguh dan tampan. Namun, telinganya perlahan menjadi merah setelah mendengar kata-kata Harus yang mengantuk. Rekan kolega itu adalah seorang pemuda tampan dan jangkung. Meski sama-sama pria, ia masih tergoda oleh suara Haris. Meskipun dia tahu betul bahwa Haris tidak bermaksud apa-apa dan tidak pula bermaksud menggoda.
Bukan disengaja atau semacamnya seperti menggoda. Haris memang seperti ini secara alami, membuatmu merasa seolah-olah dia benar-benar menghargaimu. Meski begitu, rekan kolega itu masih berkata pelan dengan telinga memerah. “Lain kali, aku akan membawakanmu jenis coklat yang rasanya manis.”
Setelah berbicara, dia menutup pintu dengan lembut dan pelan.
Haris memejamkan matanya dan dia akhirnya tertidur.
Pada saat dia bangun, sudah jam sebelas malam.
"Ah, aku harus segera pulang. Naga kelinci pasti sudah merindukanku."
Haris bangun dengan tidak terlalu terburu-buru. Rumah yang disewanya tidak jauh dari sini. Hanya butuh beberapa menit untuk sampai ke sana hanya dengan berjalan kaki.
Haris perlahan berdiri untuk mengganti baju seragamnya. Dia melepaskan dasinya dan dengan santai menyampirkannya di lehernya.
Saat bajunya sudah setengah terbuka, dan separuh punggungnya terlihat, tiba-tiba pintu terbuka oleh seseorang.
Haris mendengar suara pintu yang dibuka dan menoleh.
Wanita di pintu memiliki sebatang rokok di mulutnya, asapnya tetap ada di sekelilingnya. Lampu besar di dekat pintu sebelumnya telah dimatikan oleh rekannya, dan hanya lampu kecil di ruang ganti yang menyala.
Ini berarti, di mata orang di dekat pintu, Haris tampak seperti sedang berdiri di bawah lampu sorot yang samar. Haris hanya bisa melihat sosok manusia yang tidak jelas, dan samar-samar menyadari bahwa pihak lain adalah seorang wanita. Tapi wanita itu bisa melihat setiap bagian dari tubuh Haris.
Orang lain akan merasa sedikit bingung jika mereka tiba-tiba tubuhnya terekspos di depan orang lain,Tapi Haris tetap tenang. Haris dengan malas memiringkan kepalanya ke samping dan tidak peduli.
“Kenapa Anda masuk ke ruangan ini?”
Setiap tempat di tubuh Haris adalah keindahan.
Saat ini, separuh bahu dan punggungnya masih terlihat di bawah cahaya, putih menyilaukan. Pinggang dan perutnya semuanya berotot kencang, tetapi tidak berlebihan, memiliki garis tubuh yang halus dan indah.
Haris terpaksa menghentikan tindakan membuka baju ketika orang lain menerobos masuk karena kesalahan.
Wanita itu melihat ke Haris, melihat rambut Haris yang bergelombang melengkung indah di lehernya, seperti putri duyung pemakan manusia di bawah laut.
Adegan ini jatuh langsung ke mata Anita Susanti, dan rokok yang dia pegang di mulutnya jatuh ke tanah karena terpesona oleh kecantikan Haris yang tampan.
Anita Susanti berdiri di pintu ruang ganti karyawan, dan Kepala pelayan tiba-tiba muncul.
“Nona Anita, saya sangat menyesal karena baru saja keluar untuk menunjukkan jalannya. Ruang merokok ada di ruangan yang lain. Ini adalah ruang ganti staf karyawan kami. Mari ikut aku.”
Anita sepertinya baru saja sadar kembali setelah mendengar kata-kata kepala pelayan. Sebelum kepala pelayan bisa melihat pemandangan di dalam, dia membanting pintu dengan gugup hingga tertutup rapat.
Di luar pintu, wanita itu berkata, “Maafkan saya, saya membuka pintu yang salah. Mohon maafkan saya.”
Selesai mengganti pakaiannya, Haris membuka pintu dan keluar.
Kepala pelayan melihat Haris dan tidak terkejut sama sekali. Ini bukan pertama kalinya Haris tertidur di ruang ganti. Dia sering pergi tidur di sana bahkan tanpa makan malam. Nona Anita mungkin baru saja bertemu dengannya.
“Kamu tidur di sana lagi? Tunggu sebentar, aku akan mengambilkanmu makanan untuk dibawa pulang. Lagi pula tidak ada warung makan di luar yang masih buka karena sudah larut malam.”
“Ehmm, beri aku sebotol anggur juga, kamu bisa potong uangnya dari gajiku nanti.”
Jika ada sisa makanan, staf diizinkan untuk mengambil kembali secara gratis, tetapi anggur harus dibayar. Makanan di restoran tidak bisa disimpan semalaman, jadi terkadang makanan bisa diberikan secara gratis pada karyawan.
Kepala pelayan menepuk pundaknya.
“Kalau kamu mau, aku akan memberimu apa yang bisa kutemukan. Kamu bisa melupakan anggurnya. Ini tengah malam. Ini tidak baik untuk perutmu. Aku dengar perutmu tidak dalam kondisi yang baik?”
Setelah itu, dia pergi ke dapur belakang.
Haris menunggunya di pintu ruang ganti, melihat ke luar jendela. Ada iklan yang diputar di dinding gedung seberang. Sosok Anita Susanti adalah iklan tersebut, ia adalah mantan istrinya.
Anita Susanti adalah juru bicara merek pakaian internasional, ia mengambil rute kelas atas untuk produk yang ia sponsori.
Merek jelas atas sangat pemilih dalam memilih juru bicara. Dan tidak pernah menunjuk juru bicara di Negara Singosari (Nama Negara fantasi dan tidak berkaitan dengan kerajaan Singosari yang dulunya ada di sejarah kerajaan yang pernah ada di Indonesia). Beberapa hari yang lalu, merek terkenal tersebut menandatangani kontrak beberapa tahun dengan Anita Susanti. Berita tersebut bahkan sempat menjadi trending di Internet selama beberapa hari.
Beberapa hari ini, orang-orang di sekitarnya telah mendiskusikan masalah ini, jadi bahkan Haris Reynaldi, yang tidak memperhatikan hal-hal ini, mengetahuinya.
Tak heran jika Anita Susanti yang merupakan Ratu film berusia 27 tahun ini banyak diminati.
Tidak sembarang orang bisa disebut “Ratu film”. Hanya pemenang Penghargaan aktris wanita terbaik di Golden Globe yang memenuhi syarat untuk disebut “ratu film”.
Ngomong-ngomong, Anita Susanti baru saja memenangkan Golden Globe Award tahun ini, dan popularitas serta statusnya meningkat. Maka, tak heran jika merek-merek kelas atas itu kini mengejarnya. Apalagi hanya ada beberapa orang dari Negara Singosari yang bisa menyandang predikat "ratu film." dalam sejarah, hanya ada tiga wanita dari Negara Singosari yang pernah menyandang gelar itu. Dan Anita Susanti adalah yang terbaru dan termuda.
Dunia ini cukup mirip tetapi berbeda dari dunia tempat tinggal Haris sebelumnya. Industri film dan televisinya berkembang pesat, dan industri hiburan berkembang pesat di sini.
Golden Globe Award adalah ajang penghargaan tertinggi nomor satu yang diakui di dunia. Aktor dan aktris paling menonjol akan dianugerahi Golden Globe.
Sementara industri bergerak maju, ada seperangkat standar internasional untuk evaluasi aktor dan karya film dan televisi, yang sangat berwibawa. Penilaian aktor dan karya mereka terpisah.
Golden Globe, Meskipun namanya agak murahan, nilai uangnya bukanlah sesuatu yang sedikit. Kondisi untuk memenangkan Golden Globe sangat keras. Lagi pula, ada karya luar biasa dalam film dan televisi yang tersedia setiap tahun, tetapi belum tentu ada aktor/aktris yang luar biasa.
Mereka yang memiliki sejumlah karya luar biasa yang memenuhi syarat bisa bersaing memperebutkan Golden Globe yang diadakan setiap tiga tahun sekali.
Penghargaan Golden Globe biasanya dimenangkan oleh aktor/aktris veteran yang mengumpulkan banyak kualifikasi selama beberapa waktu. Hanya ada tiga pemenang dari Negara Singosari selama bertahun-tahun. Pemenang termuda berusia 27 tahun dan itu adalah Anita Susanti.
Anita memang jenius dalam hal akting!
Saat ini, jantung Anita berdebar kencang, dan pikirannya penuh dengan gambaran yang baru saja dilihatnya. Jelas bahwa orang lain (Haris) tidak banyak mengungkapkan tubuhnya, tetapi dampaknya terlalu besar. Seolah-olah dia adalah anak nakal yang bertemu dengan seorang gadis cantik untuk pertama kalinya. Dan dia sedikit bingung.
Anita mengendus sisa bau rokok di antara jari-jarinya sebelum akhirnya bisa menenangkan diri.
Sutradara Bambang menoleh dan melihat ke arah Anita. Proyek yang telah dia persiapkan sejak lama akhirnya dimulai, jadi dia minum terlalu banyak.
Dia dengan senang hati menyapa Anita.
“Anita, ayo, minumlah denganku.”
Penulis skenario yang duduk di dekat Sutradara Bambang tertawa dan memberi tempat duduk untuk Anita.
Anita duduk di sebelah Sutradara Bambang.
“Apakah kamu masih terus minum? Jika kamu terus begini, istrimu akan memarahiku lagi. Kamu membuat masalah untukku.”
Dapat dikatakan bahwa Sutradara Bambang mengajarinya semua yang perlu dia ketahui tentang industri hiburan ini.
Anita bertemu Sutradara Bambang saat pertama kali debut sebagai aktris. Pada saat itu, Anita masih seorang pemudi yang pemarah, sembrono, yang tidak tahu apa-apa selain akting.
Bagi Anita, sutradara Bambang bukan hanya seorang mentor, tetapi juga seorang teman, dan mereka berbicara dengan santai satu sama lain.
“Hei, bukankah kamu di sini bersamaku? Ketika aku mengatakan aku akan berkencan denganmu, dia tidak keberatan. Istriku hanya mempercayaimu, itu benar-benar aneh.”
“Kamu pasti tidak akan mengerti. Ini pesona pribadiku.”
Sutradara Bambang tersedak.
“Kamu bertemperamen buruk. Aku tidak tahu bagaimana kamu bisa sampai sejauh ini dengan temperamen burukmu itu.”
Anita Susanti tidak terganggu sama sekali.
“Seperti yang mereka katakan secara online, tentunya karena wajahku. Bukankah kamu memilihku saat itu karena wajahku yang cantik?”
Sutradara Bambang menatap wajah Anita dan benar-benar tidak bisa membantah.
“Kamu harus berfokus pada kemampuan daripada wajah cantik. Apakah Anda tahu berapa banyak orang di industri yang mencoba mengubah citra mereka sehingga orang-orang tidak hanya fokus pada penampilan wajah mereka? Lihat Anda, Anda sebenarnya lebih suka seperti itu!”
“Terus? Siapa peduli? Aku tidak pernah berniat untuk berubah sejak awal ha ha.”
Sutradara Bambang berpikir sepertinya Anita dilahirkan untuk industri ini. Menengok ke belakang, setiap peran yang dia mainkan sejak debutnya adalah peran klasik.
Sebelum dia memiliki kesempatan untuk bernostalgia dengan Anita tentang masa lalu, dia mendengar Anuta berbicara.
“Aku selalu terlihat secantik ini, sangat alami, kau tahu, kan?”
Sutradara Bambang diam-diam membuka mulutnya. "Anita masih pembuat onar yang sama seperti dulu. Dengan mulut nakal seperti miliknya, sungguh mengherankan dia belum dipukuli sampai mati. Itu mungkin semua berkat kemampuan profesionalnya yang kuat."
"Apa?" tanya Anita.
"Ah, tidak," jawab sutradara Bambang.
Sutradara Bambang bisa mengikuti perkembangan zaman, namun dengan umurnya yang 50 tahun, dia masih memiliki beberapa masalah orang paruh baya. Beberapa tahun terakhir ini, dia sangat suka menarik orang dan menguliahi mereka secara terus menerus hingga generasi muda enggan untuk bergaul dengannya.
“Kamu harus tahu bahwa mungkin ada seseorang yang lebih cantik darimu, jadi–”
Sutradara Bambang awalnya ingin menguliahi Anita, agar dia lebih rendah hati dan mempelajari kemampuan aktingnya. Saat dia mulai berbicara, dia ingat bahwa wanita di depannya baru saja memenangkan Golden Globe, jadi dia mengubah taktik di tengah jalan.
“Begitu banyak orang yang cantik di industri hiburan. Tidak ada bunga yang bisa mekar selamanya. Pria menyukai wanita yang lebih muda akhir-akhir ini. Sekarang kamu baik-baik saja, tetapi apa yang akan kamu lakukan beberapa tahun kemudian saat bertambah tua?”
Sutradara Bambang mabuk dan mulai sedikit bingung dan berbicara ke sana ke mari. Dia mulai sangat mengkhawatirkan masa depan ratu film baru yang baru saja mendapatkan gelarnya dari Golden Globe.
Aktor terkemuka di sebelahnya hampir meludahkan makanan.
Anita hanya mengangguk, memikirkan orang di ruang ganti barusan. Dia mendengar Sutradara Bambang menyebutkan “seseorang yang lebih cantik darinya” dan, yang mengejutkan Anita setuju, tidak membalas.
“Dia (Haris) memang terlihat agak muda dan cantik.”
Begitu orang seperti itu memasuki lingkaran hiburan, bahkan jika dia tidak tahu apa-apa, tidak masalah baginya untuk menjadi idola populer hanya dengan wajahnya saja.
Anita mengira dia telah melihat semuanya yang cantik. Mayoritas orang cantik di dunia ini telah memasuki industri hiburan. Tapi kali ini ia mengakui bahwa ia salah.
Masih ada berlian di antara bebatuan di luar sana, contohnya pemuda itu di ruang ganti barusan, ia lebih cantik daripada wanita!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Mom La - La
bintang 5 ku sudah meluncur.
udah aku tmbhin ke fav. jg.
nti aku nyicil lgi thor.
2023-02-03
0
Embun Kesiangan
🌹 semangat Thor
2023-01-22
0
Embun Kesiangan
bukan susantinya di Upin Ipin kan y🤭✌️
2023-01-22
1