“Ayah–” Suara Eric terdengar parau, kepalanya yang sudah tertembus sebuah peluru berkaliber tinggi itu terasa sangat panas dan menyakitkan sekali.
“Tenang Anakku! Ayah ada di sini, ambulans sudah datang. Kamu pasti akan selamat, ayah menjanjikan itu!” Ayah Eric menggendong anaknya itu untuk naik ke ambulans.
Pertama kalinya Eric melihat ayahnya begitu terpukul karena sesuatu, tentu saja itu semua karena kejadian yang menimpanya. Namun Eric tak ingin melihat wajah ayahnya menangis.
“Jangan menangis Ayah, aku ingin melihat Ayah yang selalu kuat dan tersenyum kepadaku setiap saat. Bukan yang seperti ini,” ucap Eric lirih sambil menahan rasa sakit.
“Maafkan Ayah! Seharusnya Ayah tidak pulang terlambat dan kamu menunggu lebih lama dari ini, sekali lagi maafkan Ayahmu ini, Anakku!” Ayah Eric tidak bisa membendung tangisan.
Seorang pria kuat yang menangis bukan tanpa alasan, meskipun dia terlihat cuek dari luar, namun jika dihadapkan dengan keluarganya, maka dia pasti akan menjadi sosok yang bisa diandalkan.
“Uhuk … kenapa Ayah minta maaf, bukankah Ayah selalu mengatakan bahwa kematian hanya masalah sepele untuk kita, sekarang Eric tahu maksud perkataan Ayah.”
Eric tersenyum penuh arti, tubuhnya sudah mulai lemas, pertolongan awal dari para medis yang berada di sampingnya tidak membuat banyak kemajuan.
“Eric! Eric! Jangan bercanda! Kamu adalah kebanggaan Ayah! Kamu adalah anak Ayah yang kuat! Jangan mau kalah dengan luka kecil seperti ini! Tetaplah sadar Anakku!”
Ayah Eric sedikit histeris, dia menggenggam tangan anaknya dengan erat, seakan-akan dia tidak rela melepaskan anaknya walau hanya beberapa menit saja.
Eric tahu bahwa hidupnya sudah tidak lama lagi, karena pendarahan di kepalanya tidak bisa dihentikan dan malah semakin meluas, hal ini bisa dilihat dari raut wajah para medis samar-samar.
“Ayah… mungkin aku akan sedikit mengecewakan Ayah, karena tidak kuat dengan luka ini. Ada satu hal yang ingin Eric sampaikan sebelum meninggal, uhuk…”
“Terima kasih karena sudah menjadi Ayah yang hebat untukku, aku sangat mencintai Ayah dari segalanya. Katakan juga pada Ibu masakannya tadi siang enak sekali.”
“Dan aku sangat mencintai kalian berdua, setelah Eric tiada, jangan bersedih dan janganlah membenci siapa pun. Ayah dan Ibu harus tetap tersenyum setiap hari, uhuk…”
Mata Eric sudah mulai berbinar-binar, kesadarannya perlahan mulai hilang, pandangan matanya juga sudah kabur, dia mulai kehilangan seluruh indranya.
“Eriiiiiiic!” teriak Ayah Eric menguatkan.
“Oh iya … Eric sudah … sudah bisa … melakukan … gerakan bela diri … persis seperti … Ayah waktu itu … Eric tidak sabar … berlatih … bersama … Ayah … lagi–”
*TIIIIIIIIIT!
“Eriiiiiiiiiiic! Bangunlah Anakku! Kamu pasti bisa selamat! Tolong buka matamu, Anakku…” Ayah Eric bersimpuh di depan wajah anaknya sambil memandang wajah anaknya yang sudah mulai memutih dan tidak merespon.
Hari itu, Eric terluka parah setelah tertembak peluru nyasar dan juga meninggal dunia ketika perjalanan menuju rumah sakit di dalam ambulans, di samping ayah tercintanya.
‘Terima kasih Ayah dan Ibu sudah menjadi keluarga yang baik untukku, aku akan selalu mengingat kalian semua baik di kehidupan ini atau kehidupan selanjutnya…’
Eric mati dengan bibir tersenyum, dia tidak menyesali sama sekali hidup di dunia dengan orang tua yang baik dan keluarga yang harmonis, dia sangat menghargai mereka semua.
***
Ruang Hampa, Dimensi Asing.
“Selamat datang Entitas Unik Terpilih! Perkenalkan aku adalah Dewa yang akan mereinkarnasikanmu ke sebuah dunia yang baru.” Sebuah suara menawan nan berwibawa menyambut kedatangan jiwa Eric di dimensi itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Ibrahim Rusli
kuat banget si Eric walaupun udah kena peluru kaliber tinggi pula masih sempet nya pamitan keren Thor semangat trus 🤘😃
2023-02-24
2
Eros Hariyadi
ceritanya mengharukan... biasanya ketabrak truk, ini baru befa...kena peluru nyasar.....🤔🙄😫😫😢
2022-12-02
2
Eka Nurmila
biasanya kalau Kepala yang tertembak, tak sempat ada kata perpisahan.
lah ini bisa ngobrol dulu
2022-11-23
0