Kanaya berpikir bahwa tawaran Darren saat ini seperti sebuah novel yang pernah dia tulis sebelumnya bagaimana menjalani pernikahan tanpa cinta, seorang gadis dari strata sosial yang rendah menikahi pria tampan, rupawan, dan bergelimang harta. Akan tetapi, saat Kanaya harus merasakan sendiri menjadi tokoh utama dalam novel yang pernah dia tulis sebelumnya, jantung dan hatinya serasa diremas-remas. Menangis pun tidak mampu menyelesaikan semuanya, terlebih nyawa sang Ayah yang kini menjadi taruhannya.
Apabila Kanaya menolak bisa saja Darren dengan segala kekuasaannya akan menghentikan pengobatan Ayahnya yang sudah pasti memerlukan biaya yang mahal. Sementara sebagai seorang penulis novel, pendapatan Kanaya hanya tergantung dari banyaknya jumlah pembaca yang membaca novelnya di platform membaca dan menulis novel tersebut. Di satu sisi, jika dia menerima pernikahan ini dirinya sendiri yang akan dirugikan, dan jatuh ke dalam pria yang sama sekali tidak mencintainya seperti memasukkan dirinya ke dalam belanga. Bunuh diri perlahan-lahan untuk sekadar menjalani kesepakatan dan kompromi.
Dalam diam sembari menyandarkan badannya di dinding Rumah Sakit, Kanaya menangis sesegukan. Dia tidak menyangka bahwa Ayahnya akan berakhir di Rumah Sakit seperti saat ini dan dirinya justru harus siap mengorbankan dirinya sendiri demi menyelamatkan nyawa sang Ayah.
“So, bagaimana kamu mau? Cukup menikah denganku sampai batas waktu yang aku tentukan. Setelahnya kita akan bercerai dengan baik-baik, dan setelah itu anggap saja tidak ada hubungan di antara kita berdua.” ucap Darren dengan kedua tangan bersidekap di depan atas. Pria itu berbicara tanpa menoleh pada Kanaya yang menangis di sebelahnya.
Hanya demi mendapatkan warisan dari Ayahnya yang bernilai ratusan milyar Rupiah, Darren menawarkan kesepakatan itu kepada gadis yang menjadi pilihan sang Papa. Bagi Darren, dia tidak masalah asalkan tujuannya menjadi ahli waris tercapai. Pria itu sama sekali tidak menghiraukan bagaimana perasaan Kanaya. Memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan itulah yang dilakukan Darren sekarang ini.
“Pria kejam. Tidak berperikemanusiaan.” umpat Kanaya dengan menahan suara isakan tangisannya.
Darren justru tersenyum miring mendengar umpatan Kanaya. “Bukankah aku sudah cukup baik. Cukup menikah denganku dan seluruh biaya pengobatan Ayah kamu, sudah pasti aman. Selain itu, tidak ada ruginya bagi kamu. Justru akulah yang rugi karena telah menikahi gadis kalkun sepertimu.” ucapannya dengan suara yang dalam, serasa menggores hati Kanaya.
Sayatan tak berdarah yang dihasilkan dari lidah tak bertulang milik Darren. Mungkinkah Darren tidak menyadari bahwa ucapan yang dia ucapkan justru melukai hati Kanaya. Wanita adalah makhluk yang sensitif, ucapan tajam dari seseorang bisa melukai harga diri dan perasaan seorang wanita. Sementara Darren dengan begitu mudahnya merundung Kanaya begitu saja.
“Bagaimana jika aku tidak mau?” lagi tawar Kanaya.
“Aku akan memanggil Dokter untuk menghentikan seluruh perawatan Ayahmu.” ucapnya dengan serius yang membuat Kanaya was-was jika Darren benar-benar memanggil Dokter dan menghentikan seluruh perawatan Ayahnya.
“Pria jahat.” sahut Kanaya dengan cepat.
Darren agaknya mendengar ucapan Kanaya tanpa terpengaruh sama sekali. Dalam kasus ini, sudut pandang Darren adalah dia merasa sebagai pihak yang dirugikan. Pengusaha muda, tampan, dan menawan harus rela bersanding dengan kalkun buruk rupa. Dalam perspektifnya kali ini, Darren lah yang dirugikan.
“Jadi bagaimana? Deal or no deal? Ini tawaran terakhir, usai ini tidak ada negosiasi lagi.” katanya dengan sedikit melirik kepada Kanaya.
Dengan berurai air mata, Kanaya berpikir hingga mengerutkan keningnya. Gadis tambun itu begitu dilema saat ini. Harus memilih Ayahnya sembuh dengan menikahi pria kejam tak berperikemanusiaan bersama Darren Jaya Wardhana, atau menolak dengan konsekuensi keselamatan Ayahnya lah yang terancam.
Oh Tuhan … kenapa bisa benar-benar sulit? Tidak bisakah Ayahnya tetap mendapatkan perawatan hingga sembuh dan aku tidak perlu menikahi pria kejam sepertinya. Percuma wajah tampan, tetapi hati dan sikapnya seperti Iblis.
Kanaya mengigit bibir bagian dalamnya, gadis itu masih saja berlinangan air mata masih dilema memikirkan pilihan apa yang harus dia pilih. Semuanya adalah pilihan yang sama beratnya bagi Kanaya.
“Jangan lama-lama mikirnya.” lagi cecar Darren kepada Kanaya.
Lagi Kanaya berpikir hingga sangat keras dengan memilin ujung kemejanya. Sungguh dia begitu dilema, semuanya adalah pilihan sulit dan merugikan dirinya. Sementara saat ini Darren justru terus memberikan tekanan yang membuat Kanaya kesulitan.
“Aku mau.” sahut Kanaya dengan cepat dengan menyeka air matanya yang terus saja berlinang. “Asalkan Ayah mendapatkan perawatan hingga sembuh.”
Darren menganggukkan kepalanya. “Okay. Setelah Ayah kamu sembuh, kita akan menikah. Hanya demi Papa, aku menikahi kalkun buruk rupa sepertimu.”
...🍁🍁🍁...
Tiga minggu kemudian, sebuah pernikahan mewah nan megah diselenggarakan di sebuah ballroom di hotel bintang lima di kawasan ibukota. Pernikahan yang tidak pernah diduga oleh kebanyakan orang dan kolega dari seorang Jaya Wardhana. Bagaimana tidak, saat ini di pelaminan berdiri putra tunggal seorang pengusaha konstruksi dan konsultan perencanaan kondang Ibukota menikahi seorang gadis jumbo yang begitu tidak sedap di pandang mata.
“Serius itu menantu Jaya Wardhana?”
“Bukankah dia gadis big size?”
“Jika aku pengantin prianya, aku memilih lari.”
“Pasangan yang sama sekali tidak serasi.”
“Ini yang dinamakan Handsome and The Beast!”
Banyak sekali komentar dari tamu undangan yang bernada miring kepada mempelai wanita yang berdiri dengan mengenakan gaun putih itu. Dari kejauhan pun, body Kanaya yang cukup besar menyita perhatian banyak tamu undangan. Terlebih kebanyakan dari mereka menyayangkan seorang pengusaha sekelas Jaya Wardhana menikahkan putra tunggalnya dengan gadis yang bisa dibilang cantik tidak, menarik juga tidak, berkelas juga tidak, kelebihannya hanya satu yaitu kelebihan berat badan.
Wedding dress yang dikenakan Kanaya pun sekalipun dibanderol dengan harga puluhan juta rupiah dan bertaburan berlian Swaroski, tetap saja tidak membuat Kanaya tampil bersinar. Size tubuhnya yang besar tetap menjadikan Kanaya pergunjingan dari banyak orang di pesta pernikahannya sendiri.
Hati Kanaya benar-benar berkecamuk rasanya. “Bagaimanapun size badan yang sebesar ini dan memakai warna putih justru membuatku semakin besar. Andai saja warna hitam cocok digunakan saat hari pernikahan, sudah pasti warna kelam itu bisa sedikit membuatku terlihat tidak terlalu gemuk. Seindah dan semahal apapun Wedding Dress ini tidak akan menyulapku menjadi Cinderella. Kanaya tetaplah Kanaya, tidak akan pernah berubah menjadi Cinderella. Andai saja, berat badanku tidak sebesar ini, walau menjalani pernikahan tanpa cinta setidaknya tamu undangan tetap akan menghargaiku. Walau senyuman ini palsu, pernikahan ini palsu, tetapi aku tidak akan dipermalukan dengan sorot-sorot mata tajam yang memandangku rendah dan hina.” Kanaya merutuki dirinya sendiri di dalam hati.
“Di hari pernikahanku sendiri, justru aku tampil bukan sebagai pengantin impian. Lebih tepatnya aku adalah badut yang bersanding dengan Pangeran.” Kanaya menangis di dalam hati merutuki hari pernikahan yang membuatnya menjadi pergunjingan banyak orang itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 295 Episodes
Comments
Kia Ambarita
sombong banget tu Darren.
2023-10-26
1
andi hastutty
sedihnya 😭
2023-07-28
1
Luluk Listyaningrum
aku sampai harus serching google buat tengok model dengan berat badan Lbh biar bisa membayangkan profil Kanaya 🤭
2023-07-22
2