Sebuah mobil taksi warna biru berhenti tepat di depan rumah sederhana, tak lama setelahnya keluarlah Alya dan Selena dari pintu belakang.
Kedua wanita itu membuka bagasi dan mengambil koper-kopernya, di bantu oleh supir taksi.
Setelah mengucapkan terima kasih, Selena dan Alya segera jalan masuk ke halaman rumahnya yang kecil.
Begitu Tiba di teras, Alya nampak merogoh ranselnya untuk mencari kunci rumah. Namun aksinya itu terhenti kala mendengar suara pintu terbuka, di susul dengan teriakan yang menyebut namanya dan seketika membuatnya terkejut.
Ceklek!
“ALYA!!!...” teriak arina dan Jessica serempak.
Bukan hanya dia saja yang terkejut, tapi Selena juga tak kalah terkejut. Namun sedetik kemudian wanita itu tertawa kecil saat melihat dua sahabat adiknya berlari menghambur memeluk Alya, bahkan mereka membuat adiknya itu berputar-putar sambil jingkrak-jingkrak layaknya Teletubbies.
Untungnya suasana malam itu sudah sepi, karena jam sudah mengarah ke angka 10. Hanya saja ada beberapa kendaraan yang kebetulan lewat, kalau masih ramai mungkin mereka bakal jadi tontonan warga sekitar karena saking hebohnya.
Awalnya Alya terkejut dan sempat bertanya-tanya kenapa kedua sahabatnya itu sudah ada di dalam rumahnya, dan dari mana mereka tahu tentang kepulangannya. tapi pada akhirnya dia paham setelah Selena memberi kode dengan mengangkat tangannya dan menggoyang-goyangkan ponselnya, dia pun membalas pelukan mereka.
Setelah puas, arina dan Jessica melepaskan pelukannya. Dengan hebohnya mereka membawa Alya dan Selena untuk masuk ke dalam rumah, dan duduk di sofa yang ada diruang tamu.
Rumah Alya hanya bergaya minimalis, namun terlihat luas. Dirumah itu terdapat ada 3 kamar pribadi, 2 kamar di lantai bawah dan satu kamar di lantai atas.
di lantai atas, tepatnya sebelah kanan paling pojok kamar mendiang orang tuanya. ada ruangan kosong yang dulunya adalah tempat kerja ayah mereka, namun sekarang sudah dijadikan gudang.
sementara di lantai bawah ada dua kamar pribadi milik selena yang letaknya di sebelah kiri dekat tangga, dan kamar Alya berada di sebelah kanan yang berarah langsung ke Ruang tamu.
Jarak dari 5 meter dari ruang tamu, ada ruang makan yang menyatu dengan dapur. Sementara itu Di samping dapurnya, terdapat ada pintu yang mengarah langsung ke taman yang cukup luas dan sudah di penuhi bunga-bunga dengan bermacam jenis dan warna.
di ruang tamu itu terdengar begitu berisik karena suara Arina dan Jessica yang sedang menginterogasi Alya, dan gadis itu menjawabnya dengan sabar dan apa adanya.
Selama alya tinggal di Korea, komunikasi mereka memang sedikit renggang. Jadi saat gadis itu sudah kembali, maka mereka akan menjadi wartawan dadakan yang terus-terusan melemparkan pertanyaan.
sedangkan Selena terlihat sedang menelusuri seluruh sudut rumahnya dengan penuh teliti, tak ada yang berubah dengan rumah itu. semuanya terlihat sama, karena baik Selena maupun Alya tak ingin merubahnya.
Alasannya simple, mereka berdua ingin suasana rumah itu tetap sama. Seperti halnya waktu kedua orang tuanya masih hidup.
sudut bibir selena berkedut saat matanya tak sengaja melihat bingkai foto dirinya waktu remaja bersama kedua orang tuanya, di dalam foto itu ibunya sedang hamil besar dan terlihat duduk di sebuah kursi kayu sambil tersenyum bahagia. begitu pun dengan ayahnya, yang berdiri di belakang juga ikutan tersenyum.
Seketika itu pula sekelebatan bayangan masa lalu kembali terbayang, ucapan ibunya yang memberi amanah padanya untuk menjaga adiknya.
Pada saat itu Selena mengira ibunya berkata seperti itu untuk menjaga pertumbuhan adiknya nanti setelah lahir, karena memang waktu itu ia sangat menginginkan adik agar ada temannya di saat orang tuanya pergi bekerja.
Namun ternyata perkiraannya salah, ucapan ibunya adalah sebuah wasiat yang harus dia jalani hingga akhir hidupnya. Di tambah dengan ucapan papa-nya, untuk jangan menceritakan apapun pada Alya tentang silsilah keluarga besar ayahnya.
Selena yang kala itu berusia 14 tahun belum terlalu paham dengan masalah orang dewasa, tapi dia tahu jika dirinya dan sang adik harus menjauhi orang tua dari ayahnya tersebut.
...💐💐💐...
“Gue seneng Akhirnya Lo mau pulang juga Al, Gue pikir itu cuma hoax doang.” ucap Arina, gadis imut berambut sebahu itu memeluk lengan Alya erat sambil menatapnya.
Mendengar itu Alya hanya tersenyum. Jujur sebenarnya dia juga senang karena bisa kembali ke negara asalnya, apalagi bisa berkumpul dengan kedua sahabatnya.
“Gue kan udah bilang kalau itu beneran, Lo nya aja yang gak percaya.” Jessica membalas ucapan Arina.
“Bukannya gue gak percaya, tapi Lo kan suka bohong.” sahut arina.
“Kapan Gue bohong? Jangan Ngadi Ngadi Lo ya.”
“Tiap hari.”
“enak aja, gak ya!”
“iya!”
“Gak!”
Alya menghela nafas panjang mendengar perdebatan dua sahabatnya itu, dari dulu arina dan Jessica memang selalu tak pernah akur. selalu ada saja yang di debatkan, namun terkadang kompak juga.
“Sudah.. sudah kalian jangan berantem, ini udah malam! malu sama tetangga.” ucap Alya, berusaha melerai.
seketika Jessica dan arina terdiam, namun tidak dengan tatapan mereka yang masih saling beragumen.
“kalian mau nginep, apa pulang?” tanyanya kemudian.
“tentu saja nginep dong!” jawab mereka secara serempak.
Alya yang mendengar itu geleng-geleng kepala.
“ya udah Gue mau bersih-bersih dulu!”
“eh tunggu!” Jessica menahan tangan Alya.
“Lo dan kak Lena pasti belum makan malam kan?”
“belum.”
“bagus! tadi sore gue udah suruh pelayan buat masak banyak makanan, nanti kita makan bareng ya!”
“oke, gue mau mandi dulu.”
setelah mengatakan itu, Alya bangun dari posisinya dan berlalu begitu saja sambil menarik kopernya menuju kamarnya.
tak lama setelah kepergian Alya, selena datang menghampiri mereka.
“alya kemana?” tanyanya.
“ke kamar, katanya mau bersih-bersih.” sahut Arina.
“oh, ya udah deh Kakak juga mau mandi.”
“gak mau makan dulu kak?” tanya Jessica.
“kalian duluan aja, nanti kakak menyusul.”
“gak deh, kita makan bareng aja kak.”
“takutnya lama loh, apalagi kalian tahu Alya itu suka merenung di kamar mandi.”
Mendengar kaya terakhir Selena membuat kedua gadis muda di depannya itu tertawa, mereka tentu tahu sejak dulu Alya kalau mandi suka lama. Karena gadis itu selalu berendam dulu, sebelum mandi.
“gak apa-apa kita bisa nunggu, iya kan Rin?”
“iya kak, lebih baik kita makan bersama-sama aja sekalian melepas rindu.”
“ya udah terserah kalian saja, kakak tinggal ke kamar dulu.”
“oke.”
...💐💐💐...
Alya membuka pintu kamarnya, berjalan masuk lalu kembali menutup pintu. Ia berjalan ke arah ranjang dan duduk disana, matanya menelisik ke seluruh penjuru kamarnya yang masih terlihat sama seperti terakhir kali dia tinggalkan 2 tahun lalu.
Matanya melirik ke arah meja nakas, dan dia terkejut. Bagaimana tidak, ia terlihat disana terdapat ada sebuah bingkai foto wanita dan pria memakai seragam sekolah menengah sambil tersenyum bahagia. Seingatnya foto itu ia simpan di laci, kenapa sekarang ada di meja nakas?
‘siapa yang menaruhnya disini? apa Jessica? ah, tidak mungkin. dia kan gak tahu apa-apa soal ini, atau.. mungkin arina? tapi.. kenapa?’
Alya terus bertanya-tanya dalam batinnya, tentang siapa yang sengaja menaruh foto itu disana. Namun gadis itu memilih untuk tak terlalu memikirkannya, kemudian Di raihlah benda itu dan di usapnya pelan, seketika wajahnya menjadi suram.
“bagaimana kabarmu sekarang? Apa kau baik-baik saja? aku sangat berharap kamu baik-baik saja.” Lirihnya dengan mata berkaca-kaca.
Alya memejamkan matanya sejenak, saat bayangan kenangan masa lalunya muncul di ingatannya.
“aku pikir kamu berbeda, namun ternyata kamu adalah wanita terjahat yang pernah aku temui.”
Alya langsung membuka matanya begitu mengingat kata-kata yang terdengar pelan namun tersirat akan kekecewaan, di tambah dengan bayangan wajah dingin seorang pria yang menatapnya tajam.
“tak terasa 2 tahun telah berlalu sejak aku memutuskan pergi, tapi kenapa rasanya masih saja sama?” lirihnya lagi.
Tok.. Tok.. Tok..
“Al! Gue masuk ya.”
Mendengar itu dengan cepat Alya langsung menormalkan wajah dan penampilannya agar terlihat baik-baik saja, tak lupa juga dia menyembunyikan foto itu di bawah bantal.
Setelah selesai dia menoleh ke arah pintu yang sudah sedikit terbuka, terlihat Jessica memasuki kamarnya sambil membawa nampan berisi makanan.
“Gue bawain makanan kesukaan Lo, di makan yah.” ucapnya sambil berjalan ke arahnya.
Alya menerimanya, dan menaruhnya di meja samping ranjang.
“harusnya Lo gak perlu bawa ke kamar segala, nanti juga gue turun kok.”
“gak apa-apa sekali-kali, lagipula gue tau Lo lagi capek kan habis perjalanan jauh.”
Alya mengangguk.
“Thanks Jes, Lo memang peka walaupun jarang.”
Jessica terlihat cemberut, sementara Alya terkekeh.
“Oh iya, Arina mana?” tanya Alya.
“Lagi di bawah, bantuin bi Sumi siapkan makanan.”
“Lo sendiri gak makan malah datang kesini, bawa makanan pula. inget, Lo itu punya riwayat maag akut!”
“iya habis ini gue makan kok, lagian gue juga lagi nungguin kak Selena selesai mandi.”
“oh gitu.”
Hening sejenak, mata sipit Jessica menatap alya yang sedang menyicipkan makanan yang ia bawa tadi.
“Al..” panggilnya
“hm?”
“Gue mau nanya sesuatu sama Lo.”
“Apa itu?”
“Emang bener ya, Lo mau lanjut kuliah disini?”
Seketika itu pula Alya diam, gerakan mulutnya yang tengah mengunyah pun ikutan diam. Ia pun melirik ke arah sang sahabat.
“Lo pasti denger dari kak Lena ya?”
Jessica mengangguk antusias. “Iya.”
“Lo udah tahu, tapi kenapa nanya lagi?”
kedua mata Jessica seketika membola, walaupun dia sudah di beri tahu Selena namun tetap saja dia merasa tak percaya.
“Serius?”
“Kalau gak serius, gak mungkin gue ada disini sekarang.”
“benar juga sih, Tapi Bukannya Lo bil--”
“Setiap orang bisa berubah kan?” potong alya yang penuh Dusta.
Alya sendiri bingung harus jawab apa, karena dia sendiri juga tidak tahu apa alasan utama kakaknya menyuruhnya untuk kuliah disini. padahal di Korea juga dia kuliah, bahkan sudah memasuki semester 3.
Jessica kembali diam, sambil terus memperhatikan Alya.
“Tapi bukannya Lo pernah cerita kalau Lo betah kuliah di Seoul, bahkan disana gak ada membully Lo. Sementara di kampus yang sekarang sebagian besar teman SMA Lo juga kuliah disana, apa nantinya gak apa-apa?”
Masih teringat dengan jelas di ingatannya saat dirinya pertama kali melihat adegan perundungan yang biasanya dia hanya lihat di drama-drama yang sering dia tonton, kini dia bisa melihatnya dengan langsung.
Kampus yang Selena pilih adalah kampus favorit, hampir semuanya yang kuliah disana adalah anak orang kaya. Sama halnya dengan Arina, Alya juga dulu bisa masuk kesana karena mendapat beasiswa.
“Gak apa-apa Jes, gue udah biasa kok. Dan kenapa alasan gue pengen pindah, karena gue udah gak nyaman disana.”
“Kenapa? Bukannya enak ya kuliah disana, Lo bisa melihat oppa oppa Korea tiap hari? Pasti disana banyak yang ganteng dan tinggi tinggi! Kan kan.” Ucap Jessica sambil kedua alisnya naik turun.
Alya mendengus sebal mendengar ucapan Jessica.
“Dasar Lo ya, udah ah gue mau mandi dulu.”
Setelah itu Alya berlalu pergi menuju kamar mandi, menghiraukan sahabatnya yang masih ingin bicara.
Saat Jessica ingin pergi, tak sengaja matanya melihat sesuatu di bawah bantal. Dengan penasaran dia mengambilnya, namun aksinya terhenti begitu ponselnya berdering. Dia menatap layarnya, tertera ada nama id mama.
Segera dia pun mengangkat teleponnya, sambil berlalu keluar kamar.
“iya ma, haloo..”
...💐💐💐...
Sementara itu di dalam kamar Selena sedang video call dengan seorang pria, dirinya masih memakai handuk dengan rambut panjangnya yang terlihat basah dibiarkan terurai.
(Sayang, malam ini kamu seksi sekali. Aku jadi pengen makan kamu..) ucap sang pria.
dari layar datar itu terlihat sosok pria tampan yang tengah duduk di sebuah kursi, dan di belakangnya terdapat ada rak berisi buku-buku besar dan tebal.
Selena tersenyum.
“Benarkah? Lebih seksi mana? Aku atau wanita yang ada dirumahmu?”
(Tentu kamulah..)
“Bohong banget.”
(Serius sayang.)
“Sayang, Besok kita jadi kan ketemu, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan.”
(Emm.. kalau Besok gak bisa sayang, aku ada rapat pagi. Memangnya mau bicara apa sih?)
“Ini masalah sangat penting yang gak bisa dibicarakan lewat telpon, hanya sebentar saja kok.”
(Em.. ya udah besok kita ketemu jam 10 pagi di hotel hendricks ya. Kebetulan aku ngadain rapatnya disitu, jadi ketemunya disana aja gimana? Sekalian melepas rindu.)
Mendengar itu Selena terkekeh.
“Baiklah, aku akan kesana. Ya udah sayang aku matiin ya teleponnya, takut nanti Alya nyariin.”
(Oke sayang, see you.. i love you.)
“Love you to.”
Selena pun mengakhiri acara video call dengan pria itu yang tak lain adalah kekasihnya yang bernama, Chandra.
Chandra sendiri adalah seorang CEO dari Danendra Corp. Mereka berpacaran sudah sejak kuliah, namun hingga saat ini Chandra belum ada niatan untuk menikahinya.
Bukan karena tak mau, tapi ada beberapa hal yang membuatnya harus berpikir dua kali untuk melakukan itu.
Chandra bukanlah pria lajang, melainkan dia sudah punya istri dan anak. meskipun begitu chandra tidak bisa melepaskan Selena begitu saja, karena dia memang masih mencintainya.
Selama ini mereka menjalin hubungan secara diam-diam, baik keluarga, teman maupun media tak ada yang tahu.
...💐💐💐...
Mobil yang ditumpangi Kevin dan Rafael mulai memasuki pekarangan rumah yang sangat luas dan megah, di depannya terdapat ada taman mini yang dipenuhi dengan bermacam-macam bunga dan taman hias lainnya. Di lengkapi dengan ayunan besi dan ada tempat istirahat untuk sekedar duduk-duduk saja, Tak jauh dari itu ada juga kolam mini dengan dihiasi pancuran air.
Kevin memberhentikan mobilnya saat sudah berada di depan teras rumah, tak lama setelah itu datang dua orang pengawal jalan cepat ke arah mobil kevin, lalu membuka masing-masing pintu.
Kevin langsung pergi begitu saja dan masuk ke dalam rumah, sementara pengawal tadi bergantian masuk ke mobil Kevin bertujuan untuk memasukkannya ke bagasi.
“kau bawakan koperku langsung ke kamarku aja ya.” titah Rafael pada salah satu pengawal.
“baik, tuan muda.” jawabnya seraya mengangguk.
Selepas itu ia bergegas jalan masuk dalam rumah, yang pintunya sudah terbuka satu. Saat sudah masuk, Rafael di sambut dengan beberapa pelayan yang berdiri berbaris sambil menunduk. Mereka sedang menyambut kedatangannya dirumah tersebut.
wajar saja, karena sudah lama sekali Rafael tak pulang kesana. Mungkin lebih tepatnya sejak kematian ibu kandungnya, ia memutuskan untuk tinggal di Korea dan melanjutkan studinya di sana.
Sekalinya bisa pulang, itu pun ketika ada acara yang mengharuskannya untuk hadir. Dan saat ingin istirahat, dia tidak akan pulang ke rumah. melainkan menyewa kamar hotel.
Rafael melakukan itu bukan semata-mata tak suka, tapi dia hanya sedang menghindar. Entah kenapa setiap mengingat rumah itu, bayangan sosok ibunya semasa hidup terus muncul dan itu membuat perasaan pria tampan berusia 28 tahun itu merasa sesak.
Bukan karena ada masalah dengan sang ibu, tapi ada kenangan pahit yang Rafael sendiri tak ingin mengingatnya dan itu juga berkaitan dengan ayahnya. Itulah kenapa Rafael selalu menolak jika di suruh pulang ke rumah, dan sekarang untuk pertama kalinya setelah kematian sang ibu Rafael kembali menginjakkan kakinya ke rumah tersebut.
Rafael memberi kode lewat tangannya pada semua pelayan untuk bubar, dan mereka pun menurut.
Setelah itu ia jalan melangkah ke arah sofa yang ada diruang tamu dan duduk disana, sebelah kakinya bertumpu di kaki satunya sambil mata sipitnya liar memperhatikan semua isi rumahnya yang sedikit berubah.
Sementara itu dari arah tangga ada sosok pria tinggi, berparas tampan dan berpakaian santai tengah jalan menuruni anak tangga. Ia melangkah menuju ruang tamu.
“Udah datang Lo bang.” ucapnya setelah sudah berada diruang tamu, ia mendudukkan dirinya di sofa seberang.
Rafael meliriknya dan mengangguk.
“baru saja.” sahutnya, kemudian menegakkan tubuh.
“oh ya, Apa benar Lo yang nyuruh Kevin buat jemput gue bandara?” tanyanya kemudian.
Saat di perjalanan pulang tadi Rafael memang sempat bertanya pada kevin, bagaimana bisa ia bisa tahu jika hari itu ia pulang padahal yang tahu kepulangannya hanya orang yang sedang duduk di depannya itu. Tak lain dan tak bukan adalah Dylan, adik keduanya.
Mendengar itu Dylan menggeleng, dengan bibir sedikit maju.
“enggak bang. Bahkan seharian ini tuh anak gak bisa dihubungi, padahal ada investor yang pengen ketemu dia.” jawabnya.
“tapi kata dia Lo yang nyuruh, karena pak madi lagi gak bisa masuk.” ucap Rafael dengan kening berkerut.
“emang sih pak madi gak masuk karena hari ini istrinya mau melahirkan tapi seriusan deh, gue enggak ada nyuruh dia.”
“terus tahu darimana dia?”
Dylan tak bersuara, pria itu hanya menggeleng.
“sekarang anaknya mana?” tanya Rafael lagi.
“di kamar, katanya mau tidur. Dan pas gue lihat tadi juga wajahnya kayak emang lagi capek gitu.”
Senyap sejenak.
“udahlah lupakan aja, mungkin dia gak sengaja datang kesana buat ketemu orang lain terus liat Lo. Atau mungkin ada temannya yang lihat Lo, terus Kevin dikasih tahu deh.”
Mendengar itu Rafael manggut-manggut, cukup masuk akal juga tapi tetap saja ia merasa heran.
“jadi gimana, Lo tetap mau memaksanya?” tanya Dylan, membuyarkan lamunan Rafael.
“tentu.”
“kalo dia tetap nolak gimana? Secara Lo kan tahu gimana dia, gue hanya khawatir penyakitnya bakal kambuh.”
Sebelum menjawab Rafael nampak menghela nafas berat, ia sebenarnya tak mau tapi keadaan yang memaksa.
“tak ada salahnya mencoba.”
Kali ini Dylan yang menghela nafas berat, wajah tampannya terlihat lesu. Andai saja waktu bisa terulang, mungkin dia akan mencegah itu semua. Karena pada dasarnya titik permasalahan ini berawal darinya, terutama soal penyakit yang di derita Kevin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 142 Episodes
Comments
melati bjs
lanjut terus thour
2021-07-29
0