Krriiitttt....Kriiieeeettt.
👻👻👻
Setiap malam suara itu selalu terdengar dari dalam lemari tua yang ada di dalam kamar ku, aku gak ngerti kenapa orang tua ku mesti menyimpan barang tua itu di sini, lemari itu sudah nampak usang, cat hitam nya pun sudah mengelupas, serta banyak lakban berwarna kuning yang merekatkan kaca nya yang telah retak.
Aku juga masih heran kenapa lemari berdebu itu masih di simpan, di kamar ku lagi, padahal aku sudah punya lemari yang lebih bagus dan layak pakai di kamar ku, aku pernah meminta orang tua ku membuang lemari usang itu namun, mereka menolak nya, kata nya itu adalah peninggalan almarhum nenek buyut ku.
***
Malam perlahan merangkak naik, menampakan cahaya rembulan yang temaram, bintang-bintang nampak berkelap kelip menaburi setiap penjuru langit.
Aku masih diam terpaku menatap keindahan nya, jujur aku suka dengan suasana malam, meski Ibu ku selalu marah dengan apa yang aku lakukan.
"Din, tutup jendela nya nanti kamu masuk angin nak," ucap Ibu sambil menggerutu dan berlalu dari kamar ku, beliau agak nya lewat hendak masuk kamar nya sendiri.
"Iya Buk bentar lagi," seru ku, sambil berjalan kamar mandi hendak buang air, ini adalah rutinitas ku setiap hendak pergi tidur.
Setelah selesai dengan urusan kamar mandi aku pun menutup jendela karena angin malam sudah terasa tak nyaman di kulit ku, aku segera berbaring dan mematikan lampu namun, ku biarkan lampu tidur berbentuk jamur tetap menyala di atas nakas, agar tetap memberi ku penerangan walau sedikit. Jujur aku orang yang tidak bisa tidur dalam keadaan gelap entah mengapa aku pun tak tau.
***
Pukul 24:00 aku terbangun karena suara itu lagi, suara yang kerap kali ku dengar setiap malam.
Krrrriiieeet...Krrreeettt
Aku lantas mengerjap menatap ke asal suara itu, suara itu ternyata berasal dari lemari tua itu, tiba-tiba lemari itu bergetar, aku menyipitkan pandangn ku dan pendengaran ku pun kian menajam, aku beranjak bangun dan duduk hawa dingin berubah menjadi panas di sekujur tubuhku, pun di tengkuk dan leher ku, bulu-bulu tangan ku tiba-tiba berdiri tegak, merasai ada hal aneh di dalam ruangan ini.
Kkkrrrrieeet...Krrreeeett...Brak..
Pintu lemari tiba-tiba saja terbuka dengan sendiri nya menampakan sosok makhluk berbaju putih kumal dengan rambut menjutai ke lantai tengah merangkak keluar dari dalam lemari itu.
Seketika tubuh ku mematung dengan sendiri nya, tenggorokan ku terasa tercekat ingin ku teriak, namun yang terdengar hanya deru napas ku yang kian memburu dan degupan jantung yang terasa cepat seolah akan kelur dari rongga dada ku.
Makhluk itu mendongak menatap ku seraya menyeringai menampakan gigi-gigi runcing nya yang telah menghitam, mata bulat nya berwarna merah menyala serta wajah nya hancur dengan lelehan nanah bercampur darah memenuhi setiap inci wajah nya, seketika bau anyir menyeruak di indra penciuman ku.
(Deg...Deg..) Makhluk itu terus merangkak mendekat dan semakin mendekat, otak ku memerintahkan untuk ku lari namun, tubuh ku seolah tak mampu bergerak tubuh ku lumpuh seketika, pun dengan mulut ku yang terkunci dengan sendiri nya.
Makhluk itu tiba-tiba saja melompat ke atas tubuh ku dan menindih nya, tangan hitam yang keunguan serta kuku-kuku panjang nya langsung mencengkram leher ku dengan kuat.
Emh...emhhh, 'aku tak bisa bernapas, ya Allah tolong lah aku,' lirih ku dalam hati, sakit leher ku terasa sakit, makhluk itu terus tersenyum dan membisikan.
"Kau...miliku...gadis...manis."
Aku membelalakan mata ku, dan mulai melapal kan do'a yang ku tau dalam hati ku, ku pejam kan mata ku dengan lelehan air mata yang mengalir deras, benarkah aku akan mati sekarang? jika memang aku akan mati, aku tidak ingin menjadi milik makhluk mengerikan ini aku ingin kembali pada Allah yang telah menciptakan ku bukan pada iblis yang mengerikan ini.
Puk...puk...seseorang tengah menepuk-nepuk pipi ku, dengan tangannya.
"Dinda, Din bangun nak? kamu kenapa?" tanya Ibu terlihat panik.
Aku lantas membuka mata ku, ku edarkan pandangan ku ke setiap penjuru kamar, semua nampak masih seperti semula pun dengan lemari itu makhluk itu juga sudah tak ada apakah ini hanya mimpi atau halusi nasi ku saja?
"Dinda kamu kenapa nak? apa kamu mimpi buruk, wajah kamu pucat banget?"
"Iya Buk, aku mimpi buruk," ucap ku seraya menenangkan ritme jantungku yang belum setabil serta napas ku yang masih ngos-ngosan seolah habis lari maraton.
"Kamu mimpiin apa nak?" tanya Ibu penasaran, aku menatap lemari tua itu, bulu-bulu ku seketika meremang, aku putuskan untuk menceritakan mimipi ini pada orang tua ku besok.
"Besok aja ya Buk, malam ini boleh gak aku tidur sama Ibu," ucap ku sedikit memelas.
"Boleh nak," aku pun pindah ke kamar Ibu ku dan melanjutkan tidur ku di sana.
***
Ke esokan hari nya, aku menceritakan apa yang ku alami pada Ibu dan juga Bapak ku semalam, mereka begitu terkesiap mendengar penuturan ku, aku pikir mereka tak akan percaya namun, nyata nya mereka percaya dan memutuskan akan membuang lemari tua itu.
Tamat.