Nuga baru memejamkan mata ketika zalim menelpon, luka melihat jam baru menunjukkan jam 05.30 pagi.
halo Lemot lu jadi jemput gua nggak hari ini
iya gue jemput lo
jam berapa lu mau berangkat
sebentar lagi
ya udah gua tungguin ya
pagi itu, Nuga langsung meluncur menuju Bandung.
Setelah bertemu Zelin, mereka tidak langsung kembali ke Jakarta.
Zelin justru mengajaknya berkeliling kota.
"Lo mau ngajak gue ke mana?"
"Muter-muter."
"Muter-muter doang?"
"Iya."
"Terus pulangnya kapan?"
"Nanti sore."
Zelin tertawa.
Mereka melewati beberapa tempat yang sudah cukup akrab bagi Zelin.
Dia bercerita tentang kehidupan kampus, tempat-tempat yang sering dia kunjungi, makanan yang dia sukai, sampai kafe-kafe yang menurutnya memiliki suasana terbaik di Bandung.
"Lo tahu enggak?"
"Apa?"
"Di sini ada kafe yang musik malamnya bagus banget."
"Musik malam?"
"Iya."
"Emangnya musik bisa malam?"
Zelin langsung menoleh.
"Nuga..."
"Hm?"
"Lo itu kadang-kadang lemotnya kebangetan."
Nuga tertawa.
"Maksud lo live music?"
"Iya."
"Oh..."
Nuga mengangguk.
"Ya bilang live music."
Zelin menggeleng sambil tersenyum.
"Dasar Lemot."
Sementara Zelin banyak bercerita tentang kehidupannya di Bandung, Nuga lebih banyak mengeluhkan pekerjaannya.
"Kerjaan lo gimana?"
"Ribet."
"Ribet kenapa?"
"Proyek baru."
"Berat?"
"Banget."
"Terus?"
"Kadang pulang malam."
Zelin menatapnya.
"Lo capek?"
"Ya capek."
"Kalau capek jangan dipaksain."
Nuga tersenyum.
"Namanya juga kerja."
Zelin terdiam.
Dia tahu Nuga sudah tidak lagi kuliah.
Dia juga tahu Nuga bekerja keras demi membantu keluarganya.
Namun mereka tidak banyak membicarakan hal itu.
Sore hari, mereka akhirnya tiba di sebuah tanah lapang di kawasan perbukitan pinggiran Bandung.
Matahari mulai turun perlahan.
Langit berubah menjadi jingga.
Angin sore terasa sejuk.
Zelin duduk di atas rerumputan sambil menikmati pemandangan.
"Bagus banget."
Nuga mengangguk.
"Iya."
"Lo sering ke sini?"
"Enggak."
"Terus kenapa ngajak gue?"
Nuga menunjuk dirinya sendiri.
"Gue yang ngajak?"
Zelin tertawa.
"Ya udah, siapa yang bawa gue ke sini?"
"Lo yang minta keliling."
"Berarti salah gue?"
"Iya."
Zelin mencubit lengannya.
"Aduh!"
"Nyebelin."
Nuga tertawa.
Kemudian Zelin melihat sepeda motor Nuga yang terparkir tidak jauh dari mereka.
Matanya tiba-tiba berbinar.
"Nuga."
"Hm?"
"Gue mau belajar motor."
Nuga menoleh.
"Belajar motor?"
"Iya."
"Lo serius?"
Zelin mengangguk.
"Serius."
Nuga langsung tersenyum lebar.
"Ini baru ide bagus."
Zelin menunjuk motor tersebut.
"Ajarin gue."
"Oke."
Nuga berdiri.
Namun begitu melihat pakaian Zelin, dia langsung mengernyit.
Zelin hari itu mengenakan rok panjang dan blazer panjang.
Nuga menunjuk pakaiannya.
"Lo mau belajar motor pakai itu?"
"Kenapa?"
"Ya susah."
"Enggak."
"Lo yakin?"
"Yakin."
Zelin kemudian mengangkat sedikit bagian rok panjangnya.
Nuga langsung membelalakkan mata.
"Astaga!"
Di balik rok panjang tersebut ternyata Zelin mengenakan celana jeans.
NUga menatapnya tidak percaya.
"Beruang Madu..."
"Hm?"
"Lo gila, ya?"
Zelin tertawa.
"Kenapa?"
"Lo pakai celana jeans di dalam rok?"
"Nah."
"Nah apaan?"
"Lo enggak nyangka, kan, Lemot?"
Nuga menggeleng.
"Sampai segitunya."
"Ya harus."
"Kenapa?"
"Antisipasi."
"Antisipasi apaan?"
Zelin menyilangkan tangan.
"Takut lo macam-macam sama gue."
Nuga langsung tertawa.
"Idih!"
"Kenapa?"
"Emangnya gue punya pikiran begitu?"
"Siapa tahu."
"Beruang liar."
Zelin tersenyum.
"Ya mungkin aja."
"Kita hampir tiga bulan enggak ketemu."
"Nah, kan."
Nuga menggeleng.
"Emangnya lo pikir gue nafsu lihat lo?"
Zelin menunjuk wajahnya sendiri.
"Ye, Nuga..."
"Hm?"
"Lo lihat kucing aja bisa gemas."
"Terus?"
"Apalagi lihat gue."
Nuga tertawa.
"Yah, masih mending kucingnya."
Zelin melotot.
"Jahat!"
"Daripada gue bohong."
"Berarti mata lo katarak."
Nuga menatapnya.
"Kenapa?"
"Udah ada bidadari seindah ini, lo malah enggak kepikiran."
Nuga tersenyum.
"Bukan enggak kepikiran."
"Terus?"
"Gue sadar diri."
Zelin terdiam sebentar.
Kemudian tersenyum kecil.
"Bagus."
Nuga mengangkat alis.
"Bagus?"
"Iya."
"Kenapa?"
"Berarti lo masih tahu diri."
Nuga tertawa.
"Dasar Beruang Galak."
"Udahlah."
Zelin menunjuk motor.
"Jadi lo ajarin gue atau enggak?"
"Iya."
"Ayo."
BELAJAR MOTOR YANG GAGAL
Nuga mulai mempersiapkan motor.
"Udah."
Zelin mendekat.
"Gue duduk di mana?"
Nuga menunjuk jok depan.
"Lo duduk sini."
Zelin mengerutkan kening.
"Lo?"
"Gue di belakang."
"Kenapa?"
"Namanya juga belajar."
"Emangnya enggak bisa gue sendiri?"
"Belum bisa."
Zelin menghela napas.
"Ya udah."
Dia kemudian duduk di depan.
Nuga naik dan duduk di belakangnya.
"Beruang Madu."
"Apa?"
"Duduk yang benar."
"Gue udah benar."
"Pegang setangnya."
Zelin memegang setang motor.
Nuga kemudian memegang tangan kanan Zelin dan mengarahkannya ke bagian gas.
"Ini gas."
Kemudian dia mengarahkan tangan kiri Zelin.
"Ini kopling."
Zelin mendadak diam.
Tangannya terasa kaku ketika disentuh Nuga.
"Nuga..."
"Hm?"
"Lo..."
"Apa?"
"Enggak apa-apa."
Nuga tidak menyadari kegugupan Zelin.
"Tekan starter."
Zelin hanya diam.
"Beruang Madu."
"Hm?"
"Starter."
Zelin masih diam.
Nuga mendekat sedikit.
"Zelin."
"Hm?"
"Lo kenapa?"
"Enggak."
"Terus?"
Zelin menghela napas.
"Kayaknya..."
"Apa?"
"Gue enggak jadi belajar."
Nuga mengernyit.
"Kenapa?"
"Tiba-tiba gue bad mood."
Nuga menahan tawa.
"Bad mood?"
"Iya."
"Baru juga duduk."
"Pokoknya enggak jadi."
Nuga kemudian tersenyum jahil.
"Ya udah."
"Serius?"
"Iya."
Zelin mulai turun.
Namun Nuga langsung berkata,
"Kalau enggak jadi belajar sekarang..."
"Hm?"
"...lain kali aja kalau mood lo sudah bagus."
Zelin mengangguk.
"Iya."
Nuga tiba-tiba memegang kedua kaki Zelin dan meletakkannya di atas pijakan motor.
"Eh!"
"Pegang yang benar."
"Nuga!"
"Tenang."
Nuga menyalakan mesin.
Motor mulai bergerak perlahan.
"WOI!"
Zelin spontan memegang tangan Nuga.
"Nuga, stop!"
Nuga justru tertawa.
"Katanya mau belajar."
"Gue enggak siap!"
"Udah, nikmatin aja."
"Takut!"
"Beruang Galak ternyata takut juga."
"Ini bukan takut!"
"Terus?"
"Gue cuma..."
"Takut."
"Nuga!"
Nuga tertawa.
Motor terus berputar mengelilingi tanah lapang.
Awalnya Zelin terus berteriak.
"Pelan!"
"Udah pelan."
"Jangan belok!"
"Kalau enggak belok, kita masuk semak."
"Nuga!"
"Hahaha."
Lama-kelamaan Zelin mulai tenang.
Angin sore menerpa wajahnya.
Matahari semakin rendah.
Suasana di sekitar mereka terasa begitu tenang.
Zelin akhirnya tersenyum.
"Eh..."
"Hm?"
"Seru juga."
Nuga tersenyum.
"Nah."
"Gue kira bakal serem."
"Lo aja yang lebay."
"Jangan geer."
"Siapa yang geer?"
Zelin kemudian merentangkan kedua tangannya.
Nuga langsung panik.
"Eh! Jangan begitu!"
"Kenapa?"
"Pegangan!"
"Kan gue aman."
"Beruang liar, jangan macam-macam!"
Zelin tertawa.
Kemudian dia menyandarkan kepalanya perlahan di pundak kanan Nuga.
"Kalau begini lebih enak."
Nuga terdiam.
"Zelin..."
"Hm?"
"Lo jangan bikin gue susah konsentrasi."
"Kenapa?"
"Lo berat."
Zelin langsung mengangkat kepalanya.
"Berat?"
Nuga tertawa.
"Bercanda."
"Kurang ajar."
Zelin kembali menyandarkan kepalanya.
Beberapa detik kemudian dia berkata,
"Lemot."
"Hm?"
"Ternyata seru juga."
Nuga tersenyum.
"Ya elo apa sih yang enggak seru menurut lo?"
Zelin tertawa kecil.
Mereka tidak menyadari bahwa sejak tadi beberapa orang memperhatikan mereka.
Beberapa muda-mudi yang sedang menikmati sore di tanah lapang itu sesekali menoleh.
Bahkan beberapa pemuda yang sedang menerbangkan drone iseng mengarahkan kamera mereka ke arah Nuga dan Zelin.
Mereka merekam pemandangan dua orang yang terlihat begitu dekat di atas sepeda motor.
Namun Nuga dan Zelin tidak peduli.
Mereka hanya menikmati sore itu.
SEJENAK MELUPAKAN DUNIA
Matahari akhirnya semakin rendah.
Langit Bandung berubah menjadi jingga kemerahan.
Nuga menghentikan motor.
"Udah."
Zelin turun.
"Kenapa?"
"Sudah sore."
Zelin melihat langit.
"Iya."
Dia tersenyum.
"Sayang banget."
"Kenapa?"
"Sebentar lagi gelap."
Nuga ikut melihat matahari.
"Besok masih ada."
"Enggak sama."
Nuga menoleh.
"Maksud lo?"
Zelin tersenyum.
"Enggak tahu."
Mereka kemudian duduk berdampingan menikmati sisa cahaya matahari.
Tidak ada pembicaraan tentang pekerjaan.
Tidak ada pembicaraan tentang kuliah.
Tidak ada pembicaraan tentang masalah keluarga.
Dan untuk beberapa jam...
Nuga bahkan lupa bahwa ada masalah besar yang sedang menunggu dirinya di Jakarta.
Dia lupa tentang Yineh.
Lupa tentang rencana pernikahan.
Lupa tentang sandiwara yang sedang mereka jalani.
Yang dia ingat hanya satu hal.
Zelin ada di sampingnya.
Gadis yang sejak kecil selalu menjadi bagian dari hidupnya.
Gadis yang pernah menjadi teman bermainnya.
Gadis yang pernah menjadi pacarnya ketika mereka bahkan belum mengerti arti pacaran.
Dan gadis yang sampai sekarang...
diam-diam masih menjadi cinta pertama Nuga.
Zelin juga menatap matahari tanpa mengetahui apa yang sedang dipikirkan Nuga.
Bagi mereka, sore itu hanyalah sebuah perjalanan pulang yang sedikit berbeda.
Sebuah perjalanan yang seharusnya sederhana.
Namun tanpa mereka sadari...
momen itu menjadi salah satu kenangan yang kelak akan sangat sulit untuk dilupakan.
Nuga menatap Zelin.
"Zelin."
"Hm?"
"Sebulan di Jakarta, ya?"
"Iya."
Nuga tersenyum.
"Bagus."
"Kenapa?"
"Enggak apa-apa."
Zelin menyipitkan mata.
"Lo senang gue pulang?"
Nuga mengangguk.
"Banget."
Zelin tersenyum.
"Dasar Lemot."
Nuga tertawa.
"Dasar Beruang."
Dan sore itu...
mereka kembali tertawa seperti dua anak yang tidak pernah memiliki masalah apa pun.
Padahal kehidupan mereka sebentar lagi akan berubah.
Dan keputusan besar yang sudah dibuat Nuga...
perlahan akan membawa mereka menuju perpisahan yang tidak pernah mereka bayangkan.